Mas Yohannis,
  Pendidikan sekular yang saya pahami adalah memisahkan antara spirit  ilmu 
agama dengan ilmu keduniaan (sains teknologi). Sistem pendidikan sekular banyak 
diterapkan di negara Amerika, Eropa bahkan Indonesia. Misalnya produk 
pendidikan sekuar, akan menghasilkan seseorang sejak SD menguasai hanya satu 
sisi keilmuan yakni agama saja (diwakili beberapa pesantren) atau ilmu sains 
teknologi saja. Atau kalau pun dia mempunyai ilmu agama yang mumpuni tapi 
ajaran agama itu tidak berdampak terhadap kehidupan sehari-hari dia baik moral, 
behaviour dll.
   
  Bagi yang muslim maaf jika ini agak menyinggung.
  Dia mungkin shalat, puasa rajin (baca ibadahnya rajin) namun pola pikir dan 
pola sikap dia tidak sesuai islami atau agamanya. Misalnya dia korupsi, 
melacur, makan makanan riba, hidup jauh dari aturan agama, menolak syariat 
Islam.  Atau kebalikannya. Guru ngaji tapi memperkosa, jadi garong,  dll Ilmu 
ya sebatas ilmu minus amal. 
   
  Bagi muslimah dia menolak pakai busana muslimah, melakukan pacaran (ta'rabuz 
zina atau mendekati zina), dia bebas berekpresi, berbuat, bertingkah laku, 
seolah-olah agamanya tak mengatur semua itu.. baik dari aspek politik, 
pemerintahan, bernegara, sosial, busana, budaya, ekonomi, hubungan luar negeri 
dll . Hal  ini serius, ni  bukan jargon. Islam yang saya pahami demikian sangat 
komplit.
   
  Ajaran guru agama SD hingga SMU itu ndak bohong Islam sekomplit itu.Suer deh.
  Dia bisa jadi orang yang banyak berbuat baik  menyumbang amal dan sangat 
jenius, tapi dia tak merasa beragama.Misalnya di Rusia dan banyak juga di 
Jerman, dan AS.
   
  Pendidikan sekular menghasilkan produk manusia yang materialist oriented. 
HIdupnya hanya mengejar kebahagian materi dan memuja sesuatu yang sifatnya 
seperti popularitas, pujian, kekayaan, harta, wanita, tahta, jabatan, 
eksistensi diri, kemewahan, dan yang serupa dengan itu nggak peduli orang lain 
sengsara Masa bodoh aturan agama, masa bodoh halal haram korupsi, masa bodoh 
konspirasi, imperialisasi, membunuhi jutaan orang, mengeksplorasi kekayaan 
bangsa lain, menghisap habis-habisan kekayaan negara lain.
   
  Pendidikan sekular menghasilkan individu-individu yang egois, individualis, 
hedonis, having fun, hura-hura, menghabur-haburkan harta untuk kesenangan 
pribadi nggak peduli penderitaan orang lain. Yang penting aku bahagia, populer 
dan hidup aman, yang lain masa bodoh..
   
  Kalau non Kristen...saya kira mas Yohannis lebih memahaminya.^_^
   
  Apa yang saya inginkan di pendidikan Indonesia, balance penguasaan aplikasi  
ilmu agama dan sains teknologi. Hidup untuk pengabdian pada Tuhan semesta alam, 
bukan semata-mata materi. Materi digunakan untuk sarana meningkatkan pengabdian 
juga...
   
   
  Mas Ari,
  sepahaman saya Bukan NU, MUhamadiyah, PKS, HTI, Salafi, MMI, FPI, 
Persis,Tablig-nya atau dia tak masuk organisasi salah satu diantaranya. saya 
memahami yang membuat orang  membumi ditengah-tengah masyarakat, bukan 
ditentukan oleh organisasinya tapi personal masing-masing masyarakat yang 
dipengaruhi berbagai faktor.
   
   NU, of course mungkin lebih membumi karena sudah memiliki brand image, 
organisasi paling tua. Selain itu juga karena mas Ari hidup di tengah-tengah NU 
sehingga merasa enjoy atau lebih memahami NU dibanding ormas lain. ^_^ Akan 
beda persoalannya dengan orang lain di organisasi lain. Misalnya FPI dan FBR 
lebih membumi di tanah Betawi. Organisasi hanyalah wadah untuk menyatukan 
gerak.Soalnya merubah keadaan,  sendirian ... itu tak mungkin. Meski semua 
berawal dari satu orang.
   
  Saya akan bilang, I love islam and all moslem apalagi yang memperjuangkan 
syariat Islam. (tanpa terkecuali) ^_^
   
   
  salam,
  aris
   
   
   
   
   
   
  

Yohanis Komboi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Iya mas Ari, mas Munajat, terimakasih koreksiannya soal Said Aqil al
Munawar.

Nggak komen dulu ya, ngejar setoran sambil nunggu komentar diajeng Aris...

yk


On 8/24/06, Ari Condro wrote:
>
> mas mnemonics,
>
> ini adalah produk dari institusi menara gading. beberapa pesantren yang
> bersikap eksklusif darimasyarakat kulturalnya, juga mengalami friksi
> dengan
> masyarakat sekitar.
>
> that's why I love NU ... pesantrennya yg paling melt dengan masyarakat.
> bahkan bisa mingling dengan kalangan abangan. Itulah kenyataan yang saya
> lihat dalam keseharian masyarakat jawa timuran dan jawa tengahan pedalaman
> ... agak beda emang nuansanya dengan luar jawa yg lebih konservatif dan
> bersikap keras, meski NU namun bersikap ala muhi lawas ....
>
> oh ya, ttg said aqil al munawwar beda dengan said aqil siradz sudah
> disampaikan mas munajat yah ...
>
> salam,
> Ari Condro
>
>
> On 8/23/06, Yohanis Komboi >
> wrote:
> >
> >
> > Syahdan dahulu, di tahun 1950-an s/d akhir 1960-an di Irian diadakan
> > pendidikan berpola boarding school (sptnya Ngruki bgt juga kan?) yang
> > dikelola oleh gereja. Pendidikan spartaan ini menghasilkan pemimpin
> formal
> > papua dan elit masyarakat yg beberapa masih eksis sampai skrg. Dalam
> > perkembangannya kemudian, banyak terjadi friksi antara pemimpin formal
> > dengan informal. Ini adalah faultline tersendiri dalam masyarakat Papua
> > yang
> > sering dimainkan untuk kebutuhan politik.
> >
> > Info Papua ini saya ceritakan untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang
> > dipahami
> > baik di awalnya, bisa menjadi sebaliknya dimasa datang. Artinya, claim
> > baik
> > skrg bisa saja tidak valid overtime.
>
>
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links









The great job makes a great man
  pustaka tani 
  nuraulia

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke