Surat Kembang Gunung Purei:
BEBERAPA KEJADIAN DI LANGLANG BUANAKU

1.

Permasalahan pokok yang kubawa kali ini, masih saja berkisar pada persoalan 
lama dan bisa dikatakan yang itu-itu juga yaitu apa-siapa warga negara 
Indonesia itu, apakah Indonesia adalah monopoli yang disebut "bumiputera", 
"penduduk asli", "indigenous people" [aku membedakannya dengan masalah adat dan 
masyarakat adat],  sehingga ada istilah warganegara keturunan asing dengan 
segala buntutnya. Tentu saja dasar dari pertanyaan ini, lagi-lagi apakah arti 
berepublik dan berkindonesiaan? Entah kalau konsep republik dan Indonesia sudah 
menjadi kadaluwarsa. Jika demikian maka pertanyaan-pertanyaan menjadi kaduk dan 
tidak relevan, menjadi ketinggalan zaman. Tidak tanggap! Tapi secara nyata dan 
dalam kenyataan negeri dan bangsa ini masih dinamakan Indonesia, dan bentuk 
negara yang kita pilih adalah republik [dengan segala persoalan yang sedang 
dihadapinya, hingga mencapai tingkat "krisis majemuk" dan menempatkannya 
seperti berada di ujung tanduk serta menjadikan negeri, bangsa dan negara ini 
menjadi "orang sakit Asia Tenggara".

Kalau pembacaan sejarah Indonesiaku benar, jelas-jelas aku melihat bahwa 
Republik Indonesia, [kata majemuk atau kata jadian yang terdiri dari kata 
Republik dan Indonesia] didirikan dan dibela dengan nyawa oleh semua etnik yang 
ada di negeri bernama Indonesia. Tanpa kecuali. Dan yang menjadi perekat 
etnik-etnik ini adalah dua kata Republik dan Indonesia yang kemudian dijadikan 
kata majemuk atau ata ganti nama Republik Indonesia [RI], yang merupakan satu 
rangkaian nilai. Nilai penakar berlaku bagi mayoritas atau minoritas. RI tidak 
hanya dibangun oleh mayoritas baik dari segi etnik atau pun agama. Mayoritas di 
pulau-pulau tertentu justru menjadi minoritas. Karena itu kepongahan 
kepentingan mayoritas adalah sangat tidak beralasan untuk memonopoli RI. 
Kepongahan begini hanya akan membawa ke jalan khianat terhadap nilai RI itu 
sendiri dan khianat akan membuka kotak Pandora. Membuka secara dungu pintu 
konflik tanpa guna dan bisa-bisa menghancurkan RI serta nilai perekat yang 
sudah disepakati. Khianat terhadap nilai RI inilah yang kukira merupakan 
sangkan paran yang membuat kita berada diujung tanduk dan digalaui oleh 
pertikaian majemuk tak berkesudahan. Khianat ini terutama dilakukan oleh 
kelompok mayoritas yang mengendalikan kekuasaan pusat di Jakarta. Daerah-daerah 
serta para penguasanya dijadikan pemegang kuasa vazal. Salah satu ujudnya 
adalah menafsirkan NKRI sentralistis sebagai satu kebenaran dan kemestian tidak 
tergugat. Penafsiran ankronistik. Khianat konsepsional yang diiikuti oleh 
pentrapannya, telah memerosotkan RI menjadi sebuah negara jajahan dan budak  
tipe baru. Sampai sekarang! Jakarta adalah penanggungjawab utama dari krisis 
majemuk dan keadaan sekarang. Bukan daerah!  Khianat konsepsional dan terapan  
inilah yang menabur rasa ketidakpuasan dan kemarahan sehingga melahirkan 
pemberontakan demi pemberontakan sampai-sampai penyair Taufiq Ismail, penyair 
sangat anti komunis, hak yang kuhargai!] mengatakan "aku malu menjadi 
Indonesia", [tapi tidak bagiku, karena kesulitan dan krisis, tidak lain dari  
tantangan patut dijawab, persoalan patut ditanggulangi. Batu ujian kadar 
kerepublikan, keindonesiaan dan kemanusiaan kita. Aku menerima Indonesia dan 
Republik seadanya, tanpa malu. Karena itulah aku! Mengapa mengingkari diri? 
Mengapa aku mesti malu pada wajah bopengku, kalau aku memang bopeng. Dan aku 
akan hadapi siapa saja dengan wajahy bopengku, tanpa operasi plastik. Bopeng 
wajahku, biar. Asal tidak bopeng wajah jiwaku, wajah martabat dan harga 
diriku!].  Betapa pun dengan pernyataan "malu menjadi Indonesia", aku 
menghargai Taufiq, karena dari segi lain, penyataan ini adalah kritik sangat 
keras pada khianat terhadap nilai republiken dan berkeindonesiaan yang 
diterapkan oleh pemegang kekuasaan politik. Taufiq sudah menunaikan 
tanggungjawab kesastraannya. Lepas dari benar tidak, Taufiq setia pada 
nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan sebenarnya, hal yang bisa 
diperdebatkan lebih lanjut. 

Khianat terhadap nilai-nilai republiken dan berkindonesiaan , nilai-nilai 
perekat semua etnik dan asal turun yang menjadi warga negara RI, ini pulalah 
yang menyebabkan RI [baca:pemegang kuasa politiknya!] yang menyingkirkan para 
warganegaranya, tidak adil memperlakukan warga negara RI -- sampai-sampai tidak 
segan mencabut paspor mereka, dan menyuruh mereka meninggalkan Indonesia karena 
ketidaksetujuan terhadap kebijakan penguasa seperti yang pernah diucapkan oleh 
Megawati saat menjadi Presiden, mengklasifikasi adanya warga negara turun asing 
atau tidak.

Dahsyatnya,  RI  sebagai rangkaian nilai sudah menjadi kekuatan material. 
Terbukti antara lain dari tentangan luas terhadap Rencana UU anti porno dan 
porno aksi yang melecehkan budaya-budaya daerah. [Barangkali untuk memahami RUU 
ini kita perlu mempelajari sejarah politik Islam di Indonesia. Membandingkan 
politik Islam dari periode ke periode. Mengenal riwayat dan latarbelakang 
tokoh-tokoh kuncinya. Dengan mempelajarinya akan nampak musabab mengapa justru 
sekarang, RUU anti RI ini ditawarkan!]. 

Kedahsyatan rangkaian nilai, yang sudah menjadi kekuatan material inilah yang 
dalam "Surat Kembang Gunung Purei" ini akan kuangkat beberapa secara kongkret 
sebagai contoh.  Contoh yang kudapatkan dari langlangbuana meniti busur bumi 
selama puluhan tahun.

Paris, Agustus  2006.

JJKusni


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke