Quote: ".. Nah, siapa tahu, Pak Harto menghendaki wujud-wujud kesengsaraan badani yang sebenarnya secara hakiki adalah personifikasi kebahagiaan. Sebab di sanalah kebahagiaan seorang ksatria ditemukan. Jika sudah demikian kasunyatannya, jangan-jangan, Pak Harto sejatinya minta disidangkan (untuk membuktikan ia ksatria yang tidak bersalah). Jadi, teranglah, siapa Kurawa, siapa Pandawa, sekarang ini. .."
Adakah 'sejarah' Mahabharata dan (perang) Baratayuda dapat kita temukan di sini? Konon, roda kehidupan hanyalah perulangan dari sejarah/masa silam. Kira" sampai kapan ya Kurawa menguasai 'negeri tersebut'? :-( Benarkah 'Perang Kurusetra' antara Kurawa & Pandawa atau 'Goro-goro' (versi Joyoboyo di negeri ini - entah kapan) adalah 'taqdir' dari Yang Maha Kuasa dan harus terjadi/tidak dapat dihindari? Atau itu hanya 'khayalan' dan fiksi semata? Wallahu a'lam.. CMIIW.. Wassalam, Irwan.K ------ http://www.rakyatmerdeka.co.id/situsberita/index.php?pilih=lihat7&id=73 Minggu, 21 Mei 2006, 15:07:02 Bisma Gugur SISA debu pertempuran masih mengawang. Udara Kurusetra belum hilang dari kepekatan. Tapi perang suci Baratayuda dihentikan. Bala Kurawa dan Pandawa menepi, di ambang sore hari. Tinggal anyir darah yang masih menyebar. Atau sisa kelewang yang terpatahkan. Semua tertunduk, meski dada mereka tetap penuh gemuruh. Resi Bisma tampak digotong ke bawah rindang pepohonan. Pria tua itu berleleran darah yang bercampur keringat. Nafasnya tinggal satu-satu. Tapi dari matanya, terpancar suka-cita mendalam. Ia tahu, tugas-tugas negara sudah hampir selesai ditunaikan. Ia, juga merasa telah sampai waktunya untuk istirahat, sebenar-benarnya istirahat. Bisma ya Dewabrata sadar, Baratayuda yang diagungkan para dewa ini adalah jalan yang ia sendiri bentangkan. Dulu, ia kembali ingat, semua berawal dari dirinya sendiri. Andaikan tetap ngotot tidak melepaskan tahta Astina, perang saudara antara ksatria Pandawa dan 100 anak-anak Destrarata mustahil terjadi. Tapi itulah tandir. Kodrat yang hanya ia bisa jalani. Dan, di ambang sore, di pinggiran Tegal Setra, di bawah rindang pepohonan, ia ambruk. Tubuh yang berdarah-darah digotong oleh Sena. Kepala yang terkulai dipangku Puntadewa. Sedangkan Arjuna, Nakula-Sadewa, bersimpuh di kaki sang pandita. Semua membisu, menyesali perang yang tak berkesudahan. "Aku ingin kasur cucu-cucuku. Sebelum menghempuskan nafas terakhir, rasanya ingin menikmatinya." Bisma yang terpejam memerintahkan cucu-cucunya menyediakan kasur untuk tidur. Seketika itu, Suyudana, si sulung dari 100 Kurawa melesat. Ia membawa kasur babut yang belapis seribu busa. Dengan kasur inilah ia melewati malam-malam yang indah. "Tidak. Aku tidak butuh kasur babut. Seorang ksatria yang habis perang tidak butuh itu. Puntadewa, aku minta kasur." Anak tertua Pandu yang dipanggil segera tanggap. Ia menyuruh Janaka untuk mengumpulkan patahan pedang, panah, keris, tombak. Juga sobekan baju perang, rambut yang rontok, serta tapak kuda yang terlepas. Setelah terkumpul dibawa ke hadapan sang resi. "Nah, inilah cucu-cucuku. Ksatria pulang perang berkasur seperti ini. Terimakasih. Sekarang aku haus. Ambilkan minuman." Mendengar itu, Duryudana kembali melesat. Dibawanya, berbagai minuman segar. Anggur merah, jus alpukat, es jeruk, dan perasan pepaya. Dengan minuman serba mewah itulah ia biasa membuang dahaga. "Tidak. Aku tidak butuh minuman mewah. Seorang ksatria tidak minum seperti itu sepulang perang. Janaka, ambilkan eyangmu minum." Arjuna berjalan pelan. Didekatinya kuda yang sedang diberi minuman. Ember sisa minuman kuda diambil, dibawa untuk minuman eyangnya. "Nah, inilah cucu-cucuku. Ksatria pulang perang minumnya sisa minuman kuda perang. Ah, rasanya bahagia sekali. Tapi rasanya akan lebih sejuk kalau kalian ambilkan payung." Tak mau kalah cepat, Suyudana menyambar songsong emas yang biasa dibuat memayungi dirinya. Kembali ia disalahkan. Bimasena yang dilirik Puntadewa segera tahu, ia melangkah, membedol pohon randul alas, dibawa ke dekat Bisma. "AhÂ…terima kasih cucu-cucuku Pandawa. Kalian sangat menyayangiku. Sekarang, aku puas. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Kalau para dewa akan menyemputkan, hanya kebahagiaan yang bisa aku rasakan. Kalian, setelah aku pergi, jaga diri baik-baik." Dan, kembali Republik Wayang kehilangan tokoh mahasakti. *** HARI-HARI ini, mata seluruh bangsa, tertuju pada satu sosok; Soeharto. Selain sudah sepuh, sakitnya (seperti diberitakan Koran) agak gawat. Dialah ksatria yang rasa-rasanya hampir tuntas melaksanakan tugas-tugas keksatriaannya. Bila saja ada yang mengandaikan ia Resi Bisma, saat ini sedang ada dua kelompok besar yang berlomba-lomba menyenangkannya; Pandawa dan Kurawa. Seperti Dewabrata, sangat mungkin Pak Harto tidak butuh segala kemewahan seperti Kurawa menghadiahi kemewahan saat sang pandita minta kasur, minta minum, dan minta payung. Sebagai ksatria, payung, minuman, dan kasur yang pantas adalah puing-puing peperangan, sisa minuman kuda perang, serta jebolan pohon randu alas; sebuah wujud kesengsaraan yang sesungguhnya menyembunyikan rasa bahagia. Nah, siapa tahu, Pak Harto menghendaki wujud-wujud kesengsaraan badani yang sebenarnya secara hakiki adalah personifikasi kebahagiaan. Sebab di sanalah kebahagiaan seorang ksatria ditemukan. Jika sudah demikian kasunyatannya, jangan-jangan, Pak Harto sejatinya minta disidangkan (untuk membuktikan ia ksatria yang tidak bersalah). Jadi, teranglah, siapa Kurawa, siapa Pandawa, sekarang ini. --------- On 8/10/06, Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > REFLEKSI: Kasus Soeharto tidak bisa dibuka memberikan tanda jelas bahwa > tidak bisa diterapkan kekuasan hukum yang merata di negara Indonesia, ini > berarti tidak akan pernah ada kemajuan hidup yang memada sebagai manusia > berharga bagi rakyat, dan akan terus menerita menjadi badut permainan tipu > muslihat atas nama surgawi dari petinggi-petinggi negara dan partai > politik. Enam puluh tahun menderita apakah akan diteruskan dengan berlagak > bodoh, buta dan tuli terhadap kekuasaan lalim? > > http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=7235 > > Kamis, 10 Agt 2006, > > Kasus Soeharto Tak Bisa Dibuka > > Setelah Banding Kejagung soal SKPP Dikabulkan PT DKI > JAKARTA - Upaya membuka lagi kasus korupsi tujuh yayasan senilai Rp 1,7 > triliun yang melibatkan mantan Presiden Soeharto akhirnya kandas. PT > (Pengadilan Tinggi) DKI dalam putusannya mengabulkan permohonan banding > Kejagung (Kejaksaan Agung) sebagai tergugat dalam permohonan praperadilan > yang diajukan penggugat sejumlah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). > > Dalam putusan yang dihasilkan 1 Agustus 2006 itu terungkap bahwa SKPP > (surat ketetapan penghentian penuntutan) kasus tujuh yayasan yang > dikeluarkan Kejagung 11 Mei 2006 dinyatakan sah menurut hukum. Putusan > tersebut dikeluarkan hakim (banding) Basoeki didampingi dua hakim anggota > masing-masing Sukidjan dan Tri Hertati. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

