tidak patah hati, mbak...
tapi rela menunggu sampai menjadi janda.. :)

On 9/5/06, Listy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> rupanya ada yang sedang patah hati..:)
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf
> Of emabdulah
> Sent: Tuesday, September 05, 2006 3:11 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [ppiindia] Pernikahan dan Pelacuran
>
>
>
> Pernikahan dan Pelacuran
>
> Hati saya benar-benar hancur melihat kenyataan bahwa Siti Nurhaliza
> akhirnya menikah dengan Datuk K. Dalam hati saya berkata, teganya Siti
> menjual dirinya kepada lelaki kaya hidung belang.
>
> Pernikahan tsb membuktikan kebenaran sinyalemen saya beberapa waktu lalu,
> bahwa wanita, sekaya apa pun dia, akan tetap memilih lelaki yang lebih kaya
> darinya sebagai suami. Dalam kasus ini, kurang apa lagi "mbak" Siti, dari
> segi materi? Kenapa dia lebih suka memilih lelaki, yang konon, sebetulnya
> adalah suami orang?
>
> Seperti banyak dirumorkan media Malaysia dan media jirannya, bahwa CT
> (Siti) lebih suka nemplok di pelukan suami orang, daripada di pelukan lelaki
> yang masih membujang. Karena kehadiran Siti di hati sang Datuk lah, maka
> istri Datuk memilih cerai daripada dimadu.
>
> Kalau cuma suka pada lelaki beristri, kenapa sih, bukan memilih saya atau
> anda saja? Ah, tentu saja kehadiran saya tidak akan ada artinya bagi
> berlangsungnya jaminan sosial sang diva. Financial security, itulah alasan
> kebanyakan wanita menikah. Sedangkan lelaki lebih suka menikah karena bakat
> bawaan instink primitifnya yaitu, tertarik "barang" bagus.
>
> Lelaki berduit mana yang tak menginginkan wanita yang mirip boneka barbie
> itu? Jangankan lelaki berduit, lelaki yang tak berduit pun pasti berkhayal,
> malu-malu atau tidak malu-malu, untuk menikah dengan penyanyi bersuara emas
> itu. Apalagi karakternya yang anggun dalam penampilan, sopan dalam bertutur
> kata, dan tidak suka pamer aurat itu, pasti menambah hasrat setiap pria
> untuk mendapatkan sorga dunia.
>
> Walaupun saya tidak suka mendengar musik, tapi sepintas saya dapat menilai
> bahwa si Siti Nurjazila ini mempunyai bakat besar dalam menyanyi (betul apa
> tak betul?). Dan yang saya kagumi juga, dia tak pernah berpakaian ala barat
> di setiap kali penampilannya. Dia tidak terpengaruh untuk ikut-ikutan
> menggunakan pakaian yang seksi, minim atau ketat.
>
> Berbeda jauh dengan para penyanyi wanita kita, yang lebih suka memamerkan
> lekuk-lekuk tubuhnya dengan berpakaian ketat atau minim, dalam rangka
> mendongkrak pendapatan belanja rumah tangga. Malah bukan rahasia lagi kalau
> para penyanyi wanita yang sudah beristri pun, rela meninggalkan suami dan
> anaknya berhari-hari karena dibooking "manggung" oleh organisasi ini,
> organisasi itu.
>
> Di sini terlihat dengan jelas, bahwa berdasarkan salah satu fenomena tsb,
> sebetulnya batas antara penyanyi wanita (artis) dan pelacur sangatlah tipis.
> Boleh dibilang tak ada batasnya, sebab keduanya sama-sama menjajakan sex
> appeal yang mereka miliki, baik melalui suara atau tubuh mereka.
>
> Dengan sex appeal (daya tarik seksual) yang menjadi andalan mereka
> berbisnis inilah, yang kemudian mendasari mereka untuk memasang harga, baik
> ketika show yang sebenarnya, atau show yang pakai tanda kutip, "show". Lebih
> jauh lagi, dalam segala aspek, harga tinggi tersebut kemudian berdampak pada
> tingginya gengsi, sehingga segala sesuatunya, disebut pantas atau tidak
> pantas, dengan nominal uang.
>
> Contohnya dalam perkawinan yang dialami banyak kaum selebritis, tak ada
> satu pun yang rela menikah dengan orang miskin, atau katakanlah, dengan
> orang yang standar ekonomi menengah. Dan penyakit masyarakat tersebut
> ternyata juga bukan menjangkiti para selebritis yang sering nongol di TV,
> orang-orang kampung yang tidak pernah masuk berita pun, mematok harga tinggi
> bagi anak gadisnya. Apalagi kalau sang anak bertampang cantik atau
> mirip-mirip artis, maka harga jualnya pun tentu lebih tinggi lagi.
>
> Anda boleh saja protes, tapi hal ini benar adanya. Banyak orangtua yang
> bertingkah seperti germo atau bromocorah yang memasang tarif tinggi bagi
> siapa yang hendak meminang anak gadisnya. Terkadang sang anak gadis pun
> merasa dirinya cantik dan memang merasa pantas dihargai dengan harga tinggi.
>
> Jadilah di sini batas pelacuran dan pernikahan jadi kabur. Dalam kedua
> event tsb, sang lelaki sebagai konsumen, sama-sama harus mempunyai budjet
> yang banyak untuk mendapatkan seorang wanita. (Berdasarkan kenyataan ini,
> barangkali nanti, para "ulama" jaringan islamliberal akan mengeluarkan fatwa
> bahwa melacur itu halal karena, sama-sama mengeluarkan uang, seperti laiknya
> pernikahan).
>
> Kalau jiwa pelacur dan germo sudah menguasai, maka segalanya harus serba
> wah, termasuk memilih calon suami, seperti yang menimpa Siti Nurhalija.
> Sopan santun dalam bertutur kata, elok dalam berpakaian, hanyalah kamuflase
> untuk mendapatkan uang yang lebih banyak dari lelaki hidung belang.
> Pengetahuan agamanya hanya dijadikan umpan untuk menjaring konsumen yang
> lebih banyak.
>
> Menyinggung tipisnya batas pernikahan dan pelacuran, berarti menyinggung
> sebuah kosa kata lain, yaitu kebaikan yang diwakili polisi,lawan kejahatan
> yang diwakili penjahat. Batas antara kebaikan dan kejahatan hanyalah sebuah
> benang yang transparan.
>
> Seorang polisi dan seorang penjahat sama saja statusnya, sama-sama
> merugikan masyarakat. Penjahat merugikan orang lain tanpa menggunakan
> institusi resmi, sedangkan polisi, pejabat pemerintah, anggota DPR/DPRD,
> hakekatnya adalah penjahat juga, sebab mereka suka memakan uang rakyat
> dengan menjual hukum.
>
> Bahkan ketika seorang terpidana harus masuk penjara untuk bertobat, segala
> infra strukturnya tidak mendukung sama sekali untuk bertobat. Seorang
> terpidana, yang seharusnya segala nafsu kriminalnya dibelenggu oleh aparat,
> masih bisa melakukan segala bentuk criminal, baik sebagai bandar narkoba,
> atau yang kecil-kecilan, jualan rokok.
>
> Lebih edan lagi, dosa dan kejahatan itu juga menjadi kewajiban bagi
> penjaga penjara, karena mereka mewajibkan para pengunjung membayar sekian
> rupiah untuk sekali bezuk. Jadi sebetulnya semua mata rantai dalam penjara
> itu, baik polisi, hakim, yang terpidana, sipirnya, ketua lapasnya, dan
> pengunjungnya sama-sama tukang criminal.
>
> Jadi seseorang masuk penjara bukanlah sebuah jaminan akan terbebas dari
> menebus sebuah dosa, sebab dosa yang lain sedang menanti.
>
> Well, bagaimana pun juga kehidupan terus berjalan. Pelacuran dan
> perkawinan tak akan pupus dari dunia, selama para wanita cantik dan tidak
> cantik masih merasa sebagai barang yang mahal. Polisi, pejabat, anggota
> dewan dan penjahat tetap saja masih satu derajat, selama mereka tidak
> menyadari betapa berharganya secuil nasi tetangga yang tercecer di atas
> meja.
>
> Kembali ke soal perkawinan Siti Nurhaliza vs |Datuk K. Sebagai seorang
> muslim yang baik, mustinya Datuk K tidak hanya sekedar melegitimasi
> perkawinan untuk melampiaskan nafsunya. Sebagai anggota dari umatan wasatan,
> mustinya Datuk K, dan juga kita, dalam hal perkawinan mempunyai sebuah misi,
> baik itu misi sosial, ekonomi maupun pendidikan.
>
> Bukan hanya sharing, maaf, alat kelamin, dengan bayaran yang mahal, tapi
> juga musti sharing harta-benda dan intelektual. Dengan kata lain, mustinya
> seorang yang kaya menikah dengan seorang yang miskin. Orang pandai menikah
> dengan orang yang kurang pandai. Seorang ahli agama mustinya kawin dengan
> seorang yang buta agama. Dengan demikian terjadi sharing ekonomi, sosial dan
> intelektual.
>
> Kalau seorang kaya kawin dengan orang kaya, orang miskin musti kawin
> dengan orang miskin, ustadz kawin dengan ustadzah, menurut saya mereka bukan
> termasuk orang-orang yang beruntung, dan tidak mengerti makna visi dan misi
> beragama.
>
> Dalam hal ini saya salut dengan orang-orang Singapura yang mau menikahi
> para janda miskin dari bangsa Indonesia. Padahal para janda itu rata-rata
> bertampang jauh memprihatinkan dari Siti Nurhaliza (dan tak bisa menyanyi).
> Dan dari segi ekonominya pun tergolong pas-pasan, karena mereka kebanyakan
> tadinya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, baby sitter, tukang masak,
> dll.
>
> Kalau seorang Siti Nurhaliza dan yang senasib dengannya masih juga mencari
> lelaki yang lebih kaya, menurut saya, mereka tak ada beda dengan pelacur.
> Walau mereka nampak terhormat, tapi mental mereka mental pelacur. Begitu
> juga Datuk Khalid, walaupun kedudukannya terpuji di mata Malaysia, tapi
> mentalnya tetap mental hidung belang.
>
> Sebagai Penutup, walaupun saya kurang setuju dengan keputusan yang diambil
> oleh "dik" Siti dan datuknya, saya tetap berlaku sportif. Saya ucapkan
> semoga pasangan Datuk K dan Siti boleh berkekalan selama-lamanya Siti mampu
> bertahan. Dan sebagai seorang lelaki, saya selalu berkeyakinan bahwa,
> kesempatan kedua itu selalu ada, jadi... saya menunggu jandanya sajalah!
>
> wassalam
>
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke