Perang Tanpa Pemenang

Oleh M. Guntur Romli

Kliping | 01/08/2006

Menghadapi situasi terjepit ini, hanya rakyat sipil dan pemerintah Lebanon
yang butuh sokongan. Kelompok Hezbollah tidak perlu dibela ataupun aksi
Israel ini hanya untuk dimaklumi. Peran Amerika tidak bisa dinafikan untuk
menekan pemerintah Israel agar menghentikan serangan. Segala bentuk dalih
dukungan pada Israel�misalnya dengan mengatakan bahwa Israel hanya membela
diri�akan semakin mendorong Israel untuk terus melakukan serangan.

Rabu pagi (12/7), Pemimpin Hezbollah, Syekh Hasan Nasrullah belum selesai
menyantap ka'ak; jajan yang dihidangkan untuk perayaan. Baru saja ia
memaklumatkan kesuksesan pasukan Hezbollah menyandera dua orang serdadu
Israel. Sebuah misi heroik yang disambut pesta oleh seluruh pendukung
Hezbollah dan dianggap sebagai peristiwa al-karamah al-musta'adah
"kehormatan yang telah direbut kembali". Tiba-tiba perayaan itu terhenti
oleh aksi pembalasan dari pihak militer Israel. Sebelumnya Panglima Militer
Israel, Jenderal Dan Halutz telah mengirim pesan teror "misi Hezbollah itu
hanya akan memutar jarum jam 20 tahun ke belakang." Dan benar, setelah
pembalasan Israel digelar, Lebanon seperti kembali ke dua dekade silam.
Lebanon Selatan dan kota Beirut hancur lebur. Lebanon yang dikenal sebagai
"sorga pariwisata" berubah menjadi "neraka malapetaka". Sialnya hanya
gara-gara penyanderaan dua serdadu Israel. Siapa yang mendulang keuntungan
dan menjadi pemenang dari perang ini?

Israel mungkin unggul dalam segala-galanya. Terutama kecanggihan senjata dan
kekuatan lobbi. Jangankan melawan Hezbollah, ketika Israel dikeroyok oleh
gabungan pasukan negara-negara Arab pada perang Arab-Israel tahun 1967,
Israel tidak terkalahkan. Semenanjung Sinai milik Mesir jatuh ke tangan
Israel, dan Dataran Tinggi Golan milik Suriah diduduki. Pun Lebanon Selatan,
dan seluruh wilayah Palestina berhasil dikuasai. Sementara saat ini, Israel
"hanya" menghadapi sebuah milisi militer. Bisa dikatakan perlawanan
bersenjata Hizbulah adalah misi yang mustahil. Hingga hari ini (18/7),
harian Israel Haaretz memberitakan, militer Israel "sukses" menyerang lebih
dari 1000 titik sasaran di Lebonon, khususnya markas-markas Hezbollah. Kota
demi kota di Lebanon menunggu giliran untuk dihancurkan. Dan Hezbollah hanya
membalas dengan serangan roket.

Perdana menteri Israel yang baru terpilih, Ehud Olmert merasa menang dan
bisa meraih keuntungan. Popularitasnya pun melambung tinggi. Ia tak lagi
dibayang-bayangi kebesaran seniornya, Ariel Sharon. Dengan serangan balasan
itu pula, sekaligus bantahan terhadap tudingan bahwa dirinya terlalu lunak
pada musuh-musuh Israel. Pun nantinya mayoritas dunia internasional
menganggap, Israel hanya membela diri.

Hemat saya, serangan militer Israel yang membabi-buta ini tidak akan
berhasil melenyapkan kekuatan Hezbollah, malah akan semakin menambah
kekuatan dan dukungan. Olmert mengulangi kesalahan Ariel Sharon pada tahun
1982, ketika menyerbu Beirut dan membumihanguskan kamp pengungsian Palestina
di Shabra-Shatila. Penyerbuan Israel itu malah melahirkan Hezbollah sebagai
kelompok perlawanan bersenjata yang didukung penuh oleh Iran. Dan karena
penyerbuan itu pula, kesadaran nasional rakyat Lebanon terwujud, yang
sebelumnya tercabik-cabik oleh perang saudara. Mereka bersatu-padu melawan
agresi militer Israel. Sharon sendiri terpojok saat itu, dan harus
kehilangan jabatannya sebagai menteri pertahanan. Ia sempat menghilang,
sebelum kembali lagi, menjadi pemimpin yang paling keras dalam sejarah
Israel. Dalam ranah ini, Israel meski sebuah musibah namun juga anugrah bagi
persatuan bangsa Arab. Sharon sendiri yang melahirkan Hezbollah, malangnya
ia harus perangi sepanjang hayatnya.

Hezbollah juga merasa di ambang "kemenangan", karena berhasil memprovokasi
Israel untuk berperang. Tanpa konflik senjata, Hezbollah bak singa tanpa
rimba, tidak memiliki peran dan agenda. Selama ini bagi Hezbollah, penarikan
mundur tentara Israel dari Lebanon Selatan pada tahun 2000 menjadi bukti
keberhasilan perlawanan militer kelompok penganut paham syiah itu. Melalui
konflik ini pula, popularitas Hezbollah akan membumbung tinggi. Menghadapi
kekuatan Israel, Hezbollah juga tidak merasa kecut, karena ada dua kekuatan
negara di belakangnya yang siap menggelar "perang puputan": Suriah dan Iran.
Pesan yang juga disampaikan oleh Nasrullah Rabu pagi itu, menegaskan bahwa
Lebanon masuk lingkaran poros Iran-Suriah untuk melawan Israel dan Amerika.

Namun atas tindakan radikalnya itu, bagi saya, Hezbollah�sebagaimana
Hamas�akan semakin dikucilkan dari Liga Arab. Sejak dini, Saudi mengecam
tindakan Hezbollah sebagai perlawanan illegal di luar pemerintah resmi.
Hezbollah membangun negara dalam negara. Dalam pertemuan darurat para
menteri luar negeri dunia Arab Sabtu lalu, Hezbollah gagal meraih simpati
dan solidaritas Liga Arab. Mesir dan Jordania menegaskan kembali sikap
pemerintah Saudi yang menganggap bahwa tindakan Hezbollah itu membahayakan
keamanan negeri-negeri jirannya dan telah membunuh proses perdamaian di
Timur Tengah.

Lantas siapa yang beruntung? Dua "orang tua asuh" Hezbollah: Suriah dan
Iran? Presiden Suriah Bashar al-Asad untuk sementara bisa menarik nafas
lega. Sebelum ini ia terpojok gara-gara laporan komisi investigasi
independen PBB, yang mengarahkan jari telunjuk pada dirinya bahwa ia
terlibat pembunuhan Perdana Menteri Lebanon; almarhum Rafik al-Hariri. Dan
atas serangan Israel itu pula, rakyat Lebanon bisa sadar atas kesalahannya
karena telah mengusir pasukan Suriah dari Lebanon pada tahun 2004. Tanpa
serdadu Suriah di Lebanon berarti keamanan negeri itu terus terancam. Dan
serangan Israel saat ini menjadi bukti nyata.

Iran bisa menangguk keuntungan sementara. Setelah babak belur di dunia
internasional akibat program nuklirnya, perang Israel-Hezbollah saat ini
adalah pengalihan isu yang paling jitu. Kampanye Presiden Iran Mahmoud
Ahmadinejad untuk menghapus negara Israel dari peta dunia telah dimulai.
Seperti teriakan pemimpin-pemimpin negara Arab pada Perang Arab-Israel dulu,
bahwa mereka "akan mencemplungkan negara Israel ke laut."

Melalui krisis Lebanon ini, kita menyaksikan bahwa Iran dan sekutunya telah
mendorong kawasan di Timur Tengah untuk memasuki gelanggang perang terbuka.
Sehari sebelum drama penyanderaan itu, Iran menolak mentah-mentah seluruh
pembicaraan mengenai program nuklir, dan sekonyong-konyong Hezbollah sebagai
agen militer Iran di Lebanon melansir berita penyanderaan dua serdadu
Israel. Dalam sekejap, mata dunia pun beralih pada Lebanon.

Sementara Lebanon sendiri adalah sandera dari konflik senjata ini.
Pemerintah Lebanon tidak memiliki kekuatan untuk menekan Hezbollah. Meskipun
ada resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1559 tahun 2004 yang mengamatkan untuk
melucuti persenjataan milisi Hezbollah dan milisi-milisi lain. Lebanon
adalah korban dari kekerasan ini. Rakyat Lebanon tidak memiliki secuil niat
untuk berperang. Lebanon adalah negeri yang dibangun bersusah-payah setelah
dihancurkan oleh konflik yang berkepanjangan: perang saudara dan agresi
militer Israel dengan mengandalkan dunia pariwisata, dan perdagangan. Sebuah
negeri yang telah menutup rapat-rapat pintu perang. Pahitnya perang justeru
dikobarkan lagi di negeri ini.

Menghadapi situasi terjepit ini, hanya rakyat sipil dan pemerintah Lebanon
yang butuh sokongan. Kelompok Hezbollah tidak perlu dibela ataupun aksi
Israel ini hanya untuk dimaklumi. Peran Amerika tidak bisa dinafikan untuk
menekan pemerintah Israel agar menghentikan serangan. Segala bentuk dalih
dukungan pada Israel�misalnya dengan mengatakan bahwa Israel hanya membela
diri�akan semakin mendorong Israel untuk terus melakukan serangan. Padahal
seperti yang disampaikan Presiden Rusia Vlademir Putin, melalui serangan
membabi-buta ini, Israel telah memiliki agenda lain, tidak hanya berusaha
membebaskan dua serdadunya yang disandera.

Pemerintah Lebanon perlu dukungan untuk menjalankan otoritasnya. Sementara
Hezbollah jika masih mengakui sebagai bagian dari negeri Lebanon sewajibnya
mematuhi kebijakan pemerintah Lebanon. Liga Arab dan OKI berfungsi untuk
menuntut Suriah dan Iran agar mengendalikan Hezbollah. Di sinilah hemat
saya, pemerintah Indonesia bisa berperan aktif dalam dunia internasional,
dengan catatan dalam konflik ini bukan untuk membela salah satu pihak yang
berperang, kecuali rakyat sipil dan pemerintah Lebanon. Kekerasan dan perang
selalu ditamatkan dua nasib yang sama-sama kalah: mati berkalang tanah, atau
hidup tersiksa selamanya. Karena itu, dalam perang, tidak ada yang didaulat
sebagai pemenang.

Mohamad Guntur Romli, Analis Politik Timur Tengah dari Jaringan Islam
Liberal

Dimuat di Media Indonesia Kamis 27 Juli 2006

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1095


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke