Insya Allah sangat sulit mencari pemimpin bangsa di negeri ini yang terbanyak adalah pejabat (atau double status jadi penjahat ?). jadi terkenang pembicaraan dengan rekan saya, ketika dia bercerita tentang pak A.R. Fahcrudin (maaf kalau salah tulis) mantan ketua PP Muhammadiyah yang sampai beliau meninggal tidak mempunyai rumah. kapan kita mempunyai presiden, gubernur,bupati dan aparat lain pemerintahan yang berani miskin ?
-----Original Message----- From: Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> To: news Trans TV <[EMAIL PROTECTED]>, ppiindia <[email protected]>, mediacare mediacare <[email protected]>, pantau <[EMAIL PROTECTED]>, Cikeas Cikeas <[EMAIL PROTECTED]>, AJI INDONESIA <[EMAIL PROTECTED]>, student EMBA <[EMAIL PROTECTED]>, Begundal Salemba <[EMAIL PROTECTED]>, iscab Condro <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], technomedia <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wed, 9 Aug 2006 04:43:03 -0700 (PDT) Subject: [ppiindia] Resonansi - Ahmad Syafii Maarif > Republika, Selasa, 08 Agustus 2006 > > Resonansi > > Info > > Oleh : Ahmad Syafii Maarif > > Pada forum "Dewan Pers Menjawab" dalam bentuk dialog > interaktif di TVRI 19 Juli 2006 malam bersama RH > Siregar (Dewan Pers) dan Atmakusumah Astraatmadja > (wartawan senior), pembawa acara Bung Hinca IP > Pandjaitan (Dewan Pers) meminta saya untuk memberi > pesan terakhir buat para wartawan. > > Jawaban saya pendek dan sederhana: "Wartawan harus > memasang telinga ke bumi." Artinya, seorang wartawan > sesuai dengan tugas dan nalurinya, tidak boleh merasa > lelah, harus sigap, dan pantang menyerah dalam > menggali info sebanyak-banyaknya dan seakurat mungkin, > demi kepentingan publik. Saya sebagai mantan wartawan > tahun 1970-an, naluri memburu info itu belum punah > sama sekali, kadang-kadang kambuh juga. Bukankah > sebagian sumber Resonansi berasal dari info yang saya > jaring dari berbagai sumber dan kalangan? Bulan Juli > 2006 beberapa info yang mungkin patut diketahui > pembaca, akan saya tuturkan di bawah ini. > > Pertama, dalam perbincangan dengan para mantan > jenderal, laksamana, marsekal, pengusaha, mantan > pejabat tinggi, dan tokoh masyarakat lainnya, di > kantor Jenderal Kemal Idris Jakarta 19 Juli 2006, saya > mendapat banyak info, termasuk dari Kwik Kian Gie. > Buku Kwik yang laris keras berjudul Pemberantasan > Korupsi (edisi 3 revisi 2005) juga dia bagikan secara > cuma-cuma kepada kami siang itu. Di antara info dari > buku Kwik itu yang menurut saya layak saya tuturkan > kembali di sini adalah sebagai berikut: > > Di Jerman, lulusan perguruan tinggi yang hanya > menguasai pengetahuan yang bersifat teknis saja > disebut Fach Idiot. Artinya, dia menguasai ilmu > pengetahuan yang sangat teknis dan mendalam sekali, > tetapi di luar itu dia tidak tahu apa-apa, bahkan yang > bersifat falsafati sedikit saja, dia adalah seorang > idiot (hlm. 17). > > Dalam Webster's New World Dictionary of American > Language (1971 hlm. 370), IQ seorang idiot kurang dari > 25, alias superbodoh. Teman saya dari Manado, seorang > dokter ahli otak, Taufiq Pasiak, mengatakan kepada > saya bahwa seorang idiot belum tentu bodoh. Bisa > sangat pintar, tetapi tidak bertanggung jawab jika > berbicara. Disebutkan beberapa nama pemimpin yang > idiot itu. Fach Idiot di atas ternyata bukan bodoh > total, tetapi kepintarannya hanya pada satu jurusan: > teknis. Di luar itu, dia idiot. Bah, jika begitu > alangkah banyaknya penduduk bumi ini yang berada dalam > kategori idiot. Dari desa yang tersuruk sampai ke ibu > kota yang bermandikan cahaya, barisan idiot itu tentu > akan dapat dicermati dengan kriteria ini. > > Kedua, dalam pembicaraan dengan seorang mantan pejabat > penting di suatu tempat di Jawa Barat pada 28 Juli > yang lalu, saya dan teman-teman diberi tahu bahwa > kantongnya terkuras sebesar Rp 10 miliar sewaktu > mencalonkan diri sebagai gubernur, hanya dalam lima > hari. Dan dia gagal. Kegagalan ini ternyata berekor > panjang: bini minggat karena kecewa berat. Untung saja > teman baru saya ini tetap tegar, setidak-tidaknya dia > masih bisa bersenda gurau. > > Tampaknya tidak ada pilkada yang bebas dari uang. > Untuk kabupaten atau kota yang ber-PAD tinggi, tentu > calon petanding akan mengeluarkan uang yang tidak > sedikit. Bagi yang kalah, harus gigit jari atau > mungkin jantungan, sedangkan bagi yang menang tentu > masa jabatan akan digunakan pula untuk pengembalian > dana yang sudah dihabiskan selama kampanye. Bagaimana > negeri ini tidak akan semakin babak belur? Dari satu > sisi, pilkada adalah sebuah kemajuan bagi proses > demokratisasi, tetapi semuanya ini dirusak oleh > permainan uang yang sampai berlimpah itu. > > Ketiga, info ini berasal dari seorang sahabat, pemilik > bengkel pencuci mobil dan las. Orangnya pintar, > mengerti politik, pernah bertahun-tahun bekerja dalam > bidang perminyakan di luar Jawa. Setelah pensiun buka > bengkel yang cukup punya prospek. Inilah isi info itu. > Tahun 2005, seorang sopir bersama keluarganya datang > untuk cuci mobil ke bengkelnya. Harga mobil Toyota > Alphard yang dicuci itu sekitar Rp 450 juta, milik > seorang gubernur di luar Jawa. Sang sopir ditanya, > "Ini mobil yang ke berapa? > > Dijawab polos, "Kelima belas. Di rumah gubernur yang > ada di kota ini ada tiga mobil, belum yang di rumah > Jakarta dan yang ada di ibu kota provinsi, di samping > sebuah helikopter." Sahabat saya hanya geleng-geleng > mendengar info itu, dan kemudian berucap, > "Gubernur-gubernur sebelum yang satu ini kelakuannya > sama saja. Bahkan, ada seorang yang gembung perutnya > sebelum mati." > > Tiga info itu saja untuk sementara sudah cukup dulu > untuk menambah beban mental kita memikirkan nasib masa > depan Indonesia. Kekayaan bangsa semakin banyak saja > yang digarong, sehingga kadang-kadang sulit bagi kita > membedakan siapa pejabat dan siapa pula penjahat. > Namun di atas itu semua, negeri ini perlu kita > selamatkan sebatas daya yang ada pada masing-masing > kita, bukan? > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

