Well, the Indonesians have just two options:

to become cameldrivers, it might be the dream of Mr Ahmad al 
Badruni, who is dreaming to transfer Indonesia to a khilafah Taliban 
society like the former Afganistan..then goodbye investors..

or to become citizens of a modern secular small high-tech country 
like Singapore or Taiwan..

it would be the choice of the investors to come in..






--- In [email protected], carla annamarie kneefel 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> klo indo pecah...udah pasti hengkang tuh smua investor2 asing, 
smua pengusaha2 yg mayoritas perekonomian indo dikuasai investor 
barat, cina, jepang n korea ato pengusaha indonesia yg berketurunan 
cina pada gak akan ngambil resiko utk tetap tinggal di indo...
>    
>   apalagi klo neg ini dikuasai oleh org2 bermental 
fundamentalistik...paling2 balik ke jaman batu...
>    
>   yg kasian org2 jkt neh...kaum metropolitan yg udah terbiasa dgn 
modernisasi n kebebasan...., klo sgala sesuatu di haramin...gmn mau 
hidup...? apalagi mau travel keluar neg, udah di banned di mana2.., 
gak bisa deh travel ke europe apalagi amrik...skarang aja ngurus 
visa ke blanda aja yang dulunya gampang skarang susah bgt... , 
terima nasib deh paling2 wisata ke gurun pasir liat onta..
>    
>   mudah2an jgn pecah deh
>    
>   indonesia merdeka bersatu...
> 
> rio_armando89 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           
> Bagaimana dengan laskar jihad yang dengan mudah membentuk pasukan,
> mudah pula membubarkan diri, namun tidak pernah tersentuh hukum?
> Bagaimana dengan tragedi ambon? Kok tidak diusut? Apa karena
> kebanyakan korbannya dari pihak kristen?
> 
> Saudara-saudaraku, di timur indonesia banyak mata telah terbuka.
> Indonesia tinggal menunggu waktu untuk pecah. 
> 
> RIO
> 
> --- In [email protected], "Ambon" <sea@> wrote:
> >
> > http://www.gatra.com/artikel.php?id=97029
> > 
> > 
> > Pendapat TPM
> > Tibo Dkk Bukan Pahlawan, Tapi Penjahat Kemanusiaan
> > 
> > 
> > Palu, 13 Agustus 2006 00:10
> > Tim Pembela Muslim (TPM) Sulawesi Tengah menilai pemberitaan 
media
> massa akhir-akhir ini seolah-olah menganggap bahwa Fabianus Tibo,
> Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu sebagai pahlawan sehingga 
harus
> dibela, padahal sesungguhnya mereka itu adalah aktor lapangan yang
> membantai dengan cara sadis banyak manusia tak berdosa saat pecah
> konflik horizontal di Poso pada pertengahan tahun 2000.
> > 
> > "Saya kecewa dengan pemberitaan akhir-akhir ini sebab seolah-olah
> Tibo dkk itu diperlakukan sebagai pahlawan yang harus dibela. Ini
> masalah serius yang harus diluruskan oleh semua pihak," kata Ketua 
TPM
> Sulawesi Tengah (Sulteng), Asludin Hatjani SH, di Palu, Sabtu 
(12/8).
> > 
> > Pernyataan tersebut disampaikan Hatjani menanggapi pemberitaan 
media
> massa nasional dan lokal di Tanah Air sekaitan tertunda-tundanya
> pelaksanaan eksekusi mati terhadap Tibo dkk, termasuk yang kedua
> kalinya pada Sabtu (12/8), pukul 00:15 waktu setempat.
> > 
> > Sebelumnya, Kejaksaan Agung menjawadkan pelaksanaan eksekusi mati
> terhadap Tibo dkk pada bulan Maret 2006.
> > 
> > Eksekusi yang direncanakan pertama kali itu gagal dilaksanakan
> karena alasan penyidik Polda Sulteng masih memerlukan keterangan
> mereka untuk mengungkap para pelaku pembantaian massal pada 
sejumlah
> tempat di Kabupaten Poso saat kerusuhan besar berlangsung Mei-Juni
> 2000, seperti yang terjadi di kompleks Pesantren Walisongo, 
Kelurahan
> Sintuwulembah di Kecamatan Lage (sembilan kilometer arah selatan 
kota
> Poso) dan di dusun Buyung Katedo (desa Silanca, Lage).
> > 
> > Menurut dia, dirinya mengetahui persis bagaimana posisi Tibo,
> Dominggus, dan Marinus ketika pasukan "Kelompok Merah" menyerang
> basis-basis permukiman muslim di Kecamatan Lage, Poso Kota, Tojo, 
dan
> Poso Pesisir saat kerusuhan besar melanda wilayah Kabupaten Poso 
enam
> tahun silam.
> > 
> > "Sangat banyak saksi korban yang selamat menuturkan bahwa ketiga
> orang itu merupakan komandan lapangan dalam aksi-aksi penyerangan
> tersebut, selain dengan tangan mereka sendiri melakukan pembunuhan
> secara sadis terhadap banyak manusia tak berdosa," tutur Hatjani 
yang
> selama lebih lima tahun memberikan advokasi terhadap para korban
> kerusuhan Poso.
> > 
> > Bahkan, saat menjalani pemeriksaan di Pengadilan Negeri (PN) Palu
> awal tahun 2001, 19 dari 20 saksi yang berada di bawah sumpah 
ketika
> itu menuturkan bahwa Tibo, Dominggus, dan Marinus tidak saja 
melakukan
> pembunuhan dengan cara sadis terhadap banyak manusia, tapi juga
> terlibat dalam kejahatan penganiayaan bersama-sama serta pembakaran
> rumah-rumah penduduk.
> > 
> > "Itulah sebabnya sangat wajar jika kemudian PN Palu menjatuhkan
> vonis dengan hukuman yang setimpal kepada mereka yakni pidana mati,
> bahkan kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Sulteng dan 
Mahkamah
> Agung," ujarnya.
> > 
> > Mengenai pernyataan sejumlah pengacara yang tergabung dalam
> Perhimpunan Advokasi dan Perdamaian (PADMA) Indonesia bahwa Tibo 
dkk
> merupakan korban dari sebuah peradilan sesat, Hatjani mengatakan
> mereka itu adalah "orang luar" yang tak mengetahui bagaimana
> sebenarnya tindakan Tibo dkk saat pecah kerusuhan besar di Poso
> beberapa waktu lalu.
> > 
> > "Jika mau jujur, jangan hanya mendasarkan pada keterangan satu
> pihak. Silahkan tanyakan langsung kepada saksi korban yang selamat 
dan
> hingga kini masih hidup," kata dia, seraya menambahkan ada ratusan
> janda dan anak-anak korban kerusuhan Poso yang kehilangan 
orangtuanya
> akibat tragedi berdarah di berbagai tempat dalam wilayah Poso bisa
> dimintai keterangan.
> > 
> > Hatjani juga mengatakan, secara logika hukum bahwa dengan
> diajukannya dua kali permohonan pengampunan (grasi) kepada presiden
> oleh Tibo, Dominggus, dan Marinus, itu berarti ketiga terpidana 
mati
> ini telah mengakui segala perbuatannya seperti yang didakwakan oleh
> Jaksa/Penuntut Umum sebelumnya.
> > 
> > "Ini sebagai bukti bahwa Tibo dkk telah mengakui segala
> kesalahannya," kata dia. [EL, Ant
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
>          
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Next-gen email? Have it all with the  all-new Yahoo! Mail Beta.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>









***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke