Salam seiman...
Bung Ulil...
Diskusi diera Maya menjadikan identitas hanyalah sebagai perantara
saja dari mainstream pemikiran pribadi semata.. apalah artinya saya
dibanding Anda yg telah menjejakkan kaki diberbagai belahan bumi...
Kebetulan saya adalah penikmat Filsafat berfikir dan
Hermeneutika adalah salah satu bahan study saya..
Saya tidaklah punya maksud apa-apa ..apalagi bikin jengkel manusia-
manusia pembaharu Jaringan Islam Liberal..tidak...Posisi saya
hanyalah selaku kritisi atas aktifitas JIL semata.
Saya memahami tujuan JIL yaitu pembaruan interpretasi atas Quran,
terkhusus teks dan ayat per ayat..dgn harapan menjadi upaya pencerahan
( enlightening )atas kejumudan kondisi umat saat ini... barangkali
panggilan ini disebabkan oleh teks Quran " ULIL ALBAB"..manusia
pemikir yg diberi daya pikir lebih untuk mengembangkan Islam
civilization.. peradaban Islam. Dan di Indonesia telah muncul
banyak para pelopor semacam Nurcholish Madjid dan barangkali para
personil JIL yg dikoordinatori oleh Bung Ulil nantinya..
Hanya saja cara atau metode apa yg semestinya dipakai dalam upaya
renaissance peradaban Islam ini?... saya setuju dgn upaya lewat jalan
akal sehat..rasio , bukan lagi melalui cara-cara sufistik tradisional
yg cenderung memabukkan umat dlm ekstase perasaan.
dan saya sependapat bahwa Quran tidaklah KItab Hukum Positif yg
mengatur dan menjelaskan ketentuan-ketentuan Hukum yg bisa menjadi
solusi atas segala persoalan, apalagi masaalah dlm konteks kekinian
jauh lebih rumit dan pelik dibanding semasa Nabi hidup..contoh
sederhana adalah suksesi setelah wafatnya nabi, nyatanya tidak terdpt
panduannya dlm Quran...
Muhammad SAW hanyah manusia Arab semata, dibanding kita yg hidup
dalam borderless World... dunia tanpa batas.
Akan tetapi metode-metode yg dikembangkan oleh JIL menuai badai yg
tidak kunjung reda.. yaitu penerapan Hermeneutika dan rasional
Positif atas Quran dan Hadish..Rasio mengandung Hukum sebab -akibat
(kausalitas) ... suatu peristiwa adalah rangkaian dari peristiwa
sebelumnya.. inilah yg menjadikan orientalism berasumsi bahwa Islam
dan ajarannya adalah hasil olah intelektual diri Muhammad atas
ajaran sebelumnya yaitu Taurat Yahudi dan Injil Kristen.. Dan JIL
mengadopsi pendapat ini, walau tidak secara terang-terangan.
Kita perlu kembali kemasa lalu, dimana terjadi perpecahan setelah
terjadinya insident atas diri Khalifah Utsman Bin Affan..telah
terjadi perpecahan disebabkan perselisihan interpretasi atas
peristiwa tsb... masing masing kelompok( Kel Ali, Kelompok Muawiyah
dan Khawarij) saling mengkambing Hitamkan..dan mulailah titik pertama
perpecahan itu terjadi dalam Islam yg semula utuh, solid dan darah
segar antar umat Muhammad tumpah dimuka Bumi Arab yaitu dgn
terjadinya perang onta...nah dari sini kita bisa mengambil hikmah ,
bahwa perbedaan sudut pandang, perbedaan interpretasi atau pertikaian
penafsiran atas peristiwa berdarah Khalifah Utsman, telah
menghasilkan tetesan darah sia-sia...
APALAGI DIMASA SEKARANG, DIMANA SUATU PERBEDAAN KECIL PENAFSIRAN BISA
MENIMBULKAN INSTABILITAS " GEMPA" DAN BERUJUNG VONIS SESAT DAN BISA BERBENTUK
PERPECAHAN BERUJUNG DARAH TERTUMPAH... Ini konsekwensi yg pertama seandainya
Hermeneutika selaku metode penafsiran diterapkan.
Sekarang kita kemasa sekarang.. betul betul realitas disaat
ini...Anda Bung Ulil dan rekan JIL secara imajiner , saya ajak jalan-
jalan santai keliling Jakarta. Kita dari Monas menuju Matraman, terus
belok ke Jln Pramuka hendak ke Jl. Pemuda... setelah Pasar Pramuka
kita disuguhi sebuah pemandangan ttg suatu bangunan tinggi bernama
Hotel Sentral, dan kita temukan ada Mesjid persis didepan Hotel
tsb..ironi sekali menurut kita, sebuah Hotel berdampingan dgn tempat
Suci...
maka saya berargumen barangkali inilah APLIKASI PALING KONGKRET DARI
POLA HIDUP YG AKAN DIBANGUN LIBERALISM ISLAM.. artinya Mesjid selaku
pusat spirituil Islam berdampingan dgn Hotel yg liberal...bebas
berbuat tanpa sekat..tanpa sensor dgn segala perangkat liberal yaitu
swiming pool, discothegue, fittness, karaoke, wine dan kamar
hotel..Islam didepan, dan Liberal dibelakang... maka preposisinya
menjadi Islam Liberal.
INILAH KONSEKWENSI YG KEDUA.. YAITU HIDUP YG PERMISIF SERBA BOLEH DLM
NAUNGAN PENAFSIRAN CARA ISLAM LIBERAL.
Sekarang kita tebang ke masa depan.. to the future..
Saya tertarik dgn pendapat si sosialis Anthony Gidden bahwa dunia
sedang berlari..berlari dan berlari tunggang langgang...RUN AWAY THE
WORLD..Lalu bagaimana dgn TATA HIDUP yang sedang dibangun oleh JIL
dan kaum Liberal Islam lainnya...
Tentunya akan demikian juga.. yaitu saling berkejar-kejaran dalam
penafsiran atas teks ayat perayat, sebab HERMENEUTIKA dan sistem
rasio positif sekarang dibuka untuk umum oleh para penerobos zaman
yaitu Islam Liberal dgn Hermeneutika selaku metode primadona...
Masing2 kita akan mencoba menafsirkan , sebab tidak ada satu orangpun
yg punya otorita untuk menfsirkan ..semua berhak berekspresi sesuai
dgn UUD RI Revisi hasil olahan Tokoh-tokoh Liberal Indonesia..yaitu
kemerdekaan untuk berbicara dan berekspresi ..tentunya sesuai dgn
Hukum kemanusiaan HAM.
Maka kita akan saling berlomba menafsirkan sesuai dgn inspirasi, ide,
gagasan , ilham dan kepentingan... lalu apa kemungkinan yg muncul???
yaitu:
TERCIPTANYA KEBERAGAMAN PENAFSIRAN , KEANEKARAGAMAN , DAN KESIMPANG
SIURAN MASHAB, ALIRAN DAN PRAKTEK-PRAKTEK KEISLAMAN.
Maka Islam selaku agama menjadi relativ dan evolutif serta bercabang-
cabang dalam Mazhab , aliran dsb yang berujung pada tindakan saling
hujat dan inilah yang terjadi
ISLAM TERPECAH..TERCERAI BERAI SEBAGAIMANA KRISTIANITY..
Islam akan bernasib sama dgn Kristen yg terpecah belah dari semula
Ortodox, berevolusi jadi Katolik, terpecah lagi jadi Protestan, lalu
Anglikan, Pantekosta, Prebistarian, Advent ke 7, Saksi-saksi JEhova(
jehova Wittnesses), Unitarian, dan entah berapa ribu
lagi...Kesemuanya disebabkan perbedaan interpretasi dalam membaca
teks-teks yg termaktup dalam Injil...berbedaan penafsiran yg berujung
keterpisahan dlm kepingan -kepingan kecil yg tak mungkin disatukan
lagi...Islam yg sekarang terbagi dlm Sunni, Syiah dan Ahmadiyah(?)
akan bersebar dlm pola yg tak bisa diprediksikan perkembangannya.
Sudah siapkan Saudara-saudara yg terhormat akan segala Konsekwensi
dari keputusan percobaan menafsirkan Quran selaku teks yang Mutlak,
suci dan Immortal???
Mohon maaf sebelumnya andai ada teks yang kurang berkenan.
salam
Sangkakala
In [EMAIL PROTECTED], Ulil Abshar-Abdalla
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Salam,
Saya masih menyesalkan anda tidak memakai nama terang.
Tetapi, baiklah, saya akan memberikan komentar pendek.
Pertama, Qur'an memang bukan Kitab Hukum Positif
seperti KUHP. Ketentuan-ketentuan hukum dalam Qur'an,
dikenal dengan "ayat al-ahkam", hanya sedikit
jumlahnya: sekitar 300-an dari 6000-an lebih ayat
dalam Qur'an. Ayat-ayat tentang hukum itu pun, bagi
saya, tidak bisa diterapkan mentah-mentah, sebab hukum
yang tertera dalam Qur'an hanya meneruskan saja
sebagian praktik hukum yang ada pada zamannya. Hukum
rajam bagi pezina, misalnya, adalah praktek umum di
kawasan-kawasan yang dipengaruhi agama Yahudi. Islam
hanya mengadopsi saja. Hukum bunuh dan salib bagi
orang-orang yang melakukan "hirabah" atau perampokan
dan pembunuhan (ini dicantumkan dalam Qur'an), adalah
sontekan juga dari praktik yang ada di lingkungan
Romawi. Hukum-hukum seperti itu tak perlu diteruskan
sekarang, karena keadaannya telah berubah.
Kedua, anda khawatir dengan penerapan hermeneutika,
Qur'an akan menjadi teks yang relatif. Qur'an juga
akan terbuka pada penafsiran yang tak ada
habis-habisnya. Kebenaran menjadi susah dipegang. Saya
tak khawatir jika Qur'an menjadi teks yang terbuka
pada segala bentuk penafsiran. Tafsir tak mengenal
finalitas. Sebagai praktek, ini sudah terjadi sejak
dulu. Jenis tafsir dan takwil begitu luas, begitu tak
terbatas, begitu kaya. Generasi Islam sekarang jarang
diberi tahu tentang sejarah penafsiran yang kaya
seperti itu, dan tahunya hanyalah Sayyid Qutb, Abul
A'la al Maududi dan Said Hawwa. Akhirnya, mereka
mengidap mentalitas "kecut diri" melihat gelanggang
penafsiran yang bebas.
Ketiga, yang saya kehendaki dari Kitab Suci hanyalah
sederhana: menjadi inspirasi bagi perubahan yang tak
pernah henti. Itu saja. Selebihanya, akal manusialah
yang mengatur seluruh perkara hidup ini. Qur'an tidak
akan bisa, dan tidak pernah, menjadi Kitab Hukum atau
Kitab Sain yang bisa memberi solusi atas semua
masalah. Kalau benar Qur'an adalah Kitab Solusi untuk
semua hal (seperti diklaim oleh orang-orang yang
semazhab dengan ISTAC), maka tak akan terjadi
percekcokan besar paska wafatnya Rasul tentang siapa
pengganti Rasul. Apakah mungkin, masalah sebesar
suksesi semacam itu dibiarkan tanpa diberikan
solusinya oleh Qur'an, jika memang kitab itu adalah
Kitab Solusi?
Saya, sebetulnya, sudah agak bosan menulis hal-hal
yang repetitif semacam ini.
Salam,
ulil
Sang<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam sehat wal afiat slalu,
Mr Ulil,
Diskusi akan tetap terang benderang walau nama tak
menterang, itulah
konsekwensi dari era informatika instan masa
sekarang.
Saya selaku pengamat Islam Liberal yg barangkali
masih remang-remang,
dpt memahami sedikit per sedikit supstansi dari misi
yg diusung Jaringan Islam Liberal.
Tentunya Quran bisa diuji dgn segala cara... ya
segala cara yg maybe dpt menjelaskan Quran dgn lebih
terang benderang..
Hermeneutika yg diusung Islam Liberal adalah upaya
pembebasan Teks
Quran dari sekat budaya, ....Islam adalah produk
Budaya Arab,
demikian menurut orientalism, sehingga tidaklah
universal selaku
nilai menyeluruh umat. Dlm perspektif baru bahwa
Islam adalah produk
masa lalu yg tidak terlalu urgen dimasa sekarang,
sehingga perlu tata
ulang... demikian orientalism berasumsi.
saya bukan pengikut ISTAC , apalagi simpatisan....
tapi ada beberapa
point yg barangkali bersesuaian..
Quran selaku pegangan adalah final dlm pandangan
klasik Islam..sedang
L iberal adalah kata pembebasan dari apa yg dianggap
" FINAL " tsb.
Disini muncul persoalan yg tidak sedikit...
Quran mengandung Teks bacaan mutlak yg telah
terpahami dalam tafsir
dan Ta'wil... sedang liberal memandang teks adalah
produk budaya,
terkhusus Arabian Culture.. maka hermeneutika
menjadi keniscayaan dan
disini muncul kelemahan Islam Liberal yaitu:
seandainya Quran adalah produk Budaya, maka tidak
lagi dipandang
wajib diikuti di era dahsyat millenium ini, sebab
situasi yg dihadapi
Muhammad semasa Arab jahiliah tidaklah sebanding dgn
kondisi terkini
yg kompleks dan penuh classes, pertentangan.
Maka Quran tidaklah suci dan teks hanyalah
sekumpulan tulisan masa
lalu... maka preposisinya menjadi : Quran adalah
kitab suci terdahulu
yg tidak lagi suci dimasa sekarang...kontradiksi
terjadi antara "
suci" dan " kini "....dan ini kelemahan Islam
Liberal yg pertama.
dalam upaya penafsiran baru berdasar Hermeneutika,
maka sikap kita
adalah kritis atas teks dan ayat per ayat, terbuka
dan siap berpindah
posisi... maka hal yg akan terjadi adalah multipel
effeck, efek
berkelanjutan dari satu sudut pandang ke sudut
pandang baru...dan
Quran hanyalah objek dari para Subjek pelaku
penafsiran...dan Quran
adalah berasal dari Muhammad dgn Tuhan selaku
kreator Quran.
Maka dgn itu Allah dan Muhammad selaku kreator dan
pembawa adalah
objek dlm pandangan para pelaku" subjek" Islam
Liberal" dan bisa
diotak atik ...konfrontasi terjadi...dan kelemahan
muncul
sedang Subjek pelaku adalah sekumpulan orang-orang
yg berakumulasi
jadi sebarisan panjang orang yg bertindak atas nama
Islam
pembaruan..maka penafsiran akan tidak pernah selesai
hingga hari
akhir kiamat terjadi.. sebab satu subjek pelaku akan
melakukan
pengkajian ulang atas tafsiran teks pelaku
lainnya..dgn kata lain
teks menjadi relativ , tidak tetap sebagaimana
manusia yg penuh
pancaroba, bergerak tanpa pola. Satu penafsir akan
diredusir oleh
pelaku hermeneutika lainnya.. maka hukum evolusi
akan terjadi..quran
akan terus berobah secara tafsir sesuai perkembangan
jaman... dan
disini celakanya nantinya... tidak ada keputusan
final atas semacam
teks..dan tidak ada otorita Hukum yg berhak
memutuskan sah suatu
tafsir teks Quran. selalu relativ dan evolutif maka
kontradiksi terjadi.
Kesenjangan berikutnya adalah tidak adanya keputusan
final atas suatu
penafsiran teks, dan umat menjadi limbung dlm upaya
memperoleh
kepastian pemahaman... pendeknya umat akan bingung
yg mana yg benar
diantara sekian banyak subjek penafsir...dan output
keluaran
tafsirannya.
dan selama ini santer terdengar ,bagaimana Islam
Liberal menentukan
batasan atas teks yg mutlak dan yg relativ , Dan apa
upaya finish,
terakhir dan dari semacam penafsiran dgn metode
Hermeneutika...
Singkatnya belum ada batasan yg akhir dari upaya
penafsiran cara
Pemuja Hermeneutika nan penuh lobang jebakan.
Singkatnya belum jelas
batas-batas yg boleh ditempuh oleh penganut
Hermeneutika, segalanya relativ...
sekian semoga dapat dipahami...maaf kalau ada yg
keliru..
Sang
A Man from Minangkabau
From: Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]>
Bung Sangkakala (mohon pakai nama terang, agar diskusi
menjadi terang benderang),
Salah satu keberatan teman-teman ISTAC, Sdr.
Syamsuddin Arif ada dalam kelompok itu, terhadap
penerapan hermeneutika dalam Qur'an adalah bahwa hal
itu akan menempatkan Qur'an sebagai "teks biasa" yang
sama kedudukannya dengan teks-teks lain, sama dengan
novel, roman, traktat filsafat, atau bahkan grafiti
pada tembok-tembok taman kota. Itulah
sekurang-kurangnya yang pernah saya baca melalui
komentarnya Sdr. Adnin Armas, Adian Husaini, dua
sarjana lain dalam kelompok ISTAC.
Asumsi ini, diam-diam, anda ikuti. Saya tak sepakat.
Benar, bahwa sejarah tafsir Quran telah mengenal
metode penafsiran yang khas dan merupakan "produk
lokal" tradisi itu sendiri. Metode itu sering disebut
sebagai tafsir dan ta'wil.
Saya berpandangan, apa yang disebut sebagai tafsir da
ta'wil adalah bidang yang luas dan fleksibel.
Jenis-jenis tafsir dan ta'wil juga banyak. Karena
keluasan itu, cara kerja dalam tafsir dan ta'wil bisa
bertemu, atau berselisih, dengan cara kerja dalam
hereneutika. Dengan demikian, hubungan antara tafsir
dan ta'wil dengan metode hermeneutika bukanlah
hubungan yang sifatnya kontradiktoris. Ada segi-segi
pertemuan antara kedua metode yang datang dari dua
tradisi yang berbeda itu.
Tetapi, lebih dari itu, saya amat berkeberatan dengan
pendapat kaum ISTAC yang menolak hermeneutika sebagai
pendekatan dalam menafsir Quran. Bagi saya, Quran
adalah buku terbuka yang bisa didekati dengan pelbagai
cara. Soal sukses tidaknya sebuah metode diterapkan
untuk memahami Quran, itu urusan lain. Kenapa kita
harus takut dan memagari rapat-rapat agar Quran tidak
disentuh dengan "cara" yang bukan secara asli dan
indigeneous datang dari Islam?
Bagi saya, Quran adalah Kitab Suci. Fine. Tetapi,
Quran juga "teks" yang susunan literernya bisa
dianalisa dengan terbuka dan kritis seperti teks-teks
lain. Sifat hubungan antara teks Quran dengan kondisi
sosial pada saatnya juga tak beda jauh dengan
teks-teks lain. Oleh karena itu, saya setuju dengan
pendapat Abu Zaid bahwa Quran adalah "muntaj tsaqafy",
teks yang merupakan produk budaya, dan karena itu juga
mengandung elemen-elemen budaya yang khas pada
zamannya.
Pada titik inilah, kaum ISTAC ketakutan. Mereka
menganggap, itulah pikiran kaum orientalis yang sinis
pada Islam. Orang-orang Islam yang berpikiran semacam
itu adalah "anak cucu" Wansbrough, Bell, atau lebih
jauh lagi Goldziher. Di mata kaum "preservasionis"
(ini istilah saya buat teman-teman ISTAC; maksudnya
"al muhafidzun", orang-orang yang menjaga tradsi),
pendapat Abu Zaid itu bisa menimbulkan "gempa bumi"
dahsyat, persis seperti Kopernikus yang membawa gempa
bumi di kalangan gereja saat membawa pandangan
heliosentrisme. Kosmologi mereka seperti
jungkir-balik: masak Quran produk dari budaya pada
zamannya. Sekali lagi, di mata kaum ISTAC, penerapan
hermeneutika pada Quran bisa berakibat "dekoronisasi",
pemakzulan Quran dari derajatnya yang luhur, ilahiah
dan sakral.
Saya tak takut Quran dianalisa dengan metode apapun.
Hal itu tak mengurangi kesuciannya di mata saya. Saya
tetap membaca Kitab Suci itu setiap hari, menikmati
susunan literernya, rimanya, diksinya, tetapi juga
kontradiksi-kontradiksi dan ambiguitas yang ada di
dalamnya. Dengan mengatakan bahwa Quran adalah produk
budaya, saya tak merasa ada sesuatu yang kurang pada
kitab itu. Bagi saya, Quran justru menarik karena dia
adalah cerminan dari budaya masyarakat yang ada pada
zaman Nabi.
Sikap saya pada Quran jelas dan makin kukuh sekarang:
Kitab Suci ini memang wahyu (apapun pengertian kita
tentag kata itu), tetapi juga membawa elemen-elemen
budaya setempat yang sifatnya relatif. Karena itu,
Quran, bagi saya, bukan Kitab Hukum yang harus kita
ikuti mentah-mentah, sebab segala ketentuan hukum yang
ada di sana bukanlah sesuatu yang mengikat untuk
segala zaman, seperti pernah dikatakan oleh Prof.
Fazlur Rahman, guru dari Prof. Wan Daud yang sekarang
menjadi "pengasuh" ISTAC. Quran adalah kitab inspirasi
dan petunjuk. Dia tidak memberikan aturan detil buat
kehidupan umat manusia. Aturan harus kita bikin
sendiri.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan di hati.
Salam,
ulil
--- the_sangkakala <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Salam sejahtera,
>
> Bung Ulil,
>
> Saya barangkali belum semendalam Sdr dlm persoalan
> Quran dan
> pemahamannya...
> Hermeneutika dalam pandangan saya adalah cara sudut
> pandang yg lain
> dibanding mainstream klasik atas ayat per ayat...
> atau kata perkata..
> Padahal bukankah kita telah punya tafsir atau ta'wil
> dll.
>
> Sedang hermeneutika adalah tradisi intelaktuil Barat
> yg diadopsi ahli
> Islam dlm menerangkan Quran dan Hadist...
>
> Disini terjadi benturan menurut pemahaman saya....
>
> Hermeneutika adalah cara atau metode yg lumayan
> ampuh dlm menjelaskan
> Injil yg penuh kontroversial ...sedang dlm Quran
> sepemahaman saya
> belum ditemukan kontradiksi antar ayat per ayat..
>
> Quran hampir-hampir secara eksplisit menjelaskan ttg
> alam,
> Sosiogeografis , sistem kemasyarakatan dll....dan
> disinilah problem
> terbesar.... seandainya anda memaksakan hermeneutika
> dijadikan
> pedoman penafsiran, maka upaya itu akan berbenturan
> sekali dgn ayat
> yg khusus menerangkan ttg suatu hal yg sudah
> jelas-jelas tertera dlm
> Quran...
>
> Anda bisa-bisa dituduh merevisi Quran dan memutar
> balikkan fakta
> antara Tafsir dgn ayat....dan ini akan berujung pada
> cap Kafir
> sebagaimana yg dialami para Filsuf Islam sebelumnya
> semacam Ibn
> Rusyid dll...
>
> Bagaimana anda yg terlihat memuja sistem
> ini,memastikan hermeneutika
> adalah cara terbaik dlm menjelaskan Quran dan
> Hadist, Bung ???
>
>
> Sangkakala
-----------------------------------------------------
>
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], Ulil
> Abshar-Abdalla
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Sdr. Yudhi yang baik,
> >
> > Saya termasuk penggemar gagasan-gagasan Abu Zaid.
> > Menurut saya, dia adalah sarjana penting (kalau
> malah
> > bukan terpenting) dalam sejarah ilmu Quran (ulum
> al
> > Qur'an) setelah Az Zarkasyi dan Al Suyuthi (yang
> > pertama menulis "Al Burhan fi Ulum al Qur'an",
> yang
> > kedua menulis "Al Itqan fi Ulum al Quran"). Tentu
> > banyak para sarjana Muslim modern yang menulis di
> > bidang itu, seperti Manna' al Qaththan, Shubhi Al
> > Shalih. Tetapi, umumnya mereka repetitif, hanya
> > mengulang apa yang telah dikatakan oleh ulama
> klasik,
> > dan sedikit menambahkan sesuatu yang baru dan
> lain.
> > Sarjana dengan gagasan terobosan sangat sedikit
> > jumlahnya; di antara yang sedikit itu, Abu Zaid
> > merupakan satu-satunya nama yang layak disebut
> secara
> > sejajar dengan kedua ulama klasik tersebut.
> Mungkin
> > saya berlebihan, tetapi itulah yang bisa saya
> > kemukakan sejauh bacaan saya baik atas kedua ulama
> > klasik tersebut, atau atas buku-buku Abu Zaid.
> Buku
> > Abu Zaid yang layak disebut sebagai terobosan
> penting
> > adalah "Mafhum al-Nash" (Teori tentang
> Tekstualitas
> > Qur'an). Sudah tentu dia tidak membawa seluruh hal
> > baru (adakah di dunia ini yang baru seluruhnya?).
> Dia
> > bersandar pada karya-karya klasik dalam ilmu
> Qur'an
> > dan tafsir, tetapi juga pada karya-karya penulis
> > modern. Tetapi, cara dia meramu keseluruhan bahan
> yang
> > sudah ada jelas memikat. Bahasa Arab yang ia pakai
> > sangat bermutu tinggi, kaya dengan tekstur, dan
> tidak
> > kaku seperti pada kasus penulis Arab modern lain
> > seperti Muhammad Abid al Jabiri.
> >
> >
> >
> > Jika anda mendengar Abu Zaid dalam Workshop JIL
> > beberapa waktu lalu dan anda tidak terpikat sama
> > sekali dengan tokoh ini, lalu anda menganggapnya
> > dangkal, itu tentu bisa dimaklumi. Ada beberapa
> > kemungkinan. Pertama, anda tidak membawa "bagasi"
> yang
> > cukup untuk bisa menikmati gagasan Abu Zaid.
> Kedua,
> > atau anda mempunyai "predisposisi" lain yang sudah
> > masak dan matang. Ketiga, atau, lebih jauh lagi,
> anda
> > memandang Abu Zaid (juga Arkoun) sebagai distorsi
> dari
> > gagasan "asli" yang ada pada guru-guru besar di
> Barat
> > seperti Foucault. Dalam pengandaian terakhir ini,
> anda
> > sepertinya melihat, bahwa "Barat" adalah sumber
> > orisinalitas, sementara "Timur" (Islam?) hanyalah
> > peniru yang wagu dan selalu salah tingkah. Kalau
> bisa
> > baca Foucault, kenapa harus baca Arkoun atau Abu
> Zaid,
> > atau bahkan Bambang Sugiharto dan St. Sunardi?
> Kalau
> > bisa beli Lexus, kenapa harus beli Toyota Avanza
> yang
> > dirakit di Tangerang?
> >
> >
> >
> > Saya tidak sepakat jika Abu Zaid dinilai hanya
> secara
> > sederhana melalui tiga presentasi dia selama
> workshop.
> > Meskipun tentu kita bisa mengatakan, bahwa tidak
> mesti
> > untuk mengetahui sedap tidaknya sebuah masakan,
> kita
> > harus mencicipi seluruh sup dalam kuali. Amat
> mungkin,
> > saya memang keliru menggemari Abu Zaid, dan
> andalah
> > yang benar. Tetapi, rasanya, saya tidak berlebihan
> > jika mengatakan bahwa Abu Zaid menulis sesuatu
> yang
> > sama sekali baru dalam ilmu tafsir, dan saya
> > menganggap sumbangan dia sangatlah penting, bahkan
> > terlalu penting sehingga saya hendak
> menempatkannya
> > "on par" dengan dua ulama klasik di atas.
> >
> >
> >
> > Selama ini banyak orang memandang Abu Zaid sebagai
> > pakar hermeneutika (Qur'an). Dengan anggapan
> semacam
> > itu, banyak orang berharap Abu Zaid dan yang
> lain-lain
> > bisa menerapkan dengan benar teori-teori
> hermeneutika
> > yang berasal dari Barat. Saat mereka menjumpai,
> bahwa
> > penulis-penulis itu tidak seberhasil dan sememukau
> > Foucault, Derrida, Bachelard, Eco, dll., maka
> mereka
> > langsung kecewa. Mereka dengan mudah mengambil
> > kesimpulan, "Ternyata penulis-penulis yang
> dianggap
> > sebagai perintis kajian Islam baru itu tidak
> > secemerlang teman-teman sejawat mereka di Barat."
> Saya
> > tidak sepakat dalam hal ini.
> >
> >
> >
> > Meskipun ada resonansi gagasan-gagasan hermeutika
> dari
> > Barat dalam pemikiran orang-orang seperti Abu
> Zaid,
> > tetapi tidaklah serta merta kita bisa menganggap
> bahwa
> > dia dan orang-orang lain sejenis hanyalah gema
> yang
> > pasif dari Barat, dan tidak sedang merintis suatu
> > bidang kajian tersendiri yang bertaut dengan
> tradisi
> > Islam yang panjang. Saya tidak melihat Abu Zaid
> > pertama-tama sebagai gema dari para filosof
> > hermeneutika Barat. Kalau anda membaca seluruh
> > karyanya, akan kelihatan bahwa rujukan dia pada
> > karya-karya asing dalam bahasa Inggris atau
> Perancis
---------------------------------
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs.Try it free.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/