SURAT JEMBATAN SEMBILAN:
5. SEHARI DI NEGERI BELANDA Menembus dingin pagi berkabut, Tossi membawa kendaraannya melaju menuju Wisma Duta di Den Haag. Oleh percakapan tak berkeputusan, jarak dan kelelahan menjadi tak terasa. Aku tahu Tossi seperti aku pun saban hari menarung kelelahan sehingga menuntut diri pandai-pandai mengelola badan. Kelelahan ini terbayang di wajahnya dan dalam hati aku sangat ingin membantunya mengurangi kelelahann ini. Tapi apa yang bisa kulakukan. Sedangkan ia dengan hangat menyambutku. Barangkali ia pun sadar tentang kelangkaan perjumpaan begini dan tahu benar entah kapan lagi kami bisa bertemu. Turun dari kendaraan, kami mengayunkan langkah melalui deretan kedai-kedai yang menjual makanan Indonesia di Wisma Duta yang hijau oleh dedaunan mengingatkan aku akan hutan Kalimantan, pulau kelahiran. Hijau tanaman, di samping air kanal, merupakan salah satu ciri Negeri Belanda. Ruang-ruang apartemen pun hijau oleh tetumbuhan. Melihat keadaan begini, aku rasakan suatu ironi mengiris hati, mengenang betapa hutan Kalimantan dihancurkan secara ganas, sehingga di banyak tempat hutan tropis menjelma menjadi padang pasir sejauh mata memandang. Sungai-sungai menjadi sungai maut karena dipenuhi oleh air raksa, hal yang tak kukenal di masa kanak Katinganku dahulu. Kepada orang-orang di Kalimantan Tengah, keadaan begini, kukatakan sebagai "buah pembangunan Orde Baru". Kepada pemerintah daerah kuusulkan agar sebagian dari padang pasir ini dijadikan "museum alam terbuka" untuk menghormati jasa pembangunan Orde Baru bagi Kalimantan Tengah. Ironi menyayat hati ini kian kurasakan ketika melihat Eropa, Jepang dan Amerika Serikat yang memelihara hutan dan lingkungannya. Membandingkan keadaan begini, aku merasakan benar bahwa bangsaku, kampungku tidak lebih dari mangsa eksploatasi tak berperikemanusiaan sambil oprang-orang berbicara tentang kemanusiaan. "Masakan, termasuk masakan Indonesia, adalah salah satu hasil kebudayaan", tulis Pelras, antropolog ahli Bugis Perancis. Dan layak diketahui bahwa masakan Indonesia di peringkat dunia termasuk ke dalam tingkat sepuluh besar. Negeri Belanda, masakan negeri kita merembet hingga ke McDonnald dan bisa dikatakan mendominasi seni masak-memasak Negeri Belanda, yang miskin seni masak-memasak. Berbeda dengan Perancis. Karena itu kepada para tamu di Koperasi Restoran Paris sering kukatakan bahwa pada suatu ketika Indonesia dijajah oleh Negeri Belanda, tapi sekarang dalam soal masak-memasak Belanda didominasi oleh Indonesia. Apalagi Negeri Belanda sesungguhnya tidak punya masakan khusus dan jauh dari peringkat sepuluh besar seni masa-memasak. Belanda adalah negeri pedagang primer sejak lama. Ini nampak dari hadirnya VOC di negeri kita. Tapi di samping itu kukatakan juga bahwa begerdel merupakan ujud perpaduan antara dua budaya: budaya Belanda dan Indonesia, lambang kesatuan antara rakyat dua negeri: Belanda dan Indonesia dalam bidang kebudayaan. Ujud dari kedekatan hubungan antara kedua rakyat dan negeri. Bentuk dari susup-menyusup di bidang kebudayaan yang menyanggah kecupetan sektarianisme dan tutup pintuisme yang konyol. Di pihak lain, adanya nama rijstafel, merupakan sistematasi yang dirumuskan oleh orang-orang Belanda kolonial atas cara penyuguhan makanan oleh orang Indonesia. Bentuk lain dari akulturasi. Hadirnya Koperasi Restoran Indonesia di Paris, telah memasukkan kosakata rijstafel ke bahasa Perancis. Secara teori di Perancis hal begini djabarkan dalam rumusan bahwa kebudayaan suatu bangsa itu adalah suatu campuran atau gado-gado [la culture d'une nation c'est une métissage]. Melalui adanya kedai-kedai yang menjual makanan Indonesia ini dan yang dikunjungi oleh ribuan orang, aku melihat arti penting pendekatan kebudayaan dalam mendekatkan hubungan dan saling mengerti serta menghargai dalam pergaulan antar bangsa. Pendekatan kebudayaan berbeda dengan pendekatan politik , walau pun secara kenyataan sering pendekatan kebudayaan dimanipulasi oleh politik praktis dan imperialistis.Tanpa adanya manipulasi politik praktis dan imperalistis, masakan Indonesia di Negeri Belanda berkembang secara murni. Negeri Belanda akan sepi jika tidak ada masakan Indonesia. Hampir di setiap pojok dan kota Negeri Belanda terdapat Restoran Indonesia. Dari segi masakan bisa dikatakan Negeri Belanda didominasi oleh masakan Indonesia-Tionghoa. Aku kurang tahu, apakah juru masak di Indonesia mendapat penghargaan selayaknya atau tidak ataukah dioandang sebagai "pekerjaan rendah". Sedangkan di Perancis, terdapat beberapa jurumasak yang telah mendapat bintang jasa "legion d'honneur" dan diterima oleh Presiden pada perayaan kemerdekaan nasional 14 Juli. Dengan ini yang mau kukatakan bahwa pekerjaan sebagai jurumasak di negeri ini, dipandang sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan. Bukan profesi yang rendah. Memasak dipandang sebagai suatu kesenian dan kerja kreaif. Dari sudut pandang inilah aku melihat adanya bazar di Wisma Duta di Den Haag. Bazar ini merupakan ujud kongkret dari diplomasi kerakyatan dan kebudayaan sesuai dengan ayat 1 Ketentuan Diplomasi Indonesia seperti yang dikatakan oleh salah seorang staf KBRI Den Haag. Adanya Bazar ini pun mengingatkan aku akan kesertaan Indonesia di Foir de Paris yang diselenggarakan saban tahun, sebagai ujud dari diplomasi kebudayaan dan ekonomi yang bersandar pada massa. Paris-Amsterdam, Agustus 2006 -------------------------------------------- JJ. Kusni Catatan: Suasana bazar di Wisma Duta Den Haag pada saat perayaan HUT 61 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia [dari: Dokumentasi JJK]. [Bersambung...] [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

