RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
Komentar:
========
Terimakasih banyak kepada Bung Baduraman Dorpi Siregar, - dan tentusaja
kepada Cak Anwari Doel Arnowo, kita harapkan agar diteruskan menulis
kenang-kenangan tentang Bung Karno ini. - Pasti ada gunanya nanti . . ..

RedTOLERANSI.RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR


From:"B.DORPI P." <[EMAIL PROTECTED]>
<http://de.f501.mail.yahoo.com/ym/ShowLetter?MsgId=6124_15335379_18390927_1882_19534_0_319159_49568_1792006771&Idx=4&YY=47281&y5beta=yes&y5beta=yes&inc=50&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b&box=Inbox#>
To:"!B. DORPI P." <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re.: Anwari Doel Arnowo
- Outburst dari Hati [ Soekarno yang saya kenang ] Date: Thu, 31 Aug 2006
10:07:57 +070


*Created by Anwari Doel Arnowo*

*Senin, 05 Juni 2006 - 08:13:50*

[image: S o e k a r n o]

06-06-06
 06:06:06



Tanggal hari esok adalah istimewa, kita bisa tulis: 06 - 06 - 06. Kalau
bangun pagi, maka pada pukul enam lewat enam menit dan enam detik maka akan
menjadi tanggal 06 - 06 � 06 pukul 06:06:06. Mengapa menulis seperti ini?
Bagi saya memang pada hari ini kita amat perlu menenangkan diri agar
mempunyai pandangan yang jernih terhadap keadaan disekeliling kita saat ini.




Tepat 105 tahun yang lalu pada waktu fajar, lahirlah didunia ini seorang
bayi di kota Surabaya didaerah Pasar Besar, yang kemudian dinamakan Koesno.
Ibunya seorang yang berasal dari pulau Bali dan ayahnya yang berasal dari
suku Jawa adalah seorang guru sekolah. Pada waktu Koesno masih seorang anak
kecil, orang tuanya dipindahkan kekota Blitar. Beberapa tahun berada di kota
Blitar, Koesno diganti nama menjadi Soekarno. Dalam perjalanan hidupnya
Soekarno menjadi pemuda dan tinggal kembali di kota Soerabaia, malah tinggal
mondok dirumah HOS Tjokroaminoto, seorang tokoh orator pergerakan Islam, di
jalan Plampitan (sekarang jalan Achmad Djais).



Waktu dia tinggal di Plampitan inilah ayah saya, *Doel Arnowo* (nama aslinya
*Abdoel Adhiem*) berteman dekat dan sering bermain bersama. Ayahnya (kakek
saya) adalah seorang mandor gula bernama Arnowo -1879 s/d 1922, menjadi
tokoh dikampungnya yang sampai sekarang disebut Gang Genteng Arnowo. Yang
saya ingat ayah saya sering menceritakan bersama Soekarno, nongkrong bersama
di jembatan Genteng - Pathuk dan jembatan Pen�l�h � Plampitan.  Apa sih yang
mereka kerjakan di atas jembatan-jembatan itu?



Ayah saya, amat dikenal dengan sebutan *Cak Doel,* bercerita bahwa apa yang
mereka kerjakan selain ngobrol adalah asyik mengamati perempuan yang lalu
lalang diantaranya banyak noniek-noniek (istilah untuk nona-nona Belanda
asli maupun  keturunannya). Salah satu noniek Belanda ini ada yang mendapat
perhatian istimewa dari Soekarno. Dalam salah satu riwayat hidupnya Soekarno
pernah menceritakan bertemu dengan noniek satu ini setelah bertahun-tahun
kemudian di daerah Pasar Baru  Batavia (Betawi / Jakarta). Sang noniek telah
menjelma menjadi seorang perempuan yang gemuk agak luar biasa. Apa kata
Soekarno dalam bathinnya: Selameeet!! (artinya beruntunglah, dia bersyukur
sebab perempuan itu sudah demikian gemuknya, sama sekali tidak menarik hati
untuk dipandang mata). Ya setelah menjadi Presiden Republik Indonesia dalam
suatu kesempatan hanya berdua saja, Cak Doel pernah diajak berbicara masalah
ini di Istana Merdeka dan mereka berdua tertawa terk�k�h-k�k�h sampai keluar
air mata.



An�hnya Cak Doel pernah lebih dari sekali menyatakan Soekarno bukan pemuda
yang �nakal� terhadap perempuan dan malah diberi julukan anteng (yang
artinya tenang). Hal ini timbul pada waktu Cak Doel menyesali perkawinan
Soekarno dengan Hartini. Cak Doel beranggapan bahwa teman baiknya bernama
Soekarno ini adalah dalam keadaan sedang direkayasa untuk dijerumuskan ke
masalah yang menyangkut politik dan harta oleh orang-orang sekelilingnya.



Yang disebut-sebut oleh Cak Doel sebagai orang-orang yang termasuk inner
circle Presiden RI adalah antara lain  Kepala Rumah Tangga Istana yang
dengan rekayasa telah �menjodohkan� Presiden dengan �nyonya  terkenal� dari
Solotigo,  berstatus istri seorang lain bernama Soewondo. Banyak issue dan
gossips yang beredar dan saya tidak ingin mengulanginya pada saat ini karena
rasa hormat saya kepada Soekarno yang amat tinggi. Saya menganggap Soekarno
adalah seorang istimewa yang lahir pada abad 19 yang lalu. Sepanjang abad
itu di Indonesia tidak ada seorangpun yang terlahir dengan kecerdasan dan
kemauan kuat mempersatukan bangsanya menjadi sebuah bangsa yang besar.



*Pengganti-penggantinya: Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati
Sukaroputri dan Susilo Bambang Yudhoyono tidak ada yang sekaliber dan
seperingkat dengan Soekarno. *



Biarpun ini sangat subjective, saya merasa ini yang paling mendekati
kebenaran. Sebabnya karena saya adalah seorang yang tidak pernah terlibat
politik, baik sebagai anggota partai atau simpatisannya, tidak pernah mau
memilih pada waktu pemilihan umum, tidak pernah mempunyai usaha yang berKKN
dengan pejabat penyelenggara Negara.



Karenanya, saya merasa tidak pernah mengagungkan nama besar Soekarno hanya
karena �berkeinginan untuk mau ikut naik� bersama seseorang yang bernama
Soekarno. *Saya tidak pernah dekat dengan beliau sejak dewasa dan dengan
sengaja menjauhi beliau, karena saya tidak merasa comfortable setelah
mengamati dan melihat secara teliti  banyak orang-orang di sekelilingnya,
baik ajudan, pengusaha dan politikus yang berada disana.*



Saya ceritakan ulang apa yang saya lihat dan saya alami kejadian-kejadian
mengapa saya mempunyai pendapat-pendapat seperti diatas. Soekarno sering
sekali mengundang Cak Doel dan istri  datang ke Istana Merdeka, hanya untuk
melihat bioscoop (movie) yang ditonton oleh orang-orang terdekat Soekarno,
yakni: Nyonya Fatmawati, anak-anaknya, pembantu rumah tangga dan para
pegawai Istana Merdeka. Film yang ditayangkan kebanyakan bukan sesuatu yang
istimewa karena di Jakarta pada waktu itu belum banyak movies yang
dipertunjukkan di cinema. Jumlah cinemanya pun mungkin sekali masih dibawah
limabelasan. Pada peristiwa seperti itu Soekarno selalu mengenakan pakaian
lengkap bersepatu tertutup karena amat menghormati tamunya. Nyonya Fatmawati
biasanya duduk dikursi santai (biasa disebut dengan kursi malas) terbuat
dari rotan. Ayah saya, Cak Doel, pernah juga mengajak salah satu adik saya
untuk menemani bersama ibu kami. Selesai pertunjukan biasanya, dan ini
sering sekali, Soekarno ikut turun tangga Istana dan ikut menemani keluarga
ayah saya ke mobil.



Soekarno membukakan pintu mobil untuk ibu saya dan menutupnya kembali
layaknya seorang gentleman sejati. Nyonya Fatmawati tidak turun dari kursi
malasnya.



Biarpun demikian halnya, ayah saya amat geram ketika mengetahui Soekarno
akan menikah dan kemudian menikahi * Hartini yang in fact adalah istri orang
lain.* Apalagi nyonya Fatmawati datang menghubungi ayah saya dirumah kami di
jalan Surabaya no. 13, Menteng, Jakarta. Ayah saya menghormati first lady
Republik ini, biarpun umurnya lebih muda, dan menyebutnya zoes Fatma. Zoes
Fatma ini datang mengadu mengenai hal ini dan apa kata ayah saya? �Janganlah
sekali-kali zoes Fatma meninggalkan rumah, apalagi keluar dari Istana,
karena akan membuat hal ini menjadi sulit. Perempuan sebaiknya tetap tinggal
dirumah.� Zoes Fatma mer�ng�k mau ikut hidup dirumah kami yang kecil di
jalan Surabaya itu. Ayah saya dengan lembut mengatakan bahwa itu bukan
pilihan yang baik dan secara tegas menolak permintaannya. Pada waktu itu
saya sudah belajar di Sekolah Menengah Pertama, dan umur saya telah membuat
saya dapat menangkap percakapan ayah dengan ibu, dan juga dengan orang lain
mengenai masalah  yang satu ini.



Kadang ayah saya berpendapat karena semasa mudanya Soekarno ini seorang yang
�anteng� maka sekarang sedang mengalami pubertas lagi. *Cak Doel mengenal
Oetari dan ibu Inggit serta zoes Fatma.* Datangnya Hartini telah
menggelisahkan teman Soekarno yang lain dan orang-orang lain yang menyayangi
dia.



Tidak usah kita bicarakan mengapanya yang bersangkutan dengan Hartini, akan
tetapi dapat kita bicarakan karena kedudukannya sebagai Presiden Republik
Indonesia. Hartini, menurut Cak Doel adalah sebagai akibat, karena inner
circlenya yang ikut mendorong terjadinya perselingkuhan ini. Mereka tergesa
menikahkan Soekarno dan terbukti kemudian pernikahan ini tidak sah, karena
belum bercerai dari Soewondo. Pernikahanpun diulang lagi setelah Soewondo
resmi bercerai dan menjadi salah satu pegawai di perusahaan minyak di
Sumatra Selatan (?). Begitulah tanpa dapat dicegah, Hartini menjadi istri
Soekarno yang kesekian.



Setelah pernikahan ini ayah saya berseteru hebat dengan Soekarno karena
masalah ini. Perseteruan dimulai dengan pertemuan hanya sebentar antara
mereka berdua.



Cak Doel berkeberatan mengenai akan menikahnya Soekarno dengan Hartini
dengan alasan-alasannya yang tentu saja tidak dapat diterima oleh Soekarno.
Dalam bahasa Suroboyoan (dialect Jawa Surabaya) mereka sampai dengan
kata-kata: �Kamu jangan ikut campur dengan urusanku karena aku hanya
bertanggung jawab kepada Allah subhanawata ala� dan dijawab oleh Cak Doel
dengan � ...... ya saya mengerti, akan tetapi yang akan kawin itu kan
Presidenku ........�



Saat inipun saya tetap beranggapan pembicaraan seperti ini terlalu amat
keras karena pendirian kukuh mereka masing-masing. Apa yang terjadi
sesudahnya adalah: *Cak Doel dan istri tidak datang lagi ke Istana lagi
selama setahun lamanya*. Bukan karena tidak adanya undangan, tetapi juga
karena memang Cak Doel tidak �mau� bertemu dengan  kawan baiknya ini. Sekali
lagi inner circle Soekarno menjadi penyebab utamanya.



Kebekuan hubungan ini berakhir karena sebuah kejadian sebagai berikut. Dalam
�masa� Hartini ini, telah terjadi conflict antara para politisi, saya kurang
ingat bagaimana karena saya masih belajar di Sekolah Menengah Pertama, masih
bau kencur untuk masalah seperti ini, kata orang Jawa.



Para Politisi sudah saling tidak bertegur sapa antara lain Mr. Ali
Sastroamidjojo, Mohammad Natsir, Mr. Wongsonegoro, saya kurang yakin
nama-nama beliau. Pada suatu hari dalam bulan Ramadhan, ayah saya mengundang
mereka untuk berbuka puasa bersama di rumah Cak Doel di jalan Surabaya no.
13. Dalam suasana Ramadhan tentu saja mempunyai rasa magical moments yang
menyebabkan orang menahan marah dan emosi lain. Peristiwa ini diberitakan
oleh media dengan judul* Cak Doel menjadi penghulu.* Seakan-akan ayah saya
telah mengawinkan beberapa kubu politik yang sedang kurang berhubungan baik.
Berita ini amat menarik perhatian masyarakat, dan setelah sekitar satu tahun
lamanya, ayah saya diminta datang menemui Presiden di Istana. Ternyata
tempatnya adalah Istana Bogor, dimana di paviljoennya tinggal Hartini.



Ayah saya diminta datang setelah salat maghrib, pukul 18.30. Seperti
kebiasaan ayah saya datang tepat waktu, pukul 18.30 dan siapa yang menemui
Cak Doel?



Dia adalah Hartini, yang meminta Cak Doel menunggu karena Soekarno sedang
meneruskan berdoa dan belum selesai. Hartini menemani Cak Doel beberapa
waktu, hampir setengah jam. Bukanlah kebiasaan mereka berdua untuk terlambat
memenuhi janjinya, *Cak Doel maupun Soekarno selalu tepat waktu, selalu op
tijd dan selalu on time.* Tidak terlambat satu detikpun. Kali ini ada alasan
untuk berdoa atau apapun.



Cak Doel tentu saja �berkenalan� dan berbasa basi sebisanya. Setelah
Soekarno muncul, pertama-tama dia ucapkan mengenai ke*penghuluan*nya adalah:
�H�bat bener ko�n, Cak. Aku a� nggak iso!!� � *Hebat banget kamu, Cak. Aku
saja nggak bisa!!* Tetapi Soekarno tidak lupa memuji istrinya yang kesekian
ini dengan: �Ayu yo, koyok Ava Gardner!!� � *Cantik ya, seperti Ava
Gardner!! *Itulah yang dapat saya gambarkan segi manusiawinya Soekarno.



*Dia manusia biasa tetapi cerdas dan kharismatik, amat gandrung dengan
persatuan bangsanya yang terdiri dari ratusan etnis dan bahasanya yang amat
beragam, mendiami ribuan pulau bernama Nusantara, sebuah archipelago.*



Paling beragam diseluruh dunia. *Beragam dapat dipersatukan dan menurut
pendapat saya pribadi sampai kapanpun tidak akan berhasil diseragamkan. *



Inilah hal terpenting dalam mengenang Soekarno, seorang yang ingin saya
kenang selalu sebagai *orang yang baik terhadap orang lain*, bukan penjahat
seperti digambarkan oleh para kroni penggantinya. Saya tidak akan memintakan
ampun kepada Allah SAW bagi pengganti Soekarno dan kroni-kroninya. *Lebih
baik saya meminta ampun kepada Allah SAW atas pendirian saya ini dan
memintakan ampun atas kesalahan-kesalahan Soekarno, idola saya.*



*Created by **Anwari Doel Arnowo***

*  *

*11:07:53*
**


[Non-text portions of this message have been removed]





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke