Kontroversi Ujicoba pada Binatang

Ujicoba obat baru atau produk kosmetika pada binatang, sudah sejak lama menjadi 
standar di laboratorium percobaan. Namun kontroversi merebak sejak beberapa 
tahun terakhir, setelah kelompok pembela hak binatang memprotes standar ujicoba 
tersebut.

Kasus paling ekstrim terjadi di Universitas Oxford, institusi akademik paling 
tua dan terkemuka di dunia, dimana terjadi aksi protes dengan kekerasan, yang 
dipicu oleh para pembela hak binatang. Pasalnya, di Oxford sedang dibangun 
laboratorium baru untuk ujicoba menggunakan binatang.
 Kampanye Melalui Intimidasi
 Kerusuhan ini memicu debat di kalangan universitas dan publik, menyangkut 
etika dan efisiensi pemanfaatan binatang dalam penelitian. John Curtin salah 
seorang pemrotes, menegaskan betapa efektivnya kampanye dengan cara intimidasi 
seperti itu. 
 Curtin: “Jika berhadapan dengan gerakan pelindung binatang, bisnis anda jadi 
serba salah. Kami adalah mimpi buruk yang mengganggu. Sekali saja kami 
memutuskan memerangi sesuatu, kami tidak akan berhenti. Perusahaan Vivisector 
tahu persis mengenai hal ini, dan kontraktor baru juga harus belajar dari apa 
yang terjadi dengan kontraktor sebelumnya.“
 Hak Binatang dan Kepentingan Manusia
 Akan tetapi, ada yang dilupakan oleh para pembela hak binatang. Sebab aksi 
mereka mengganggu dan melecehkan umat manusia, menjadi tidak konsisten dengan 
aksinya untuk membela hak binatang. Namun Curtin tidak melihat adanya 
kontradiksi. Sebagai pembela binatang yang tergolong radikal, ia balik menuduh 
banyak yang tidak mengerti para aktivis seperti dirinya. Mereka memandang 
dirinya sebagai saudara dari binatang percobaan dan melakukan segala cara, 
untuk melindungi binatang tersebut.
 Aksi Semakin Brutal
 Aksi para pembela hak binatang, dalam beberapa tahun belakangan ini semakin 
radikal, dimana aksi di Universitas Oxford adalah bagian dari trend tersebut. 
Mereka tidak hanya mengancam dan mengintimidasi para pekerja bangunan yang 
sedang membangun laboratorium atau para ilmuwan peneliti, tapi juga para 
pemasok peralatan ujicobanya. Beberapa kelompok pembela hak binatang, selain 
menggunakan ancaman fisik, juga menggunakan cara teror untuk mengintimidasi 
para pengusaha. 
 Kontradiksi
 Kini polisi terpaksa turun tangan untuk melindungi para kontraktor, ilmuwan 
maupun pemasok peralatan laboratorium. Aktivis pembela hak binatang menyerang 
mereka yang dituduh menyiksa binatang sebagai penjahat. Tetapi dalam aksinya, 
kelompok ini juga melakukan cara-cara kriminal. Seorang pemasok peralatan 
laboratorium mengungkapkan: 
 “Yang paling membuat stress, adalah ketika satu hari, ketika saya sedang duduk 
di kebun, cabang perusahaan menelpon saya dan mengatakan, kami baru sekarang 
mengetahui, bahwa ada surat kaleng yang dikirimkan ke tetangga saya dalam 
radius setengah mil dari rumah, yang mengatakan bahwa saya seorang paedophil, 
dan meminta agar tetangga menjauh dari rumah saya.“
 Intimidasi terhadap Peneliti
 Kampanye kotor semacam itu, kini semakin sering dilancarkan oleh para aktivis 
pembela hak binatang yang radikal, padahal harus disadari, para ilmuwan dan 
peneliti bukanlah pahlawan maupun penjahat. Mereka bekerja berdasarkan tuntutan 
profesinya. Para peneliti yang juga mengalami sendiri kampanye kotor dan 
intimidasi semacam itu, menilai taktik para aktivis itu sebagai mengerikan. 
Seperti yang diungkapkan Paul Bolam, salah seorang ilmuwan yang memanfaatkan 
binatang percobaan, dalam penelitiannya untuk melacak penyebab penyakit 
Parkinson. 
 “Saya pikir, intimidasi paling hebat yang saya rasakan, adalah ketika sahabat 
saya sejak 20 tahun terakhir di desa tempat saya tinggal, yang memiliki 
perusahaan konstruksi bangunan, menerima surat dari front pembela hak binatang, 
yang mengancam jika perusahaan menerima order dari universitas, perusahaannya 
akan dihancurkan seperti juga perusahaan lain sebelumnya.“
 Protes dari Dalam
 Memang jumlah aksi protes kelompok pembela hak binatang terhadap Universitas 
Oxford, belakangan ini agak surut, pasalnya pihak universitas mengadukan aksi 
teror itu ke pihak kepolisian. Akan tetapi, dari pihak universitas sendiri kini 
juga muncul kecaman menyangkut ujicoba menggunakan binatang. Sekitar 20 staff 
universitas bergabung melakukan aksi protes.
 Pemanfaatan Binatang Percobaan Harus Dihapuskan
 Untuk memecahkan kontroversi, juga digelar diskusi diantara para pemrotes, 
para peneliti serta para pasien, yang dipancarluaskan oleh televisi Oxford. 
Seorang aktivis pembela hak binatang, Mel Broughton, mengatakan, penderitaan 
binatang percobaan sebetulnya tidak perlu karena ujicoba dengan binatang tidak 
memberikan kesimpulan yang benar, bagaimana mekanisme sebenarnya pada manusia. 
Broughton dengan ngotot meneyebutkan, di zaman modern semua ujicoba bisa 
dilakukan dengan kultur jaringan atau simulasi komputer.
 Penelitian Tak Akan Berjalan Tanpa Binatang Percobaan
 Akan tetapi, profesor Tipu Aziz, pakar ilmu saraf di Universitas Oxford 
membantah argumentasi tersebut. 
 Tipu Aziz: “Jika proyek penelitian dapat dilakukan menggunakan model komputer 
atau kultur jaringan, maka komite etika di universitas pasti akan melarang kami 
melakukan ujicoba pada binatang.“
 Profesor Aziz juga menegaskan banyak keuntungan dapat dipetik dari ujicoba 
pada binatang. Terobosan di bidang kedokteran tidak mungkin dapat dilakukan 
tanpa ujicoba pada binatang di laboratorium. Untuk memberikan buktinya, ia 
membawa seorang pasien penderita penyakit Parkinson bernama Mike Robinson pada 
diskusi tersebut. Robinson terkena penyakit Parkinson 10 tahun lalu dan 
sekarang merasa lebih sehat dan lebih bahagia. 
 Uji Coba dengan Binatang 
 Hal itu terjadi sebagai hasil dari pengobatan dengan cara stimulasi pada 
otaknya, yang dikembangkan Prof. Aziz. Di otak Robinson ditanam dua elektroda 
kecil, yang secara kontinyu mengirimkan impuls listrik, dan mampu menekan 
sepenuhnya gejala gemetar yang diidapnya. Untuk mendemonstrasikan dampaknya, ia 
mematikan sejenak impuls listrik tersebut. Badannya langsung gemetar tidak 
terkendali. Prof. Aziz mengatakan, pengobatan yang dilakukan terhadap pasien 
Parkinson seperti Robinson, dikembangkannya melalui ujicoba pada monyet 
percobaan.
 Prof. Aziz lebih jauh mengatakan, puluhan ribu orang kini dapat memetik 
manfaat dari penelitian pada binatang. Jumlah binatang yang menderita dalam 
proses penelitian, jauh lebih kecil dari jumlah orang yang dapat memetik 
manfaatnya. Disebutkan, dalam penelitian di laboratorium, sekitar 150 ekor 
monyet percobaan harus menderita. Tetapi dalam praktek pengobatan di seluruh 
dunia, dalam beberapa tahun terakhir ini sekitar 50.000 pasien dapat memetik 
keuntungan dari penelitian tersebut.


                
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke