Refleksi : Ekonomi Jalan di Tempat, ekonomi terpuruk,  tetapi pendapatan 
perkapita naik dari US$ 700.-- menjadi US$ 1,500.-- Apakah kenaikan ini karena 
computer BPS kena virus sehingga angka-angka statistik  menjadi bagus dan 
kebanggaan Wapres?

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=151027


 Ekonomi Jalan di Tempat
Ryan Kiryanto
Pemerhati masalah ekonomi dan perbankan 



Selasa, 1 Agustus 2006
Kondisi perekonomian nasional selama semester pertama 2006 merupakan yang 
terberat dibanding masa-masa sebelumnya. Sebagian besar industri bekerja jauh 
di bawah kapasitas terpasang (under capacity), sekadar bertahan hidup (survival 
strategy). Pengusaha mengeluh karena tingginya suku bunga, lonjakan harga bahan 
bakar minyak (BBM), gangguan keamanan dan anjloknya daya beli masyarakat. 

Merosotnya daya beli masyarakat merupakan pukulan bagi dunia usaha. Hampir 
semua sektor merasakan dampaknya, terutama sektor yang bergerak pada 
barang-barang konsumtif. Karena pemutusan hubungan kerja (PHK), daya beli 
masyarakat semakin merosot. 

Gambaran di atas membuktikan ada yang kurang tepat dalam strategi pengolaan 
makro ekonomi. Kalau ini tidak dibenahi, dikhawatirkan timbul ekses negatif 
dalam sendi-sendi perekonomian. Inflasi pun akan meninggi, setidaknya di daerah 
korban bencana karena cost push inflation dan demand pull inflation. 

Karena itu, pembangunan kembali pranata-pranata fisik perlu menjadi prioritas 
utama. Dalam situasi seperti ini, semakin sulit pemerintah berharap terjadinya 
kenaikan investasi. Yang kritikal adalah saat sektor riil stagnan yang 
dampaknya langsung dirasakan. Selain produktivitas menurun, pendapatan 
masyarakat juga melemah. 

Di sini terjadi paradoks. Membaiknya indikator makro ekonomi -- penguatan 
rupiah, lonjakan indeks bursa, penurunan laju inflasi -- tidak serta-merta 
mendorong gerak perekonomian. Maklum, tanpa diikuti upaya lain yang lebih 
berkemampuan nyata untuk mendorong sektor riil, semua itu tetap percuma saja. 

Kalau sektor riil masih lesu, tak ada lagi daya dorong terhadap pertumbuhan. 
Muncul kekhawatiran, laju pertumbuhan ekonomi tahun ini tak bisa lebih dari 5%. 
Itu pun tetap lebih ditopang oleh sektor konsumsi daripada investasi dan 
produksi. Kini, banyak pengusaha merasa gamang dan takut melangkah serta 
bersikap wait and see. 

Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan suku bunga rujukan atau BI Rate. Suku 
bunga penting sebagai bagian upaya menekan cost of capital. Itu diperkirakan 
diikuti penurunan suku bunga bank dan sektor riil bergerak. 

Karena sektor swasta belum memulai aktivitas, pemerintah berkewajiban mengambil 
langkah inisiatif melalui peningkatan belanja pemerintah, baik di pusat maupun 
daerah. Maklum, dari APBN tahun 2006 sekitar Rp 647 triliun, baru sekitar 10% 
yang dibelanjakan. Peningkatan belanja diharapkan mendorong sektor riil. 

Kini sudah bukan waktunya lagi pemerintah mengutamakan kestabilan, tapi 
bagaimana membangkitkan sektor riil. Dengan demikian, ekonomi akan bergerak 
karena kini indikator makro -- kurs rupiah, inflasi, indeks bursa -- cukup 
baik.*** 

++++
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=151602

 HUT Kemerdekaan dan Keterpurukan Ekonomi
Sri Adiningsih
Kepala Pusat Studi Asia Pasific UGM 



Senin, 7 Agustus 2006
Memasuki bulan Agustus rasanya ada yang istimewa. Di jalan-jalan orang mulai 
menjual bendera atau pun berbagai atribut untuk menyambut hari kemerdekaan RI. 
Di kampung pun, orang-orang biasanya mengecat rumahnya. Berbagai pertandingan 
juga digelar. 

Berbagai acara menyambut HUT kemerdekaan pun diadakan di banyak tempat di 
seluruh penjuru Tanah Air kita. Semua itu memberikan semangat baru bagi kita. 
Semangat tersebut mestinya dapat dimanfaatkan pemerintah untuk membangkitkan 
semangat membangun kembali ekonomi kita yang saat ini masih terpuruk. Ekonomi 
kita harus dapat tumbuh berkelanjutan, sehingga cita-cita kemerdekaan untuk 
mencapai masyarakat yang maju, adil dan makmur dapat dicapai. 

Melihat bangsa ini pada ulang tahun ke-61 kemerdekaannya rasanya nelangsa 
sekali. Betapa tidak, hingga kini pun ternyata bangsa kita harus menghadapi 
lagi percobaan yang berat: kehidupan semakin berat, kemiskinan dan pengangguran 
tinggi, utang besar, infrastruktur banyak yang rusak, hutan semakin gundul, dan 
laut semakin rusak. Lalu, bencana alam, baik yang alamiah ataupun karena ulah 
manusia, juga semakin sering terjadi dan memakan korban yang besar. Sepertinya 
masalah yang dihadapi oleh bangsa ini tiada hentinya mendera. 

Benar, nilai rupiah menguat, indeks harga saham gabungan (IHSG) melesat dan 
cadangan devisa meningkat, sehingga kita dapat mempercepat pembayaran utang 
kepada IMF. Namun masalah utama ekonomi masih belum dapat terselesaikan. Laju 
pertumbuhan ekonomi masih rendah, bahkan menurun dalam 5 kuartal terakhir. 

Sementara itu laju pertumbuhan ekonomi negara-negara tetangga kita pada awal 
tahun 2006 ini semuanya lebih tinggi dari kita. Singapura tumbuh 7,5%, Malaysia 
5,3%, Thailand 6,0%, Fillipina 5,5%. Bahkan China dan India tumbuh 11,3% dan 
9,3%. 

Betapa menyedihkan keadaan ekonomi kita. Alasan bahwa harga BBM yang tinggi 
membuat ekonomi kita pantas tumbuh rendah adalah tidak benar. Karena Indonesia 
tetap penghasil minyak dan gas besar dibandingkan dengan negara-negara 
tetangganya. Bahkan negara yang pengimpor BBM besar dan belum lama keluar dari 
krisis ekonomi seperti Filipina dan Thailand, ekonominya tumbuh lebih tinggi 
dari Indonesia. 

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi memang belum tentu menjamin bahwa kehidupan 
masyarakat pasti akan lebih baik. Terutama jika ketimpangannya besar, sehingga 
yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. 

Elastisitas penciptaan kesempatan kerja kita semakin turun. Laju pertumbuhan 
ekonomi 1% yang dulu dapat menciptakan sekitar 400 ribu kesempatan kerja (KK), 
sekarang hanya menciptakan 250 ribu KK. Maka, angka pengangguran pun makin 
tinggi. Hari-hari ini, pada saat memperingati hari kemerdekaan kita, adalah 
hari-hari di mana ekonomi masyarakat semakin terpuruk, dan tentu kemiskinan 
semakin membesar.*** 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke