Republika, 5 Agustus 2006

Wartawan Pun Terbelah  
                               Perang, tak hanya persoalan butir peluru yang 
dimiliki, berapa biji rudal serta bilangan jumlah tentara. Dalam banyak hal, 
peperangan juga ditentukan keuletan, kelicinan taktik, dan kecerdikan strategi 
para petugas humas. 
 Dan Israel tahu itu. Dalam pertikaiannya dengan Palestina dan Lebanon saat 
ini, para wartawan asing yang datang ke kancah perang itu harus mengakui 
kesungguhan Israel menyediakan segenap keperluan mereka. Israel bahkan tak 
segan menyediakan makan siang gratis buat wartawan, di tengah kesulitan pangan 
di Lebanon. Simak saja pengalaman Matthias Gebauer, koresponden Majalah Jerman 
Der Spiegel di Timur Tengah. Matthias yang penat setelah seharian berburu 
berita, baru saja hendak meluruskan kaki, ketika telepon selulernya berdering. 
Tepat pukul 9 malam. 
 ''Hallo, kami dari Biro Pers Pemerintah Israel,'' terdengar suara merdu 
seorang wanita dari seberang sana. ''Apa rencana Anda besok? Perlu ide?'' 
katanya, meluncur berturutan bagai air bah. Dan Matthias tak perlu menjawab, 
karena sedetik kemudian si suara merdu segera memberi saran: lawatan ke 
permukiman yang terhantam roket Katyusha Hizbullah di Haifa, komplet dengan 
wawancara 'korban'. Tak sekadar itu, para pakar roket pun diboyong dalam 
rombongan, siap menjawab wartawan. ''Kami punya rekaman suara gelegar roket 
saat menghantam sasaran, jika Anda mau.'' 
 Masih banyak lagi menu siap hidang. ''Kami juga menyarankan, datanglah ke 
Naharya, mewawancarai orang tua serdadu kami yang ditawan.'' Gadis itu pun 
menerangkan, orang tua Ehud Goldwasser, serdadu yang diculik itu, tengah 
menunggu wartawan di sebuah hotel. Baru saja benak Matthias berpikir soal 
penerjemah, gadis itu seolah menangkap pikirannya. ''Mereka fasih berbahasa 
Inggris, jangan khawatir.'' 
 Esoknya, dengan menumpang bus milik Pemerintah Israel yang disesaki wartawan, 
Matthias datang ke hotel yang dimaksud. Sementara belasan juru kamera sibuk 
menyiapkan peralatan, 20-an jurnalis radio dan media cetak asyik menyeruput 
kopi dan roti isi. Belum lagi kopi di cangkir tandas, dengan langkah yakin, 
ayah si sandera menyambangi meja yang penuh mikropon berlabelkan aneka stasiun 
tv dan radio. Persis konferensi pers seorang presiden atau politisi. Sebelum 
berbicara, ia menarik napas dengan cara yang membuat urat-urat dahinya 
bertonjolan. 
 Shlomo Goldwasser, si ayah itu, berbicara singkat. ''Mereka, para penculik 
anak saya, bertanggung jawab atas keselamatan Ehud,'' kata Shlomo. ''Mereka 
juga bertanggung jawab untuk mengembalikan anak kami secepatnya.'' Shlomo hanya 
mengatakan, dia seorang ayah, bukan politisi. 
 Wartawan yang lain mendekati dan memintanya menceritakan kisah masa 
kanak-kanak Ehud, anaknya. "Itu akan menyentuh pembaca," kata si wartawan. 
Berjarak sekian langkah, istri Shlomo berkali-kali harus membuka album foto 
keluarga mereka untuk dipotret. Dia merespons segala yang diperintahkan 
wartawan padanya, bahkan seolah robot. 
 Sikap yang ditunjukkannya membuat Matthias menulis, "Saya kira ia akan 
menangis, jika wartawan-wartawan itu memintanya. Untunglah, tidak." Momen 
--yang menurut Matthias-- memalukan itu, berlangsung 90 menit. 
 Dalam perang kali ini, petugas humas Israel memang bekerja keras. Begitu Anda 
menerima kartu pers, email Anda akan dibanjiri surat elektronik, seluler Anda 
nyaris tak henti berdering. Jika di wilayah konflik lain wartawan harus 
mati-matian mencari sumber, di Israel, semua itu tak perlu. Di sini, para 
wartawan mendapatkan berita seolah memesan paket Combo di restoran ayam goreng 
Kentucky. Semua terpaket dalam sebuah 'wisata', dengan biro perjalanan 
dimonopoli Pemerintah Israel. 
 Barangkali hal itu pula yang membuat prahara kemanusiaan di Desa Bint Jbail, 
Lebanon selatan, makin lenyap terkikis waktu. Padahal, sebagaimana pengamatan 
Sulthan Sulaiman, seorang juru kamera Lebanon Broadcasting Coorporation (LBC) 
yang berhasil masuk Bint Jbail, begitu hujan bom curah berhenti, kota itu 
layaknya padang reruntuhan. 
 ''Kami harus berjalan di antara bongkahan puing. Bau mayat meruap di udara. 
Kadang, saat berjalan suara-suara lirih minta tolong terdengar dari balik 
tumpukan reruntuhan," kata Sulthan. Rasa kemanusiaan Sulthan bergolak dengan 
nalurinya sebagai wartawan yang harus merekam setiap momen yang ditemuinya. Dan 
'manusia Sulthan' ternyata lebih kuat dibanding 'wartawan Sulthan'. "Saya tak 
mampu mengambil gambar. Waktu saya habis menolong korban yang mungkin bisa 
diselamatkan,'' katanya, seperti dikutip Islamonline. 
 Sulthan tidak sendiri. Beberapa jurnalis lain juga melakukan hal yang sama, 
dengan alasan serupa: waktu lebih berharga untuk menolong mereka yang masih 
mungkin diselamatkan. Itulah yang kemudian mereka lakukan, menolong para 
korban. 
  Barangkali, saat Sulthan mengais-ngais puing mencari tubuh-tubuh korban 
pemboman Israel itu, sekelompok wartawan lain tengah sibuk merubung 'korban 
Hizbullah' di Haifa. Sebelah tangan memegang mikropon atau alat perekam. Tangan 
lain menggenggam telinga cangkir. Dan kopi pahit pun diseruput di tengah 
kepahitan rakyat Lebanon. n dsy 

                
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls.  Great rates 
starting at 1ยข/min.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke