Dear all; Revolusi mana yang belum selesai?
Revolusi menurut definisi siapa dan ideologi siapa? Kalau saya yang bukan generasi 45 tentulah mengatakan Revolusi sudah masuk buku sejarah. Sudah lewat. Ini zaman paska kolonial dan paska Perang Dingin. (Ya, sisa-sianya masih ada sedikit, yang masih dikeloni oleh mereka yang belum bangun dari tidurnya, tapi percayalah sisa secuil di sana dan di sini itu akan segera sirna dihempaskan angin Abad 21.) Kalau ideologi komunis sudah amburadul, maka sebentar lagi ideologi Pasar Bebas sebagaian dari Kapitalisme Neo-Liberal juga akan surut. Masa depan diawali oleh buku Hernando de Soto "The Other Path" (1990) itu. Brazil sudah memulainya. Beberapa negara Amerika Latin juga ikut. Gerakan mencari alternatif sudah bertebaran di Amerika Serikat, meskipun belum berhasil menguasai Washington DC. Kuncu=inbya memang bagaimana bisa merombak ideologi main-stream yang menguasai Washington DC, London, Tokyo, dll sekarang ini. Tapi gerakan pencari alternatif ini tidak ada hubungannya dengan kata "revolusi" warisan dari abad lampau itu. Ini sudah abad baru: Abad 21! Ikra.- ====== --- In [email protected], "Umar Said" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > (Tulisan ini juga disajikan dalam website > http://perso.club-internet.fr/kontak.) > > > > > > > > > > 17 Agustus : revolusi belum selesai! > > > > > > Ketika kita semua akan memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang ke 61, > patutlah kiranya, kita sama-sama merenungkan, dengan dalam- dalam, berbagai > hal yang berkaitan dengan hari yang bersejarah bagi bangsa kita ini. > Tulisan kali ini merupakan ajakan kepada para pembaca untuk secara jujur, > jernih, terus terang, berani tanpa tedeng aling-aling, mengupas berbagai > soal mengenai bangsa, negara dan rakyat kita ini, pada masa yang lalu, masa > kini dan masa depan. Karenanya, mohon ma'af terlebih dulu, kalau dalam > tulisan kali ini terdapat ungkapan-ungkapan yang kasar, atau yang terlalu > "tajam", dan bisa menyakitkan hati sebagian orang, atau membikin marah > sebagian lainnya lagi. > > > > Marilah sama-sama lihat - dengan hati yang tulus dan fikiran yang bersih > ! - betapa terpuruknya negara, bangsa dan rakyat kita dewasa ini, yang > sebagian terbesar sebagai akibat banyaknya kesalahan monumental, dan > kerusakan atau pembusukan yang amat parah di berbagai bidang, yang dibikin > oleh Orde Barunya Suharto, dan yang diwarisi pemerintahan Habibi, Abdul > Rahman Wahid, Megawati dan sekarang ini diteruskan oleh pemerintahan > Sby-Jusuf Kalla. > > > > Pertama-tama , perlulah hendaknya sama-sama kita ingat bahwa dari umur > Republik Indonesia yang 61 tahun ini, lebih dari separuhnya telah dirusak > atau dibusukkan oleh rejim militernya diktator Suharto beserta para > pendukung setianya. Artinya, selama 32 tahun pimpinan TNI, di bawah Suharto, > telah menjerumuskan negara dan rakyat Indonesia ke dalam jurang yang gelap > sekali. Jiwa revolusi 45 di bawah pimpinan Bung Karno telah dihancurkan oleh > jenderal-jenderal dan kolonel-kolonel di bawah Suharto yang mengkhianati > Bung Karno. Jiwa revolusioner perjuangan 45 telah dimatikan oleh > persekongkolan pimpinan militer dengan kekuatan nekolim (neo- kolonialisme > dan imperialisme), terutama AS, beserta sekutu-sekutunya di dalam negeri. > > > > > > Kerusakan dan pembusukan oleh pimpinan TNI dan Golkar > > > > Kiranya, setiap orang yang bersih hati nuraninya akan bisa mengakui bahwa > sejarah Orde Baru telah menunjukkan dengan jelas bahwa pimpinan TNI-AD dan > para tokoh Golkar telah melakukan perusakan-perusakan yang besar sekali dan > pembusukan yang sangat parah terhadap kehidupan bangsa dan republik kita. > Bukan saja mereka ini telah mengkhianati pemimpin besar rakyat Indonesia, > Bung Karno, dan menghancurkan kekuatan pendukungnya yang utama, yaitu > golongan kiri yang dimotori oleh PKI, tetapi juga kemudian merusak moral > bangsa secara parah sekali. Kerusakan moral sangat parah yang kita lihat > dewasa ini di banyak bidang adalah akibat dihancurkannya jiwa revolusioner > bangsa dan rakyat kita melalui pengkhianatan terhadap Bung Karno dan > kekuatan kiri pendukung utamanya. > > > > Selama lebih dari separuh umur Republik kita yang 61 tahun itu (dan itu > adalah jangka waktu yang lama sekali !) pimpinan TNI-AD dan Golkar telah > menjadikan negara Republik Indonesia sebagai alat untuk mengkerangkeng > rakyat banyak, untuk, memupuk kekayaan dan hidup dalam kemewahan di > tengah-tengah penderitaan rakyat karena kesengsaraan dan kemiskinan. > Buktinya dapat banyak sekali kita saksikan dewasa ini dari kehidupan yang > serba mewah mereka atau kekayaan mereka, sedangkan sebagian terbesar sekali > rakyat kita hidup menderita dalam serba kekurangan. > > > > Dengan terus-menerus dan selama puluhan tahun pula ! - mengibarkan > panji-panji anti Sukarno dan anti-PKI, mereka menindas sebagian terbesar > rakyat sambil bergandengan tangan erat-erat dengan kekuatan- kekuatan > pro-imperialis AS. Demi melindungi kepentingan mereka yang bathil dan haram, > dan untuk melindungi persahabatan dan kerjasama dengan fihak imperialisme AS > dan kapitalisme internasional ini mereka selalu (sekali lagi, ingat : > selama separuh umur Republik kita ! ) bersikap sangat kejam dan biadab > terhadap golongan kiri dan pendukung Bung Karno, dan terhadap yang bernai > menentang politik rejim militer Orde Baru. > > > > Mengingat besarnya kerusakan dan parahnya pembusukan yang sudah dilakukan > rejim militer Orde Baru-nya Suharto (artinya : oleh segolongan TNI- AD dan > Golkar) yang dilakukan selama lebih dari separuh umur Republik Indonesia, > maka patutlah kiranya bagi kita untuk selanjutnya meragukan tentang bisanya > ada perbaikan besar-besaran atau perubahan radikal di Republik kita tercinta > ini selama TNI (terutama TNI-AD) dan Golkar belum memperbaiki secara total > dan radikal kesalahan-kesalahan besarnya di masa lalu yang banyak sekali > itu. > > > > > > Kekosongan kepemimpinan sejak dijatuhkannya Bung Karno > > > Adalah omong kosong saja (atau, adalah munafik saja !, ) kalau ada orang > merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus tetapi sambil tetap bersikap > anti-Sukarno dan anti-pendukung utamanya, yaitu PKI. Sebab, pada dasarnya , > orang-orang yang anti-Sukarno tidaklah akan bisa sepenuhnya menghayati arti > yang sebenarnya Hari Peringatan 17 Agustus 45. Atau bisalah kita katakan, > bahwa pada hakekatnya, para pengkhianat terhadap Bung Karno itu juga adalah > juga pengkhianat revolusi 45 adanya. Sebab, Bung Karno adalah bukan saja > tokoh besar yang punya peran penting dalam proklamasi 17 Agustus, bahkan > sudah mencurahkan banyak tenaga dan fikirannya dalam perjuangan menentang > kolonialisme Belanda, jauh sekali sebelum 17 Agustus ! > > > > Sejarah rejim militer Orde Baru dan empat pemerintahan yang menggantikannya > menunjukkan dengan jelas sekali kepada kita semua bahwa sejak dijatuhkannya > Bung Karno secara khianat oleh pimpinan TNI-AD yang bersekongkol dengan > kekuatan nekolim (terutama AS), maka Republik Indonesia sudah kehilangan > panutan politik dan moral revolusioner, yang dibutuhkan oleh bangsa dan > negara kita. Terasalah benar-benar bahwa sejak itu ada kekosongan > kepemimpinan yang berwibawa, yang dihormati dan dicintai oleh rakyat banyak. > Karenanya, sebagian besar bangsa kita juga menjadi loyo, rusak moralnya, dan > seperti bingung kehilangan arah. > > > > Berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun yang telah kita lewati bersama, > sudah bisalah kiranya kita ambil kesimpulan bahwa Republik kita tercinta ini > akan selalu menghadapi banyak persoalan-persoalan yang rumit, > masalah-masalah yang parah, dan kesulitan-kesulitan yang besar, selama > Golkar dan sisa-sisa rejim militer Orde Baru (antara lain: TNI-AD) masih > bisa memainkan peran penting dalam pengurusan negara dan bangsa, seperti > sekarang ini. > > > > "Track-record" TNI-AD dan Golkar selama 32 tahun Orde Baru, ditambah > kurang-lebih 8 tahun pasca-Suharto, membuktikan dengan gamblang sekali bagi > kita bahwa justru TNI-AD dan Golkar-lah yang merupakan sumber utama dari > berbagai penyakit berat atau borok parah yang dihadapi negara dan bangsa. > Jadi, sama sekali tidak mungkinlah kiranya diharapkan dari mereka perbaikan > kerusakan atau penyembuhan penyakit parah bangsa kita. Kalau sudah selama > sekitar 40 tahun mereka justru menjadi sumber dari segala penyakit parah > bangsa, mana pula bisa kita harapkan bahwa di kemudian hari mereka akan bisa > berubah - begitu saja dan dengan mudahnya ! - menjadi pengobatnya. > > > > Kita harus berani melihat dengan jujur - dan juga mengatakan terus- terang > bahwa kemerosotan moral dan pembusukan hati nurani di kalangan pimpinan > TNI (terutama TNI-AD), dan Golkar beserta para simpatisan Suharto lainnya, > sudah sedemikian parahnya dan sudah pula begitu dalamnya, sehingga kita > bisa meneriakkan dengan lantang : Republik tercinta kita bersama ini sama > sekali tidaklah membutuhkan mereka!!! Sebab, mereka-mereka yang sudah > membusuk dengan parah ini malahan menjadi penyakit berbahaya yang > terus-menerus merusak tubuh bangsa kita. > > > > > > Keadaan Negara dan rakyat yang menyedihkan > > > Padahal, negara dan bangsa kita ini sedang menghadapi puluhan ribu, bahkan > ratusan ribu, persoalan rumit, atau kesulitan besar , atau masalah- masalah > yang parah sekali di berbagai bidang. Dalam rangka ini perlu sekalilah > selalu sama-sama kita ingat bahwa negara kita ini berpenduduk besar sekali > (lebih dari 215 juta). Tetapi, sekitar 65 juta (artinya :seperempat dari > seluruh penduduk !) dari rakyat kita hidup dalam kemiskinan. Di antara > mereka terdapat kira-kira 40 juta penganggur dan setengah penganggur. Mari > sama-sama kita bayangkan betapa banyaknya orang yang tiap harinya menderita > berkepanjangan. > > > > Itulah sebabnya, maka kriminalitas menjadi amat tinggi angka-angka di banyak > daerah, dan banyak orang menjadi frustasi (termasuk di kalangan muda). Lebih > dari 5 juta orang terpaksa jadi TKI atau TKW di berbagai negeri . Memang, > menjadi TKI atau TKW di luar negeri bukanlah pekerjaan yang hina, tetapi ini > menunjukkan bahwa karena berbagai salah-urus dalam mengatur negara maka di > Indonesia mereka sulit mencari hidup. Tidak sedikit di antara rakyat kita > yang menjadi pengemis, orang gelandangan, dan pelacur. > > > > Dapatlah diperkirakan bahwa puluhan juta orang dari rakyat kita tiap > harinya sulit untuk makan dengan cukup, di samping sulit mendapat pengobatan > kalau sakit. Ditambah dengan banyaknya bencana alam yang bertubi- tubi > menimpa bangsa kita (banjir, kekeringan, hama wereng, gempa bumi di Jogya, > gunung Merapi yang meletus, tsunami di Pengandaran dan di Aceh), maka > sebagian besar dari rakyat kita betul-betul terpaksa hidup sengsara. Yang > membikin banyak sekali orang marah dan muak adalah bahwa di tengah-tengah > puluhan juta orang terpaksa hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan yang > memedihkan itu, sebagian golongan bangsa kita tega-hati untuk rame-rame > melakukan kejahatan korupsi berjamaah secara besar-besaran. Atau, tidak > segan-segan menghambur-hamburkan uang rakyat untuk plesir di luarnegeri > dengan dalih "studi banding" segala. > > > > > > Kejahatan korupsi dan kebejatan moral > > > Yang melakukan kejahatan korupsi jutaan, milyaran, bahkan ratusan milyaran > Rupiah ini terdiri dari pejabat-pejabat tinggi negara, menteri, gubernur, > bupati, hakim, jaksa, polisi, jenderal dan kolonel, anggota DPR dan DPRD, > dari tingkat pusat di Jakarta sampai ke daerah-daerah. Mereka adalah > penjahat-penjahat besar yang berkedok pejabat, tokoh partai, intelektual, > pemuka agama, dan tokoh terkemuka masyarakat. Melakukan kejahatan korupsi > uang publik (kasarnya : maling !) ketika puluhan juta orang menderita kurang > makan adalah benar-benar suatu kejahatan yang maha besar. > > > > Dosa kejahatan mereka menjadi berlipat-ganda kalau mengingat bahwa > kebanyakan korupsi (sekali lagi : maling atau pencurian uang rakyat ! ) ini > justru dilakukan oleh orang-orang yang sudah kaya, bahkan sudah kaya-raya ! > Moral rendah atau budi nista-lah yang membikin mereka tanpa segan- segan dan > tega-hati berbuat haram dengan merugikan kepentingan orang banyak. Mereka > melakukan kejahatan terkutuk semacam ini bukan karena didesak untuk > memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup, melainkan karena ketamakan dan > keinginan hidup mewah dan senang-senang atas penderitaan orang banyak. > > > > Mereka yang tidak segan-segan atau tega-hati melakukan korupsi > besar-besaran ini biasanya juga tidak segan-segan dan tega-hati untuk > mempermainkan atau menyalahgunakan hukum, dengan menyuap hakim, jaksa, > polisi, dan pejabat-pejabat. Penegakan hukum sering sekali dilumpuhkan oleh > para penjahat kaliber kakap yang bisa membeli segala-galanya dengan uang, > termasuk apa yang mereka namakan "keadilan" dan "kebenaran", atau kata-kata > muluk lainnya. Fenomena demikian inilah yang dewasa ini sering kita baca > atau kita saksikan sendiri, dengan rasa muak dan gregetan. Sebab, kebejatan > moral dan pembusukan akhlak ini sudah bisa katakan menyeluruh di "kalangan > atas" masyarakat dan pemerintahan. Contoh gamblang dari puncak kerusakan > akhlak yang menimpa sebagian besar kalangan atas ini adalah korupsi > besar-besaran di Departemen Agama (bahkan Menteri Agama-pun harus diperiksa > di pengadilan !). > > > > Pengalaman dari 32 tahun pemerintahan Orde Baru, ditambah dengan 8 tahun > berbagai pemerintahan sesudahnya, mengajarkan kepada kita bahwa pimpinan > militer type Orde Baru dan jenis tokoh-tokoh Golkar yang masih mempunyai > simpati terhadap Suharto bukanlah orang-orang yang bisa diharapkan memiliki > sikap benar-benar pro-rakyat dan menjunjung kepentingan negara dan bangsa. > Di samping itu, kebanyakan di antara mereka bukanlah pula orang- orang yang > benar-benar menghormati demokrasi dan menjunjung tinggi-tinggi hak- hak azasi > manusia. Berbagai penderitaan pedih selama 40 tahun yang ditanggung oleh > para eks-tapol dan jutaan para korban peristiwa 65 beserta keluarga mereka > (sampai sekarang !!!) adalah bukti yang menyolok sekali dari rendahnya > kualitas moral para pendukung Orde Baru ini.. > > > > Itu semua berarti bahwa dengan orang-orang yang moralnya sudah bejat dan > sikap politiknya masih seperti Orde Baru atau rejim militer Suharto, maka > kehidupan Republik Indonesia kita akan tetap terus dipenuhi kebusukan moral > dan kerusakan akhlak , dan akan terus dihinggapi banyak dan berbagai > masalah. Tegasnya, atau jelasnya, dengan orang-orang yang moralnya sebejat > tokoh-tokoh rejim militer Suharto, Republik Indonesia kita akan tetap terus > dalam keadaan yang serba menyedihkan seperti sekarang ini, walaupun bangsa > kita akan merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang ke-100, atau bahkan > yang ke-200 kalinya di kemudian hari. > > > > > > Perubahan besar lewat kekuasaan politik pro-rakyat > > > Republik kita yang terkasih ini membutuhkan pimpinan orang kuat dan > berwibawa, yang sekaliber atau setaraf pemimpin besar Bung Karno, yang > betul-betul mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat terbanyak, yang dapat > mempersatukan semua golongan dari berbagai suku, golongan etnis, agama, dan > aliran politik, yang bisa jadi panutan dalam perjuangan bersama untuk > masyarakat adil dan makmur, dan yang bisa benar-benar menjiwai dan > melaksanakan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Republik kita tercinta ini > tidak bisa dan tidak boleh terus-menerus dikelola orang-orang korup, > reaksioner, bermoral rendah, seperti yang terjadi selama 40 tahun yang sudah > lewat ini. > > > > Negara yang amat luas dan besar dengan penduduknya yang begitu banyak ini > sedang menghadapi banyak sekali masalah-masalah besar di berbagai bidang. > Banyak sekali pembusukan atau degenerasi yang sudah terjadi selama 40 tahun > harus dihentikan, dan reformasi di segala bidang - yang sedang macet > sekarang ini - harus diteruskan. Banyak sekali hal-hal yang harus dibongkar, > dibangun kembali, atau diganti, demi kepentingan rakyat banyak dan demi anak > cucu kita di kemudian hari. > > > > Pengalaman rakyat di berbagai negeri di dunia, antara lain di Venezuela, > Bolivia dan Kuba, menunjukkan bahwa untuk bisa mengadakan > perubahan-perubahan besar demi kepentingan rakyat banyak, haruslah lebih > dulu direbut kekuasaan politik, melalui berbagai cara dan jalan, terutama > jalan demokratis. Kiranya, kita bisa dan perlu belajar dari perebutan atau > perubahan kekuasaan politik di berbagai negeri Amerika Latin yang makin > bergeser ke kiri. Juga di Indonesia, perubahan-perubahan besar yang bisa > menguntungkan kepentingan rakyat banyak, hanya bisa tercapai kalau kekuasaan > politik dipegang oleh orang-orang yang benar-benar pro-rakyat, dan bukannya > oleh orang-orang bermoral rendah dan reaksioner sejenis pendukung- pendukung > setia Suharto beserta Orde Barunya. Sebab, 40 tahun (artinya dua pertiganya > umur Republik kita) sudah menunjukkan dengan jelas siapa-siapa mereka itu > semuanya dan bagaimana sepak-terjang mereka. Karena itu, janganlah lagi > tertipu oleh mereka, dan hilangkan segala ilusi. > > > > > > Revolusi belum selesai !!! > > > Jadi, perubahan kekuasaan politik ke arah yang betul-betul mementingkan > kepentingan rakyat banyak adalah satu-satunya jalan yang akan bisa > mengentaskan Republik kita dari segala bahaya, kesulitan dan penyakit. > Kiranya, masalah inilah salah satu di antara berbagai soal penting yang > perlu direnungkan bersama dalam memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus. > Dalam rangka ini perlu diingat pula bahwa untuk menuju ke perubahan > kekuasaan politik yang benar-benar pro-rakyat itu kita bersama harus > berusaha meneruskan apa-apa yang sudah diperjuangkan oleh Bung Karno. > Singkat-padatnya, seperti yang sering dikatakan Bung Karno : revolusi belum > selesai !!! > > > > Paris, 11 Agustus 2006 > > > > (Mengharapkan pendapat/tanggapan Anda mengenai tulisan ini, yang dapat > disampaikan kepada [EMAIL PROTECTED]) > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > No virus found in this outgoing message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.1.405 / Virus Database: 268.10.9/416 - Release Date: 10/08/2006 > > > [Non-text portions of this message have been removed] > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

