Proklamasi dan Proklamator
Kolom Ahad Aboeprijadi Santoso 13-08-2006
Proklamasi sejak usai Perang Dunia II menjadi awal sebuah negara.
Dan proklamator kemerdekaan adalah tokoh atau sejumlah tokoh yang
dianggap sebagai para pemula atau pemimpin bangsa, seolah-olah tanpa
mereka, tak akan ada bangsa tersebut.
Kita sudah terbiasa mengenang Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai
perintis dan pemula sejarah bangsa. Padahal, pada 17 Agustus 1945
itu, mereka membidani, mengumumkan dan mengawal kelahiran sang
negara, bukan bangsa. Dari situ berawal sebuah negara, bukan sebuah
bangsa.
Sebaliknya, kita tidak terbiasa untuk menyebut siapa pemula dari
nation, bangsa. Mustahil, memang, untuk mengatakan proses formasi
bangsa dimulai dari sebuah momen, betapa pun historisnya, misalnya,
Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Sebab, kesadaran politik dan
formasi bangsa amat bergantung pada pengalaman kolektif negeri
tersebut.
Ini menunjukkan bahwa bangsa adalah sebuah proses besar, kebersamaan
yang panjang, sedangkan negara atau state, paling kurang awalnya,
adalah sebuah momen belaka. Ketika bangsa itu merdeka dan mendirikan
suatu negara, sang negara kontan mengklaim jati diri bangsa.
Tanpa bangsa, negara itu seperti format tanpa substansi, atau raga
tanpa jiwa. Sejak itu, dia resmi mewakili bangsa. Konstruksi negara-
bangsa atau 'nation-state' - negara yang bersenyawa dengan bangsa -
ini, menjadi lazim dan universal sejak Revolusi Prancis 1789.
Ben Anderson, dalam studi klasiknya mengenai bangsa dan kebangsaan
menunjuk betapa ganjil bahwa United Nations itu merujuk pada bangsa-
bangsa (nations), bukan pada negara-negara (states) padahal sejarah
mau pun seluruh mekanisme lembaga dunia itu diisi dan ditentukan
oleh negara-negara, bukan oleh bangsa-bangsa mana pun. Lantas,
dunia, termasuk kita, dengan latah menerjemahkannya
sebagai "Perserikatan Bangsa Bangsa".
Walhasil, apa yang layak menjadi tak lazim. Dan apa yang lazim
sesungguhnya tak layak. Lembaga yang layak disebut Perserikatan
Negara Negara (PNN), dinamakan "Perserikatan Bangsa Bangsa" ("PBB").
Ini menjadi universal, tak dapat ditawar-tawar lagi. Padahal, negara-
negara itu berdiri di atas sejumlah klaim atas bangsa-bangsa. Dan
PBB, pada gilirannya, juga ada, karena adanya klaim sejumlah negara
atas sejumlah bangsa. Sehingga sebenarnya negara, pada skala lokal,
sama dengan PBB pada skala dunia, tidak lain adalah klaim politik
oleh sejumlah elit kuasa.
Begitu terbiasa kita dengan konstruksi dan wacana seperti ini,
sehingga kita tak pernah merasa perlu lagi untuk mempertanyakannya.
Akibatnya, kita pun lebih terbiasa untuk melihat ke belakang dan
mengkeramatkan wilayah dan simbol-simbol negara dengan slogan-
slogan, dan bukan memandang bangsa ke depan sebagai suatu proyek.
Dengan kata lain, sekali ditetaskan dan diberlakukan oleh kelas dan
elit yang berkuasa, maka klaim politik itu dengan sendirinya
dianggap harus berlaku secara kekal. Padahal seberapa kuat dan tegar
legitimasi dari klaim negara terhadap bangsa, itu tergantung
seberapa sinambung proses formasi bangsa tanpa berdarah-darah, dan
tanpa artifisialitas sakralisasi atribut negara.
Pendeknya, kendati negara, bangsa, dan negara-bangsa di mana-mana
dicita-citakan akan kekal, sebenarnya ini tak dapat dianggap
berlangsung dengan sendirinya (taken for granted). Pengalaman Orde
Baru mengajarkan bahwa semakin kokoh institusi negara tidak berarti
semakin kokoh bangsa itu. Justru kebalikannya, sakralisasi negara,
sentralisasi, penyeragaman dan kekerasan, malah memacu bahaya
disintegrasi bangsa.
Ini terbukti dari tragedi dari proses negara-bangsa di Indonesia
yang sarat musibah HAM, pemberontakan dan perlawanan di Aceh dan
Papua. Salah urus negara macam ulah Orde Baru membuat bangsa
terancam. Reformasi harus bergulat sengit dengan warisan Orde Baru
untuk menjaga integrasi bangsa. Tepatnya: karena berbekal warisan
Orde Baru, pergulatan itu tetap berdarah-darah.
Proklamator lain lagi riwayatnya. Nama besar mereka terkait langsung
pada kehistorisan momen proklamasi itu.
Proklamasi adalah potret sebuah momen. Momen yang besar, tapi tetap
sebuah momen belaka. Maka, wajar, para tokoh proklamator belum tentu
sehaluan. Kita tahu sejarah Soekarno dan Hatta tak cocok dan
belakangan Hatta mundur. Tetapi ketidakserasian dalam kepemimpinan
negara itu tidak menggoyang nilai-nilai historis proklamasi dan jasa-
jasa proklamator. Soekarno dan Hatta berpisah jalan secara politik,
dengan bermartabat, dengan kata lain, berpisah selaku negarawan
tanpa merongrong nilai-nilai proklamasi.
Ini berbeda dengan Orde Barunya Soeharto yang membuka tradisi 'ban
serep'. Di bawah Soeharto, Wapres menjadi cadangan yang perlu ada,
tapi tak perlu dipakai - perlu secara konstitusional, tapi tak perlu
secara politik, sehingga menjadi Pak Turut bin Ban Serep.
Yang tragis, dan juga patut menjadi pelajaran, adalah kisah
proklamasi Timor Leste.
Timor Timur memproklamasikan kemerdekaannya pada 28 November 1975,
sembilan hari sebelum diserbu dengan ganas tentara Indonesia.
Naskahnya dibacakan oleh Francisco Xavier do Amaral, ketika itu
merupakan tokoh tertua, sementara penyusun naskahnya, antara lain
pemimpin Fretilin Nicolau Lobato dan Mari Alkatiri mendampinginya di
gedung yang sekarang bernama Palacio do Guberno (Istana
Pemerintahan). "Ketika membacanya, setiap saat saya melihat ke
langit, jangan jangan pesawat Indonesia datang menyerang..." ujar
Xavier Amaral kepada Radio Nederland beberapa tahun silam.
Celakanya, menyusul invasi, Amaral belakangan menyerah di gunung,
ditawan dan dibawa Jendral Dading Kalbuadi, dijadikan tukang kebun
di bungalownya di Cijantung. Saya menjumpai Dading dan Amaral di
sana pada 1995. Mengharukan dalam hati saya, meski pun ketika itu
Amaral, yang akrab dipanggil Pak Xavier, sudah hidup mandiri; dia
menjadi primus inter pares komuniti Timor di Jakarta.
Di villa sang jendral yang besar dan mewah, tampak koleksi mobil
klasik Amerika, dan di rumah pak Xavier yang sederhana ironisnya
terpampang sebuah lukisan Jendral Dading yang gagah selaku komadan
baret Merah RPKAD yang pada 1974-75 menyusup ke TimTim untuk
menjegal aspirasi kemerdekaan Timor Timur.
Belakangan mantan proklamator Xavier do Amaral jadi pengusaha di
Pondok Indah dan kembali ke Dili sejak negerinya merdeka. Pada 2002
dia maju sebagai kandidat dalam Pilpres, tapi kalah menandingi
popularitas Xanana Gusmao.
Sejak itu, nama dan jasanya selaku proklamator tak berbekas. Karena
pernah menyerah, jasa Amaral tak diakui, dia dikeluarkan dari
Fretilin. Bahkan Fretilin mengingkari perannya dengan mengklaim
bahwa proklamasi 1975 tsb dilakukan Fretilin "atas nama Fretilin".
Menurut sebuah sumber, pemimpin Fretilin alm. Nicolau Lobato
bermaksud bahwa naskah proklamasi yang dibaca Xavier Amaral tsb
dinyatakan "atas nama rakyat Timor Leste". Presiden Xanana Gusmao
mendesak agar Fretilin merehabilitasi Amaral, tapi ini hingga kini
belum tuntas pula.
Kasus perlakuan penguasa militer Indonesia terhadap Xavier do Amaral
memperlihatkan bagaimana wacana dan pola berpikir penguasa dalam
upaya menjaga negara kesatuan, yaitu dengan perendahan martabat
maksimal terhadap setiap aspirasi dan upaya yang bertentangan dengan
negara kesatuan.
Hal yang sama terjadi dengan perlakuan aparat negara terhadap
pimpinan Gerakan Aceh Merdeka GAM semasa perang di Aceh pada 2003.
Masih ingat foto rombongan tawanan GAM yang diborgol secara berantai
dan digiring bagaikan kriminal menuju penjara Sukamiskin, Bandung?
Aneh, sebenarnya, menjaga integrasi negara-bangsa dengan perlakuan
kebalikannya terhadap sesama warga bangsa.
Bayangkan jika Soekarno atau Hatta sampai dikurung tentara Belanda
di rumah Jenderal Spoor di Batavia seperti terjadi pada Xavier
Amaral. Ini tidak hanya suatu penghinaan martabat terhadap
proklamator, tapi juga terhadap institusi proklamasi dan bangsa itu
sendiri.
Proklamasi dan proklamator merupakan momentum dan tokoh tokoh
historis, namun dalam perjalanannya, mereka dapat menjadi tokoh
besar atau justru hilang ditelan sejarah. Mereka menjadi bagian dari
dinamika dan tragedi proklamasi dan proklamator.
Digubah dari Kolom Ahad penulis, Radio Nederland Wereldomroep, 13
Agustus 2006-08-13
http://www.ranesi.nl/tema/temahukdanham/proklamasi_proklamator
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/