Mantap Daeng Yusuf, Maju terus,
  Gambare...he..he..he
  Taruna

Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          refleksi: Apakah yang dikatakan Wakil presiden bahwa sekarang tidak 
terjadi pembodohan bila dibandingkan dengan masa dulu adalah benar?

HARIAN ANALISA
Edisi Rabu, 9 Agustus 2006 

Wapres: Dulu Terjadi Pembodohan Nasional dalam Pendidikan 

Jakarta, (Analisa) 

Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan, tidak adanya ketegasan dalam penentuan 
kelulusan atau kenaikan kelas pada masa lalu mengakibatkan terjadinya 
pembodohan nasional dan terdesain secara resmi bahwa siswa sekolah luar Jawa 
harus lebih bodoh daripada di Jawa. 

"Dulu ada perasaan di Jawa semua pintar, tapi kan di Jawa tak semua tinggal di 
Cikini dan tak semua sekolahnya baik, kenapa mesti dibedakan dengan di Ambon 
dan NTT. Akibatnya terjadi pembodohan nasional," kata Wapres M Jusuf Kalla saat 
pidato pada Rakornas Pendidikan di kantor Wapres, Jakarta, Selasa (8/8). 

Wapres mencontohkan pada zaman dulu, jika angka kelulusan di DKI Jakarta enam, 
maka di luar Jawa seperti Bengkulu dan sebagainya angka empat akan didongkrak 
dua point sehingga menjadi enam. 

"Artinya terdesain secara resmi bahwa anda di daerah harus lebih bodoh, dan 
boleh lebih bodoh daripada di DKI. Di sinilah telah terjadi 
pembodohan-pembodohan, karena kita punya pengalaman mengasihani daerah dalam 
artikata memperbodoh daerah, setiap kita kasihani daerah secara prinsip artinya 
kita kasih bodoh daerah," kata Jusuf Kalla. 

Akibatnya, tambah Wapres, saat ini terjadi kesulitan bagi siswa-siswa luar Jawa 
untuk bisa masuk ke perguruan tinggi favorit seperti Universitas Indonesia (UI) 
dan Istitute Teknologi Bandung (ITB) bahkan termasuk untuk Akmil atau Akpol. 

"Bahkan sekarang ini sulit mencari jenderal dari Timur, seperti Ambon, Papua 
dan sebaginya sudah susah. Di situlah NKRI ini akan mulai pecah apabila SDM-nya 
berbeda-beda. Karena ekonomi akan rendah karena suatu daerah SDM-nya rendah," 
kata Wapres serius. 

Karena itulah, tambah Wapres, pemerintah sekarang mengambil sikap tegas dalam 
pelaksanaan ujian akhir nasional (UAN). Menurut Wapres, UAN dilakukan guna 
meningkatkan mutu pendidikan melalui standar nasional. Menurut Wapres, 
pemerintah pusat di era otonomi daerah saat ini hanya tinggal melaksanakan tiga 
fungsi yakni menjalankan norma, prosedur dan melakukan standar nasional. 

"Kenapa ujian nasional, karena pemerintah harus punya standar nasional, negara 
harus punya standar," kata Wapres. 

Dulu, tambah Wapres, semua murid akan lulus, dan akan naik kelas karena itu 
membuat siswa tidak mau belajar keras karena toh semua akan lulus. Karena 
itulah, tambah Wapres, kebijakan tersebut harus dihentikan. 

"Hentikan itu semua, kita harus tegas dalam pendidikan, yang lulus ya... lulus, 
yang nggak lulus ya... nggak lulus,... kalau tidak kita akan kalah terus," kata 
Kalla. 

Kebijakan tersebut, tambahnya, dilakukan agar anak didik terbiasa untuk mau 
belajar lebih keras. Menurut Wapres, peserta didik saat ini harus diperkuat 
rasa malu untuk tidak lulus atau tidak naik, sehingga membuat siswa jadi lebih 
keras belajar. 

Wapres juga membandingkan angka kelulusan yang ada di Malaysia yang berada pada 
angka enam dan di Singapura lebih tinggi pada angka delapan. Sedangkan untuk 
Indonesia saat ini, tambahnya baru mencapai 4,3. 

"Kita selama sekian puluh tahun, terjadi kayak orang lompat tinggi, kalau ada 
orang tak bisa lompat, maka galahnya yang diturunkan, jadi makin turun. Di 
Singapura galahnya yang dinaikkan terus pelan-pelan," kata Wapres sambil 
memperagakan tangannya naik turun. 

Karena itu, tambahnya, kebijakan UAN akan tetap dilakukan dengan tegas tanpa 
ada perbedaan-perbedaan di setiap daerah. (Ant) 

[Non-text portions of this message have been removed]



         


Taruna Ikrar, MD
Founder  CFIS (Center For  Interregional  Study)
Address:
Departement of Cardiology
Faculty of Medicine, Niigata University,
Asahimachi 1-754, Niigata 51-8510,
JAPAN
Phone: +81-(25)-227-2183, Fax: +81-(25)-227-0774
 
 






 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke