Mbak Listy, Kalo kebohongan istri terhadap suami ada berapa ya? Mari 
kita berhitung...:-)

wassalam,


--- In [email protected], "Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> 
> -----Original Message-----
> From:  
> Sent: 
> To: 
> Subject: Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
> 
> 
> 
> Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan 
akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, 
tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, 
makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata 
kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu 
mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
> 
> Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai 
seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk 
makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering 
memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke 
mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
> 
> Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan 
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu 
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit 
makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak 
sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup 
ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang 
masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang 
aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu 
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu 
dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka 
makan ikan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
> 
> Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan 
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek 
api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit 
uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku 
bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin 
kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak 
korek api. Aku berkata : "Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu 
masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, 
aku tidak capek" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
> 
> Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku 
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai 
menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik 
matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, 
menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan 
menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. 
Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang 
yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera 
memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu 
berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!" ----------KEBOHONGAN IBU 
YANG KEEMPAT
> 
> Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus 
merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia 
yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan 
keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa 
penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada 
seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun 
membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga 
yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu 
sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu 
yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu 
berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGAN IBU YANG 
KELIMA
> 
> Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah 
dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu 
tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan 
sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku 
yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk 
membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau 
menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu 
berkata : "Saya punya duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
> 
> Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan 
kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di 
Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku 
pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku 
bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu 
yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata 
kepadaku : "Aku tidak terbiasa" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
> 
> Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker 
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di 
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk 
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya 
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku 
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya 
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan 
jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku 
terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil 
berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam 
kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan 
menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG 
KEDELAPAN.
> 
> Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta 
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
> 
> Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti 
merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih ibu..!"
> 
> Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak 
menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak 
menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di 
tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai 
beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. 
Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
> 
> Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli 
dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar 
kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia 
bahagia bila di samping kita.
> 
> Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? 
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu 
kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita 
renungkan kembali lagi..
> 
> Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu 
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di 
kemudian hari.
> 
> 
> sumber : anonim
>







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke