KOMPAS Selasa, 25 Juli 2006 41,27 Persen Keluarga di Kalteng Miskin
Palangkaraya, Kompas - Jumlah keluarga miskin di Kalimantan Tengah cenderung meningkat dalam kurun 2001-2006. Tahun ini jumlah keluarga miskin 41,27 persen dari 553.027 keluarga (1.935.699 jiwa). "Peningkatan jumlah keluarga miskin yang luar biasa terjadi pada kurun 2004-2005. Tahun 2004 jumlah keluarga miskin masih 27,70 persen dan meningkat tajam menjadi 41,58 persen di tahun 2005," kata Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang, Senin (24/7). Hal itu diungkapkan Teras kepada anggota Komisi VI dan VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang melakukan kunjungan kerja ke daerah tersebut. Tim Komisi VI dipimpin Soekardjo Hardjosoewirjo, sedangkan Komisi VII dipimpin Achmad Farial. Semula Teras menduga peningkatan jumlah keluarga miskin dalam dua tahun terakhir ini disebabkan program bantuan langsung tunai. Program kompensasi atas pengurangan subsidi BBM tersebut, katanya, membuat orang tidak lagi malu menyatakan miskin karena akan memperoleh bantuan. "Namun, ketika kami berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik, ternyata ini angka riil," kata Teras. Pada tahun 2001 jumlah keluarga miskin di Kalteng tercatat 28,35 persen, tahun 2002 sebesar 28,48 persen, dan tahun 2003 sebesar 31,61 persen. Persentase itu menurun pada tahun 2004, yaitu 27,70 persen, tetapi pada tahun 2005 melonjak menjadi 41,58 persen dan tahun 2006 sudah tercatat 41,27 persen. Waspadai kredit Berkaitan dengan masalah kemiskinan ini, tokoh masyarakat Dayak Kalteng, Sabran Achmad, mengingatkan perlunya mewaspadai budaya kredit uang ataupun barang berbunga tinggi di kalangan warga. "Di pasar-pasar mudah dijumpai orang yang mengkreditkan uang dengan bunga 30 persen. Orang yang meminjam uang Rp 100.000, misalnya, harus mencicil Rp 5.000 per hari selama 26 hari," katanya. Ia menambahkan, kredit barang juga sudah menjangkau daerah pedalaman. Melihat barang- barang yang bagus, sering kali warga terlena karena cicilan per bulannya kelihatan sedikit. Padahal, ketika dihitung pada akhir masa cicilan, uang yang dibayarkan ternyata memberatkan ekonomi keluarga. "Sinyalemen, ada guru yang mangkir tugas karena pendapatannya tidak cukup. Itu harus dicek apakah memang penghasilannya kurang atau karena dia harus membayar beragam cicilan kreditnya," kata Sabran. (CAS) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

