Surat Jembatan Sembilan:

KETIKA HENING HANYA MEMPERDENGARKAN  SATU SUARA

[ Mengenang Pierre Vidal-Naquet, Sejarawan dan Cendekiawan Engagé ]


1.


Pada tanggal 27 Juli 2006, harian nasional Paris, Libération, menyiarkan 
pernyataan kelompok cendekiawan Perancis, "Trop c'est trop!" ["Kerterlaluan 
Sungguh Keterlaluan"], di mana tergabung cendekiawan-cendekiawan terkemuka 
Perancis seperti: Etienne Balibar, Suzanne Citron, Stephan Hezel, Henri Korn, 
Gilles Manceron , Abraham Segal dan Pierre Vidal-Naquet. Kolektif cendekiawan 
"Trop c'est trop" ini dibentuk pada Desember 2001 atas prakarsa sejarawan 
Madeleine Robérioux. Dalam pernyataan 27 Juli 2006, kolektif "Trop c'est trop" 
membelejedi keketerlaluannya serangan Israel terhadap Libanon, negara berdaulat 
tetangganya sehingga menimbulkan korban nyawa, harta benda, penderitaan tak 
tertakar, pengungsian dan kehancuran , terutama bagian Selatan, negara tetangga 
Israel itu. Kehancuran, yang oleh terusan tivi Perancis  TF2, disebut sampai 
pada tingkat "tak ada lagi yang tersedia untuk dihancurkan".  Berhaapan dengan 
tragedi ini, kolektif "Trop c'est trop", yang beranggotakan tidak sedikit 
cendekiawan-cendekiawan berdarah Yahudi,  dengan suara lantang berteriak: 
"Cukup!" [Assez!), "Basta!", jika menggunakan istilah orang Indian Chiapas, 
Meksiko di bawah Komandan Marcos,   ke arah Israel dan Amerika Serikat yang 
"membela" [défendraient] Israel dalam melancarkan perang baru kali ini . 
Bisakah di Indonesia kita mengucapkan "Basta!" dengan segala konseksewensinya 
dan dengan konsekwen?  


[Kolektif [istilah yang digunakan sendiri oleh kelompok cendekiawan ini], "Trop 
c'est trop" juga menyerukan kepada Israel untuk segera  "mengakhiri konflik 
yang kian menjauh"].


Pernyataan kolektif  "Trop c'est trop", yang melibatkan diri dalam 
masalah-masalah kongkret kemasyarakatan,  merupakan tradisi engagé [berpihak 
manusiawi] sejak Emile Zola, sang sastrawan,  membela Dreyfus yang dituduh 
mengkhainati bangsa.  [Ketika memperingati kasus Kapten Dreyfus, tahun ini di 
Akademi Militer Paris, l'Ecole Militaire], Presiden Jacques Chirac mengusulkan 
agar perwira yang dituduh berkhianat ini dimakamkan kembali di pusara 
putera-puteri terbaik tanahair, Pantheon. Kapten Dreyfus dinilai sebagai 
perwira militer yang melambangkan kesetiaan pada nilai-nilai militer yang 
manusiawi dan republiken]. Engagement [keberpihakan pada kebenaran, keadilan 
dan kemanusiaan, bukan sekedar keberpihakan secara umum] sejak itu merupakan 
tradisi cendekiawan Perancis. Engagement begini, juga memperlihatkan bahwa bagi 
cendekiawan Perancis, ilmu  tidak seniscayanya disterilkan. Dengan tradisi 
engagé, ilmuwan dipandang niscaya mempunyai tanggung jawab sosial dan 
kemanusiaan.  Engagement juga berarti kesanggupan menanggung resiko dari 
engagement itu. Tidak bungkam, tidak tiarap di hadapan tirani, apa pun 
resikonya. Inilah yang ditunjukkan seperti antara lain oleh Emile Zola ketika 
membela Dreyfus, Victor Hugo yang tegar memihak Komune Paris, A.Camus dalam 
perang kemerdekaan Aljazair,  Pierre Bourdieu dalam membela gerakan buru, 
Sartre dalam Revolusi Mei 1968, Jacques Derrida bersama Bordieu dalam membela 
para sastrawan dunia yang ditindas pemerintahnya melalui "Parlemen Sastrawan". 
Bahkan juga dilakukan oleh perancang mode seperti Yves St. Laurent dengan teman 
dekatnya Pierre Bergé. Membaca keadaan begini, aku hampir sampai pada 
kesimpulan, paling tidak hipotesa bahwa enggagement manusiawi merupakan salah 
satu ciri penting dan mentradisi bagi  dunia sastra-seni dan dunia cendekiawan 
Perancis. Ciri penting artinya cukup dominan, kalau bukan sudah dominan. 


Dalam konteks engagement ini,  maka  adanya nama, pengakuan hanyalah hasil atau 
akibat, bukan sesuatu yang diburu. Tidak pernah di negeri ini kudapatkan adanya 
"otoproklamasi" sebagai sastrawan, esais dan sebangsanya. Dan agaknya memang 
tidak diburu-buru.  Nama dan posisi adalah buah dari pekerjaan dengan kerja 
susah payah tanpa mengelak resiko. Berani dan sanggup sendiri menentang arus. 
Bukan hanya mau gelar tanpa bobot tapi mengelak tanggungjawab. Nama dan 
pengakuan publik adalah bentuk penghargaan masyarakat terhadap sumbangan 
pemikiran dan kerja yang diberikan oleh para cendekiawan serta 
sastrawan-seniman. Makna kongkret sumbangan-sumbangan  inilah yang menjadi 
dacing timbangan  penakar bobot nama, pengaruh dan penghargaan.  Ketika 
pengaruh dan penghargaan ini sudah ada, saat demikian maka ide menjelma menjadi 
kekuatan material. Agaknya bagi cendekiawan,  sastrawan dan seniman Perancis, 
menjadi sastrawan-seniman dan menjadi cendekiawan mengandung masalah bobot dan 
sumbangan pemikiran, kadar engagement serta keterampilan tekhnis atau 
profesional. Hal-hal inilah yang menapis cendekiawan, sastrawan dan seniman. 
Karena itu sasrawan dipandang sebagai jurubicara zaman dan "jiwa bangsa dan 
zaman". Pramoedya A. Toer dihargai tinggi hingga diberikan oleh pemerintah 
Perancis bintang jasa "Legion d'honneur" karena ia dipandang sebagai "jiwa 
bangsa dan jurubicara zamannya". 


Barangkali ada yang bertanya: "Apa sih gerangan kekuatan kata sehingga demikian 
diperhitungkan bahkan menakutkan?" 


Pertanyaan ini pernah dijawab oleh Napoleon Bonaparte: "Kata lebih tajam dari 
pedang".  Dan Napoleon yang juga berjasa dalam dunia pemikiran, pemberaban 
masyarakat Perancis melalui berbagai Code yang disusunnya,    sangat takut pada 
kata. Karl Marx yang sampai sekarang ditakuti bahkan jadi biang "hantu yang 
yang berkeliaran di Eropa" juga bekerja dengan kata. Cak Durasim, tokoh ludruk 
Jawa Timur itupun dibunuh militeris Jepang karena kata. Kitab-kitab "suci" pun, 
bukankah juga kata?


Membaca keadaan begini, aku hampir sampai pada hipotesa bahwa segalanya bermula 
dari kata. Dan barangkali, terutama "kata kerja".  Jika hipotesa ini ada 
benarnya, maka kesadaran dan kecermatan berkata, memilih kata menjadi sangat 
penting bagi semua orang, lebih-lebih bagi orang-orang yang bekerja dengan 
menggunakan sarana bahasa. Kemampuan berkata dan berbahasa memperlihatkan 
tingkat nalar atau logika penggunanya. Karena itu, kukira, mengembangkan 
kemampuan berbahasa menjadi sangat membantu dan penting bagi pengembangan 
tingkat kecendekiawanan dan kebudayaan seseorang. Gelar atau nama, 
seniscayanya, menjadi cerminan dari tingkat ini. Aku pun membaca Indonesia yang 
kucintai, Indonesia sebagai suatu rangkaian nilai, dengan kacamata ini.  
Membaca milis, posting dan semuanya dengan kacamata serupa. Kata yang 
dilontarkan tidak menipuku seperti halnya dengan  banyak orang telah 
mengelabuiku, apalagi di masa dominasi pongah "globalisasi kapitalis" seperti 
sekarang.


Dengan kaca mata ini pulalah, aku membaca pernyataan  kolektif "Trop c'est 
trop" yang mengutuk perang baru dilancarkan oleh Israel dengan sokongan Amerika 
Serikat dan ketidakberdayaan dunia internasional mencegah masakre di Libanon 
hari ini atas nama menghalau dan menghancurkan terorisme dan "bela diri" 
Zionis, rasialisme dalam bentuk negara. Korban nazi Hitler yang menjelma jadi  
fasis  itu sendiri. Pernyataan "Trop c'est trop" 27 Juli 2006, memang hanya 
kumpulan kata-kata. Kata-kata sedang berhadapan, seperti yang sering kita 
saksikan dalam sejarah , kembali sedang berhadapan dengan maut yang bersenjata 
canggih dan mutakhir. Bisakah kata dihancurkan. Kata-kata kolektif  "Trop c'est 
trop" akan terus menggaung di bawah langit bumi, karena ia sudah diucapkan. 
Barangkali Israel atau Amerika Serikat bisa meratakan secara fisik suatu 
negeri, tapi seperti kata tokoh  penuklis cerita-cerita detektif Inggris, 
Agatha Christie, Poirot,  "kebenaran akan menyatakan dirinya sendiri tanpa 
diminta".  Dan seperti ujar  François Ernenwein, editoralis harian nasional 
Katolik Paris , La Croix [ 03 Agustus 2006 ]: "Israel memang telah memenangkan 
perang demi perangnya, tapi ia tidak pernah mendapatkan keamanan". 


Artinya, kekerasan hanyalah jalan pintas bagi kekalapan dan kepongahan kekuatan 
fisik. Bukan kebenaran hakiki, apalagi jalan keluar, keadilan, peradaban dan 
kemanusiawiaan. Kekerasan sebagai bagian dari kebiadaban, akan berakhir dengan 
kekalahan. Bisakah kekerasan memperadabkan manusia? [lihat.F.Engels tentang 
kekerasan]. Barangkali sebab inilah maka puisi tidak mati-mati dan senantiasa 
diperlukan, lebih-lebih di keheningan yang hanya memperdengarkan satu suara.  
Dari sudut inilah aku membaca dengan penghargaan pernyataan 27 Juli 2006 
kolektif "Trop c'est trop" yang antara lain ditandatangani oleh sejarawan 
Perancis, Pierre Vidal-Naquet, bersamaan dengan itu aku pun mengutuk segala 
pemujaan kekerasan, pemaksaan serta keangkuhan mayoritas dan pengandalan pada 
okol [ ujud dari keterbatasan nalar serta ketidakmampuan bernalar]  di 
Indonesia, yang bukan monopoli etnik dan kelompok mana pun. Tidakkah dengan 
cara-cara ini,  kita sedang mengkhianati, sedang menghancurkan Republik dan 
Indonesia atas nama macam-macam dalih? Jika benar demikian, mengapa tidak 
terus-terang dan tanpa munafik, beberkan spanduk di seluruh wilayah negara: 
"Hancurkan Republik dan Indonesia!". Kita tidak bisa ber-republik, 
berkindonesiaan dan tidak bisa menjadi manusia dengan segala keragamannnya.  
Tapi barangkali, bumi kita memang dipenuhi "setan haus darah berjubah Tuhan" 
yang sekali lagi memaksa kita untuk bertarung di setiap tapak diayun, tanda 
tidak gampangnya jadi manusia yang manusiawi dan langkanya manusia di zaman ini 
sehingga seperti filosof Yunani Kuno harus menyalakan klandil di siang bolong 
untuk mencari manusia. O, betapa tidak gampangnya menjadi manusia, 
memanusiawikan diri sendiri. Tapi jangan katakan padaku bahwa ini adalah 
kutukan "dosa pertama" ketika Adam dan Hawa meninggalkan Taman Eden! Aku lebih 
cenderung pada "teori kompleksitas" Edgar Morin untuk memahaminya. 


Manusia dan bumi kita adalah suatu kompleksitas, bukan puritanisme atau fundi 
yang asing dari kenyataan serta cupet dan berbahaya bagi semua. Dengan 
kesadaran ini maka Pierre Vidal-Naquet yang berdarah Yahudi, tidak segan 
mengutuk perang baru Israel dengan sokongan AS. Etnik dan bangsa hanyalah 
perbatasan semu bagi kemanusiaan, barangkali inilah pesan yang disampaikan oleh 
pernyataan 27 Juli 2006 kolektif "Trop c'est trop" sebagai kolektif cendekiawan 
engagé dengan engagement yang sanggup menanggung resiko dan menentang arus. 

Bertolak dari perbandingan ini, sambil melihat esok bangsa dan negeri bernama 
Indonesia, aku mempertanyakan bagaimana secara rata-rata, cendekiawan, 
sastrawan dan seniman Indonesia angkatan sekarang,  memperlakukan engagement 
kerakyatan, republiken dan berkeindonesiaan, sementara tidak sedikit yang 
mentabukan politik dan buta politik? Politik dipandang sebagai tak menyangkuti 
soal sastra-seni dan ilmu. Pertanyaan tak relevan dan tak mengena barangkali?! 
Pertanyaan dungu seorang kakek yang tua bangka, ompong dan  pincang berjalan 
terseok-seok, ubanan serta botak yang menggelikan pandangan,  ketinggalan 
perkembangan?! Malangnya, si kakek ini masih saja diusik oleh cintanya pada 
republik dan Indonesia. Cinta yang membuatnya jadi Ahaserus dikutuksumpahi Eros 
sementara globalisasi kapitalis dan "uang sebagai raja" [l'argent roi] 
mengembangkan egoisme dan ego sentrisme tak kepalang.***


Paris, Agustus 2006.
---------------------------
JJ. Kusni



[Bersambung....]

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke