Peperangan bukan hanya menggunakan senjata militer
konvensional atau mutakhir. Peperangan dilakukan pula
dengan ekonomi dan sosial budaya. Hampir tidak
diketahui banyak orang Indonesia bahwa ekonomi sangat
bertalian dengan ideologi dan agama. Bahkan dengan
nikmatnya orang-orang terpelajar di Indonesia menyeret
ilmu sosial sebagai bagian dari ilmu ekonomi. Dan akar
ilmu ekonomi itu adalah pemikiran Adam Smith 1776.
SANGAT MENYEDIHKAN.
Tapi yang lebih menyedihkan adalah peperangan sosial
budaya melalui dunia pendidikan dan media massa. AS
menyerang Indonesia melalui pertukaran pelajar dan
beasiswa untuk sejumlah orang Indonesia yang katanya
cerdas secara rasional namun belum tentu cerdas secara
akal budi berbasis nilai-nilai Indonesia. Dampaknya
pembelajaran di Indonesia berkiblat atas nilai-nilai
yang berlaku di AS: Individualisme dan Mekanisme
Pasar.
Dalam dunia media massa, Indonesia justru sangat
ketinggalan. Jika kerja junalistik adalah kerja
inytelektual, maka pekerjaan jurnalis adalah semi
penelitian melalui wawancara dan penulisan.
Di Indonesia fungsi media massa sebagai pendidikan
nyaris tertatih-taih. Informasi pun terkooptasi pada
kekuataan modal finansial. Lalu hiburan sebagai sajian
utama memuat sistem nilai yang mengamburadulkan modal
sosial. Hasilnya ?
MODAL SOSIAL lebih kecil makna dan artinya dibanding
MODAL FINANSIAL. Akibatnya kita mencabut akar makna
pada Kata Pembukaan UUD 1945.
Sehari Tanpa Teve adalah awal pembelajaran, namun
bukan titik keberangkatan penyadaran bahwa secara
sosial ekonomi sesungguhnya INDONESIA TERJAJAH. 

--- seismic_yuni <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dukung Gerakan HARI TANPA TV
> (Minggu, 23 Juli 2006)
> 
> Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama
> berjam-jam hampir
> sepanjang hari. Apa yang ditonton? Anak-anak
> menonton acara TV apa
> saja
> karena kebanyakan keluarga tidak memberi batasan
> menonton yang jelas.
> Mulai dari acara gosip selebritis; berita kriminal
> berdarah-darah;
> sinetron remaja yang penuh kekerasan, seks, intrik,
> mistis, amoral;
> film
> dewasa yang diputar dari pagi hingga malam;
> penampilan grup musik
> yang
> berpakaian seksi dan menyanyikan lagu dengan lirik
> orang dewasa;
> sinetron
> berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan
> azab, hantu, iblis,
> siluman, dan seterusnya. Termasuk juga acara ana k
> yang banyak berisi
> adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton
> anak.
> 
> Bayangkan kalau anak-anak kita adalah satu dari
> mereka yang tiap hari
> harus menelan hal-hal dari TV yang jelas-jelas tidak
> untuk mereka
> tapi
> untuk orang dewasa. Anak-anak akan sangat berpotensi
> untuk kehilangan
> keceriaan dan kepolosan mereka karena masuknya
> persoalan orang dewasa
> dalam keseharian mereka. Akibatnya, sering terjadi
> gangguan psikologi
> dan
> ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan
> konsentrasi, perilaku
> kekerasan, persepsi yang keliru, budaya 'instan',
> pertanyaan-pertanyaan
> yang 'di luar dugaan' dan sebagainya.
> 
> Hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki
> berbagai kegiatan,
> fasilitas, dan orangtua yang baik sehingga bisa
> mengalihkan waktu
> anak
> untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar
> menonton TV. Namun
> jutaan orangtua di Indonesia pada umumnya cemas dan
> khawatir dengan
> isi
> siaran TV kita. Kalangan industri televisi p unya
> argumentasi sendiri
> mengapa mereka menyiarkan acara-acara yang tidak
> memperhatikan
> kepentingan
> anak dan remaja. Intinya, kepentingan bisnis telah
> sangat mengalahkan
> dan
> menempatkan anak dan remaja kita sekadar sebagai
> pasar yang harus
> dimanfaatkan sebesar-besarnya. Meski beberapa
> stasiun TV sudah mulai
> memperbaiki isi siaran mereka, itu tetap tidak bisa
> menghilangkan
> kesalahan mereka di masa lalu dalam memberi
> 'makanan' yang merusak
> jiwa
> puluhan juta anak Indonesia.
> 
> Pemerintah maupun institusi lain, terbukti tidak
> mampu membuat
> peraturan
> yang bisa memaksa industri televisi untuk lebih
> sopan menyiarkan
> acaranya.
> Sehingga, tidak ada pilihan lain kecuali individu
> sendiri yang harus
> menentukan sikap menghadapi situasi ini. Anggota
> masyarakat yang
> bersatu
> dan memiliki sikap yang sama untuk menolak perilaku
> industri televisi
> kita, akan menjadi kekuatan yang besar apabila
> jumlahnya makin
> bertambah.
> Penolakan oleh masyarakat yang me rupakan pasar bagi
> industri
> televisi,
> pada saatnya akan menjadi kekuatan yang luarbiasa
> besar.
> 
> Untuk itulah perlu ada "Gerakan HARI TANPA TV". Hari
> Minggu 23 Juli
> 2006
> bertepatan dengan HARI ANAK NASIONAL dipilih sebagai
> HARI TANPA TV
> sebagai
> bentuk keprihatinan masyarakat terhadap tayangan TV
> yang tidak aman
> dan
> tidak bersahabat untuk anak. Keberhasilan dari
> gerakan ini akan
> membuktikan bahwa apabila masyarakat bisa bersatu
> melakukan penolakan
> terhadap perilaku industri televisi, maka sejak saat
> itulah kita bisa
> berharap ada perbaikan.
> 
> Jadi, berikanlah dukungan dan bergabunglah untuk
> mengikuti HARI TANPA
> TV.
> Pada hari itu, matikan TV selama sehari dan ajaklah
> anak-anak untuk
> melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat.
> 
> Segenap unsur masyarakat dapat mengirimkan dukungan
> melalui:
> Fax : 021-9246539 - Yayasan Kita dan Buah Hati
> 021-8406553 ? Yayasan Pengembangan Media Anak / Kidi
> a
> E-mail : haritanp...@
> <mailto:haritanp...%40kidia.org> kidia.org /
> kitadanbuahh. <mailto:kitadanbuahh...%40yahoo.com>
> [EMAIL PROTECTED]
> Telpon : 021-80871763
> SMS : 0815-8556547
> Website : www.kidia.org (informasi lebih jauh
> tentang gerakan ini).
> 
> Jakarta, 14 Juli 2006
> B. Guntarto, 70884101.
> YPMA / Komunitas TV Sehat
> Koordinator HARI TANPA TV.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor
> --------------------~--> 
> Check out the new improvements in Yahoo! Groups
> email.
>
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
>
--------------------------------------------------------------------~->
> 
> 
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat
> Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in
> Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
***************************************************************************
>
__________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA
> (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg
> akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
> 4. Satu email perhari:
> [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only:
> [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email:
> [EMAIL PROTECTED]
>  
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
>     [EMAIL PROTECTED]
> 
>  
> 
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke