Mas, sahabat sahabat saya di Indonesia kebanyakan adalah Muslim, lebih banyak dari yang Non Muslim. Juga saudara saudara dalam keluarga besar saya. Kalau ya boleh menilai, mereka sangat saleh.
Saya juga sering melawat dalam perjalanan dinas ke Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi selatan. Mereka juga demikian. Sederhana tetapi tulus. Disamping itu, mas, saya juga melawat ke Malaysia, Pakistan, negara negara Muslim Afrika utara. Mas, mereka TAK lebih saleh. Banyak yang penipu, dan tak jujur. Saudi? bahh! muka dua! Jadi, bangsa apa yang lebih jauh dalam menterapkan ke Islaman dari bangsa kita? Juga dalam ke Kristenan, kita memang bukan juara, tapi, tak lebih jelek. Mereka jujur dan tulus. Terutama Minahasa. Yang preman juga banyak, di Jakarta ha ha ha salam danardono --- In [email protected], Al-Badruuni Enterprise <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Fakta secara luas memang benar bahwa mayoritas penduduk negara kita Muslim,namun secara jujur harus saya katakan belum semua yang meresapi agama yg dianutnya (Islam-red),termasuk saya yang masih dalam proses belajar. Untuk itu warga Indonesia (warga Muslim secara mayoritas) harus mulai dari diri dan keluarganya untuk kembali ke jalan yang Allah ridhai dengan menegakkan amar maruf nahi munkar berdasar Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Kalau dilakukan sendiri akan terasa sulit,namun warga Muslim bisa coba berjamaah dengan Muslim lainnya. > > Warga Muslim tentunya tidak bisa sendiri dan tentunya juga warga Indonesia yang lain (dari agama Kristen,Hindu,Budha,dll kepercayaan) untuk kembali meresapi ajaran agamanya masing-masing sehingga benar- benar nilai moral dan etika dalam agama bisa tercermin dalam kehidupan bernegara. > > Untuk para Pemimpin Indonesia, memang ada beberapa yang taat namun masih mayoritas tidak taat kepada Allah. Jadi masih belum berimbang sehingga seluruh kebijakan dan tata aturan yg berlaku belum bisa dilaksanakan dengan baik. > > Untuk SBY dan Kalla,kalau boleh saya beri nilai 1-10. SBY dapat 7,Kalla dapat 6. Hal ini belum menunjukkan untuk tataran Menteri dan Jajaran Pemerintah dibawahnya. > > Terima kasih > Ahmad > > RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Manusia Indonesia kebanyakan Muslim, lalu bagaiomana cara > menyadarkannya? > > Pemimpin yang taat pada Allah? Lho pemimpin kita kan semua taat pada > Allah? pak SBY dan Kalla juga kan? > > --- In [email protected], Al-Badruuni Enterprise > <al_badruuni@> wrote: > > > > Sepertinya harus ada revolusi dulu.....atau mungkin perlu > pergantian generasi,dari generasi Pemimpin yg banyak rusak moralnya > ke Pemimpin yg mayoritas taat kepada Allah SWT. > > > > Caranya,kalo susah lewat jalur musyawarah, ya mungkin perlu > bencana-bencana yg lebih besar lagi untuk menyadarkan manusia > Indonesia... > > > > Ahmad > > > > M Ikhsan Modjo <mikhsan.modjo@> wrote: > > Saya kok lebih sepakat sama Oom Lee, ketimbang Oom > Syafii, bahwa > > masalahnya sederhana. Tapi solusinya itu yang susah. Memang > memuaskan > > semua pihak adalah sulit. > > > > Para penganggur Indonesia bersatulah..... > > > > Salam, > > > > ------------ > > Lee Kuan Yew (AFR, May 17, 2006): > > > > 'They (Indonesian policy makers) know that their labour laws are > > driving away investors. But the moment the government proposes an > > amendment, the unions riot. Why? I think they haven't understood > what > > the world is. They think, "This is my minimum wage; you have to do > > this, you have to do that." Meanwhile, there's massive unemployment > > and no investments.' > > > > ------------------------------------------ > > > > Masalah Bangsa: Tidak Sederhana > > > > Oleh : Ahmad Syafii Maarif > > > > Ada sejumlah pejabat yang masih berilusi bahwa masalah bangsa akan > > selesai dengan sendirinya bila waktunya sudah datang. Mereka > berpikir > > ringan-ringan dan santai-santai saja, sementara kebanyakan > politisi, > > baik yang mengaku beragama ataupun yang tidak, lakunya tidak banyak > > berbeda. > > > > Kekayaan bangsa dan negara yang masih tersisa telah lama menjadi > > rayahan tanpa rasa malu. Pada suatu ketika saya pernah menyebut > > Indonesia sebagai RGI (Republik Garong Indonesia), karena semakin > > panjangnya deretan para penggarong dan perampok harta negara > > bergentayangan, dari pusat sampai daerah. Tidak itu saja, sebagian > > aparat penegak hukum pun telah memasukkan dirinya ke dalam daftar > > warga hitam itu. > > > > Akibatnya sangat nyata: masyarakat luas semakin merasakan hidup ini > > ibarat di sebuah negeri tanpa tuan. Pemilu langsung 2004 yang > semula > > diharapkan akan menciptakan perubahan-perubahan yang mendasar untuk > > perbaikan menyeluruh bagi bangsa ini, ternyata semakin jauh dari > > kenyataan. Alam pun telah menunjukkan kemarahannya. > > > > Bumi diguncang, laut menyerbu darat, mayat bergelimpangan, banjir > > memberi ancaman maut. Kemudian karena sikap gegabah pengusaha, > > Sidoarjo pun digenangi lumpur gas yang belum teratasi sampai hari > ini. > > Maka tidaklah heran, seorang teman penting mengirimkan SMS kepada > saya > > bahwa Kuala Lumpur yang sebenarnya bukan di Malaysia, tetapi di > > Sidoarjo, karena sudah bermandikan lumpur. Ngenes bukan? > > > > Sebenarnya orang-orang baik di negeri masih belum habis, tetapi > mereka > > seperti tidak punya saluran untuk berucap. Ada yang berucap, > > pertanyaannya kemudian adalah: masih adakah telinga yang mau > > mendengar, mata yang mau melihat, hati yang berfungsi? Bukankah > > sebagian kita telah lama mati rasa, tidak peduli, tidak hirau > dengan > > masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan bangsa ini? > > Pragmatisme, keserakahan, dan wawasan yang terlalu pendek, telah > > menyebabkan kita kehilangan perspektif masa depan. Otak sederhana > yang > > pengecut dan tidak ikhlas, tetapi punya otoritas, adalah salah satu > > sebab mengapa bangsa ini tetap saja berada di buritan perkembangan. > > > > Pengangguran yang semakin meluas karena sempitnya lapangan kerja > akan > > menjadi bom waktu yang dahsyat pada saatnya. Masalah bangsa jauh > dari > > sederhana. Pemerintah sebagai komandan harus menyadari kenyataan > rapuh > > ini secara jujur, berani, dan mau membuang ilusi bahwa Indonesia > masih > > aman. Kata mereka yang super optimistis ini: orang tidak perlu > > khawatir, karena Indonesia secara kultural telah punya urat > tunggang > > yang menembus jauh ke pitala bumi. > > > > Benar, bahwa banyak suku bangsa di Indonesia yang berusia sangat > tua > > dengan kebudayaan yang canggih, kaya, dan sebagian telah menjadi > > fosil. Tetapi Indonesia, sebagaimana telah berulang saya sampaikan, > > adalah sebuah bangsa muda yang belum berusia satu abad. Jadi, masih > > rentan, labil, dan karenanya gampang pecah, jika tidak disikapi > secara > > arif, historis, dan jujur oleh kita semua sebagai anak bangsa. > > Memandang enteng persoalan ini sama dengan kita sedang menggali > > kuburan masa depan kita. Proses penyadaran yang terus-menerus bahwa > > Indonesia adalah sebuah bangsa muda tidak boleh dilupakan. > > > > Kelalaian kita selama ini dalam proses penyadaran itu telah > berakibat > > sangat buruk bagi integrasi nasional yang sama-sama kita rindukan. > > Kita sungguh tidak ingin menyaksikan sebuah Indonesia yang > > berkeping-keping oleh kesalahan persepsi kita. Sebab itu, kita > harus > > berteriak terus dan terus berteriak, hingga ada telinga yang mau > > mendengar. > > > > Teriakan yang keluar dari kecintaan yang tulus dan dalam terhadap > > bangsa yang baru berumur setahun jagung ini bila diukur dengan > > perjalahan suku-suku bangsa adalah sebuah keniscayaan. Indonesia > yang > > baru muncul dalam peta dunia tahun 1920-an perlu kita selamatkan > > dengan seluruh kekuatan energi yang masih tersisa. Saya percaya > bahwa > > gelombang teriakan yang tidak punya agenda politik apa-apa tentu > akan > > dirasakan pula resonansinya pada jiwa mereka yang punya gelombang > > sama. > > > > Pertemuan kami dengan para mantan perwira tinggi sepuh yang sudah > > berusia di atas 70 tahun plus beberapa anak muda di suatu tempat di > > Jakarta tanggal 19 Juli 2006 semakin menyadarkan saya bahwa > kekecewaan > > bangsa ini terhadap kepemimpinan Indonesia sejak beberapa tahun > > terakhir sungguh nyata. Bukan karena mereka tidak dapat bagian kue > > nasional. Mereka semua sudah sangat mapan secara ekonomi. > > > > Di antara mereka ada yang sudah oleng kalau berjalan, tetapi > > ketidakrelaan mereka menyaksikan Indonesia ambruk di tangan > > anak-anaknya sendiri patut dicatat sebagai patriotisme yang tahan > > banting sejarah. Mereka umumnya adalah para pejuang revolusi dalam > > mempertahankan eksistensi republik pada saat Belanda ingin > meneruskan > > petualangan kolonialismenya kembali. > > > > Akhirnya, karena masalah bangsa jauh dari sederhana, maka stok > > otak-otak siuman yang banyak kita miliki tidak boleh tinggal apatis > > dan tinggal diam. Berbicaralah terus terang, santun, dan dalam > bingkai > > konstitusi, lalu katakan SOS Indonesia! > > > > -- > > 'It is better to be roughly right than precisely wrong.' > > > > JM Keynes > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > See the all-new, redesigned Yahoo.com. Check it out. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > --------------------------------- > Groups are talking. We´re listening. Check out the handy changes to Yahoo! Groups. > > [Non-text portions of this message have been removed] > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

