SURAT JEMBATAN SEMBILAN:

7.


SEHARI DI NEGERI  BELANDA



Acara upacara resmi mencapai puncaknya dengan mendengarkan pidato Kuasa Usaha 
AD Interim KBRI Den Haag, Djauhari Oratmangun, seorang diplomat karir kelahiran 
Maluku.  Lengkapnya pidato resmi berjudul "Fase Baru Hubungan 
Indonesia-Belanda" itu sebagai berikut:


Saudara sekalian,
Hari ini kita memperingati kemerdekaan Indonesia yang ke 61. Dan, adalah suatu 
pengalaman untuk bagi kita semua untuk merayakan kemerdekaan di negeri Belanda, 
negeri yang memiliki hubungan lebih dari empat abad dengan masyarakat kepulauan 
kita.  Apa saja yang terjadi selama 4 abad itu?

Kalau kita boleh menengok sejarah sebentar, maka 3,5 abad yang pertama adalah 
kisah-kisah sedih, walau pun mungkin romantis. Ada banyak kisah perang di situ, 
seperti Perang Padri, Perang Jawa, Perang Aceh, dan tentu saja Perang Revolusi.

Tapi banyak pula kisah-kisah lain selain perang. Penjajahan Belanda mendorong 
lahirnya wawasan kebangsaan Indonesia.  Di era penjajahan itulah, bangsa 
Indonesia belajar berpolitik, sehingga lahirlah partai-partai politik yang 
mengawali gerakan kemerdekaan.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, merupakan salah 
satu tanda jaman bagi kemerdekaan bangsa-bangsa di belahan bumi Selatan.

Di bawah kepemimpinan Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi kita, Indonesia 
memainkan peranan penting di era dekolonisasi.  Konferensi Asia-Afrika di 
Bandung, misalnya telah mendorong lahirnya bangsa-bangsa merdeka di kedua kawan 
tersebut.

Kemerdekaan Indonesia tidak memutus ikatan historis kita dengan Belanda, 
melainkan memperbaharui  hubungan tersebut menjadi kemiteraan yang sejajar. 
Bendera Belanda tetap berwarna merah-putih-biru. Dan bendera Indonesia juga 
merah dan putih... Pemisah Indonesia dan Belanda hanyalah sebatas warna biru.

Tepat setahun yang lalu, atau sekitar setengah abad setelah kita merdeka, 
Pemerintah Belanda, secara politik dan moril menerima Proklamasi Kemerdekaan 17 
Agustus 1945 itu.

Adalah harapan kita bersama, penerimaan ini membuka peluang kemiteraan  yang 
lebih baik, kisah-kisah bersama yang lebih bahagia. di abad-abad mendatang.

Kita memang sedang sibuk membangun fase baru itu. Dalam 8 bulan di tahun 2006  
ini saja , misalnya, banyak hal yang telah kita lakukan bersama.

Bulan Januari yang lalu, Ibu Maria van der Hoeve -- menteri Pendidikan Belanda 
-- melakukan kunjungan kerja ke Indonesia. Pendidikan generasi muda, adalah 
tulang punggung bagi hubungan bilateral yang langgeng dan produktif.

Bulan April yang lalu, saya menyertai kunjungan Perdana Menteri Balkenende ke 
Jakarta. Perdana Menteri Balkenende dan Presiden Yudhoyono membuat pernyataan 
bersama tentang bagaimana kedua bangsa memanfaatkan fase baru tersebut.

Pertama, Indonesia dan Belanda akan meningkatkan hubungan bilateral di bidang 
politik, keamanan, dan ekonomi;

Kedua, Indonesia dan Belanda akan menggunakan sarana dialog nyang terbuka dan 
konstruktif untuk menyelesaikan masalah-masalah lama dan membuka 
peluang-peluang baru. Masalah-masalah lama dan sejarah masa lalu, yang sebagian 
besar  telah terangkat dengan pengakuan Proklamasi 17 Agustus tadi. 
Peluang-peluang baru adalah menggali berbagai potensi sosial-ekonomi yang ada 
dalam hubungan kedua bangsa.

Ketiga, Indonesia dan Belanda telah menetapkan berbagai prioritas di dalam 
kerjasama bilateral tersebut, khususnya di bidang politik, keamanan, 
perdagangan, investasi pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, perlindungan 
lingkungan hidup, pembanguna yang berkesinambungan, trasportasi, perhubungan, 
pengelolaan air besih, hukum, keimigrasian dan kerjasama konsuler.

Untuk meng-implementasi-kan lebih lanjut berbagai 'payung kerjsama' 
tersebut,pada bulan Mei yang lalu, saya kembali menyertai kunjungan Wakil 
Perdana Menteri Belanda kala itu, yaitu Menteri Perekonomian Brinhorst [sebelum 
beliau mengundurkan diri].  Hasilnya adalah penandatanganan beberapa MoU dan 
penajaman berbagai sektor kerjasama.

Berbagai pejabat tinggi Indonesia juga telah berkunjung ke Belanda. Yang 
terakhir adalah Menteri Perdagangan, Ibu Marie Pangestu, pada bulan Juni yang 
lalu.  Dan kita juga sedang mempersiapkan kunjungan Menteri Muar Negeri Hasan 
Wirayudha 2 minggu mendatang.

Dalam fase baru hubungan bilateral ini, KBRI DenHaag memfokuskan diri untuk 
membantu pembangunan wilayah Indonesia di kawan Timur. Tentu kita tidak akan 
melalaikan wilaya-wilayah lain di kepulauan  kita yang maha luas itu.

Yang jelas, bidang pendidikan, air bersih, perikanan, perkebunan, dan 
pariwisata, akan menjadi fokus  KBRI Den Haag dalam membantu pemda-pemda di 
kawasan Papua, Maluku, dan kawasan Timur lainnya.

Dalam mengembangkan berbagai proyek kerjasama itu, KBRI Den Haag tidak hanya 
bertumpu pada jaringan pemerintah belaka, melainkan juga jaringan masyarakat 
madani. Hal ini berarti, segenap komponen masyarakat akan dilibatkan secara 
aktif,  termasuk kalangan mahasiswa, wartawan, seniman, pakar dan kalangan 
profesi lainnya.

Kita belajar dari pengalaman ketika bangsa Indonesia sedang dirundung petaka  
alam. Adalah jaringan masyarakat Belanda dan Indonesia yang berperanan besar 
dalam menggalang bantuan untuk korban gempa di Nabire dan Flores, korban gempa 
di Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan yang terakhir, tsunami di Pangandaran. 
Kerjasama antara masyarakat inilah yang harus terus kita kembangkan, tidak saja 
dalam hal  penanggulangan bencana alam, tetapi untuk pembangunan bangsa secara 
keseluruhan.

Kita semua yakin, bahwa kemiteraan yang sejajar antara Indonesia dan Belanda di 
era kemerdekaan ini  akan membuahkan hasil yang bermanfaat bagi semua pihak. 
Apalagi, men,urut Pusat Kajian Pembangunan Dunia di Amerika Serikat, Belanda 
dinilai sebagai negara  yang paling memperhatikan dan membantu dalam upaya 
pengentasan kemiskinan. Belanda adalah mitra yang tepat bagi kita.

Terlepas dari kemiteraan antara Belanda dan Indonesia, saya ingin menekankan 
pentingnya kemiteraan antara KBRI Den Haag dan masyarakat Indonesia di Belanda.

Diplomasi adalah tugas kita semua. Indonesia hanya mempunyai satu Keditaan 
Besar di Den Haag, tapi kita mempunyai ribuan duta bangsa di Belanda. Anda 
semua yang hadir disini, atau tidak sempat 
hadir disini, adalah duta-duta bangsa Indonesia.

Dan sebagai sesama duta bangsa, marilah kita saling bahu-membahu, saling 
bekerjasama untuk mengisi fase baru dalam hubungan Indonesia dan Belanda ini.

Akhirnya, saya ucapkan "Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 61". 

Terimakasih.


Paris-Amsterdam, Agustus 2006
--------------------------------------------
JJ. Kusni


Catatan:  Kuasa Usaha  Ad Interim KBRI Den Haag, Djauhari Oratmangun dan staf 
KBRI di Den Haag pada  perayaan HUT 61 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia [dari: 
Dokumentasi JJK].


[Bersambung...]

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke