SURAT JEMBATAN SEMBILAN:
4. SEHARI DI NEGERI BELANDA Sambil menulis "Surat Jembatan Sembilan" ini, berulangkali aku mendengarkan "Lullaby", lagu halus dan merdu kiriman MB, teman baik dan setiaku dari Negeri Belanda. Aku sungguh menyukai lagu-lagu kirimannya. Pmengucapkan ada lagu-lagu kirimannya, seakan kudapatkan keadaan diriku, dukaku, kisah perjalanan serta harapanku yang babak-belur penuh parut dalam kembara jatuh-bangun menyusur busur bumi. Harapanku dan mimpiku tak obah sebuah pinisi tua yang beberapa tiang dan anaktiangnya ada yang patah diterpa badai tapi masih meneruskan pelayaran kendati tanpa dermaga. Bagiku, lagu-lagu kiriman MB yang memang suka lagu-lagu klasik ini, juga merupakan kaca melihat kemarin menatap esok agar selalu bisa mengucapkan kata-kata Matin Luther King Jr "I have a dream" di tengah galau hidup yang garang tak berbelas kasihan. Atau seperti kata pepatah Tiongkok Kuno agar bisa menjadi "seekor kuda yang mampu menempuh perjalanan jauh". Di tengah keganasan hidup ini, apalagi di larut malam Montmartre yang hening, Lullaby kurasakan bagai angin semilir di tengah terik matahari. Bagai segelas air ketika aku dahaga. Ninabobo kasih sayang seorang ibu untuk anaknya. Walau pun tak ada kata-kata slogan atau irama berdentam-dentam membakar tapi kelembutan dan kehalusan iramanya secara gaib menjelma pada diriku bagai suatu tenaga. Lagu-lagu jenis begini sering kudengar di metro-metro [kereta api bawah tanah] Paris mengimbangi gemuruh dan kekerasan hidup keseharian yang memaksa orang bergegas dan gampang "meledak". Mengapa tidak, Central Stasiun Amsterdam juga memperdengarkan lagu-lagu begini? Barangkali lagu-lagu begini, bisa menjadi bisikan lembut ke telinga orang-orang yang bergegas tanpa senyum, menasehatkan: "Tenang dan santai saja tuan-tuan dan puan-puan! " Saban merenung dampak lagu-lagu begini pada diriku, termasuk lagu-lagu tanpa lirik, atau hanya hanya berupa irama, aku kembali diusik oleh pertanyaan lama tapi tak usang: Bagaimana gerangan fungsi sastra-seni dalam masyarakat dan bagi manusia? Di mana gerangan arti politik lagu-lagu seperti Lullaby atau irama kecapi Dayak bersenar dua yang mengiringi Tari Mandau atau Kinyah? Irama yang keluar dari dua senar kecapi itu bisa membuat darah mendidih seperti juga kita diajak mengembara ke alam magis ketika mendengar suara gelang dan hentakan kaki penari-penari perempuan Dayak ketika menyambut tamu. Irama dan gerak terasa tak kalah dari kata dalam menggugah kesadaran. Yang jelas bagiku "Lullaby", lagu ninabobo sang ibu memberiku ketenangan dan dari ketenangan ini aku mendapatkan satu tenaga baru dalam menarung hidup dampak serupa yang kudapatkan ketika mendengar irama kecapi dan dering gelang serta hentakan kaki penari-penari perempuan Dayak sekali pun diungkapkan dengan cara berbeda. "Lullaby" yang halus lembut mengasah perasaan untuk menjadi lebih peka. Menjadi peka, kukira diperlukan untuk seorang anak manusia. Karena itu, kukira, menilai sastra-seni hanya dari segi kepentingan politik, terutama kepentingan politik praktis, barangkali cara menilai yang bisa merugikan perkembangan sastra-seni. Sesuai dengan sejarah lahirnya sastra-seni itu sendiri, barangkali akan lebih padan jika kita melihat dan mengapresiasi sastra seni dari segi tautannya dengan kehidupan secara luas. Dari segi kepentingan politik praktis, seakan bisa dipastikan Tari Kinyah, Giring-giring, kangkanong dan gong Tanah Dayak akan punah karena tidak tanggap pada kepentingan politik praktis.Tapi aku yakin benar, dilihat dari segi sejarah kelahiran sastra-seni dari waktu ke waktu, sastra-seni akan terus seperti arus mencari muara dan laut, sekali pun berada di bawah himpitan kuat politik yang paling represif sekali pun. Soal sastra-seni juga telah menjadi salah satu topik pembicaraanku dengan Tossi dalam usaha kami mencoba berkaca pada masa silam, melihat hari ini, menyongsong menarung esok. Karena kami sama-sama meyakini tak luput dari kekurangan bahkan kesalahan serta keterbatasan. Masalahnya bisakah kita memaknakan pengalaman dan masa silam untuk hari ini dan esok. Pembicaraan terbuka dan tulus antara dua sahabat, tanpa mencari menang dan kalah, menyertai saban ayunan langkah. Sadar bahwa waktu kami bertemu sangat singkat sedangkan esok atau lusa, masing-masing akan melanjutkan perjalanan sendiri-sendiri, tanpa tahu kapan lagi bisa berjumpa. Mengetahui rencana-rencana esok Tossi dan rancangan yang ada di benakku, aku menyadari benar bahwa pertemuan kami kali ini merupakan satu monumen tersendiri bagi persahabatan kami yang berlangsung semenjak Orba mengangkangi Indonesia. Persahabatan tulus kurasakan sebagai musim bunga yang tak terganggu oleh usikan musim dingin, rontok dan panas. Karena itu musim bunga menjadi lambang keagungan dan keindahan. Tema lain yang juga kami singgung adalah kerusakan bahasa Indonesia sekarang serta "mentalitas sebagai korban", separatisme, NKRI, Timor Lorosae, GAM, Gerakan Papua Merdeka, keadaan Tanah Dayak, dan lain-lain, dan lain-lain.... yang tidak pada tempatnya di sini kuketengahkan semua. Beberapa soal ini, terutama soal NKRI diangkat oleh Tossi dalam siaran hidup Radio Hilversum dalam memperingati hari ulang tahun ke-61 kemerdekaan RI. Hanya tentang "mentalitas sebagai korban" yang berdampak buruk ini, aku ingin mengutip kata-kata seorang teman dari angkatan pendahuluku yang berkata: "sebutkan segala penjara dan duka itu adalah aku tapi sebutkan juga nyanyi kecapi, segala senandung harum bunga itu pun adalah aku". "Mentalitas sebagai korban" kupastikan bukan mentalitas "utus panarung" , anak penarung, jika menggunakan ungkapan sastra lisan orang Katingan. Barangkali "mentalitas sebagai korban" hanyalah varian dari mentalitas budak yang merengeki belaskasihan. Tapi aku pun sadar seperti yang dikatakan oleh penulis Israel Sami Michael bahwa "Memang sangat gampang melihat jelas masalah dari kejauhan sambil memberikan nasehat ini dan itu, tetapi tidaklah sesederhana itu bahkan sulit, menjadi cerdik dan memelihara jiwa yang sehat ketika kita berada di tengah-tengah kobaran nyala" duka dan perang. Hanya jika dalam budaya Jawa dikenal yang disebut "kawah candradimuka", konsep yang padan dengan konsep "utus panarung", "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang putera-puteri naga] orang Dayak. Barangkali di "kawah" inilah kadar kemanusiawiaan itu ditakar. Atas dasar ini maka kepada anak-anak muda yang bekerja di Koperasi Restoran Indonesia Paris selalu kukatakan: "Jangan sebut diri Indonesia jika bodoh, pengecut, membudak dan tak berdaya. Indonesia adalah anak manusia yang berkadar manusiawi utuh". Kalau pengamatanku benar, kata-kata ini agaknya mengendap di lubuk hati anak-anak muda angkatan ketika yang mengelola Koperasi Restoran Indonesia Paris, yang memang sekaligus merupakan "sekolah", paling tidak sejenis "studium general" [istilah yang digunakan di Universitas Gadjah Mada tahun 60an] bagi kami semua . Koperasi Restoran "pas comme les autres" [beda dari yang lain] jika mengggunakan evaluasi langganan yang orang-orang Perancis. Sambil bekerja , di Koperasi Restoran ini, kami belajar politik, sejarah, sastra, filsafat, teologi dan agama, bahasa, makna Republik dan Indonesia serta berkeindonesiaan, arti uang dalam hubungannya dengan manusia, arti kritik dan otokritik sebagai metode kerja, apa arti kemerdekaan, mengapa kami memilih bentuk koperasi serta apa arti koperasi, arti kebersamaan dan setiakawan, dan lain-lain, dan lain-lain... Setelah menyadari akan arti hal-hal demikian maka terkesan padaku melalui kenyataaan, pada anak-anak muda ini lahir mentalitas baru, prakarsa-prakarsa sebagai pemilik usaha produktif bersama berkembang dan mereka melayani para langganan dengan sadar tanpa kompleks, penuh harga diri. Harga diri! Seberapa besar harga diri manusiawi ini kita punyai di Indonesia sekarang?! Benarkah 61 tahun kita merdeka, kemerdekaan itu sesuatu yang nyata ataukah masih suatu tujuan masih dituju? Sudahkah Republik dan Indonesia itu terwujud? Soal-soal ini pun dalam jumpa kurang dari 24 jam, kami, aku dan Tossi bicarakan.*** Paris-Amsterdam, Agustus 2006 -------------------------------------------- JJ. Kusni Catatan: Terlampir foto gedung Wisma Duta di Den Haag [Dari Dokument: JJK] [Bersambung...] [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

