Imbauan jubir SBY agar pemilik situs SBY di Friendster menutup "account"-nya,
aku rasa terlalu berlebihan. Di dunia maya, khususnya persitusan, sudah lazim
dikenal istilah "official website" (situs resmi) dan "unofficial website"
(situs tak resmi). Coba sejenak luangkan waktu berselancar di internet, begitu
banyak tampil situs tak resmi dari para tokoh dunia juga para selebritis yang
namanya lebih top dibandingkan SBY. Isinya bisa pujian, bisa pula makian dn
cercaan.
Kalau masalah situs Friendster ini diperpanjang, adalah satu pertanda bahwa
"orang-orangnya" SBY memang 'demen' mengebiri kebebasan. Masih ingat kasus
blogger asal Yogya yang dicokok polisi? Aku rasa di balik semua kejadian ini
melibatkan RM Roy Suryo - pengurus Partai Demokrat - yang jadi pembisiknya.
Kalau tindakan-tindakan seperti ini dibiarkan jelas akan memasung kebebasan
berekspresi. Artinya pemerintahan SBY tak jauh beda dengan Orba.
Yang patut digugat adalah apabila isi situs tersebut menebarkan berita
yang tak benar tentang profil SBY. Misalnya ditulis SBY punya tiga istri
cantik, padahal cuma satu - itu pun tak begitu cantik. Atau dibilang SBY kalau
makan rakus, padahal sebenarnya cuma 3 piring sehari. Bentuknya bukan imbauan
agar sang pemilik situs menutup situsnya, tetapi pihak jubir Istana mustinya
meluruskan berita yang tak benar tersebut dengan menyajikan fakta sebenarnya.
Karena di situs Friendster ada pojok testimoni, alangkah baiknya si jubir
Presiden tersebut meluruskannya dengan mengisi testimoni secara berkala.
Juga soal judul berita di situsnya SBY tersebut kurang pas. Penggunaan kata
"himbauan" adalah tidak tepat menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Yang
benar adalah "imbauan" - tanpa embel-embel "h".
Sekian komentar dari saya. Komentar Anda mana?
Catatan:
Jangan-jangan, sebentar lagi akan ada larangan penggunaan singkatan SBY
untuk kota Surabaya. Alasannya, membingungkan khalayak ramai. Misal
ada yang tanya: "Mau kemana?"
"Mau ke SBY..."
"Lho, SBY sekeluarga kan lagi jalan-jalan ke Yerusalem........"
"Wah kamu bener-bener tolol! Ini SBY yang Surabaya, bukan SBY yang
Presiden"
Pusing kan?
Salam,
RD
(jarang buka situsnya SBY..membosankan)
______________________________________________________________
Dari situs Presiden SBY:
Kamis, 24 Agustus 2006, 18:03:08 WIB
Himbauan untuk Pemilik Account Friendster `SBY`
Jakarta: Pemilik account Friendster atas nama SBY
dihimbau untuk segera menghentikan kegiatannya, untuk
menghindari tersebarnya informasi-informasi yang
salah. Himbauan ini disampaikan Juru Bicara Presiden
Susilo bambang Yudhoyono, Andi Mallarangeng, di Kantor
Presiden, Kamis (24/8) sore.
"Mungkin orang-orang yang membuat account Friendster
atas nama Presiden SBY itu bermaksud baik, namun untuk
menghindari informasi yang keliru, mohon account
tersebut ditutup," kata Andi di hadapan wartawan.
Friendster itu adalah salah satu situs yang sifatnya
pribadi, dibuat oleh orang yang bersangkutan untuk
kepentingan pribadi pula.
Account Presiden SBY yang tersebar di website
www.friendster.com itu memuat data pribadi Presiden
SBY lengkap dengan foto dan beberapa testimonial
tentang Presiden SBY. (osa)
www.presidensby.info
(nama domain ini pernah saya protes keras, karena kalau SBY lengser,
praktis situs tersebut akan ditutup dengan sendirinya....kecuali kalau
SBY jadi Presiden Indonesia seribu tahun lamanya......)
______________________________________________________________
Oh ya, setelah saya buka file lama, masih saya simpan surat protes
saya untuk situs SBY:
Surat untuk SBY: Keberatan dengan situs resmi Presiden RI
Kepada Yang Mulia
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia
Istana Merdeka
Jl. Medan Merdeka Utara
Jakarta
Bapak Presiden yang mulia,
Sebelumnya saya ucapkan selamat atas peluncuran situs resmi Presiden
RI dengan domain name www.presidensby.info. Saya pertama kali membaca
berita tersebut dari LKBN Antara tertanggal 14 Februari 2006 lalu bertajuk
"Presiden Yudhoyono Luncurkan Situs Resmi Presiden RI", dan esoknya berita
serupa termuat di beberapa koran harian dan tersebar di beberapa milis.
Bapak Presiden yang mulia,
Tujuan pembuatan situs tersebut memang bagus, yaitu untuk memberikan
informasi kepada masyarakat luas tentang kiprah Presiden RI melalui
jaringan internet. Dengan dimasyarakatkannya kegiatan-kegiatan Presiden
secara online, diharapkan dapat lebih mengerek citra Bapak sebagai kepala
negara. Bukankah itu yang diharapkan? Dengan harap-harap cemas, masyarakat
republik ini tentunya menunggu berita-berita apa saja yang bakal ditayangkan
pada situs tersebut. Orang yang kritis tentunya akan menilai, apakah berita
tersebut benar, apakah berita tersebut berimbang, dan apakah berita tersebut
bermutu? Selama ini sebagian masyarakat kecewa dengan situs-situs milik
pemerintah baik di pusat maupun daerah. Informasi yang tersaji umumnya dangkal
dan terkesan 'hangat-hangat tai ayam'. Bahkan ada masyarakat yang menuding
pembuatan dan pengelolaan situs-situs tersebut sebagai lahan KKN gaya baru.
Semoga situs milik Bapak yang digarap oleh tim handal tak mengalami fenomena
serupa.
Bapak Presiden yang mulia,
Terus terang saya, saya orang awam dalam dunia internet. Namun sebagai
warganegara Republik Indonesia yang sadar atas haknya untuk menyoroti serta
mengoreksi jalannya roda pemerintahan, saya amat keberatan dengan
diluncurkannya situs internet tersebut, khususnya pada pilihan domain name
bukan pada isinya - karena terus terang saya belum sempat membuka situs
tersebut.
Bapak Presiden yang mulia,
Berikut beberapa poin keberatan dari saya:
1. Pada umumnya, pembuatan situs di internet adalah untuk tujuan jangka
panjang. Terkesan, pembuatan situs tersebut hanya untuk kepentingan sesaat.
Dengan menggunakan domain name tersebut, artinya umur situs tersebut
amat terbatas. Bukankah Presiden RI berganti tiap lima tahun sekali?
Bukankah sebelum Bapak menjabat sebagai Presiden sudah ada beberapa
kepala negara yang memimpin negeri ini? Begitu Bapak turun takhta,
otomatis situs yang disebut-sebut sebagai situs resmi itu tak ada lagi
manfaatnya.
2. Di negara-negara maju dan tentunya beradab, secara tegas diatur Presiden
sebagai lembaga negara dan sosok nama kepala negara sebagai pribadi.
Kalau menggunakan domain name tersebut yang jelas-jelas menyebut nama Anda,
konsekuensinya segala biaya mustinya ditanggung dari kantong pribadi Bapak
sendiri, bukan dari uang negara yang notabene milik rakyat. Saya
rasa Bapak sekeluarga masih mampu untuk menanggung beban biaya tersebut.
3. Beberapa nama domain yang relevan adalah: www.presiden.go.id atau
www.presiden-indonesia.info, dan masih banyak pilihan lainnya yang lebih masuk
akal. Apabila domain name tersebut yang dipilih, saya rasa bisa menggunakan
uang negara.
Saya dengar cerita dari teman-teman yang sudah mengecek domain name tersebut,
ternyata domain name yang Bapak pakai adalah milik seorang karyawan Air Putih,
bukan atas nama Bapak sendiri. Saya tak akan mempermasalahkan penunjukan Air
Putih sebagai developer berdasarkan tender atau langsung ditunjuk Saudara Andi
Mallarangeng.
4. Saya berharap Bapak dapat menerima masukan dari saya, dan kalau bisa
mengganti domain tersebut, kecuali Bapak menyatakan bahwa pengoperasian situs
tersebut sepenuhnya dibiayai secara pribadi dari kocek Bapak sendiri.
Bapak Presiden yang mulia,
Di tengah sorotan masyarakat atas kiprah dan kinerja Bapak selama ini,
saya amat mendukung langkah Bapak dan aparat terkait untuk
menindak tegas pelaku KKN yang memang sudah mengakar di jajaran birokrat.
Untuk itu, segala langkah yang Bapak lakukan hendaknya tidak menciptakan
KKN baru agar tak merusak citra yang selama ini telah susah payah dibangun
oleh para pendukung Bapak. Dalam kasus situs resmi kepresidenan ini mungkin
Bapak tidak salah, tetapi orang-orang Bapak yang selama ini dipercaya untuk
menggarap situs tersebut mustinya memahami sensitivitas publik karena tiap
detiknya mereka selalu menyorotinya.
Sekian surat dari saya, semoga Bapak dapat menerimanya dengan lapang dada.
Tak lupa saya mohon maaf apabila ada rangkaian kata yang kurang
berkenan dan menyinggung perasaan. Saya ingin kembali kirim surat - sekadar
memberi komentar - apabila sudah membuka situs milik Bapak tersebut, Insya
Allah siang hari ini.
Jakarta, 16 Februari 2006
Hormat saya,
Radityo Djadjoeri
warganegara Republik Indonesia yang cinta damai
e: [EMAIL PROTECTED]
Catatan:
Surat tersebut di atas saya tulis atas nama pribadi, bukan atas nama bangsa
Indonesia, bukan pula atas nama Masyarakat Internet Indonesia,
Komunitas Internet Indonesia dan lainnya.
___________________________________________________________________
---------------------------------
Get your email and more, right on the new Yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/