kalo LFM cabang duisburg punya simpenan pilem 
yang kayak gini ndak ya?  :)

                     ***

catatan: s/d saat-saat ini betta masih sering/bbrp
kali 'ketanggor' temen yang masih mengira bahwa
bu Indira Gandhi (mendiang PM India) dulu itu
anaknya Mahatma Gandhi :)

sudah saya 'aturin-perikso' bahwa Indira itu anak
nya Nehru, PM India jaman konferensi AA nya bung
Karno, tetap saja tuan-tuan tsb. gak mau percaya ... :))

< nama Gandhi, sbg. family-name nya itu berasal
  dari nama suaminya: Feroze Gandhi yang menikah
  dengan Indira di tahun 1942. silahkan baca potongan
  info sejarah di bawah >

Ooh ya, "resensi pilem" mengenai "Zhou Enlai in Bandung"
kito lampir-ken di bagian bawah nyo lagi.

----( IM )-----------------------------------------------

**********************************************************

<http://departments.kings.edu/womens_history/igandhi.html>

Indira Nehru Gandhi was born on November 19, 1917 and would 
be the only child of Jawaharlal and Kamala Nehru. Being 
influenced and inspired by her parents, Indira Gandhi rose 
to power in India and eventually became prime minister. 
She dedicated her life to progress in her country despite 
the overwhelming problems and challenges she encountered.

.............

In 1938, Indira finally joined the Indian National Congress 
Party, something she always longed to do. Soon afterwards in 
1942, she married journalist Feroze Gandhi to whom she eventually 
bore two sons. Soon after the couple was married, they were sent 
to prison on charges of subversion by the British. Her first and 
only imprisonment lasted from September 11, 1942 until May 13, 
1943 at the Naini Central Jail in Allahabad. 

*****************************************************************



------------------------------------------------
From: Yan Widjaja 
Sent: Thursday, 10 August, 2006 19:51
Subject: [budaya_tionghua] ZHOU ENLAI in Bandung
-------------------------------------------------


---------------------
ZHOU ENLAI IN BANDUNG
---------------------

Dokudrama Kebijaksanaan PM China di Konferensi Asia-Afrika 1955

MINGGU lalu, beruntung sekali rasanya aku mendapat kesempatan 
menonton preview film Zhou Enlai in Bandung. Acaranya digelar 
di PPHUI (Pusat Perfilman H Usmar Ismail), Jl Rasuna Said, 
Kuningan, Jakarta.

Penyelenggaranya Kedutaan Besar China di Indonesia. Para 
undangan antara lain adalah Ibu Megawati Soekarnoputri, 
perwakilan Deperdag, Kebudayaan, dan para Duta Besar 
sejumlah Negara sahabat.

Film Zhou Enlai in Bandung termasuk genre dokudrama berlatar 
belakang fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Menuturkan 
satu babak dari kehidupan Perdana Menteri RRC, selama tujuh 
hari misinya di Indonesia (dari 18 sampai dengan 24 April 1955),
khususnya memimpin delegasi RRC dalam Konferensi Asia-Afrika 
1955.

Diproduksi oleh Beijing Film Studio dan China Film Group 
Corp. (Perusahaan Film Negaranya China), dengan tiga produser;
Yang Buting, Yan Xiaoming, dan Li Bolin. Disutradarai oleh
Wei Lian berdasarkan skenario karya Chen Dunde.

Pemain utamanya, Wang Tie Cheng (sebagai Zhou Enlai) berakting 
simpatik, kalem, sederhana bersahaja, dan meyakinkan, didukung 
aktor kawakan Indonesia, Soultan Saladin (sebagai Presiden 
Soekarno yang berwibawa), Ali Abdullah (Perdana Menteri Ali
Sastroamidjojo), aktor India Pratap Sharma (PM Jawaharlal Nehru), 
dan puluhan lainnya lagi yang memainkan karakter tokoh-tokoh 
kepala pemerintahan negara-negara Asia-Afrika dengan kemiripan 
sangat meyakinkan (bayangkan penyeleksiannya). 

Syuting berlangsung dalam tahun 2004 lalu. Berlokasi selain 
di Jakarta dan Bandung, juga di Hainan. Sejatinya memang 
film ini dimaksudkan untuk menyambut ultah ke-50 Konferensi
Asia-Afrika yang diselenggarakan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono di Bandung tahun 2005 kemarin.

Yang sangat mengagumkan dari film berdurasi sekitar 90 
menit ini adalah keakuratan dan ketelitiannya. Bagaimana 
tim artistik dipimpin Lin Chaoxiang berhasil menghadirkan 
mobil-mobil tempo doeloe, termasuk pesawat terbang produksi 
India pada masa itu, di samping detil busana, bahkan jalan-
jalan dan suasana di Jakarta serta Bandung pada tahun 
1955!

Cerita diawali dengan meledaknya pesawat terbang India, 
Princess Kashmir, yang membawa delegasi pertama China ke 
Indonesia untuk menghadiri Konferensi Asia-Afrika. Tercatat 
tanggal 11 April 1955, selepas Hong Kong, di atas Laut China 
Selatan, pesawat itu meledak dan menewaskan semua rombongan 
delegasi. Esoknya, 12 April, Pemerintah China mengumumkan 
pesawat terbang itu disabotase oleh agen rahasia 
Kuomintang, Taiwan. 

Di Kunming, Provinsi Yunnan, Perdana Menteri merangkap Menteri 
Luar Negeri Zhou Enlai, tak gentar oleh sabotase delegasi 
pertama, tetap memutuskan untuk menghadiri Konferensi Asia-Afrika. 
PM Zhou yang tersohor jauh lebih bijaksana ketimbang Mao Zedong 
selaku Ketua Partai Komunis sekaligus Presiden RRC, segera 
berunding dengan staffnya. Menepis semua cegahan staffnya, 
PM Zhou memutuskan untuk mengemban misi diplomatik, terbang 
ke Jakarta, dengan menggunakan pesawat terbang Hegemon King 
in the Air, milik India Airlines. Perbuatannya ini sangat
mengangkat harkat India, hingga mencerahkan wajah Nehru, 
PM India, yang selalu didampingi putrinya, Indira Gandhi.
 
PM Zhou sempat singgah lebih dahulu ke Rangoon, ibukota Burma, 
untuk bertemu PM U Nu. Kedatangan Zhou di bandara Kemayoran 
disambut luar biasa oleh warga keturunan China di Jakarta. 
Empat mobil penjemput dikirimkan oleh Presiden Soekarno termasuk
limusin pribadinya. PM Ali Sastroamidjojo melakukan penyambutan 
resmi.

Di Kedutaan Besar RRC, Zhou berdialog langsung dengan warga 
Tionghoa. Pada masa itu, warga Tionghoa seolah terpecah menjadi 
tiga golongan. Golongan pertama, hoakiauw, yakni mereka yang
mempertahankan kewarganegaraan China. Golongan kedua, mereka 
yang ingin menjadi warga negara Indonesia, karena lahir, 
berkarya, dan kelak juga ingin mati di sini. Golongan ketiga 
adalah Koumintang yang berkiblat ke Chiang Kaishek, Presiden 
Taiwan. Presiden Soekarno sempat bertukar pendapat dengan 
PM Zhou mengenai politik dwi kewarganegaraan bagi kalangan 
Tionghoa. Justru PM Zhou lebih menganjurkan agar warga 
Tionghoa menjadi WNI. Ucapnya pada ratusan orang Tionghoa 
yang dengan penuh antusias merubungnya dalam hujan
rintik-rintik malam hari di halaman Kedubes, "Anggaplah 
kalian sebagai anak perempuan yang telah menikah, walaupun 
telah dianggap sebagai orang luar, namun apakah akan 
ditolak jika mengunjungi rumah orangtuanya sendiri? 
Tidak, percayalah, kalian pasti diterima jika sekali 
waktu ingin berkunjung ke tanah leluhur, itu sikap resmi
pemerintah China."

Prinsip utama Zhou, "Janganlah kau berbuat yang kau tak mau 
orang lain berbuat seperti itu kepadamu," selain memperkenalkan
 Lima Prinsip Dasar dari China.

Tercatat 29 negara Asia-Afrika yang menjadi peserta resmi 
konferensi. Terjadi gontok-gontokan di antara peserta sendiri.
Misalnya India dengan Pakistan. Bahkan Thailand blak-blakan 
mengencam sikap Pemerintah China.

Sedangkan Gamal Abdul Nasser dari Mesir memperingatkan 
bahayanya komunis. Namun dengan kebijaksanaan luar biasa, 
dengan lembut, Zhou berpidato selama dua puluh menit, 
menegaskan kedatangan delegasinya bukanlah untuk bertikai,
bukan untuk mempromosikan komunis, melainkan mencari 
persatuandan kesatuan antar bangsa-bangsa Asia-Afrika. 
Berkat pidatonya yang menyejukkan itulah, akhirnya tercapai
kesepakatan antar bangsa-bangsa yang melahirkan Dasa Sila 
Bandung.

Di sela-sela kesibukannya, Zhou yang hanya tidur dua jam 
per harmal, itu pun menjelang subuh, sempat juga ia bertemu 
dengan puteri sulung Presiden Soekarno, Megawati Soekarnoputri, 
yang baru berusia sekitar lima tahun namun sudah mampu berbahasa
Inggris. Sementara keselamatan pribadinya terancam oleh 23 
pembunuh bayaran yang disusupkan Kuomintang.

Intrik-intrik dari pihak Barat seperti Dulles dari Amerika 
Serikat. Wartawan-wartawan dunia internasional yang tak mau 
melewatkan kesempatan bersejarah, konferensi terbesar di dunia 
yang pertama tak melibatkan Amerika dan Eropa. 

Terus-terang aku pribadi sangat terkesan pada film yang digarap 
dengan kualitas dan tujuan baik ini. Film ini membuat aku bangga,
terharu, sekaligus malu. Perasaan terakhir ini karena kita 
sendiri sebagai bangsa Indonesia belum mampu membuat film 
yang mencanangkan kebesaran Bung Karno sebagai pemersatu Asia-
Afrika yang diakui dunia pada masa kejayaannya. Kalau saja 
filmnya tentang misalnya Zhou Enlai in Beijing, rasanya aku 
tak perlu merasa bangga apalagi terharu. 

Timbul niat untuk menghadirkannya di bioskop-bioskop 
Indonesia agar bisa ditonton oleh khalayak ramai. Kalau ada 
di antara pembaca yang punya nodal, niat untuk menjalin 
kerjasama, punya saran atau usul, silakan menghubungi aku. 

*** Yan W. ***








***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke