http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/28/b22.htm
Masyarakat Miskin pun Beli Air Rp 1 Juta Singaraja (Bali Post) - Keadaan sangat ironis terjadi di sejumlah dusun di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Selama bertahun-tahun warga yang sudah tergolong miskin harus rela membeli air seharga lebih dari Rp 1 juta selama musim kering. Jika tak mampu membeli, warga harus rela mencari air pada sumber air yang jauhnya hingga tiga kilometer dengan melewati jalan menanjak. Pantauan Bali Post di Desa Tembok, Kamis (24/8) sore, menyebutkan hampir semua wilayah di desa itu tergolong kekeringan. Namun, di wilayah dataran rendah warga masih bisa mendapatkan air dari sumur air bawah tanah milik proyek irigasi dari Uni Eropa. Air itu pun diperoleh dengan cara membeli yang harganya sekitar Rp 200 per kubik. Namun, di dataran tinggi yang wilayahnya tak terjangkau sumur, seperti di Dusun Bulakan, Dusun Sembung, Dadap Tebel, Linggasana, dan Ngis, warga harus rela membeli air dengan harga mahal yang dibawa oleh mobil tangki milik PDAM atau usaha mobil tangki milik perseorangan. Harga air per kubik dari mobil tangki itu berbeda-beda. Nengah Lanus (62) dari Dusun Bulakan mengatakan pada musim kemarau ia membeli air Rp 32 ribu per tangki yang cukup dipakai mandi dan memasak selama seminggu untuk seluruh keluarga. ''Itu pun dipakai dengan cara sangat irit,'' katanya. Jadi, selama sebulan Lanus bisa mengeluarkan uang untuk beli air sebesar Rp 128 ribu. Jika musim kemarau berlangsung selama delapan bulan, maka uang yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 1 juta lebih. Di Dusun Dadap Tebel harga air jauh lebih mahal. Seorang warga mengatakan air dari mobil tangki itu harganya bisa mencapai Rp 60 ribu per 4 kubik. Susahnya lagi, warga juga tetap kesulitan mendapatkan air karena mobil tangki belum tentu mau ke dusun itu meski sudah dipesan berkali-kali. Sumur Tua Untungnya di Dusun Ngis masih terdapat beberapa sumur yang masih bisa mengeluarkan air. Salah satu yang masih berair adalah sebuah sumur yang diperkirakan dibuat pada saat jaya-jayanya kebun jeruk pada awal tahun 1970-an dengan kedalaman sekitar 50 meter. Setiap pagi dan sore masyarakat yang tak bisa membeli air akan beriringan mencari air ke sumur tersebut. ''Sumur lain sebenarnya masih banyak, tetapi hanya sumur ini yang masih mengeluarkan air,'' kata Yasa. Warga yang membeli air di Desa Tembok itu sejatinya bukan warga yang kaya. Jika dilihat dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari, rata-rata dari mereka masih berada di bawah garis kemiskinan. Keluarga Nengah Lanus sehari-hari hanya makan nasi cacah (singkong diparut) yang lebih sering tak dilengkapi lauk-pauk. ''Bagaimana bisa kaya, tanah kering tak bisa ditanami, maburuh juga tak bisa,'' kata Lanus. Tak hanya di Buleleng, Karangasem juga sama. Di beberapa daerah juga alami kekeringan. Masyarakatnya pun ada yang membeli air yang cukup mahal. Tengoklah jeritan warga Banjar Kedampal, Bidong dan sekitarnya di Desa Datah pegunungan. Warga Bidong dan masyarakat Kedampal di lereng Gunung Agung sudah mulai turun gunung. Mereka mencari air di sumur Banjar Kalangsari dan Banjar Juwuk. Mereka berangkat mengambil air dengan berjalan kaki melintasi perbukitan, lembah dan sungai kering mencapai empat sampai enam kilometer. Di sumber air, mereka tak langsung mendapatkan karena harus antre atau berebutan. Warga Kedampal dan Bidong sejak persediaan air mereka di dalam cubang ludes, sudah berebutan mencari air di sumur kecil Kalangsari dan Juwuk. ''Guna menghindari antrean atau berebut air di sumur yang airnya terus mengecil, warga berangkat dini hari mulai pukul 03.00,'' ujar Wati. Warga Karangasem Selain warga Datah pegunungan, warga Karangasem seperti di Pempatan Kecamatan Rendang, Desa Sebudi Kecamatan Selat, Kubu pegunungan dan Seraya rutin menjerit karena krisis air bersih saat musim kemarau. Berdasarkan pantauan Bali Post, keran-keran umum di Seraya tak ada airnya. Kondisi itu sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Masalahnya, dua mesin pompa air dari sumber mata air Taman Tirta, Ujung kerap rusak. Warga di tiga desa Seraya yang tak mampu membeli air dengan mobil tangki, terpaksa berjalan kaki mencari air ke sumur di tepi pantai. Mereka mesti berjalan kaki beberapa kilometer memanggul atau menjunjung ember berisi air bersih. Bupati Karangasem Wayan Geredeg saat dihubungi sebelumnya mengakui sebagian besar wilayah Karangasem merupakan lahan kering. Selain itu, luas hutan diakui masih kurang dari ideal yang disyaratkan minimal 32% dari luas total wilayah. Luas hutan yang ada di Karangasem 16.639 ha (19,82%). Guna mengatasi kesulitan air bersih, katanya, sedang dibangun dua buah embung (danau kecil buatan) di Yeh Kori dan Nangka, Kecamatan Bebandem dengan anggaran APBD Karangasem. Sementara dua embung lebih besar masing-masing di Puragai, Rendang dan di Daya, Kubu juga sedang dikerjakan dengan bantuan propinsi dan pusat. (ole/bud) PDAM di Bali Kesulitan Air Lakukan Penggiliran dan Tunda Penyambungan Denpasar (Bali Post) - Bali menghadapi ancaman krisis air bersih. Sejumlah PDAM di Bali debit airnya menurun. Atas kondisi itu, di sejumlah kabupaten PDAM melakukan penggiliran. Bahkan, ada yang menunda pemasangan sambungan baru. Demikian data yang didapat dari sejumlah PDAM di Bali. Untuk mengatasi hal itu, pengelola PDAM kini terus melakukan pengeboran. Bahkan, kini PDAM menyasar mata air menambah pasokannya. Walaupun hal itu berdampak kekeringan pada sawah, karena sumber airnya berkurang. Perusahaan Daerah Air Minum Gianyar, misalnya, menunda pemasangan baru pelanggan untuk mengantisipasi menurunnya debit air. Di samping menunda pemasangan, PDAM Gianyar juga mempersiapkan pengaturan aliran air ke beberapa wilayah di Gianyar. Dirut PDAM Gianyar Dewa Putu Jati, Kamis (24/8) mengatakan, kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Bali sangat mengkhawatirkan pihaknya untuk menyediakan air untuk masyarakat Gianyar. Bersama dengan stafnya, Dewa Jati sempat keliling melihat debit air di beberapa sungai dan sumber air serta di sumur milik PDAM. Saat ini, PDAM Gianyar mempunyai 53 sumur untuk menyuplai air ke masyarakat. Dengan ancaman penurunan debit air ini setidaknya puluhan calon pelanggan terpaksa akan kami tunda dahulu. Diakui, saat ini kedalaman sumur milik PDAM di beberapa titik di antaranya 120 meter hingga 160 meter. ''Dengan jumlah kedalaman itu, mudah-mudahan persediaan air di Gianyar tidak sampai krodit sekali,'' jelasnya. Sementara itu, pelayanan PDAM Tabanan baru menjangkau sekitar 59 persen dari total jumlah masyarakat Tabanan. Bahkan, di beberapa wilayah seperti Kerambitan, Tegal Mengkeb, Tibubiu, Pejaten, Sanggulan, jatah air bersih harus digilir. Hal tersebut terjadi karena terbatasnya sumber air yang dimanfaatkan oleh PDAM dan terbatasnya sarana prasarana. Demikian diungkapkan Dirum PDAM I Nengah Sukarma didampingi Ketua Badan Pengawas Wira Adnyana. Menurut Sukarma, ketersediaan air secara umum masih baik mengingat sebagian besar sumber air yang dimanfaatkan berasal dari daerah hulu dengan jumlah sekitar 15 mata air. Sumber air terbesar diambil dari Danau Beratan. Selain itu mata air Gembrong di Penebel, Sungai Otan di Selemadeg dan Tukad Nyanyi dirasakan masih memadai untuk mensuplai sekitar 36 ribu pelanggan di Tabanan. Untuk melakukan antisipasi kemungkinan menyurutnya debit air, rencananya PDAM akan meningkatkan produksi di WTP Nyanyi, yang merupakan air buangan sungai. Ke depan pihaknya mengaku akan mengupayakan memperluas pelayanan dengan mengupayakan sumber-sumber air baru. Beberapa sumber mata air kini sedang dijajaki dan diupayakan ada kesepakatan dengan masyarakat setempat. Koordinasi dengan pihak subak juga terus dilakukan. Untuk mata air Gembrong, telah ada pembagian melalui SK Bupati di mana 35 persen air dapat dimanfaatkan untuk PDAM dengan kisaran 80 hingga 125 liter per detik, sementara sisanya dimanfaatkan oleh subak. Di Jembrana juga terjadi hal serupa. Selama bulan Juli sampai September yang termasuk musim kemarau, debit air permukaan (air sungai) menurun. Hal ini membuat pasokan air minum pun ikut terganggu. Pelanggan pun mengeluh karena kucuran air terutama pada waktu puncak sangat kecil. Hal ini pun diakui oleh Direktur PDAM Jembrana Nengah Sugianta yang didampingi Kabag Teknik Sugiyo. ''Kebutuhan air minum di Jembrana 182 liter per detik. Namun, setiap musim kemarau, selalu saja ada kekurangan pasokan. Salah satu pemicunya adalah keadaan alam karena air sungai mengering,'' jelas Sugiyo. Kebutuhan air yang terus meningkat ini juga tidak seimbang dengan sumber air yang ada. Kondisi kekurangan pasokan mulai terjadi lima tahun terakhir. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kekurangan ini adalah dengan membuat sumur bor dan memanfaatkan air secara bergiliran pada waktu puncak yakni pukul 6.00-10.00 dan pukul16.00-19.00. Sementara itu, Bupati Badung AA Gde Agung melalui Kabag Humas Putu Eka Merthawan mengatakan, Pemkab Badung berkomitmen untuk mengkonservasi hutan agar ketersediaan air mencukupi. Sementara PDAM Denpasar kini telah merancang program peduli lingkungan. Program ini diharapkan akan dapat menekan tingkat kerusakan lingkungan yang berpengaruh terhadap ketersediaan bahan baku berupa air. Salah satu kegiatan yang dikemas dalam program peduli lingkungan tersebut adalah penanaman pohon. Plt. Direktur PDAM Denpasar Ir. IGN Eddy Mulya, M.Si. mengatakan, program ini tidak hanya dilakukan PDAM. Pihaknya tetap akan melibatkan instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup. ''Rencana ini sudah kami rancang guna meminimalkan kerusakan lingkungan yang merupakan sumber kelangsungan operasi PDAM. Sebab, bila lingkungan rusak, ketersediaan air juga akan berpengaruh. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan menjadi suatu keharusan untuk menjaga dan melestarikan sumber-sumber air permukaan dan air bawah tanah,'' jelas Eddy Mulya, yang juga Kabag Ekonomi di Pemkot Denpasar ini. PDAM Denpasar sampai saat ini masih menggunakan sumber air permukaan dan sumur dalam. Sumber sumur dalam yang mencapai 14 unit menghasilkan air 863.876 meter kubik atau 337,26 liter per detik. Sedangkan tiga sumber air permukaan -- IPA Ayung III, IPA Paket Ayung III di Blusung, dan IPA Waribang I -- masing-masing mampu memproduksi 492,52 liter per detik, 56,68 liter per detik, dan 192,34 liter per detik. Selain sumber air tersebut, PDAM Denpasar juga membeli air dari PDAM Gianyar, PDAM Badung, dan PT Tirta Buanamulia. Dari tiga sumber itu, PDAM Denpasar mendapat 186.051 meter kubik atau 71,76 liter per detik. ''Jadi total produksi hingga bulan Juni 2006 ini sebesar 2.849.755 meter kubik atau 1.150,56 liter per detik,'' jelas Kabag Teknik PDAM Denpasar Putu Gede Mahaputra. Melihat kapasitas produksi sebesar itu, PDAM sampai saat ini belum mampu memenuhi seluruh calon pelanggan yang masih banyak antre pemasangan sambungan baru. Kasi Pelayanan PDAM Denpasar Dewa Made Suganda mengatakan, sampai bulan Juni 2006 ini sedikitnya terdapat 5.306 sambungan yang masih menjadi daftar tunggu. Sedangkan yang sudah terlayani saluran PDAM mencapai 68,81 persen dari seluruh wilayah di Denpasar. (kmb12 [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

