HARIAN ANALISA Edisi Sabtu, 5 Agustus 2006 Kasus Pelarian TKI dari Johor Terus Meningkat
Johor Bahru, (Analisa) Jumlah TKI yang melarikan diri dari Johor Bahru terus meningkat menjadi rata-rata 15 orang per minggu, terbesar akibat gaji tidak dibayar majikan. "Gaji tidak dibayar menduduki peringkat teratas, selanjutnya karena perlakuan kasar oleh majikan. Sedangkan pelarian TKI khususnya perempuan akibat pelecehan seksual menduduki urutan berikutnya," ungkap Sekretaris Informasi Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Johor Bahru, Malaysia, Isak Barry Kafiar kepada Antara, Jumat. Jika dibanding enam bulan sebelumnya yang tak lebih dari 10 kasus per minggu, berarti ada peningkatan cukup besar. "Tetapi, dari data di lapangan kami mendapat informasi, jumlah TKI yang masuk pun tak kalah banyaknya dengan yang lari," kata alumnus Universitas Cenderawasih (Uncen) yang baru bertugas sekitar enam bulan di Johor Bahru ini. Diplomat karier yang berdarah Papua itu mengatakan, setiap kali ada kasus pelarian TKI, pihaknya segera memanggil para majikan. "Malahan kami pro aktif mendatangi pihak agen yang rata-rata memang nakal," aku Barry Kafiar. Ditanya detil angka pasti tentang jumlah kasus gaji tak dibayar, Barry Kafiar menyatakan, sekitar separuh pelarian karena masalah ini. "Dari 15 kasus, setengahnya karena gaji tak dibayar, baru kemudian perlakuan kasar dan pelecehan seksual," tambah Barry Kafiar yang pernah bertugas di Negeri Belanda, Lagos, Nigeria dan sejumlah negara sahabat lainnya itu. Mengenai kasus pelecehan seksual, memang menduduki urutan terakhir. Tetapi, karena ini sangat sensitif, sehingga sering menjadi pusat perhatian utama pihaknya, juga kalangan pers. Sementara itu, Boediono (28), bapak beranak satu awal Madiun, yang bekerja di sebuah pabrik meubel di Johor Bahru, mengutarakan, tak banyak bedanya jumlah TKI pulang ke Indonesia maupun masuk Malaysia. "Banyak yang lari, terutama yang ilegal. Tetapi, yang masuk secara ilegal pun lebih banyak lagi," kata Boediono yang pendapat senada diakui Yogi (27), seorang pekerja peternakan asal NTB, secara terpisah. Yogi malah menuturkan, tiap hari di lokasi peternakannya yang jauh di pedalaman Johor Bahru, rata-rata ada lima orang baru masuk. "Tetapi hanya sehari bersama kami, tiba-tiba entah dibawa ke mana oleh majikan," tukas Yogi. Terhadap masalah ini, Barry Kafiar meminta perhatian pihak berkompeten di Indonesia, agar semakin memperketat pengawasan terhadap para agen tenaga kerja nakal. "Sumber masalahnya ada pada agen-agen nakal itu. Saya mohon bantuan pihak berwajib di tanah air, agar bisa mengatasi bersama masalah ini. Sebab, jika terus dibiarkan, kami yang di luar negeri yang terus dibuat repot, dan citra Indonesia bisa terus dibuat tidak baik," pinta Barry Kafiar. (Ant) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

