RIAU POS

      Diperlukan Guru Pejuang 

           
      Sabtu, 12 Agustus 2006  

      Lagi, angin surga berembus ke dunia pendidikan kita. Departemen 
Pendidikan Nasional (Depdiknas) menjanjikan, dalam kurun tiga tahun, 210 ribu 
guru honorer akan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan cara itu, 
Depdiknas berharap mutu pendidikan di Indonesia semakin membaik. 

      Kabar tersebut tentu layak disambut gembira. Sebab, kita semua tentu 
sepakat bahwa pendidikan memegang peran penting dalam kehidupan bangsa. Maju 
tidaknya pendidikan sangat memengaruhi kemajuan bangsa ini.

      Hanya, sebelum kebijakan itu benar-benar dilaksanakan, kita ingin 
mengingatkan agar pemerintah juga memperhatikan aspek-aspek lainnya. Artinya, 
bersamaan dengan pengangkatan itu, pemerintah juga harus serius melihat 
motivasi para guru honorer tersebut. Apakah di dalam diri mereka terdapat nilai 
kejuangan?

      Ini mungkin terasa aneh. Mengukurnya juga tidak mudah. Namun, kita perlu 
mengingatkan karena di antara mereka yang saat ini jadi guru -baik yang sudah 
PNS maupun yang masih honorer- ada kecenderungan sekadar bekerja. Tidak ada 
nilai juang untuk mengantar generasi muda Indonesia siap menghadapi tantangan 
masa depan.

      Mengajar atau mendidik anak mutlak perlu disertai motivasi kejuangan. 
Sebab, mendidik itu pada hakikatnya mengembangkan sebuah karakter atau 
kepribadian seorang manusia. Sentuhan yang bersifat kasih sayang (emosional) 
sangat dibutuhkan. Ada kedekatan secara batin antara pendidik dan peserta didik.

      Lain jika mendidik hanya dipandang sebagai pekerjaan atau lumbung mencari 
penghidupan. Hubungan guru dan murid menjadi sangat kering, kaku, dan formal. 
Guru tidak mau menyelami karakteristik anak didiknya. Guru hanya mau memberikan 
ilmunya sesuai dengan ''argo''-bayaran yang cocok.

      Harus diakui, fenomena semacam itu kini cukup menggejala di dunia 
pendidikan kita. Guru banyak yang sibuk memperbaiki -secara material- kualitas 
hidupnya. Akibatnya, kegiatan yang berbau eksploitasi pendidikan demi 
keuntungan materi pun kerap terdengar.

      Guru juga manusia! Itu benar. Artinya, dalam batas-batas tertentu, 
seorang guru tidak "diharamkan" mencari materi. Namun, guru jangan sampai 
menjadi materialistis. 

      Jika karakter materialistis lebih menonjol daripada karakter pejuang, 
sebaik apa pun kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru tidak 
akan menyelesaikan masalah. Guru tetap akan lebih sibuk mencari keuntungan 
materi daripada mengembangkan anak didiknya.

      Moralitas bangsa ini sudah sedemikian terpuruk. Seakan sudah sedemikian 
sulit ditemukan orang baik, orang jujur, dan orang yang berdedikasi tinggi. 
Sebaliknya, orang jahat, orang curang, serta orang yang tahunya hanya berpikir 
tentang kepentingannya sendiri sangat mudah ditemukan. Kata mantan Ketua PP 
Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif, penjahat dan pejabat sudah sangat sulit dibedakan.

      Dalam situasi yang seperti itu, peran guru sangat dibutuhkan. Guru harus 
terpanggil untuk bisa menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Yakni, 
generasi yang punya kepedulian terhadap sesama, menjunjung tinggi kejujuran, 
dan memiliki semangat pengorbanan.

      Mencetak generasi seperti itu tentu tidak mudah. Tidak cukup hanya 
mengantar mereka hingga lulus unas (ujian nasional). Tapi, harus bisa mengantar 
anak didik menjadi "manusia". Yakni, sebagai makhluk individu, sosial, dan 
religius. Dan itu semua memerlukan keteladanan seorang guru! *** 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke