KOMPAS
Minggu, 06 Agustus 2006 

 

ASAL USUL 

Si Kaya dan Si Miskin


Mohamad Sobary 

Kemiskinan makin merajalela, seperti rumput ilalang. Dibabat pagi sore tumbuh 
lagi, dibabat sore pagi tumbuh lagi. Rezim demi rezim penguasa mencoba 
melawannya, tetapi kemiskinan tetap di tempat semula. 

Bahkan, bila sikap skeptis di dalam masyarakat benar bahwa si kaya bertambah 
kaya dan si miskin bertambah miskin, maka jelaslah bagi kita, kemiskinan justru 
sangat agresif, lebih dari strategi dan program-program yang disusun 
pemerintah. 

Sesudah menaklukkan desa, kemiskinan pun bergerak menyerbu kota, dan menduduki 
banyak bagian kota sehingga di mana-mana lahir kampung kumuh. Tiap jengkal 
tanah kosong, dihuni kaum gelandangan. Dan muncullah kemudian konsep kaum 
proletariat kota dari studi-studi antropologi ekonomi yang khusus memperhatikan 
dinamika kemiskinan kota-kota. 

Dan lama-lama orang bertanya, apa gerangan kemiskinan itu sebenarnya? Dari 
seminar ke seminar, sejak tahun 1970-an, hal itu diperdebatkan di kalangan 
berbagai ahli. 

Semua pihak setuju, kemiskinan bukan hanya perkara tak memiliki harta atau 
memiliki terlalu sedikit dibanding pihak-pihak lain. Kemiskinan juga bukan 
suratan nasib. Maka sebutan the unfortunate harus ditolak karena di dunia kita 
tak hanya menyadongkan tangan ke atas dan yang "diberi" lalu menjadi yang 
"beruntung" dan sebaliknya yang tak "diberi" menjadi yang "tak beruntung". 

Hidup bukan perkara untung-untungan, melainkan perjuangan. Banyak unsur 
struktural turut memengaruhi mengapa seseorang, atau segolongan orang, atau 
mayoritas orang di negeri kita tetap miskin. Maka, di seminar ahli-ahli ilmu 
pengetahuan di Manado, mungkin tahun 1976, dirumuskanlah pemahaman mengenai 
kemiskinan struktural. 

Dan sesudah masalahnya terumus secara meyakinkan seperti itu kita pun tidur 
nyenyak dan lupa akan urusan kemiskinan, padahal kemiskinan masih melilit 
sendal jepit presiden dan menteri-menterinya, gubernur, dan bupati-bupatinya, 
serta wali kota dan camat-camatnya, meskipun sebenarnya mereka hidup sangat 
jauh dari kemiskinan. 

"Hanya orang miskin yang selalu ingat akan kemiskinan," kata orang bijak. Jadi 
kalau pemimpin negara melupakannya, itu biasa. Dan kalau orang kaya di 
masyarakat kita tak peduli akan orang miskin itu pun sudah "kodrat" kulturalnya 
memang begitu. 

Maka, kalau kau miskin dan di suatu seminar atau pesta kau ditegur orang kaya 
yang seolah begitu ramah kepadamu, maka bersyukurlah. Tetapi, jangan mencoba 
ganti bertanya "apa kabar" kepadanya sebab ia sudah lenyap karena keramahannya 
tadi hanya basa-basi sebab ia takut padamu. 

"Apa yang ditakutkan orang kaya?" 

"Ia takut ketika ia kepergok seperti itu kau mengajukan proposal untuk minta 
bantuan ini dan itu." 

>diaL< 

Saya gembira mengamati kenyataan sosial kita bahwa banyak orang kaya di 
kalangan teman-teman atau kenalan sendiri begitu terbirit-birit mendengar kata 
atau melihat wujud, proposal. Orang kaya dengan mentalitet seperti itu bukan 
orang kaya sebenarnya. Ia justru miskin dan patut dikasihani melebihi pengemis 
jalanan karena jiwa mereka amat miskin. 

Maka, urusan kaya-miskin bagi saya urusan jiwa. Jangan salah, jiwa bukan hanya 
menyangkut atau meliputi "rasa", melainkan juga sikap, cara pandang, dan bahkan 
sampai ke tingkah laku dan segenap ekspresi diri kita dalam hidup. Juga dalam 
relasi rohaniah kita dengan Tuhan. 

Bahkan di hadapan Tuhan pun kita diminta mampu mengembangkan etika untuk merasa 
memiliki freedom: kebebasan untuk tak tiap saat "meminta", melainkan untuk bisa 
"memuji", "bersyukur", dan bersikap cukup, karena bersama Tuhan, kata Ghandi, 
kita bisa hidup tanpa kecemasan, tanpa kemarahan. 

Dan sufi perempuan terkemuka, Adawiyah, pun dengan gagah tak mengharap surga 
karena dalam kebebasan yang begitu indah bersama Tuhan apalah artinya surga? 
Ketika Amartya Sen bicara Development as Freedom, saya kira ia lebih menekankan 
arti ketercukupan materi. Ia lupa materi tak pernah membuat orang merasa cukup. 

Ia belum pernah bertemu orang kaya yang jiwanya miskin, yang tak punya 
"freedom" dan lari terbirit-birit karena takut disodori proposal. Ia lupa akan 
kearifan Ghandi, yang mengingatkan kita bahwa "accumulation of wealth is 
accumulation of sin". 

"Jadi kita tak boleh kaya?" 

"Boleh. Bahkan kaya raya pun boleh. Tetapi, jangan bersikap miskin karena 
dengan begitu kau mengingkari berkah Tuhan, seolah Tuhan tak pernah 
memberkahimu hingga menjadi kaya macam itu. Tumpukan kekayaan menjadi tumpukan 
dosa karena jiwa miskin kita mengajak kita ingkar." 

Ada kisah orang kaya dan orang miskin yang jiwanya berkebalikan. Ibrahim bin 
Adham bukan hanya kaya raya. Ia seorang raja. Tetapi, ia merasa tak nyaman 
dalam kekayaannya. Takut tumpukan kekayaannya hanya akan menjadi tumpukan dosa. 
Maka ia pun hidup bersahaja sebagai sufi. 

Ia pernah bertemu orang kaya yang menawarinya uang. Ia mau menerima uang itu 
kalau orang itu memang kaya. 

"Jangan khawatir. Aku kaya," kata orang itu. 

"Berapa banyak nilai kekayaanmu?" 

"Lima ribu keping uang mas," jawab orang itu lagi. 

"Kau ingin punya sampai sepuluh ribu keping lagi?" 

"Mau. Kenapa tidak?" 

"Dan kau ingin punya dua kali lipat jumlah itu?" 

"Tentu saja. Tiap orang juga begitu." 

"Kalau begitu kau orang miskin. Kau lebih membutuhkan uang itu daripada aku. 
Simpanlah baik-baik, sampai uang itu menjadi dua kali lipat yang kau inginkan. 

"Kebebasan hidupku membuat aku merasa cukup. Jadi, mustahil aku bisa menerima 
sesuatu dari orang seperti kamu, yang tiap saat ingin memiliki lebih banyak dan 
lebih banyak lagi." 

Hidup memang penuh bunga-bunga semarak dan warna-warni, tetapi jarang yang 
menjadi buah. Maka, bila harus memilih, saya akan memilih bunga yang bisa 
menjadi buah. Karena itu saya akan berjuang demi "freedom" tadi agar tak 
terjajah kekayaan dan tak cemas akan ancaman kemiskinan. Tanpa "freedom" 
menjadi si kaya tak ada gunanya. Apalagi menjadi si miskin.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke