Surat Kembang Gunung Purei:

SEBARIS RIWAYAT DUA ORANG PENULIS

-- Kesejajaran Jalan Hidup Antara Imre  Kertész dan Jorge Semprun



2.

Sedangkan Jorge Semprun, sejak 1953 sampai dengan 1962, turut memimpin 
perlawanan anti Franco di Spanyol di bawah nama samaran Federico Sanchez -- 
yang kemudian juga dijadikannya sebagai judul salah satu karyanya.

Pada tahun 1963, Jorge dikeluarkan dari Partai karena perbedaannya dengan garis 
resmi Partai. 

Lepas dari adanya perbedaan antara Imre dan Jorge, yang lebih menarik perhatian 
adalah persamaan atau kesejajaran jalan telah dilalui oleh kedua penulis ini di 
dalam dunia sastra. Persamaan itu terletak bahwa kedua-duanya menjadi saksi 
sejarah, menjadi penulis yang matang di zaman kita dan didewasakan oleh zaman 
itu sendiri. Keduanya sama-sama menulis karya-karya yang diilhami oleh 
kejadian-kejadian dunia. Misalnya pada Jorge Semprun tercermin pada "Le Grand 
Voyage" [Gallimard, Paris], "Quel Beau Dimanche" [Grasset, Paris], dan 
"L'écriture ou la Vie" [Gallimard, Paris]. Sedangkan hal demikian oleh Imre 
Kertész dituangkan dalam karya-karyanya seperti "Etre sans Destin" [Acted Sud], 
"Etranger [10/18], "Kaddish pour l'enfant qui ne nâitre pas" [Actes Sud] atau 
"Le Chercheur de traces"[Acted Sud].  

Setelah 61 tahun pembebasan mereka dari kamp Nazi, sampai hari ini keduanya 
masih memperlihatkan elan dan kreativitas teladan dalam dunia sastra dan 
pemikiran. Jorge selain terus menulis, sejak 1996, ia bekerjasama dengan 
l'Académie Goncourt, bahkan  pada masa  Partai Sosialis Spanyol memerintah, 
Jorge pernah menjadi Menteri Kebudayaan pada pemerintah Gonzalez di samping 
melanjutkan kegiatan jurnalistik dan kesastrawanannya di Paris. Sebagai 
jurnalis, Jorge memmpunyai kolom tetap di Jurnal du Dimanche, Paris berdamping 
dengan ruangan tetap budayawan terkemuka Perancis, Bernard Pivot.

Sedangkan Imre memainkan peranan pada papan pertama di arena kecendekiawan 
Jerman dan bekerjasama dengan harian Die Zeit.

Hal yang juga paralel pada kedua penulis terletak pada perhatian mereka akan 
dunia pemikiran atau filosofi.Karya-karya Jorge selalu menyimpan "makna" kalau 
bukan adanya "pesan". Sedangkan pada Imre, perhatian akan dunia filsafat ini 
dimulai sejak dini. Semenjak ia berada di SMA Henri-IV pada 1940-1941. Pada 
masa SMA inilah Imre sudah mengenal Emmanuel Levinas melalui Revue 
philosophique yang tersedia di perpustakaan Sainte-Geneviève. Sehingga tidak 
mengherankan apabila setelah dikeluarkan dari organ Partai Komunis Hongaria, ia 
menyambung hidupnya dengan menterjemahkan karya-karya  Ludwig Wittgenstein, 
Nietzsche dan Canetti.

Dari pengalaman kedua penulis ini, yang muncul di benak kecilku adalah 
pertanyaan: Memang perlukah sastrawan mempelajari filsafat demi peningkatan 
taraf atau bobot kesastrawanannya? Bagaimana caranya agar seorang sastrawan 
bisa menjadi "saksi sejarah dan zamannya"? Cukupkah ia hanya bermodalkan yang 
disebut bakat dan insting atau perasaan belaka? 

Pertanyaan-pertanyaan ini tentu saja lebih ditujukan kepada diriku sendiri 
sebagai seorang yang punya minat pada kesusastraan dan mendapatkan sastra 
pernah membimbingku melalui masa remaja sejak meninggalkan rumah orangtua. 
Apakah bimbingan dan acuan yang kudapatkan dari karya-karya sastra dalam 
berbagai genre itu suatu kebetulan? 

Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, aku sampai pada pandangan Jorge dan Imre 
mengenai arah penulisan, untuk apa menulis dan apa arti menulis bagi mereka 
berdua.

Menurut Jorge menulis baginya tidak lain daripada "membangun kehidupan. 
Memperpanjangnya." Jorge selanjutnya berkata: "Apabila kita hanya terkungkung 
oleh kenangan sama artinya kita berada di kerangkeng kematian". [Lihat: 
""L'écriture ou la Vie"].Atas dasar kesimpulan ini, maka Jorge memilih aktif di 
dunia pergerakan politik melawan rezim Franco. "Dalam kegiatan politik ini aku 
merasakan diriku kian hidup dari hari ke hari", ujar  Jorge."Kurasakan kegiatan 
politik merupakan suatu terapi yang efektif luarbiasa" dalam menjawab hidup dan 
mati.

Sedangkan pada pihaknya Imre berpendapat bahwa: "Kita tidak menjadi penulis 
karena dibuang.Sebelumnya kita sudah menjadi penulis.Penulis yang kuat. Kita 
punya selera, kecintaan pada sastra. Sejak usia 8 tahun, saya memang sudah 
berhasrat jadi penulis. Walau pun saya tidak tahu apa yang harus saya katakan 
dan tulis. Deportasi memang merupakan pengalaman luarbiasa, demikian membekas. 
Sehingga jika menuliskan pengalaman ini maka ia akan merupakan tindakan sangat 
berarti. Tapi saya, saya akan berusaha keras untuk tidak senantiasa menuliskan 
masalah ini. Penulisan bagi saya berkaitan dengan pengalaman hakiki 
[l'expérience fundamentale].   

Pandangan begini ditegaskan kembali oleh Imre dalam pidato sambutannya ketika 
menerima Hadiah Nobel Sastra 2002:

"Saat kita menulis tentang Auschwitz, perlu diketahui, paling tidak dalam 
artian tertentu, bahwa Auschwitz menempatkan kesusastraan pada suatu 
ketegangan. Mengenai Auschwitz, kita hanya bisa menulis sebuah roiman hitam [un 
roman noir] atau , entah jika menurut pengalaman Anda-anda, sebuah roman serial 
yang bermula dari Auschwitz dan berlangsung hingga hari ini. Apa yang ingin 
saya dengan kata-kata ini bahwa tak ada sesuatu sesudah Auschwitz yang 
meniadakan Auschwitz dan yang menolak Auschwitz. Dalam tulisan-tulisan saya, 
saya katakan, bahwa Holocauste, pembunuhan besar-besaran tidak pernah berada di 
masa silam".

Apakah "Auschwitz" sekarang sudah tidak ada? Sudah berhentikah holokos, 
pembunuhan besar-besar, dari muka bumi kita? Apakah pengucilan dan penindasan 
sudah "berada di masa silam"? Apakah Indonesia bebas dari "Auschwitz" dan 
"holokos"? Jika jawabannya positif, bagaimana menjelaskan adanya Komnasham dan 
keresahan daerah?

Apakah jalan kepenulisan Jorge Semprun dan Imre Kertész merupakan jalan yang 
melampaui batas dunia sastra? Masing-masing tentu saja bebas memilih jalan 
bersastra dan berkesenian sebagaimana Jorge dan Imre memilih jalan mereka 
sendiri.Dengan pilihan ini, Jorge dan Imre, agaknya tidak juga didikte oleh 
kekuasaan kapital atau uang.Dan memang dikte uang atau kekuasaan kapital di 
Indonesia bisa menentukan corak dan jalan yang ditempuh oleh sastra-seni kita. 
Sastrawan-seniman gampang dijadikan gasing mainan ketika "perut tak bisa 
menunggu", jika menggunakan istilah Bung Karno. Termasuk perut seniman. 
Barangkali disinilah kata-kata Imre Kertész "kita adalah penulis perkasa" [On 
est un écrivain en puissance] mempunyai makna.Perkasa sebagai warga republik 
sastra-seni yang bedaulat dan tidak menjual kedaulatannya.***

Paris, Juli 2006.
---------------
JJ. Kusni


[Selesai].



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/3EuRwD/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke