mbak Lina, nyambung ya?.. ada seorang gadis bersama ayahnya pergi umroh, di sana si gadis ditawari mahar, gak tanggung2 yang nawarin ada 5 orang lelaki arab.. bayangkan mbak.. apa kah mungkin ini karena dampak dari kebijakan baru bagi janda2 indonesia, walau 'katanya' hanya percakapan guyon, tapi telah mendapat ijin ulama2..:) yang mungkin gaungnya sudah meluas di tanah arab?? hingga tak lagi bisa membedakan, asal nemu wanita indonesia, pasti mudah ditawari mahar.. ohhhh.. indonesiaku.. hik.. hik..
-----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Lina Dahlan Sent: Monday, July 24, 2006 12:44 PM To: [email protected] Subject: [ppiindia] Kawin Kontrak-->Re: Kapan kita mampu hidup bersahabat dengan alam ??? bung YK, (gak ada hubungan ama JK kan ya?)...:-) Pencarian root cause of problem memang sangat diperlukan biar ditemukan cara yang jitu mengatasinya. Root cause of problem kawin kontrak yang marak di Puncak adalah kemiskinan. Oleh sebab itu untuk mengentaskan kemiskinan JK berusaha melegalkan kawin kontrak semacam itu...:-(. Saya merasa kok seperti melegalisasi prostitusi. JK kan berusaha mencari root cause of problem kemudian mengentasinya. Gimana neh bung? Mohon patromaksnya. Berhubung dan ganti topik, judulnya ta' ganti aja ya jadi kawin kontrak... wassalam, --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com, "Yohanis Komboi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > mas Iwan, > > Bener sekali. Kadang saya secara fatalistic berpikir gini, apa mungkin > memang semua ini harus kita alami dulu baru suatu waktu nanti kita akan > makmur. Apakah memang kita sekarang ini sedang meretas jalan menuju > kemakmuran abadi? Apa tandanya? Apa bukan justru sebaliknya yang sedang kita > persiapkan? Yaitu membawa society ini ke arah kehancuran? > > Refleksi saya di atas terutama didorong oleh kenyataan bahwa pada saat kita > perlu mulai menjadi positivist mengandalkan technology untuk menjajaki > perdamaian dengan alam, sebagian kita lebih mementingkan membawa pencarian > solusi keseharian ke pencarian mujizat. Alih-alih berusaha memintarkan diri, > kita justru melarikan diri dari pencarian root cause of the problem. > Begitulah yg saya lihat. > > Salam, > > yk > > On 7/24/06, Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Menyikapi banyak berita kekeringan saat musim kemarau, bagaimana petani > > mengeluh sawahnya tak berair, atau orang-orang harus kesulitan air, > > sebaliknya berita kebanjiran saat musim hujan, orang-orang bahkan harus rela > > kehilangan rumah dan harta bendanya karena terendam air. > > sesungguhnya semua bencana kekeringan atau kebanjiran dapat kita hindari > > atau paling tidak kita minimalisir, kita coba telaah, bukankah kita semua > > sudah tahu bahwa bangsa Indonesia yang hidup dibentangan katulistiwa > > hidupnya terbagi dalam 2 musim, musim kemarau dan musim hujan. > > kenapa kita tidak mencoba bagaimana bersikap arif dengan alam sekitarnya, > > dengan mempelajari sifat alam dimana tempat kita hidup dan kemudian bisa > > hidup secara aman dan tentram. > > bangsa jepang hidup dikawasan yang jauh lebih berbahaya, banyak gunung > > berapi dan gempa, dengan sumber daya alam yang terbatas dengan wilayah yang > > tidak begitu subur, lantas mereka berpikir agar mereka bisa survive sebagai > > sebuah bangsa, jadilah mereka bangsa yang selalu inovatif dengan keunggulan > > otak, riset dan teknologi, mereka bangun rumah-rumah dan gedung dengan > > konstruksi anti gempa. > > mereka jadi bangsa pedagang teknologi, mereka bisa membangun pabrik-pabrik > > diluar jepang, produk-produk buah pikiran anak bangsa jepang, menyerbu > > dunia, dan mereka dihargai bangsa lain di dunia, karena kekuatan > > teknologinya, mereka mampu menjawab tantangan alam dimana mereka hidup dan > > mengendalikan alam. > > kapan bangsa kita mampu seperti itu ? saya sudah bosan dengan jargon > > "kekayaan alam bangsa Indonesia, batu dan kayu jadi tanaman, kolam susu > > dsb". > > saat ini kita baru mampu menjadi bangsa festival, menjadi juara olimpiade > > fisika, kimia matematika kita mampu, namun bersinergi dengan alam kita belum > > mampu !!! > > kita tetap saja berkubang sebagai bangsa yang konsumtif, boros, cengeng > > bahkan tidak perduli pada lingkungan, bahkan untuk sekedar membuang sampah > > .....??? > > > > salam > > iwan > > _,_._,___ > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design. http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

