Tidak ada ilmu yang namanya "ilmu Asia Tenggara", tetapi yang ada ialah 
Universitas Frankfur mempunyai  fakultas atau institusi Asia Tenggara. Dalam 
meneliti  masalah Asia Tenggara  dipakai ilmu exakta maupun sosial.

  ----- Original Message ----- 
  From: Sandy Dwiyono 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Saturday, August 26, 2006 4:21 PM
  Subject: [nasional-list] Jurusan Ilmu Asia Tenggara di Universitas Frankfurt


  Jurusan Ilmu Asia Tenggara di Universitas Frankfurt

  Oleh: Anett Keller dari Frankfurt

  Sejak 25 tahun terdapat jurusan Ilmu Asia Tenggara di Universitas Frankfurt. 
Nama jurusan ini sangat erat dengan nama Professor Dr. Bernd Nothofer. 

   
  Profesor Bernd Nothofer mengajar sejak berdirinya jurusan ini. Ilmuwan bahasa 
berusia 65 tahun ini dikenal sebagai salah satu ahli bahasa Indonesia dan 
literatur di Jerman. Contoh buku terbitan Nothofer  adalah buku pelajaran 
"Bahasa Indonesia - Indonesisch für Deutsche" yang menjadi buku panduan dalam 
les berbahasa Indonesia di Jerman. 

  Nothofer adalah seorang murid dari Irene Hilgers-Hesse. Irene ialah seorang 
ahli bahasa Jerman Indonesia terkenal di tahun 50 dan 60an. Ketika Irene 
pensiun di tahun 1973, Nothofer mengganti posisi Irine sebagai pakar filologi 
indonesia di Universitas Koeln. Di tahun 1981 Nothofer membuka jurusan Ilmu 
Asia tenggara di Universitas Frankfurt. Dosen universitas Frankfurt ini 
menceritakan:

  Bernd Nothofer : "Pada waktu itu jumlah mahasiswa sangat terbatas sebenarnya 
hanya ada satu, dua orang yang ingin mempelajari jurusan Asia Tenggara, karena 
sebelumnya ini terbatas pada jurusan studi Jepang dan studi Asia tenggara pada 
waktu itu belum ada. Artinya saya semacam pelopor pada waktu itu dengan membuka 
jurusan studi Asia Tenggara di Frankfurt."

  Saat ini di jurusan Asia tenggara saling kenal satu sama lain. Dosen dan 
mahasiswa berhubungan sangat akrab. Jika di bandingkan dengan saat dibukanya 
jurusan sangatlah berbeda. Sekarang lebih dari 100 mahasiswa yang kuliah di 
jurusan Ilmu Asia Tenggara di Frankfurt. Titik berat dalam kuliah sembilan 
semester ini adalah penguasaan bahasa melayu dan polinesia. Bahasa Indonesia 
dengan variasi bahasa melayunya dipakai oleh 250 juta orang dan merupakan salah 
satu bahasa yang besar banyak digunakan di dunia. Bahasa Indonesia bahkan 
diperkirakan menjadi salah satu bahasa ilmu pengetahuan di masa mendatang.

  Bukan hanya bahasa Indonesia saja yang ditekuni oleh Nothofer, bahasa-bahasa 
daerah dan dialek menjadi pusat penelitian Nohofer. Setelah penelitian di 
Indonesia yang bertahun-tahun, dia masih terkesan akan penelitiannya di tahun 
70an. Dulu Nothofer menyelidiki berbagai dialek di 160 desa di pulau jawa. 
Kontak dengan orang-orang dan daerah merupakan hal yang sangat penting bagi 
Nothofer. Dia juga menegaskan kepada siswanya agar tidak hanya berdiam di 
universitas saja, tapi juga dengan tinggal di Asia Tenggara untuk memperdalam 
pandangannya. Dalam masa pengajarannya di 25 tahun kebelakang ini politik 
negara-negara di Asia Tenggara banyak berubah. Dan tentu saja mempengaruhi 
kurikulum yang diajarakan di Frankfurt.

  Bernd Nothofer : "Pada awal kita mengutamakan Linguistik dan penelitian 
bahasa tetapi sesudah perubahan politik seperti yang terjadi pada tahun 1998 
ada banyak perubahan artinya kita mulai meneliti politik modern juga, terutama 
otonomi daerah karena itu sangat menarik karena otonomi daerah itu juga 
mempengaruhi pemakaian bahasa. Sebenarnya ada ikatan antara politik dan bahasa 
dan ini merupakan titik berat yang baru."

  Bukan hanya bahasa Indonesia dan literatur saja yang ingin Nothofer 
sampaikan, melainkan juga cara bertatak rama, politik dan agama berada di dalam 
jadwal pelajaran ilmu Asia tenggara. Banyaknya segi yang dapat dipelajari di 
bidang studi inilah yang menarik bagi para mahasiswa untuk kuliah studi Asia 
Tenggara di Frankfurt. Banyak dari mereka sangat terkesan ketika perjalanannya 
melalui Asia Tenggara dan Indonesia, hingga mereka ingin terus menekuni 
pengetahuan tantang daerah ini. Yang lain merupakan peranakan pasangan 
Indonesia-Jerman. Salah satunya adalah Sita Zimpel, yang baru saja lulus ujian 
magister dengan nilai yang bagus dalam politik masa kini, bahasa dan literatur 
Indonesia. Gadis berusia 27 tahun ini beribu Indonesia dan berayah Jerman. Dia 
mengahabiskan masa kecilnya di Jakarta, ketika sang ayah bekerja sebagai  Kamar 
Dagang dan Industri Jerman-Indonesia Ekonid. Sita pergi ke Jerman ketika 
berumur sembilan tahun. Kemampuan berbahasa Indonesianya mulai hilang. 
Kepolosan keponakannya yang masih berusia tiga tahun membawa Sita untuk 
menekuni kembali bahasa dan kultur ibunya.

  Sita Zimpel :  "Waktu saya masih di sekolah kami seringkali ke Indonesia, 
tapi hanya untuk liburan. Pada waktu itu saya ketemu dengan keluarga sepupu 
saya yang waktu itu baru umur tiga tahun. Dan dia bertanya kepada saya kenapa 
Bahasa Indonesia saya kaku banget jadi dia lebih lancar dan pintar Bahasa 
Indonesia. Waktu itu saya sangat malu dengar itu jadi setelah luslus SMA saya 
mengambil keputusan untuk mengambil bahasa dan sastra Asia Tenggara."

  Walau pun Sita belum tahu pasti pekerjaan apa yang ia kerjakan nanti, dengan 
bersenjatakan Magister dalam  Ilmu Asia Tenggara jalan terbuka lebar untuk 
Sita. Profesor Sita, Bernd Nothofer menceritakan dengan bangga dimana lulusan 
jurusan Ilmu Asia Tenggara sekarang bekerja. Satu bekerja sebagai staf ahli 
perdana mentri di Kamboja. Yang lain bekerja sebagai wakil komisi Uni Eropa di 
Jakarta. Ketiga bekerja untuk institusi bantuan pembangunan Amerika USAID di 
Indonesia.

  Di bidang bantuan perkembangan dan ekonomi merupakan lahan kerja yang sangat 
penting bagi Nothofer. Oleh karena itu Nothofer menyarankan pada siswanya agar 
memilih jurusan sampingan yang bersangkutan dengan hal tersebut. Disamping itu 
mengumpulkan pengalaman praktik selama kuliah juga merupakan faktor yang 
penting. Contohnya Sita telah menyelesaikan praktikumnya di EKONID. Untuk itu 
Sita telah mempersiapkan diri dari kuliahnya di Frankfurt, ujar Sita:

  Sita Zimpel : "Selain bahasa saya juga dapat guna karena sudah tahu sedikit 
bagaimana pikiran orang Indonesia dalam bidang kerjaan, dan bagaimana keadaan 
politik dan sosial di Indonesia. Waktu saya ambil praktek di Ekonid saya sudah 
ada sedikit pengalaman."

  Mahasiswa juga mengumpulkan pengalamannya selama pertukaran pelajar di 
Indonesia. Saat ini setiap semesternya, satu atau dua mahasiswa yang kuliah di 
universitas indonesia. 

  Universitas Frankfurt telah menjalin kerja sama dengan UGM sejak tahun 90an. 
Tidak hanya mahasiswa dari Frankfurt saja yang berangkat ke Yogya untuk kulah 
disana, juga mahasiswa UGM dapat kuliah di universitas Frankfurt. Profesor 
Nothofer sering diungang sebagai dosen tamu di UGM dan membimbing calon doktor. 
Rekan kerja penting ilmu Asia Tenggara di Frankfurt juga Pusat Bahasa Nasional 
di Jakarta.

  Di awal tahun 2007 Profesor Nothofer harus pensiun. Hal itu sangat 
disayangkan oleh para mahasiswanya. Universitas Frankfurt kemudian ingin 
menutup jurusan Ilmu Asia Tenggara. Ini sangat disesalkan. Itu  bukan hanya 
kerugian bagi universitas saja melainkan juga bagi kota Frankfurt.

  Sita Zimpel : " Kami yakin bahwa ahli bahasa dan kebudayaan yang ada di 
universitas kami di dalam bidang sastra dan ilmu Asia tenggara sangat penting 
dalam era global ini apalagi di kota Frankfurt yang sangat multikultural juga. 
Kami ada banyak hubungan dengan museum atau institusi kebudayaan di Frankfurt, 
apalagi di luar negeri."

  Para mahasiswa memberi respon akan ditutupnya jurusan Ilmu Asia Tenggara. 
Mereka menulis surat protes kepada mentri pendidikan, mengumpulkan 1000 tanda 
tangan dan juga menulis artikel di koran. Juga institut Ilmu Asia Tenggara dan 
institusi partner di Indonesia mengirimkan surat dukungan ke Frankfurt. Pada 
akhirnya para mahasiswa mencapai tujuan mereka. Jurusan Ilmu Asia Tenggara 
tidak akan ditutup. Untuk Profesor Nothofer berarti kerja kembali. Jika belum 
ditemukan penggantinya, dia harus mengajar setahun lebih lama dari yang di 
rencanakan. Dan akan pensiun di tahun 2008. Dengan senang hati Profesor ini 
melanjutkan kerjanya, karena selama seumur hidupnya dia telah menekuni 
Indonesia.

  Bernd Nothofer : "Karena pada pemulaan studi saya saya sudah turun ke 
lapangan artinya saya pergi ke Indonesia, saya melihat kampung di Indonesia, 
saya melihat kehidupan desa, saya hidup dengan orang tani, artinya sejak awal 
studi saya sampai sekarang saya sudah tahu tentang apa yang sedang terjadi di 
negara yang berkembang. Dan tujuan utama saya ialah menyampaikan hal seperti 
itu ke pada mahasiswa saya."


------------------------------------------------------------------------------
  Get your email and more, right on the new Yahoo.com  


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.1.405 / Virus Database: 268.11.6/428 - Release Date: 8/25/2006


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke