Bertemu dr. Ang Swee Chai Farid Gaban | Pena Indonesia
--- Ilmu kedokteran dan sastra menjadikan bukunya, sebuah kesaksian atas pembantaian Sabra-Shatila, begitu mengiris. --- Saya teringat menangis ketika membaca buku itu untuk pertama kalinya, sekitar 15 tahun lalu. Tak menyangka pekan ini saya bisa bertemu dengan penulisnya secara langsung: dr. Ang Swee Chai. Buku "From Beirut to Jerusalem" merupakan kesaksian dr. Swee tentang Pembantaian Sabra-Shatila, kamp pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon, pada 1982. Tak ada buku lain yang lebih otoritatif dan paling detil menceritakan pembantaian itu selain buku ini; termasuk bahkan di antara buku yang ditulis oleh orang-orang Arab maupun Muslim sendiri. Pembantaian Sabra-Shatilla merupakan salah satu tonggak paling tragis dalam konflik Israel-Arab; dan merupakan jejak Israel yang berlumuran darah dalam konflik yang berumur hampir satu abad ini. Agresi Israel di Lebanon sebulan lalu yang membunuh lebih 1.000 orang, sebagian besar sipil, perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan infrastruktur sosial-ekonomi sebuah negeri, hanyalah pengulangan sejarah dari agresi dan teror sebelumnya. Agresi dan teror yang menemukan puncaknya antara lain di Sabra-Shatila ini hampir seperempat abad lalu atau di Qana sepuluh tahun lalu. "Kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada keadilan," kata dr. Swee. Dia memang memaksudkan bukunya sebagai upaya pencarian keadilan itu tidak hanya bagi korban Sabra-Shatila tapi bagi Palestina keseluruhan. Dia tak hanya berhenti di Beirut, tapi berlabuh juga ke Jerusalem, episentrum dari seluruh konflik yang menahun ini. Dr. Swee mengabdikan hampir seperempat abad hidupnya setelah Sabra-Shatila membela Palestina di forum internasional, termasuk di kalangan penganut agama Kristen yang dipeluknya, yang menganggap membela Israel tanpa-syarat merupakan bagian dari ajaran Injil, tanpa sadar bahwa sebagian orang Arab Palestina dan Lebanon adalah Kristen juga. Itu bukan perjuangan yang mudah terutama dalam lima tahun terakhir, di tengah genderang "perang melawan teror" yang ditabuh Presiden George Bush, pendukung utama Israel, yang menyebut Ariel Sharon, arsitek pembantaian Sabra-Shatila, justru sebagai "man of peace". Itu juga perjuangan sulit di tengah kesan umum yang diciptakan oleh mdia massa internasional bahwa Palestina adalah teroris. Juga bukan perkara mudah bagi seorang yang sehari-hari dikenal bukan sebagai politisi, analis politik maupun kolumnis di media massa besar, melainkan "hanya" dokter bedah ortopedik. Bagaimana pun Sabra-Shatila adalah tonggak pembalikan pikiran bagi dr. Swee. "Sebagai seorang Kristen fundamentalis dulu aku mendukung Israel... Pengalamanku di Sabra-Shatila menyadarkanku bahwa orang Palestina adalah manusia." Mengaku senang mendengar kisah David vs Golliath ketika kecil, "aku harus menghadapi kenyataan pahit" bahwa Israel lah kini Golliath itu. Dan orang tak bisa meremehkan keteguhan hatinya, di balik tubuhnya yang mungil (tinggi 150 cm) dan nampak rapuh pada usia 58 tahun kini. Lahir di Penang, Malaysia, dr. Swee mengaku dibesarkan dalam lingkungan yang riang, meski tak bisa menyembunyikan kepahitan masa silam orangtuanya. Ayah-ibunya pernah dipenjarakan karena perjuangan mereka melawan penjajahan Jepang sekitar Perang Dunia II. Pengalaman itu terlalu pahit sehingga keduanya memilih menjadi ateis meski membiarkan Swee tumbuh dewasa dalam lingkungan Kristen yang taat. Swee menyelesaikan sekolah kedokteran di Singapura berkat dorongan ibunya, yang mengatakan penting bagi perempuan untuk mencapai gelar yang umumnya hanya disandang kaum lelaki. Sang ibu selalu mengingatkannya, bahwa "belum lama lalu, di Daratan China, bayi perempuan yang baru lahir ditenggelamkan karena dianggap tak berharga." Dia mengambil spesialisasi bedah ortopedik di The Royal London Hospital, Inggris, dan menjadi warga negara itu sejak 1977. Bersama Francis Khoo, seorang pengacara beragama Katolik, Swee kelak mendirikan Medical Aid for Palestinians (MAP), selepas Sabra-Shatila. Di London itulah, pada musim panas 1982, dia membaca koran dan menonton televisi yang memberitakan bagaimana pasukan Israel menggempur Lebanon. Dia nekad mendaftar sebagai sukarelawan untuk berangkat, mengatasi rasa takutnya sendiri terhadap kemungkinan mati, dan kemungkinan bertemu dengan "bangsa teroris" Palestina. Seperti Khoo, "yang banyak mempertanyakan perannya dalam masyarakat", Swee mengaku keyakinan Kristiani-nya telah memandunya mempertanyakan perannya sebagai dokter. Menurut Swee, ada sesuatu yang lain yang membuat dokter berbeda dari sekadar seorang teknisi, sekadar seorang montir. "Dokter tinggal di tengah-tengah masyarakat dan semestinya mengabdi kepada mereka." Masyarakat, bagi Swee, adalah umat manusia yang luas. Di Beirut, khususnya di Sabra-Shatila, Swee tidak hanya menemukan betapa bergunanya ketrampilan menjadi dokter dalam menolong manusia lain, tapi juga tentang betapa terbatasnya profesi ini dalam situasi segila itu. Berada di tengah pembantaian, Swee mengaku tidak berdaya: sementara menolong orang yang sekarat, dia melihat tak jauh darinya perempuan dibantai dan diperkosa seperti binatang. Bagaimanapun, ilmu kedokteranlah yang telah membuat "From Beirut to Jerusalem" jauh lebih bermakna ketimbang buku-buku yang bisa ditulis seorang wartawan perang. Swee bisa secara rinci melukiskan jenis luka, peluru apa yang merobek tulang tengkorak korban, dan bahan-bahan kimia apa yang terkandung dalam amunisi Israel. Swee juga mengerahkan ketrampilan menulisnya. Sastra bukanlah dunia asing baginya. Ketika dia kecil, ibunya suka membacakan untuknya novel dan cerita pendek klasik karya Guy de Maupassant, Oscar Wilde, Edmondo de Amicis, Leo Tolstoy, Ivan Turgenev dan Nikolai Gogol. Dan kombinasi antara ilmu kedokteran dan ketrampilan sastra itulah yang telah membuat buku ini berisi kesaksian detil sekaligus mengiris. Datang di Jakarta pekan ini dr. Swee tahu keadilan yang dia perjuangkan untuk Palestina masih jauh dari harapan. Dan khususnya pekan-pekan ini ketika sejarah seperti berulang di Lebanon dan kekejaman masih terjadi di Gaza, sementara dunia cenderung bisu. Saya mengatakan kepada Swee, bukunya sebenarnya lebih penting untuk dibaca oleh kalangan Kristen, oleh orang Eropa dan Amerika yang selama ini getol membela Israel tanpa-syarat. "Benar," katanya. "Tapi, bahkan orang Muslim di bagian dunia lain juga sering tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Palestina dan Lebanon." Lebih dari itu, Swee nampaknya punya problem lain dengan bukunya. Bukunya dalam edisi Bahasa Indonesia diberi judul agak berbeda oleh Penerbit Mizan (Bandung), "Tears of Heaven", untuk alasan yang pragmatis. Buku Swee "From Beirut to Jerusalem" diterbitkan pertama kali oleh Grafton, London, pada 1989, hampir bersamaan dengan Penerbit Farrar Straus Giroux, New York, meluncurkan buku dengan judul sama, tema yang lain, oleh Thomas L. Friedman. Friedman dan bukunya jauh lebih populer untuk alasan yang mudah dipahami. Dia kolumnis kondang dari koran terkemuka di Amerika Serikat, The New York Times, yang kelak akan menulis buku lebih terkenal lagi berjudul "The Lexus and the Olive Tree". Dr. Swee menyerahkan hak penerbitan di Amerika kepada Penerbit HarperCollins pada 1996. "Banyak orang Amerika marah, dan Harper menghentikan pencetakan buku saya," kata Swee. Hanya dua tahun setelah itu, HarperCollins menerbitkan "From Beirut to Jerusalem" versi Friedman. "Harper baru mengembalikan hak cipta saya untuk buku itu tiga tahun setelah mereka berhenti menerbitkannya." "From Beirut to Jerusalem" versi Swee diterbitkan lagi di Kuala Lumpur, pada 2002, oleh Penerbit The Other Press. Edisi terjemahan Indonesia ini diterbitkan sudah sangat terlambat, 24 tahun setelah Sabra-Shatila, namun justru sangat aktual: persis ketika Israel mengulang lagi kekejamannya di Lebanon. "Kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada keadilan." Dan keadilan masih jauh dari harapan, demikian pula perdamaian.* *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

