MODUS Jumat, 25/8/06 08:31 WIB
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Eksekutif Nasional KOMERSIALISASI PENDIDIKAN DAN MILITERISME MERUPAKAN MUSUH MENDESAK GERAKAN MAHASISWA Jakarta,(Modus.or.id). Pendidikan sebagai kapital sosial dari proses pembangunan ekonomi maupun demokrasi semakin mengalami kemunduran. Kondisi ini diperburuk dengan adanya UU Sisdiknas yang jelas menghambat proses demokrasi dan mendorong terjadinya komersialisasi. Akibatnya terjadi privatisasi pendidikan yang berdampak pada mahalnya biaya sekolah. Padahal krisis ekonomi telah mendorong terjadinya peningkatan angka anak putus sekolah dari TK sampai perguruan tinggi. Belum lagi sarana pendidikan yang tidak layak dipakai juga memperparah kondisi dunia pendidikan kita, seperti gedung sekolah yang rusak, kurangnya gedung-gedung sekolah, tak memadainya infrastrutur pendukung untuk meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, dalam alokasi anggaran negara, pendidikan (juga kesehatan) tidak menjadi prioritas utama, prioritas pemerintah hanyalah untuk memenuhi kepentingan kaum imperialis, borjuasi kroni, membayar hutang luar negeri dan obligasi rekapitalisasi perbankan. Tindakan-tindakan itu merupakan bukti bahwa pemerintah SBY-JK adalah pengkhianat terbesar bagi dunia pendidikan. Tragisnya lagi, bahwa dalam situasi seperti ini selalu Pemerintahan menggunakan pola-pola militeristik dalam menangani berbagai ekses yang muncul. Misalnya melakukan intimidasi, teror sampai DO/skorsing terhadap siswa ataupun tenaga pendidik yang kritis. Gejala-gejala ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita juga berwatak militeristik yang akan membahayakan kelangsungan dunia pendidikan sebagai motor demokrasi. Tragedi Kampus IKIP Mataram tanggal 22 Agustus 2006 lalu menunjukkan hal ini. Mahasiswa-mahasiswa yang menuntut dibukanya ruang demokrasi di kampus oleh rektor yang baru terpilih malah dihadiahi bacokan. Peristiwa ini meminta satu korban jiwa dan beberapa lainnya luka-luka, yang seluruhnya berasal dari pihak mahasiswa. Kesemuanya berawal dari pemberlakuan SK Rektorat IKIP Mataram tentang pengamanan kampus dengan preman sebagai aparatusnya. SK tersebut menjadi sasaran kritik mahasiswa setempat yang diungkapkan dengan sebuah aksi (demonstrasi) di halaman gedung rektorat hari Selasa tangal 22 Agustus lalu. Pada aksi tersebut, mereka menuntut dibukanya ruang dialog antara mahasiswa dengan rektorat untuk membicarakan persoalan situasi kampus- terutama tentang pengamanan kampus. Sifat anti demokrasi rektor pun terkuak. Ia menolak untuk melakukan dialog dengan mahasiswa. Hal ini memancing kemarahan peserta aksi hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menduduki gedung rektorat sampai si rektor mau merubah pendiriannya. Tindakan peserta aksi ini memancing watak militerisme dari birokrat kampus muncul. Preman-preman, menurut rektor merupakan satpam kampus yang belum berseragam, suruhan rektorat menghalang-halangi aksi pendudukan mahasiswa sehingga memancing sebuah bentrokan di antara kedua pihak. Preman-preman bersenjata tajam suruhan rektorat dengan membabi buta mengejar, menyerang dan mengeroyok mahasiswa-mahasiswa peserta aksi yang tak bersenjata sampai timbul korban di kalangan mahasiswa. Tuntutan damai untuk demokratisasi kampus harus dibayar dengan DARAH mahasiswa!! . Masih banyak sekali kasus-kasus sebelum tragedi IKIP Mataram yang menunjukkan dengan jelas watak anti demokrasi dan militeristik dari pihak birokrat kampus pada mahasiswanya yang menuntut demokratisasi kampus. Diantaranya adalah kasus STIE-YAI Jakarta, STESIA Surabaya, UNILA Kampung, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa tindakan-tindakan represif yang dilakukan oleh penyelenggara pendidikan menunjukan bahwa dunia pendidikan menjadi semakin militeris. Karena telah membunuh sikap kritis dari mahasiswa dengan berbagai tindakan terror dan ancaman. Militerisme menggunakan premanisme sebagai topengnya. Sama sekali tidak tertutup kemungkinan suatu saat nanti militerisme akan hadir dalam bentuk sejatinya- bangkitnya kembali teror dari komando teritorial. Untuk itu Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi menuntut pertama, kepada aparat penegak hukum untuk segera menangkap dan mengadili pihak rektorat kampus IKIP Mataram, yang merupakan otak dari aksi militeristik bertopeng premanisme yang dilakukan kepada mahasiswanya pada tanggal 22 Agustus 2006, dan oknum-oknum preman yang merupakan pelaku langsungnya. Kedua, kepada pemerintah untuk dihapuskannya teror, ancaman, dan DO/Skorsing sebagai pola-pola militerisme yang sampai sekarang masih diterapkan di dunia pendidikan dan memberikan ruang demokrasi seluas-luasnya bagi peserta didik di seluruh institusi pendidikan. Ketiga, kepada pemerintah untuk mencabut sistem komersialisasi/privatisasi pendidikan dan kesehatan dan kemudian menggratiskan seluruh institusi pendidikan dan kesehatan dengan pendanaan dari nasionalisasi aset-aset pertambangan, penyitaan harta koruptor, pembatalan (atau penundaan) pembayaran hutang luar negeri dan obligasi perbankan, serta penerapan pajak progresif. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi juga menyerukan kepada seluruh mahasiswa dan rakyat Indonesia untuk bersatu melawan segala bentuk militerisme dan premanisme dengan menuntut pembubaran seluruh komando teritorial AD maupun milisi-milisi reaksioner. Bersatu menuntut Pendidikan Gratis, Ilmiah dan Demokratis bagi rakyat. Bersatu menuntut, mengadili, dan menyita harta koruptor untuk pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyat. Bersatu menuntut dihentikannya pembayaran hutang luar negeri untuk pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyat. Bersatu menuntut dinasionalisasikannya seluruh aset pertambangan untuk pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyat. (Red/Sumber : Lalu Hilman Afriandi Agus Priyanto Ketua Pjs.Sekjend Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi EN-LMND). [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

