Surat Kembang Gunung Purei:

SIMPUL PENGALAMAN 



Proses bersastra yang dilakukan oleh Betool Khedairi dari Irak, Sorour Kamaï 
dari Iran dan Samia Serageldin dari Mesir atau May Swan dari Singapura dan 
lain-lain lagi... bertemu di satu jalan bernama jalan pertanyaan  dan usaha 
mencari jawaban, sekali pun dalam proses ini mereka terseok-seok oleh beratnya 
jalan ditempuh. 


Dengan mengisahkan pengalaman atau proses bersastra tiga atau empat  penulis 
perempuan di atas,  dan karya-karya mereka mendapat sambutan dari negeri-negeri 
lain, yang ingin kulakukan dan kucoba, sebenarnya bukanlah sekedar bertutur 
asal bertutur.  Tapi dengan membandingkan-bandingkan, berusaha mendapatkan satu 
jelujur benang merah dari pengalaman beragam itu. Karena aku sering teringat 
akan pesan   alm. Prof. Dr. Denys Lombard, Indonesianis besar Perancis, dalam 
percakapan pribadi, ketika menjelaskan mengapa ia mempelajari sejarah Asia , 
khususnya Asia Tenggara dengan metode perbandingan dan pendekatan 
multi-displiner.   Dalam bentuk hipotesa,  Lombard melihat   seakan ada 
kemiripan antara palung Mediterania dengan Asia Tenggara.  Melalui metode 
perbandingan dan pendekatan multi disipliner, D. Lombard berambisi mendapatkan 
suatu hukum umum dari suatu  perkembangan sejarah dari kedua palung kawasan 
ini. Pesan lain dari D. Lombard yang juga menancap di ingatan adalah agar 
selalu mengambil jarak dalam mengamati obyek dan jangan menjadi partisan. Sikap 
partisan gampang merabunkan mata dan memerosotkan kita ke jurang subyektivisme. 


 Apa yang dikatakan oleh D.Lombard ini pun menjadi sikap dari Pierre 
Vidal-Naquet, sejarawan Perancis yang baru saja meninggal. "Kita tidak bisa 
memotong teks dengan alasan seorang partisan", ujar Pierre. Karena itu, Pierre 
Vidal menggarisbawahi arti penelitian dan bertanya sebelum menulis.  Kata-kata 
ini kupahami sebagai bahwa membaca dan memahami kenyataan sebagaimana adanya 
kenyataan, jauh lebih utama dan menjadi pertama-tama daripada sikap membela 
seorang partisan atau seorang yang tersentuh kepentingan dan perasaannya.


Kalau  misalnya James Joyce "Pada buku biografi Joyce yang ditulis Richard 
Ellmann disebutkan; ketika Joyce barusan sukses meluncurkan novelnya: Ulysses 
di Paris. Dia didatangi seorang penulis baru bernama Arthur Power asal 
senegaranya, yakni Irlandia. Power ditanya oleh Joyce, apakah dia "l'homme des 
lettres" (penulis atau suka sastra) --[mungkin lebih kena: orang sastra-- JJK]. 
Power menjawab, "Ya, tertarik sastra." "Apa yang ingin Anda tulis?" sergah 
Joyce. "Ingin menulis dengan mengambil contoh satir ala Prancis," jawab Power. 
"Anda tak akan berhasil," jawab Joyce dengan meyakinkan. Lebih lanjut 
dikatakan, "Anda orang Irlandia, seharusnya menulis tentang tradisi yang ada di 
Irlandia. Meniru model lain, tak ada gunanya. Anda harus menulis apa yang 
berdenyut di darah Anda, dan bukan apa yang bersarang di otak Anda". [kursif 
dari JJK]. Power menolak saran Joyce, karena toh Joyce mampu menulis tema di 
luar Irlandia. Tapi Joyce membantah, awalnya harus dikuasai spirit nasionalisme 
dengan kesadaran tinggi, setelah merasa mampu, dengan mudah bisa meluas 
intensitasnya ke semangat internasionalisme, seperti yang dilakukan oleh 
Turgenev". Apakah kata-kata "harus menulis apa yang berdenyut di darah Anda, 
dan bukan apa yang bersarang di otak Anda" berarti Joyce menganjurkan 
pengabaian nalar dan kenyataan? Patrict Morantin,  yang bekerja pada departemen 
sastra dan seni pada Perpustakaan Nasional Perancis dalam wawancaranya dengan 
Harian La Croix , Paris [1 Agustus 2006] ketika berbicara tentang Ulysse   
antara lain mengatakan mengatakan bahwa untuk memahami Ulysse, ada baiknya kita 
menelusuri dulu hingga Homerus yang disebut Plato sebagai "pangeran penyair dan 
penulis pertama tragedi".  Menurut Patrick Morantin, Ulysse adalah "lambang 
rasa ingin tahu dan merupakan pahlawan modern".  Apa gerangan bedanya rasa 
ingin tahu dengan bertanya dan peranan bertanya yang disinggung oleh Budi Darma 
dalam proses penulisan? Mungkinkah bertanya tanpa menggunakan otak dan hanya 
berdasarkan insting? Kata-kata Joyce di atas pun kukira bukan berarti menegasi 
peran otak, tapi lebih menjurus kepada usaha tidak meniru, tidak menjadi 
epigon, melainkan untuk menjadi diri sendiri. Untuk menjadi diri sendiri dan 
bukan menjadi epigon, kukira tidak mungkin dilakukan dengan mengabaikan otak. 
Pernyataan Joyce di atas pun bukanlah sekedar hasil "aliran "yang berdenyut di 
darah Anda", tapi juga hasil pekerjaan nalar.  Rasa ingin tahu barangkali akan 
berkembang menjadi obsesi. Dalam hal ini, pertanyaan lain yang muncul di benak 
kecilku: Bagaimana pertanyaan dan obsesi itu lahir? Apakah mereka terlepas dari 
kondisi sosial dan lingkungan? Sedangkan masalah pengungkapan yang spontan 
adalah soal pengendapan hingga masalah yang dipertanyakan menyatu dengan diri 
penulis. Spontanitas adalah akibat dan atau hasil dari renungan serta 
pengamatan. Bisa juga dikatakan sebagai cara atau tekhnik pengungkapan. 


Jika hanya bersandar pada insting, hanya "harus menulis apa yang berdenyut di 
darah Anda" yang kukira bukan pemahaman lengkap tentang kata-kata Joyce, 
apabila kita cermat membaca riwayat dan pandangan-pandangan Joyce, kukira Joyce 
pun tidak mungkin menulis Ulysses atau karya-larya lainnya. Beckett pun tidak 
akan mungkin menulis "Menanti Godot".  "Harus menulis apa yang berdenyut di 
darah Anda", kupahami sebagai keleluasan penulis memilih dan mengolah tema. 
Tidak dalam arti harafiah menyepelekan otak. 


Bertolak antara lain  dari permasalahan inilah maka aku mengisahkan pengalaman 
tiga penulis perempuan di atas,  dengan maksud mencari: Adakah ciri umum di 
antara mereka tentang bagaimana bersastra sambil sekaligus melirik ke kehidupan 
dunia sastra kita hari ini dan bagaimana peranan kapital terhadap wajah sastra? 
 Dengan maksud yang serupa pula maka kutulis apa yang dialami oleh Jorge 
Semprun dan Imré Kertész.  


Sekali lagi, barangkali metode perbandingan dan pendekatan  multi disipliner 
bisa membantu usaha pemahaman suatu hal ikhwal. Dan arah pertamanya tidak 
kepada orang lain siapa pun kecuali kepada diri sendiri yang terlanjur 
dikontaminasi oleh virus rasa ingin tahu tak berkesudahan,  sehingga merasa 
diri tidak lebih dari pelajar awal selalu dan makin dongo saja. Karena aku 
melihat  makin banyak soal yang tidak kupahami dan tidak memungkinkan aku 
mempunyai keberanian  berlagak keminter. Bertolak dari kenyataan ini aku sama 
sekali tidak bisa menerima kritik yang mengatakan bahwa aku sangat rendah hati. 
Karena sesungguhnya aku masih seseorang yang sangat dongo dan tidak  tahu 
apa-apa di dunia yang rumit serta garang ini. Termasuk di dunia sastra.


Melalui  pengetengahan-pengetengahan begini juga, aku sebenarnya ingin 
mempertanyakan: Apakah selayaknya kita sudah puas dengan hasil sastra kita 
setingkat sekarang? Mengapa dan apa salahnya serta rugi apa, jika kita  
menggunakan strandar tinggi dan bukan standar ecek-ecek serta bersikap rendah 
hati selalu, karena seperti kata Pelukis Salim yang tinggal di Perancis sejak 
remaja: "perjalanan seniman tak punya sampai"? Melalui perbandingan, 
barangkali, kita pun bisa melihat di tingkat mana kita sedang berada. 


Melalui  perbandingan, kita pun, barangkali, bisa melihat bagaimana kemungkinan 
 kita mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang kita hadapi? Prakarsa demi 
prakarsa terpacu.  Melalui perbandingan pula, kita bisa untuk tidak menjadi 
"seekor katak di bawah tempurung" atau "seekor katak mau menjadi lembu", atau 
jika menggunakan istilah Samiadji, seorang penulis milis, "melakukan perjalanan 
jauh dengan menunggang gajah". 


Di hadapan keadaan beginilah aku selalu mempertanyakan soal apa-siapa 
sastrawan, apa-bagaimana tanggungjawab sastrawan dan bagaimana bersastra. 
Kejamkah pertanyaan-pertanyaan ini dan menuntut diri dengan standar tinggi. 
Pertanyaan yang lebih terarah ke diri sendiri. Sementara aku sendiri masih 
terbebani oleh keresahan karena  masih tak berdaya dan tidak diberikan syarat 
oleh pemegang kekuasaan politik sekarang untuk bisa membayar hutang moral pada  
kampunghalaman di mana tangis pertama kuteriakkan dan darah rahim ibuku 
tercucur.  Demi hasrat ini, aku masih menagih pada pemegang kekuasaan politik 
negeri kita  guna memberiku kembali tanpa syarat hakku untuk menjadi Indonesia 
dan membayar hutang moral kepada kampung hamalan. Indonesia bukan monopoli dan 
menjadi Indonesia pun bukan monopoli.  Stop monopoli! Hormati kebhinnekaan 
tungggal ika! Atau : Mari kita hancurkan Indonesia. Menghancurkan lebih gampang 
dari pada membangun. Mengoceh lebih gampang daripada benalar. Menjadi bandit 
lebih gampang daripada menjadi manusia. 


Dengan latarbelakang maksud inilah aku berkisah tentang tiga penulis perempuan 
dari Irak, Iran dan Mesir juga menyinggung nama May Swan dari Singapura yang 
masih terikat pada Indonesia karena ia dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, 
serta mempertanyakan dampak pengarahan kapital pada dunia sastra Indonesia, 
mempertanyakan tanggungjawab sastrawan sebagai warga republik berdaulat 
sastra-seni dan bagaimana bersastra serta apa -siapa sastrawan.  Aku ingin 
melalui perbandingan , harga diri dan martabat bisa dibela dan kita hormati 
sendiri. Dengan menuturkan pengalaman bersastra tiga penulis perempuan dari 
Irak, Iran dan Mesir , juga melalui pengalaman Jorge Semprun dan Imre Kertész,  
  aku mempertanyakan semua hal ini.  Cinta mengutukku untuk tidak berhenti 
bertanya seperti Ahaserus menanggung kutukan Eros.  Pengalaman bersastra dari 
tiga penulis perempuan yang telah kukisahkan menunjukkan bahwa bersastra  bagi 
ketiga penulis perempuan itu, termasuk bagi May Swan dari Singapura, adalah 
menyatukan diri dengan kehidupan , menghidupi sejarah, menyimpulkan tanpa 
ketakutan, tanpa mentabukan apa pun, dan secara bebas menarik pelajaran dari 
kehidupan dan sejarah yang mereka hidupi. Pengalaman mereka juga memperlihatkan 
bahwa sastra tak terpisahkan dari sejarah dan hidup yang garang. Mereka tidak 
lagi sempat berhandai-handai dengan diri sendiri walau pun Samia, misalnya, 
berasal dari lapisan elite bahkan borjuasi besar Mesir. Dalam keadaan begini, 
"pembebasan kata", nampak kepentingannya jauh berada di bawah pembebasan 
manusia dan kemanusiaan dari segala kekangan. Ataukah "pembebasan kata" itu 
merupakan bagian dari usaha sastra dalam usaha agung mempanusiawikan manusia 
juga adanya. Tapi barangkali, pengalaman bersastra tiga penulis perempuan ini, 
dikatakan sebagai kasus khusus, dan pengalaman bersastra Pramoedya, Zola, 
Solzenitzin, Marquez, Octavio Paz, termasuk pengalaman bersastra  Jorge 
Semprun, Kertész, André Malraux, dan lain-lain yang diakui sebagai nama besar 
dalam sastra dunia... hanyalah suatu kekecualian bagi dunia sastra dan tidak 
pada tempatnya dijadikan acuan bagi sastra Indonesia, apalagi dicari kesamaan 
umum dan diperbandingkan. 


Sementara itu, di pihak lain,  pengalaman Sorour Kasmaï dari Iran, Taslima 
Nasreen yang terpaksa meninggalkan Bangladesh karena nyawanya terancam, Cak 
Durasim yang harus membayar dengan nyawa kata-kata yang dia ucapkan, Pramoedya 
A Toer yang harus menderita di pulau pembuangan Buru selama 14 tahun, 
pengalaman E. Zola dan Victor Hugo yang harus jadi eksil untuk sementara waktu, 
Salman Rusdhie yang dijatuhi fatwa mati oleh Khoemeini karena karyanya 
"Ayat-ayat Setan", [Satanic Verses]  dan entah berapa nama lagi dari para 
sastrawan berbagai negeri, sudah bisa menjawab pandangan bahwa "Sastra memang 
bisa menjadi tempat curahan menumpahkan ide dan pemikiran. Tapi, juga bisa 
menjadi tempat bersembunyi". "Lempar batu sembunyi tangan" adalah kata lain 
dari sikap tidak bertangungjawab.  Apakah sikap "lempar batu sembunyi tangan" 
yang kita dapatkan, ketika tidak sedikit dari para sastrawan itu harus jadi 
eksil dan membayar kata-katanya bahkan dengan nyawa?! Pesan Lu Sin, pengarang 
Tiongkok, kepada anak tunggalnya agar "jangan menjadi sastrawan jika tak mau 
jadi gila", barangkali jadi simpul sederetan pengalaman bersastra dan sekaligus 
menjawab tudingan bahwa sastrawan itu sejenis manusia "lempar batu sembunyi 
tangan". 


Apa-siapa sastrawan, apa-bagaimana bersastra, bagaimana menjadi sastrawan?  
Inilah simpul pertanyaan atau kata kunci dari tuturanku tentang tiga penulis 
perempuan dari Irak, Iran, Mesir, tentang Jorge Semprun dan Imre Kertész. 
Nama-nama ini akan menjadi rangkaian sangat panjang jika dideretkan.  


Kata kunci sama sekali tidak mengunci pertanyaan bahkan sebaliknya bersama  
alir arus pengalaman yang menderas dan terus menderas tanpa henti, ia pun 
mengalir dan menghilirkan perahu pencarian .***


Paris, Agustus 2006. 
--------------------------
JJ.Kusni

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke