http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=123720
Rabu, 30 Agustus 2006 Pemimpin "Moral Capital" Oleh: Y Priyono Pasti TAK lama lagi, jutaan rakyat Kalimantan Barat akan mengikuti perhelatan akhbar 'perayaan kebebasan' yang monumental yang akan diselenggarakan pada tahun 2007 yang akan datang, yaitu pemilihan gubernur-wakil gubernur (gub-wagub) secara langsung. Eforia perayaan kebebasan yang menandai dimulainya sejarah baru dunia perpolitikan di Bumi Khatulistiwa inimenggema hingga pelosok desa. Perayaan kebebasan yang merupakan titik awal sejarah baru dunia perpolitikan Kalimantan Barat yang bermuara pada suatu gerak pembaharuan dan gejolak perubahan dinamis-konstruktif yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan hendaknya disambut positif dan dijadikan momentum untuk membangun Kalbar ke depan secara demokratis. Jutaan rakyat pemilih harus menentukan pilihannya secara merdeka dan bertanggung jawab. Bebas dari segala intimidasi dan agitasi politik dari pihak manapun datangnya. Permasalahannya, di tengah eforia dan janji-janji populis politik para kandidat gub-wagub yang (biasanya) begitu memukau, pasangan cagub-cawagub yang bagaimana yang harus kita pilih (baca: yang diberi kepercayaan oleh rakyat) untuk memimpin Bumi Khatulistiwa ini paling tidak lima tahun ke depan? Disinilah peran masyarakat pemilih menjadi sangat penting dan strategis. Masyarakat pemilih mesti mencerna aneka pernyataan dan janji-janji politik yang dikemukakan cagub-cawagub secara kritis dan cerdas. Mana pernyataan yang sangat mungkin untuk diwujudkan, dan mana yang hanya janji-janji (retorika) belaka. Mana politisi moral dan mana moralis politik. Mana politisi yang telah terkena noda-noda politik dan mana yang tidak. Bagaimana situasi pengalaman hidup cagub-cawagub di masa lalu, bagaimana kualitas mental dan moralnya, adakah ia terlibat perbuatan-perbuatan koruptif, adakah penyalahgunaan kekuasaan yang bertujuan hanya untuk memperkaya diri dan kroni-kroninya, adakah ia terlibat praktek KKN yang menyengsarakan rakyat, adakah kebijakannya berpihak kepada masyarakat kecil, kaum miskin papa-marginal, hendaknya dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan pemimpin Kalbar ke depan. Masyarakat mesti jeli dalam memilih karena kita menitipkan nasib Kalbar ini, nyawa dan anak cucu kita pada mereka. Dalam konteks inilah pemimpin yang "Moral Capital" menjadi sangat penting. Moral adalah kekuatan dan kualitas komitmen pemimpin dalam memperjuangkan nilai-nilai, keyakinan, tujuan, dan amanat penderitaan rakyat. Kapital adalah potensi yang secara aktual menggerakkan roda politik. Dengan pemilikan kualitas moral individual dan potensi aktual untuk menggerakkan roda politik, pemimpin "moral capital" diharapkan mampu untuk menginvestasikan potensi kebajikan perseorangan ini ke dalam mekanisme politik yang bisa mempengaruhi perilaku masyarakat. Pemimpin "moral capital" mampu berempati dengan suasana kebatinan rakyat seraya memiliki kemampuan komunikasi yang efektif untuk menggerakkan mereka. Pemimpin "moral capital" ini juga mampu menduga perasaan rakyat dan memberi jalan perasaan itu keluar. Menurut Bung Hatta, pergerakan rakyat tumbuh bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan atau karena ada perasaan dalam hati rakyat yang tidak dapat oleh rakyat mengeluarkannya. Pemimpin mengemudikan apa yang sudah dikehendaki oleh rakyat. Jika demikian, maka pemimpin lekas dapat pengikut dan pergerakan (baca: pembangunan-pen) yang dianjurkannya cepat berkembang (lih. Yudi Latif, 2006). Selain itu, di tengah badai perubahan yang begitu cepat dan menantang dengan berbagai implikasinya, di tengah berbagai permasalahan yang menumpuk saat ini, di zaman yang serba cepat dan instant dengan segala resikonya, masyarakat Kalbar membutuhkan gubernur (gub) dan wakil gubernur (wagub) yang memiliki karakteristik kepemimpinan berikut ini. Pertama, gubernur (gub) dan wakil gubernur (wagub) yang tidak hanya mampu mengobral janji tetapi juga memberikan bukti. Gub dan wagub yang mengabdi dan melayani kepentingan banyak orang. Gub dan wagub yang kredibel, kompeten, mampu mengantisipasi dan menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi serta mampu menjadi teladan dan bertanggung jawab. Kedua, masyarakat Kalbar mendambakan gub dan wagub yang mampu mengayomi dan menghilangkan rasa iri dan dengki, arogansi, dendam, curiga, merasa diri lebih tinggi dari yang lain, egois, permusuhan dan konflik di tengah-tengah masyarakatnya. Masyarakat menambakan gub-wagub yang mampu menciptakan suasana kondusif yang penuh kenyamanan, ketentraman, kedamaian, cinta kasih, dan persaudaraan sejati. Singkatnya, gub-wagub yang mampu membangun budaya cinta dan budaya syukur di kalangan masyarakatnya. Ketiga, masyarakat membutuhkan gub-wagub yang mampu membersihkan Kalbar dari rantai korupsi. Hal ini sangat mendesak karena korupsi merupakan kejahatan besar yang sangat melukai hati dan menyengsarakan rakyat karena telah mencaplok uang rakyat untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Keempat, masyarakat mengharapkan gub-wagub yang mampu membersihkan Kalbar dari petualang politik yang haus akan kekuasaan. Hal ini penting karena para politisi yang haus kekuasaan ini akan melakukan apa saja untuk meraih kekuasaannya. Tindakan-tindakan koruptif, cara-cara licik seperti money politics, hukum rimba, pola pengambinghitaman, melemparkan isu dengan cara menyudutkan lawan-lawan politiknya, berbagai rekayasa, merupakan berbagai tindakan yang sering dilakukan para politisi yang haus kekuasaan ini yang tentu sangat menyakiti hati rakyat. Untu itu gub-wagub terpilih harus membersihkannya. Kelima, masyarakat merindukan gub-wagub yang reformis dan bermoral. Hal ini sangat penting karena moralitas yang bagus merupakan modal besar bagi pembangunan sebuah bangsa yang beradab. Untuk itu, moralitas dan spiritualitas hati mesti mendapat perhatian serius. Dengan demikian diharapkan budaya malu, budaya bersalah, dan budaya mundur sebagai salah satu bentuk tanggung jawab moral dan sosial dapat diwujudkan. Keenam, masyarakat mendambakan gub-wagub yang mampu mengupayakan pendidikan berbiaya murah (tapi bukan murahan) sehingga dapat dijangkau dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Ini didasarkan atas keprihatinan yang mendalam, rasanya aneh sekali, ketika sebuah lembaga pendidikan berjanji untuk memanusiakan manusia (peserta didik) tetapi banyak manusia yang terganjal langkahnya menghirup segarnya udara akademis hanya karena tidak ada biaya. Ketujuh, masyarakat merindukan gub-wagub yang mau secara sungguh-sungguh memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Ini disebabkan lingkungan hidup menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketidakseimbangan yang terjadi di dalamnya akan sangat berpengaruh terhadap perikehidupan makhluk hidup termasuk manusia yang mendiaminya. Oleh karena itu,kelestarian lingkungan hidup dan SDA ini mesti ditangani gub-wagub terpilih secara serius, komprehensif, terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan demi generasi mendatang. Kedelapan, masyarakat menginginkan gub-wagub yang mau dan mampu menegakkan supremasi hukum. Gub-wagub terpilih harus mampu menegakkan hukum secara adil. Mafia peradilan/hukum harus diberantas tuntas. Hukum yang bertentangan dengan rasa keadilan rakyat harus dibenahi bahkan dihilangkan. Reformasi hukum ditegakkan. KKN dibersihkan. Kesembilan, masyarakat merindukan gub-wagub yang mengutamakan pada pelayanan publik. Pelayanan publik yang berbelit-belit , lama, mahal, dan penuh KKN yang terjadi selama ini harus dihentikan. Gub-wagub terpilih mesti mengubah sistem pelayanan yang terlalu birokratis selama ini menjadi pelayanan yang cepat, murah, ramah, tanpa KKN. Kesepuluh, masyarakat Kalbar mendambakan gub-wagub yang berupaya mengembangkan dan memberdayakan ekonomi rakyatnya. Ini penting mengingat rakyat kecil, kaum miskin-marginal, kelompok tertindas sangat memerlukan pemberdayaan ekonomi yang memungkinkan mereka untuk memperbaiki nasib dan meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik. Untuk itu paradigma lama yang melihat rakyat kecil sebagai objek ekonomi mesti diubah dengan menempatkan mereka sebagai subjek/pelaku ekonomi. Manakah diantara pasangan cagub-cawagub yang bertarung tahun 2007 nanti yang memenuhi karakteristik kepemimpinan seperti yang dipaparkan di atas dan akan melaksanakan Agenda Masyarakat Kalbar tersebut? Pasangan itulah yang harus dipilih. (Penullis: Kepala SMA Santo Fransiskus Assisi Pontianak-Kalimantan Barat) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

