http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/08/30/brk,20060830-82886,id.html

BPS Diminta Ubah Metode
Rabu, 30 Agustus 2006 | 01:27 WIB 



TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Negara Perencanaan Pembangunan 
Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzeta meminta Badan Pusat Statistik mengubah 
metode pendataan kemiskinan. Pengubahan itu dengan menambah jumlah orang yang 
disensus, serta mengganti waktu siklus sensus. 

Selama ini, kata Paskah, dalam membuat angka kemiskinan, BPS menggunakan sampel 
50 ribu atau 0,1 persen dari jumlah populasi di Indonesia. Jumlah sampel itu 
dinilai terlalu sedikit. "Jadinya, sulit untuk mendapatkan angka kemiskinan 
yang akurat," tutur dia di Jakarta kemarin. 

Dia juga meminta, BPS mengubah siklus sensus dan waktu pengumuman hasil sensus 
dari sensus tahunan menjadi triwulanan. Tujuannya, supaya pemerintah memiliki 
data kemiskinan mutakhir saat hendak merencanakan program, termasuk rancangan 
anggaran. 

Menurut Paskah, BPS memang memiliki dua versi data kemiskinan, yakni versi 
survei sosial ekonomi nasional (susenas) dan versi hasil penghitungan santunan 
langsung tunai (SLT). Data teraktual susenas belum diumumkan BPS, sementara 
menurut data SLT, jumlah penduduk miskin mencapai 19,2 juta kepala keluarga. 

"Pemerintah menggunakan dua data itu secara berbeda, untuk kegiatan operasional 
digunakan dana SLT, sedangkan untuk melihat indikator ekonomi, kami pakai data 
hasil susenas," papar Paskah. 

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan yang dihubungi Tempo menuturkan, 
data kemiskinan versi SLT tidak bisa disandingkan atau pun menggantikan data 
kemiskinan versi susenas lantaran pendekatan pendataannya berbeda. 

Data susenas, kata dia, mengukur tingkat kemiskinan berdasarkan konsumsi kalori 
makanan dan non makanan. Sementara SLT merupakan kombinasi dari 14 variabel 
sensus. Itu sebabnya, "Angka SLT tidak bisa dibandingkan apple to apple dengan 
angka susenas," ujar Rusman. 

Menanggapi permintaan agar BPS mengubah metode pendataan, Rusman menilai itu 
sebagai hal yang tidak mungkin. Sebab, perubahan metodologi menuntut jumlah 
sumbar daya manusia dan anggaran yang lebih besar. "Konsekuensinya terlalu 
berat," tutur dia. "Hasilnya juga belum tentu lebih akurat." 

Dia pun memaparkan, pendataan kemiskinan merupakan data time series. Data 
(rumah tangga) yang sama diperbandingkan dari waktu ke waktu untuk mengetahui 
apakah ada pembaikan atau pemburukan kesejahteraan. "Kalau sensus mengambil 
sampel keluarga lain, datanya tidak dapat diperbandingkan. Data yang dihasilkan 
justru tidak akurat," papar Rusman. 

AGUS SUPRIYANTO 



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke