KOMPAS
Senin, 28 Agustus 2006

 
Memperbaiki Citra Otonomi Daerah 


William Chang 

Dalam bingkai kesatuan dengan pemerintah pusat (sentralistik dan otoriter), 
Salahuddin Wahid memandang realisasi otonomi daerah "overdose". KKN tetap 
subur. Konflik sosial merebak di sejumlah daerah. 

Tanpa melupakan prestasi berupa pembangunan fisik, otonomi daerah yang berusia 
lima tahun ternyata kebablasan. Citra gubernur, wali kota, dan bupati sebagai 
"raja kecil" mulai tercoreng. Gejala ini, antara lain, tampak dalam kasus 
pemberian izin pemanfaatan kayu (IPK) oleh Gubernur Kaltim (Suwarna Abdul 
Fatah) yang merugikan negara sekitar Rp 440 miliar (Kompas, 22/6/2006). 

Manipulasi kuasa dan pengerukan duit termasuk agenda utama otonomi daerah. Izin 
dikomersialisasi. Bangunan dan proyek irasional tetap dikerjakan. Dana-dana 
APBD di-SBI-kan. Penyaluran dan penggunaan dana dari pemerintah pusat 
intransparan dan misterius. Yang tragis, alokasi dana pemerintah pusat harus 
menjalani ritus sunat, mark up dan penggelapan. Catatan ICW 2004 tentang 
otonomi daerah menjadi lahan subur korupsi sangat perlu diperhatikan Komisi 
Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Rahasia perebutan kursi gubernur, wali kota, dan bupati bukan pada pengabdian, 
tetapi pada perebutan kuasa dan duit. Tak heran, calon-calon kepala daerah akan 
berjuang mati-matian untuk merebut kursi itu. 

Mismanajemen pemda 

Keterpurukan citra otonomi daerah terkait mismanajemen aparat teras pemda. Yang 
diprioritaskan adalah pengadaan fasilitas fisik, seperti perumahan, kendaraan 
baru, dan peralatan canggih bagi pejabat pemda, sedangkan kesejahteraan sosial, 
ekonomi, dan religius belum sungguh diperhatikan. Pengangguran dan kemelaratan 
mencengkam. Sistem sosial belum terbenahi dengan semestinya. Rakyat dibiarkan 
berjuang mati-matian tanpa uluran tangan pemda. 

Mismanajemen ini diperparah ritus bermaaf-maafan antara kepala daerah dan 
anggota DPRD digelar saat tersinyalir penyelewengan dana. Aparat dan jalur 
hukum tak berdaya. Hati nurani sejumlah anggota KPK dari Jakarta sudah dibeli 
oleh pejabat lokal yang terklasifikasi sebagai koruptor. Manajemen pengikisan 
KKN perlu segera diterapkan. 

Mismanajemen pemda sering mengabaikan pentingnya kohesi sosial yang dapat 
menyatukan anak-anak daerah yang berbeda latar belakang, bahasa, kebudayaan, 
agama, dan status sosial. Kohesi sosial ini dibutuhkan dalam proses mengukuhkan 
sendi-sendi kesatuan kita sebagai bangsa merdeka dan berdaulat. Perombakan dan 
perbaikan mismanajemen tak dapat diabaikan dalam era otonomi daerah. 

Masyarakat altruis 

Kehadiran suatu masyarakat altruis yang setia kawan dan berjiwa persaudaraan 
diperlukan dalam menghadapi citra negatif ini. Besar harapan, masyarakat ini 
sekurang-kurangnya akan menyalurkan tiga sumbangan penting bagi otonomi daerah. 

Pertama, koneksitas antarwarga dalam masyarakat ini akan memperketat kontrol 
sosial yang selama ini dilalaikan. Sebab, yang dijunjung tinggi dalam 
masyarakat ini adalah nilai-nilai sosial dan kepentingan rakyat banyak. 
Kekompakan dalam masyarakat ini sanggup menghadapi tendensi KKN dan 
penyelewengan kuasa dalam era otonomi daerah. 

Kedua, masyarakat ini mendahulukan transparansi semua sektor pembangunan 
daerah, yang selama ini tak pernah dipertanggungjawabkan secara publik. 
Intransparansi ini umumnya mengundang sikap curiga dan mosi tak percaya pada 
rezim penguasa. Transparansi yang jujur diperlukan dalam memperbaiki otonomi 
daerah. Hingga kini otonomi daerah masih mencetak spesialis-spesialis KKN yang 
menggembosi perkembangan daerah dari waktu ke waktu. 

Ketiga, masyarakat ini memiliki kepedulian yang kritis dan profetis dalam 
menyingkapkan penyimpangan-penyimpangan aparat pemerintah dari lingkup terkecil 
hingga tingkat provinsi. Sangat diperlukan keberanian moral untuk membongkar 
dan membereskan kebobrokan sosial yang selama ini ditutup-tutup dan 
disembunyikan untuk mengibuli orang banyak. Kejujuran dan keterbukaan sosial 
diperlukan dalam memperbaiki citra otonomi daerah. 

Reformasi holistik atas sistem dan mekanisme otonomi daerah tak dapat ditunda 
lagi. Kemajuan yang baik ditingkatkan, sedangkan yang buruk diperbaiki. Penoreh 
prestasi diganjari reward, pelanggar ketentuan otonomi daerah dikenai sanksi 
semestinya. Kapan dan bagaimanakah reformasi ini akan dilaksanakan? 

William Chang 
Pemerhati Masalah Sosial 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke