http://www.gatra.com/artikel.php?id=97345


Paskah Suzeta:
Tak Ada Manipulasi Data


Data kemiskinan dan pengangguran yang disitir Presiden SBY out of date? Tunggu 
dulu. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Paskah Suzeta, 
menyatakan bahwa presiden sekadar melanjutkan pembahasan masalah ini dari 
pidato kenegaraan tahun sebelumnya. Dalam pidato waktu itu, presiden sudah 
mengutip data kemiskinan mulai 1999 hingga 2004. "Ini wujud kesinambungan pada 
upaya pengentasan kemiskinan," katanya.

Menurut Paskah, supaya tidak mengulang, data kemiskinan yang disampaikan hanya 
untuk tahun 2005. Angkanya 15,97% atau sekitar 35,1 juta orang hidup di bawah 
garis kemiskinan. Alasan tidak menyampaikan angka terbaru dari Badan Pusat 
Statistik (BPS), data tahun 2006 baru akan dipublikasikan September nanti. Dan 
sekarang masih dalam proses penyelesaian. "Kami menyampaikan angka-angka ini 
tidak bermaksud memanipulasi data," ujarnya.

Berikut penuturan mantan Ketua Komisi XI DPR-RI itu seputar pidato kenegaraan 
presiden kepada wartawan Gatra Arief Ardiansyah dan Deni Muliya Barus:

Kenapa pemerintah tidak mengambil data BPS dulu sebelum diluncurkan?
Oh, itu tidak bisa. Kita terikat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang 
Statistik. Ada ancaman pidana kalau hasil statistik BPS bocor sebelum 
pengumuman resmi. Terkait BPS, September nanti, selain mengumumkan data 
kemiskinan dan pengangguran terbaru, saya sudah minta kepada BPS untuk 
menyampaikan metode apa yang dipakai dalam sensus dan verifikasi itu kepada 
publik. Saya juga meminta kepada BPS bahwa yang namanya Forum Masyarakat 
Statistik itu harus aktif memberikan masukan sebelum data dipublikasikan. Ini 
penting, dan presiden setuju.

Bagaimana dengan angka pengangguran?
Angka pengangguran sempat naik dan turun lagi. Pengangguran terbuka berdasarkan 
hasil Sakernas (Survei Tenaga Kerja Nasional) BPS pada Februari 2005 sebanyak 
10,9 juta jiwa atau 10,3% terhadap angkatan kerja. November 2005 naik menjadi 
11,9 juta jiwa atau 11,2% terhadap angkatan kerja. Pada 2006 mengalami 
penurunan menjadi 11,1 juta jiwa atau 10,4% terhadap angkatan kerja.

Terkait kenaikan gaji PNS dan TNI/Polri, siapkah anggaran menanggungnya?
Anggaran ke depan bisa mencukupinya. Kenaikan itu sebetulnya sudah menjadi 
bagian dari reformasi birokrasi. Salah satunya, menaikkan gaji PNS dan termasuk 
memberikan gaji ke-13. Tetapi, kita juga sadari, kenaikan gaji PNS itu mesti 
diimbangi dengan membenahi makro-ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi dan 
inflasi. Jangan sampai kenaikan gaji PNS menyebabkan harga barang-barang naik. 
Saya khawatir kenaikan ini tidak ada artinya.

[Ekonomi, Gatra Nomor 41 Beredar Kamis, 24 Agustus 2006] 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke