http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/23/0901.htm
Agenda Ekonomi Setelah 61 Tahun Oleh ACUVIARTA PASANG surut kegiatan ekonomi negeri ini telah mewarnai 61 tahun usia kemerdekaan. Tantangannya juga tidak banyak berubah, meskipun beberapa indikator mengalami penurunan intensitas masalah. Tantangan menuju keberhasilan dibidang ekonomi adalah masih tingginya tingkat pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang belum memadai. Selain itu, belum kondusifnya iklim investasi juga terlihat masih tetap gentanyangan menghantui investor sehingga tidak bisa hidup tenang dan damai di banyak tempat di negeri ini. Penyebabnya sangat bisa sangat beragam, mulai dari infrastruktur yang belum memadai, regulasi daerah yang belum kondusif, hingga kepada masalah ketenagakerjaan, pajak dan bea cukai, penegakan hukum dan korupsi. Tidak hanya itu, sejak krisis ekonomi melanda perekonomian Indonesia tahun 1998, sektor swasta juga terbukti belum kembali optimal mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah keterbatasan keuangan pemerintah. Dalam hal stabilitas makro ekonomi tantangannya juga tidak sedikit, terutama persoalan bagaimana menjaga kestabilan inflasi dan nilai tukar rupiah. Pengangguran terselubung dan terbuka di Indonesia saat ini diperkirakan masih cukup tinggi. Angka pengangguran terbuka diperkirakan masih di atas 12 juta orang serta pengangguran terselubung tetap tinggi di atas 20 juta orang. Persentase pengguran terbuka terhadap total angkatan kerja per Februari 2006 diperkirakan masih mendekati 10% dari total angkatan kerja. Sama halnya dengan pengangguran terbuka, persentase pengangguran terselubung juga diperkirakan mendekati angka 40% dari total angkatan kerja Indonesia yang jumlahnya mencapai 100 Juta orang lebih. Banyak persoalan kemudian dituding sebagai biang keroknya, salah satunya tidak konsistennya pencapaian laju pertumbuhan ekonomi (LPE). Tahun ini LPE diperkirakan hanya mencapai 5,5%-5,9%, padahal beberapa studi yang dilakukan pemerintah menunjukkan penurunan pengangguran akan tercapai jika LPE mampu menempuh level 7%. Dari situ sepertinya kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa persoalan pengangguran belum akan sepenuhnya pupus dari masalah perekonomian negeri ini setelah 61 tahun kemerdekaan. Bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi ? Sejak tahun 2001 LPE sudah banyak mengalami kemajuan, meskipun terkadang polanya terlihat masih berfluktuasi. Tahun 2001 LPE mencapai 3,8%. Terseok-seok angka itu meningkat hingga 5,0% tahun 2003. Tahun 2004 LPE kembali anjlok ke level 4,9%, setelah itu meningkat kembali menjadi 5,6% tahun 2005. Bagaimana LPE tahun 2006, sekali lagi pemerintah sepertinya masih cukup pesimis untuk mematok LPE tahun ini bisa meningkat lebih moderat dibandingkan tahun lalu. Optimisme pemerintah terhadap LPE tahun ini terhenti di level 5,9%, sebagaimana yang diasumsikan dalam APBN-P Juli 2006 lalu. Pola peningkatan LPE sejak tahun 2001 tidak dapat dilepaskan dari besarnya peran investasi dan ekspor. Oleh karena itu, kemampuan menambah magnitude LPE tahun ini juga sedikit banyaknya masih berharap dari kemajuan yang dicapai dalam menggerakan investasi dan ekspor. Tetapi parahnya, pada semester I-2006 LPE menunjukkan adanya perlambatan yang otomatis sekaligus mengurangi kepercayaan banyak pihak akan pencapaian LPE 5,9% hingga akhir tahun ini. Di tengah pesimisnya banyak pihak akan pencapaian LPE 5,9% tahun ini, pemerintah masih cukup bijak dengan berharap banyak dari stabilnya konsumsi rumah tangga yang ditopang secara besar-besaran oleh kredit konsumsi perbankan. Kondisi itu mungkin diperkuat oleh meningkatnya nilai riil transaksi dalam negeri pada Triwulan II-2006, meskipun nilai riil transaksi impor menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Berharap banyak dari kestabilan konsumsi rumah tangga yang hanya mengandalkan upah tenaga kerja sudah pasti ruang geraknya akan semakin sempit. Indeks upah riil buruh bangunan dan buruh tani hingga semester I-2006 diperkirakan lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dalam hal investasi, tahun ini pemerintah menggulirkan paket percepatan investasi (Inpres No.13/2006) dan sejumlah regulasi yang menyangkut kebijakan fiskal. Akan tetapi prospek investasi tahun ini diperkirakan masih belum mencapai sebagaimana yang diinginkan. Paling tidak kondisi itu terlihat dari perlambatan impor barang modal dan impor bahan baku. Melambatnya impor barang modal dan bahan baku jelas adalah tanda bahwa optimisme pemerintah akan percepatan investasi tahun ini masih belum sinergis dengan persepsi pelaku ekonomi. Nilai persetujuan investasi PMA semester I-2006 diperkirakan tidak lebih dari 50 triliun, begitu juga nilai persetujuan investasi PMDN yang diperkirakan tidak melebihi Rp 15 triliun. Pencapaian nilai persetujuan investasi (PMA dan PMDN) semester I-2006 otomatis lebih rendah dibandingkan persetujuan investasi semester II tahun lalu (2005). Pada semester II-2006 nilai persetujuan PMA sudah sempat mendekati angka Rp 80 triliun dan nilai persetujuan PMDN sudah di atas Rp 20 triliun. Perkembangan investasi semester I-2006 sedikit terbantu oleh meningkatnya realisasi belanja modal dan barang pemerintah pusat. Per semester I-2006 realisasi belanja brang dan modal pemerintah pusat masing-masing mencapai 24,1% dan 20,1%. Posisi realisasi belanja barang dan modal pemerintah pusat semester I-2006 jelas tidak banyak jauh berbeda dibandingkan dengan tahun 2004 atau kecepatannya di atas semester I-2005. Tahun 2004 realisasi belanja modal dan barang pemerintah pusat (semester I) masing-masing mencapai 29,4% dan 18,5%. Indikator idaman Upaya pencapaian prestasi ekonomi tahun ini dilakukan pemerintah antara lain melalui reformasi sektoral, manajemen makro ekonomi, reformasi perpajakan termasuk menyempurnakan draft RUU Pajak yang baru, reformasi kepabeanan dan reformasi sektor keuangan. Cukup memadaikah sejumlah langkah-langkah tersebut untuk mencapai target ekonomi yang diidamkan oleh pemerintah setelah 61 tahun negara ini merdeka ? Kuncinya ada pada pemerintah sendiri. Pertama, bisakah pemerintah untuk tetap credible membangun dan mempertahankan kepercayaan pasar di dalam negeri minimal hingga akhir tahun ini. Terkendalinya inflasi dan stabilitas nilai tukar paling tidak telah menunjukkan hadirnya senyawa positif untuk upaya awal menggalang investasi, memulihkan daya beli masyarakat dan mendorong sinergi sektor riil dengan sektor keuangan. Kedua, kesinambungan fiskal pada semester II juga idealnya dapat dipertahankan, terutama menyangkut pengendalian defisit anggaran (1,2% dari PDB) dan rasio utang pemerintah dalam batas yang aman (43% dari PDB). Ketiga, perlunya mempercepat realisasi langkah reformasi sektoral yang sedang dilakukan pemerintah, terutama yang menyangkut penyederhanaan pendirian perusahaan, penghapusan hambatan-hambatan lalu lintas barang, penyederhanaan berbagai izin, menyelesaikan masalah ketenagakerjaan dan mewujudkan kepastian hukum. Keempat, kestabilan anggaran fiskal juga akan sangat terkait dengan keberhasilan reformasi perpajakan yang dilakukan pemerintah. Saat ini rasio pajak terhadap PDB diperkirakan masih sekitar 13,7% dari PDB. Langkah-langkah tersebut dapat dimulai dengan mengembangkan data base dan on line data perpajakan, memperbaiki kantor pelayanan wajib pajak besar dan meningkatkan jaringan kantor pelayanan pajak menengah dan kecil. Tidak juga dapat dilupakan adalah kecepatan pembahasan draf RUU Perpajakan. Draf RUU Perpajakan yang sedang dibahas pemerintah dan DPR mengandung banyak kemajuan materi, seperti: sistem dan tarif pajak yang kompetitif serta mengadopsi masukan sektor swasta, pengurangan dan penyederhanaan tarif pajak perusahaan, revisi prosedur dan administrasi pajak, jaminan kepastian hukum dan lain-lain. Kelima, untuk meningkatkan mobilitas ekspor dan impor barang modal mendesak dilakukannya reformasi kepabeanan. Secara bertahap dan terukur langkah itu dapat dimulai dari memperluas fasilitas jalur hijau dan prioritas, perbaikan prosedur evaluasi kepabeanan, memperkenalkan harmonisasi tarif serta menghilangkan atau memerangi produk ilegal serta penyelundupan.*** Penulis, staf pengajar di Jurusan Ilmu Ekonomi FE Unpas dan Peneliti/Pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bandung Koordinator Jawa Barat [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

