"METODE LAN FANG DAN PEMASALAHAN SENIMAN"
1.
Berikut, aku lampirkan terjemahan bebas sebuah laporan Harian berbahasa
Tionghoa [Phu tong Hwa atau Mandarin] yang terbit di Indonesia mengenai Lan
Fang. Lengkapnya sebagai berikut [lihat juga:Lampiran]:
PENGARANG PEREMPUAN DARI SURABAYA LAN FANG (KORAN SETEMPAT )
Di kota Surabaya berdiam seorang pengarang perempuan bernama Lan Fang . Ia
lahir pada tahun 1970 di Kalimantan Selatan , kota Majen (Banjarmasin) .
Sekarang ia tinggal di Surabaya.
Sejak karyanya yang pertama « REINKARNASI » memperoleh sambutan masyarakat
dan penilaian yang baik , keinginannya untuk berkarya bertambah besar, dan ia
makin tertarik untuk menulis.
Selanjutnya ia menulis beberapa roman lain, diantaranya » PAI YUN « , «
KEMBANG GUNUNG PURAI » dan « LAKI-LAKI YANG SALAH « « REINKARNASI » dan « PAI
YUN » menceritakan kehidupan sehari-hari dengan latarbelakang perempuan
keturunan Tionghoa.
Menurut Nyonya Lan Fang, yang bertutur kepada wartawan, ia sejak sebagai
murid SMP sudah tertarik menulis . Ketika itu ia sudah mulai menulis artikel
dan karangan-karangan untuk majalah-majalah di ibukota , dan karya-karyanya
tersebut mendapat pmenghargaan . Sejak itu, ia bertekad untuk menjadi penulis,
meskipun ia tahu betul bahwa profesi penulis tidak menentu dan pemasukannya
kecil. Namun ia tidak mempedulikan soal itu dan tekadnyapun tetap .
Sekarang ini, ia sedang menulis sebuah cerita panjang « PEREMPUAN KEMBANG
JEPUN » berisi kumpulan cerita-cerita pendek Yang Liu. Cerita ini terdiri dan
15 cerpen, yang setiap tokoh utamanya adalah Yang Liu. Cerpen-cerpen tersebut
menceriterakan problem-problem aktual yang dihadapi oleh perempuan-perempuan
keturunan Tionghoa sekarang ini. Menurut dia, agar supaya tulisan dia bisa
mempunyai daya tarik, maka harus sesuai dengan realitas yang ada. Karena itu,
dengan tidak takut lelah dan susah, ia terjun ketengah kehidupan langsung dan
ke lapangan. Misalnya ia datang dan mewancarai si penjaga mayat di kamar mati ,
dan juga ia kunjungi perempuan berumur tapi yang masih belum kawin/ masih
bujangan. Dan lain-lain lagi .
Nonya Lan Fang punya anak kembar tiga. Walaupun masih muda, mereka belajarnya
sangat baik, dan juga sudah interesan/tertarik dengan menulis.
Perasaannya sebagai seorang ibu yang penuh kasih sayang pada anak, telah
menginspirasi dirinya untuk terus menulis .
(Laporan Liya dan Pi Chen )
Dari laporan ini, terdapat dua hal yang menarik perhatianku. Dua hal atau
masalah tersebut terdapat pada alinea-alinea yang menuliskan:
Pertama, masalah yang diterakan oleh alinea beritkut:
"Sekarang ini, ia sedang menulis sebuah cerita panjang « PEREMPUAN KEMBANG
JEPUN » berisi kumpulan cerita2 pendek Yang Liu. Cerita ini terdiri dan 15
cerpen, yang setiap tokoh utamanya adalah Yang Liu. Cerpen2 tsb menceriterakan
problem2 aktual yang dihadapi oleh wanita2 keturunan Tionghoa sekarang ini.
Menurut dia, agar supaya tulisan dia bisa punya daya tarik, maka harus sesuai
dengan realitas yang ada. Karena itu, dengan tidak takut lelah dan susah, ia
terjun ketengah kehidupan langsung dan ke lapangan. Misalnya ia datang dan
mewancarai sipenjaga mayat di kamar mati , dan juga ia kunjungi wanita berumur
tapi yang masih belum kawin/ masih bujangan. Dan lain2 lagi ".
Kedua, adalah soal yang dikemukakan oleh alina di bawah ini:
"Sejak itu, ia bertekad untuk menjadi penulis, meski pun ia tahu betul bahwa
profesi penulis tidak menentu dan pemasukannya kecil. Namun ia tidak
mempedulikan soal itu dan tekadnya pun tetap".
Pada titik pertama, aku melihat metode penciptaan atau metode berkreasi Lan
Fang.
Apakah metode itu?
Metode yang ditempuh atau yang digunakan oleh Lan Fang dalam berkreasi adalah
metode :"dengan tidak takut lelah dan susah, ia terjun ke tengah kehidupan
langsung dan ke lapangan. Misalnya ia datang dan mewawancarai sipenjaga mayat
di kamar mati , dan juga ia kunjungi wanita berumur tapi yang masih belum
kawin/ masih bujangan. Dan lain2 lagi ".
Dengan kata lain, apabila pemahamanku benar, maka deengan mentrapkan metode
ini, Lan Fang secara sadar, memandang dan menjadikan kehidupan nyata sebagai
sumber ilhamnya untuk menulis. Untuk keperluan ini dan untuk mengenal sumber
ilham tulisannya, maka Lan Fang dengan "dengan tidak takut lelah dan susah, ia
terjun ke "dengan tidak takut dan susah, ia terjun ke tengah kehidupan".
Kehidupan nyata, ia jadikan sebagai bahan mentah dalam berkarya yang kemudian
ia kembangkan dengan daya khayal yang perkasa terbang ke segala penjuru.
Dalam dunia antropologi atau di kalangan Lembaga Swadaya Masyakarat disebut
sebagai metode partisipatoris, yang oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra] dulu
disebut sebagai "metode turun ke bawah" alias "turba". Atau menggunakan istilah
para seniman Yogya dengan "Republik Bringharjo"nya pada tahun 60-an, dinamakan
sebagai metode "menyelami kehidupan". Metode ini jugalah yang diterapkan oleh
Balzac yang disebut sebagai bapak realisme kritik yang kemudian berkembang
menjadi sastra-seni berpihak [engagé]. Victor Hugo melalui karyanya "Si Bongkok
Dari Notre Dame" mengembangkannya lebih lanjut dengan mengangkat orang
terpinggir, Asmaralda dan Si Bongkok sebagai tokoh utama, menggantikan dominasi
para hulubalang [ les chevaliers]. Yang aku khawatirkan dalam sastra Indonesia
sekarang bahwa kedudukan les chevaliers ini oleh kekuasaan pongah kapital akan
digantikan dengan erotisme.
Dengan menjadikan kehidupan sebagai sumber ilham, maka sang penulis tidak
akan pernah merasa kekurangan bahan mentah untuk berkarya. Karena kehidupan
nyata merupakan samudera luas yang tak kunjung kering menyediakan bahan mentah
bagi karyakaryanya. Makin tajam pandangan seorang penulis, maka makin mampu ia
menangkap yang "tidak terlihat menjadi kelihatan dan membuatnya nampak" , jika
menggunakan istilah Deleuze, Paul Klee atau pun Francis Bacon. Semakin seorang
penulis menyemai ide mencintai kehidupan serta memperpanjang kehidupan jika
meminjam istilah Jorge Semprun dan Imre Kertész.
Metode penciptaan begini, aku duga, akan menjadikan Lan Fang kian dekat
dengan kehidupan dan memungkinkan ia, cepat atau lambat, paling tidak menjadi
"saksi zaman" [ ini pun istilah Imre Kertész!] seperti yang diungkapkan oleh
filosof Perancis Alexandre Lacroix, ditambah lagi dengan kegelisahan Lan Fang
yang tak henti mencari, tak pernah mau berhenti di satu titik, terus-menerus
belajar, baik dari buku atau kehidupan, dan mengatasi segala permasalahan yang
menantangnya dari hari saat ke saat, terutama dominasi kapital yang mencekik
kebebasan kreativitas, semata kepentingan laba material, hingga tak enggan
memeras seniman.
Dengan ini, aku sampai pada persoalan kedua yang diungkapkan oleh koran
berbahasa Mandarin di atas ketika berbicara tentang dilema Lan Fang. ***
Paris, Juli 2006.
----------------------
JJ. Kusni
[Bersambung....]
---------------------------------
---------------------------------
The World Cup Is Now On Your Favorite Front Page - check out www.yahoo.com.sg
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/