"Big but rotten" inilah yang ungkapan paling tepat bagi negara tercinta ini.
Kembali ke stone age, dimana orang hidup dalam kegelapan apabila matahari sudah
terbenam. Kemana duti yang kita dapat selama kita sempat menjual minyak ke LN
itu?
Koq aku ingat ayahku yang pernah cerita kalau tradisi garong minyak itu mulai
di era-nya si Ibnu Sutowo yang menjabat ceo Pertamina tempo doeloe.
Herannya semua yang terlibat dengan pengadaan minyak untuk bahan bakar
pembangkit tenaga listrik itu semua berada dibawah naungan pemerintah, ya PLN
ya juga Pertamina. Kenapa mereka ngak bisa lebih kompak dan mengadakan kerja
sama yang mulus ya? Kayaknya rebutan tejeki antara Pmerintah,PLN dan
Pertamina.....busyeeet, shocking,you bet...simple as that!
Perlu mereka para pengelola tenaga listrik dari Indo itu belajar dari negara
kecil down under sini. Buktinya, selama 1/4 aku disini baru sekali ada
pemadaman listrik. Semua kenyamanan hidup seperti listrik, air dan gas
sepertinya kita "take it for granted" Maklum karena para pembayar pajak itu
minta agar duit yang disetor(uang pajak) itu dikembalikan lagi untuk
kepentingan masyarakat. Bahkan sekarang jauh2 hari di sini (Sydney) sudah
mulai dipikirkan untuk mebangun projek de-salinasi air laut, karena di-hitung2
keperluan akan air tawar sudah mulai kurang.
Sudah ada penyuluhan dan dibarengi dengan aturan bahwa nyiram kebun boleh
tapi dengan jalan manual alias dengan tangan. Cuci mobil juga hanya
diperbolehkan dengan ember dan lap. Tidak boleh disemprot.
Itulah namanya dalam boso gampangnya meng-antisipasi apa2 yang bakalan
terjadi dikemudian hari. Kalau air sudah mulai susah maka dicari alternatip
lain.
Bolak balik perkaranya di negara tercinta Indonesia ini ya.....kembali ke
korupsi yang maha besar! Simple as that! Ngak ada korupsi ngak bakalan Jakarta
itu kekurangan listrik, simple as that!
Harry Adinegara
Selasa, 25 Juli 2006 00:00 WIB
Editorial: Habis Terang Terbitlah Gelap
LISTRIK telah menjadi peradaban manusia yang tidak bisa ditawar. Semakin
beradab manusia, semakin tinggi dan luas pemakaian dan ketergantungan pada
listrik. Semakin beradab negara, semakin tinggi kewajiban menjaga agar listrik
menyala 24 jam dalam sehari selama bertahun-tahun.
Namun, manusia Jakarta, kemarin, seperti hidup di zaman batu. Perusahaan
Listrik Negara memadamkan listrik di sejumlah lokasi selama delapan jam karena
pembangkit Muara Tawar kekurangan bahan bakar.
Dahsyat betul akibat dari pemadaman itu. Transaksi perbankan macet, lalu
lintas lumpuh, pelayanan kantor pemerintah terhenti, rumah sakit kelabakan,
kantor-kantor swasta menjerit. Dan banyak lagi kerugian yang tidak bisa dirinci
satu per satu.
Tidak bisa dibayangkan di Jakarta, ibu kota negara, terjadi pemadaman
karena PLN kekurangan pasok bahan bakar. Itu peristiwa yang sangat memalukan.
Bahwa Indonesia sekarang sedang mengalami kesulitan keuangan, betul. Bahwa
harga minyak dunia sedang tinggi-tingginya sehingga impor BBM semakin mahal,
betul. Akan tetapi, Indonesia belum berada dalam tahap krisis energi.
Negara ini baru saja mengumumkan dengan bangga telah mengirim bantuan uang
untuk Libanon dan (sebelum ini) Timor Leste. Negara juga telah berkeinginan
mempercepat pembayaran utang kepada IMF karena mempunyai cadangan devisa yang
membaik. Itu memperlihatkan bahwa dari sisi uang kita tidak kesulitan untuk
membeli BBM bagi PLN.
Pemerintah, PLN, dan Pertamina masih bertikai dalam cara-cara pembayaran
subsidi. PLN mendapat subsidi BBM dari pemerintah. Pertamina menyalurkan BBM
kepada PLN sambil menagih tunggakan.
Beberapa kali terdengar bahwa pemerintah merasa sudah membayar tagihan
Pertamina, sementara pihak Pertamina merasa belum dibayar. PLN dan Pertamina
adalah sama-sama milik pemerintah.
Jadi, hubungan pemerintah, PLN, dan Pertamina lebih banyak didistorsi oleh
tata cara membayar daripada dihalangi ketiadaan uang.
Sudah berpuluh-puluh tahun PLN mengelola listrik nasional. Sudah
berpuluh-puluh tahun Pertamina menyuplai BBM bagi PLN. Sudah berpuluh-puluh
tahun pemerintah mengatur tata cara pembayaran.
Sangat memalukan kalau kebiasaan yang seharusnya membuat orang semakin
pintar, di negeri ini kebiasaan justru membodohkan. Tidak bisa diterima akal
Ibu Kota sebuah negara besar dan terdaftar sebagai produsen minyak harus
mengalami pemadaman bergilir karena perusahaan negara ketiadaan bahan bakar.
Negara yang sudah 61 tahun merdeka masih belum becus mengurus persediaan
bahan bakar untuk listrik. Sangat menyakitkan karena kesulitan tidak disebabkan
ketiadaan uang, tetapi oleh mismanajemen sehingga habis terang terbitlah
gelap....
----------------------------------------
Sumber: Media Indonesia Online
Copyright © 2006 Media Indonesia Online. All rights reserved
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/