Kata sebagian orang: "Berfantasi memang nikmat... " On 9/4/06, Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > REPUBLIKA > Senin, 04 September 2006 > > > Kemiskinan Fantasi > > Oleh : Revrisond Baswir > > > Kontroversi angka kemiskinan dan pengangguran yang muncul belakangan ini > tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan ketidaktersediaan atau > ketidakakuratan data. Secara mendasar, kontroversi tersebut berkaitan dengan > dua persoalan berikut. > > Pertama, sehubungan dengan naskah pidato kenegaraan Presiden, jika > dicermati pilihan data yang ditampilkan, terjadinya rekayasa sistemik dalam > penulisan naskah pidato sulit dihindarkan. Secara kronologis, corak isi > pidato ditetapkan terlebih dulu, setelah itu baru dipilih angka yang sesuai. > Indikasinya dapat ditelusuri dengan mencermati pilihan tahun angka > kemiskinan dan pengangguran yang ditampilkan. > > Sehubungan dengan angka kemiskinan, misalnya, tahun yang dipilih untuk > dibandingkan dengan kondisi Februari 2005 adalah 1999. Ini bukan tanpa > alasan. Sebagaimana diketahui, tahun 1999 kemiskinan tercatat sebesar 23,5 > persen. Dua tahun berikutnya turun menjadi 19,1 persen dan 18,4 persen. > Artinya, jatuhnya pilihan untuk menampilkan angka kemiskinan 1999 > dimaksudkan untuk menampilkan efek dramatis dalam panurunan angka kemiskinan > di Indonesia. > > Hal sebaliknya terjadi dalam menampilkan angka pengangguran. Untuk periode > 1999 sampai dengan Februari 2005, jumlah pengangguran meningkat dari 6,4 > persen menjadi 9,9 persen. Angka-angka ini jelas tidak sesuai dengan corak > isi pidato yang direncanakan. Agar sesuai dengan corak isi pidato, maka > pilihan dijatuhkan pada angka pengangguran November 2005 dan Februari 2006. > Pada November 2005 pengangguran tercatat sebesar 11,2 persen. Sedang pada > Februari 2006 turun menjadi 10,4 persen. > > Sebagaimana digugat oleh Tim Indonesia Bangkit, keputusan untuk > menampilkan angka kemiskinan 1999-Februari 2005 secara politis tidak dapat > dibenarkan. Kabinet Indonesia Bersatu secara resmi baru mulai bekerja sejak > Oktober 2004. Sebaliknya, jika angka pengangguran yang ditampilkan meliputi > periode Februari 2005-Februari 2006, pengangguran justru naik ari 9,9 persen > menjadi 10,4 persen. > > Kedua, sehubungan data kemiskinan dan pengangguran yang dilansir Badan > Pusat Statistik (BPS), jika dicermati metodologinya, terjadinya rekayasa > sistemik dalam melakukan pendataan sulit pula dihindarkan. Ini tidak hanya > berkaitan dengan proses pengumpulan dan cara pengolahannya yang sering > berubah, tetapi juga sehubungan dengan definisinya. > > Sehubungan dengan angka kemiskinan, misalnya, BPS secara tegas membatasi > diri dengan mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan dalam memenuhi > kebutuhan dasar minimal. Pada tingkat pengukuran, definisi itu diterjemahkan > menjadi dua indikator, yaitu nilai rupiah untuk memenuhi kebutuhan enerji > minimal sebesar 2.100 kalori/kapita/hari, dan nilai rata-rata (dalam > rupiah) dari 47 hingga 51 komoditi dasar non makanan. > > Muaranya, berdasarkan hasil survei terhadap 10.000 rumah tangga miskin > yang dilakukan pada Februari 2005, garis kemiskinan per Februari 2005 hanya > berjumlah sebesar rata-rata Rp 129.108/kapita/bulan. Sedangkan proyeksi > untuk Maret 2006 hanya berjumlah sebesar rata-rata Rp 152.847/kapita/bulan. > Dengan garis kemiskinan yang sangat minim tersebut, mudah dimengerti bila > jumlah penduduk miskin di Indonesia cenderung sangat rendah. Masalahnya, > jika garis kemiskinan dinaikkan sedikit, jumlah penduduk miskin langsung > membengkak. Sebagai perbandingan, jika diukur berdasarkan garis kemiskinan > sebesar Rp 18.000/kapita/hari atau setara Rp 540.000/kapita/bulan, jumlah > penduduk miskin langsung membengkak mendekati 60 persen. > > Hal serupa terjadi pula sehubungan dengan data pengangguran. Sebagaimana > diketahui, angka pengangguran BPS didasarkan pada definisi bekerja yang > dibatasi selama sekurang-kurangnya satu jam dalam seminggu yang lalu. > Artinya, jika pada saat pencacahan seseorang mengaku melakukan pekerjaan > sekurang-kurangnya satu jam dalam satu minggu sebelumnya, ia tidak akan > dicatat sebagai penganggur. > > Akibatnya, jika definisi bekerja dinaikkan menjadi beberapa jam, angka > pengangguran langsung membengkak. Tahun 2002, misalnya, jumlah pengangguran > terbuka hanya 9,1 persen. Namun, jika definisi menganggur digeser menjadi > bekerja kurang dari 15 jam dalam seminggu yang lalu, angka pengangguran > bertambah sebesar 7,2 persen menjadi 16,3 persen. Bahkan, jika definisi > menganggur dinaikkan menjadi bekerja kurang dari 25 jam, angka pengangguran > membengkak menjadi 27,5 persen. > > Sebab itu, dalam wacana pengangguran di Indonesia, dikenal dua kategori > pengangguran, yaitu pengangguran terbuka bagi mereka yang bekerja kurang > dari satu jam dalam seminggu yang lalu, dan pengangguran terselubung atau > setengah penganggur bagi mereka yang bekerja kurang dari 35 jam dalam > seminggu yang lalu. Tahun 2002, secara keseluruhan pengangguran tercatat > sebebsar 34,3 persen. > > Mencermati kedua persoalan tersebut, dapat disaksikan bahwa masalah > mendasar yang dihadapi ketika berbicara mengenai data kemiskinan dan > pengangguran di Indonesia tidak hanya terbatas pada soal ketersediaan, > keakuratan, atau pada cara menampilkannya. Tetapi berkait erat dengan > kuatnya kecenderungan untuk mengingkari realitas dan mengedepankan fantasi > dalam melakukan pengukuran. > > Dengan latar belakang seperti itu, munculnya kemiskinan dan pengangguran > fantasi dalam Pidato Kenegaraan Presiden pada 16 Agustus lalu, harus > dipahami sekedar sebagai babak lanjutan dari kecenderungan untuk berfantasi > ria tersebut. Selamat berfantasi. > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > >
[Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

