http://www.antara.co.id/seenws/?id=40061

Daniel Dhakidae : Indonesia Dalam Ancaman Etnonasionalisme

Jakarta (ANTARA News) - Pakar politik lulusan Cornell University, Daniel 
Dhakidae, menganggap rasa nasionalisme Indonesia telah menurun dibanding satu 
dasawarsa lalu dan justru saat ini timbul gejala etnonasinalisme.

"Gerakan separatis yang dulu timbul di Timor-Timur, baru-baru ini di Aceh dan 
sekarang di Papua, adalah wujud nyata dari munculnya etnonasionalisme," kata 
Daniel kepada ANTARA, di Jakarta, baru-baru ini.

Etnonasionalisme, ungkap Dakidae, adalah perasaan satu nasib yang timbul dalam 
satu komunitas etnis. Dakidae mengandaikan nasionalisme seperti bangunan besar 
dari komunitas etnonasionalisme yang menyatu (atau disatukan) menjadi bangunan 
komunitas etnis dalam cakupan yang lebih besar.

Ahli politik yang juga aktif menulis dan melakukan penelitian ini memercayai 
nasionalisme sebagai bentukan dari komunikasi antar personal. Dari komunikasi 
antar personal ini kemudian terbentuk komunitas etnis yang mempunyai pandangan 
sama, sedarah dan senasib, dari satu garis keturunan. 

Komunitas etnis inilah kemudian membentuk nasionalisme dalam cakupan etnis yang 
lebih luas bernama nasionalisme. Hubungan antara nasionalisme satu dengan 
nasionalisme lainnya akhirnya juga membentuk sesuatu yang dinamakan 
universal-nasionalisme. 

"Paham yang menganggap diri bagian dari warga dunia," Daniel menjelaskan.

Rasa etnosentrisme yang menjadi cikal bakal nasionalisme itu akan terbentuk 
jika komunikasi antar etnis mencukupi. Syarat lainnya, kata Dakidae, harus 
timbul perasaan satu nasib.

Anggota pendiri Indonesian Corruption Watch ini mengganggap nasionalisme di 
Indonesia baru terbentuk baru-baru saja, sekitar satu dasawarsa terlewat, sejak 
komunikasi antar warga jadi semakin mudah dan cepat. 

Ia mengatakan, faktor utama yang berpengaruh dalam membentuk baik 
etnonasionalisme, nasionalisme atau universalnasionalisme adalah keintiman, 
kemudahan dan kecepatan komunikasi. Revolusi komunikasi hasil inovasi teknologi 
membuat hubungan antar personal lebih mudah tanpa memandang jarak.

Tapi sebelum nasionalisme Indonesia terbentuk kuat, semakin mudah komunikasi 
bisa dilakukan hampir tanpa jarak, membuat beberapa daerah menyadari adanya 
bentuk ketidakadilan. Rasa nasionalisme akhirnya terpecah lagi menjadi 
etnonasionalisme, terbukti dengan adanya komunitas-komunitas etnis yang 
berkembang justru di jaman komunikasi serba cepat dan mudah.

"Sekarang ini, pemegang kekuasaan pusat negeri ini tidak bisa menganggap remeh 
orang-orang Papua. Dengan tren semakin canggihnya teknologi komunikasi,orang 
Papua yang berada di tanah mereka bisa berhubungan langsung dengan orang Papua 
di Jakarta, di seluruh Indonesia bahkan di ujung-ujung dunia," ujarnya, mantap.

Ia menyimpulkan, selama daerah merasa ada ketidakadilan yang dilakukan oleh 
pemerintah pusat pada mereka, etnonasionalisme akan muncul menggerogoti 
nasionalisme menjadi keping-kepingan terpecah belah. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke