2 tahun berlalu, namun kasus Munir seakan hendak dilupakan SBY dan
konco-konconya. Padahal SBY mengatakan bahwa kasus pembunuhan Munir adalah "the
test of our history"... kata-kata besar tapi hasilnya sampai sekarang nol
besar. Di bawah ada wawancara dengan Munir beberapa komentar yang hebat
seperti:
" Jadi, Islam tidak memihak kepada Islam, tapi memihak pada yang dizalimi
demi menciptakan keadilan."
"Bagi saya, Islam itu amat liberal dan dapat menerima perbedaan-perbedaan.
Islam tidak punya kewenangan, ketika dia tidak bisa memberikan tempat bagi yang
lain. Nah, pertanyaan bagi yang lain itu, betul-betul menjadi antitesis dari
pikiran-pikiran mainstream di beberapa kelompok yang waktu itu saya ikuti.
Aliran ekstrim yang saya ikuti, ternyata tidak memberikan ruangan pada yang
lain. "
Cak Munir semoga damai besertamu di atas sana.. Semoga Alief Allende, Diva
Suki Larasati ... anak-anakmu dan Mbak Suci .. istri dan kekasihmu.. diberkahi
Rahmat Allah yang Mahasuci... Amin
Semoga pula para pembunuhmu yang PENGECUT .. dianugerahi keberanian dan
kejujuran oleh Yang Mahakuasa. Amin.
Jangan lupakan bangsa dan tanah airmu di Bumi ini Cak.. kami masih nelangsa.
Matur Nuwun Cak!!! Amin
Bobby Budiarto
In Memoriam Munir, SH: Agama Harus Menjadi Maslahat bagi Manusia
Wawancara | 13/09/2004 Selasa, 7 September lalu, Indonesia kehilangan seorang
sosok pejuang HAM yang integritas dan dedikasinya sulit dicari tandingnya:
Munir, SH. Demi mengenang dan memberi penghormatan kepada Munir, Jaringan Islam
Liberal kembali menyuguhkan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Munir seputar
falsafah hidup dan pergulatan imannya. Berikut petikannya.
Selasa, 7 September lalu, Indonesia kehilangan seorang sosok pejuang HAM
yang integritas dan dedikasinya sulit dicari tandingnya: Munir, SH. Ia
dipanggil Yang Mahakuasa saat dalam perjalanan menuju Belanda untuk keperluan
studi. Sesuai namanya, hidup Munir selalu diabdikan untuk menjadi penerang
bagi orang-orang yang lemah dan dilemahkan; mereka yang diciduk dan dirampas
hak-hak asasi mereka. Seperti telah kehilangan syaraf takut, Munir tak pernah
menyerah, tetap menyuarakan dan membela kepentingan mereka yang lemah,
sekalipun harus berhadapan dengan pelbagai ancaman. Lantas apa yang menjadi
falsafah hidup mantan aktivis LSM Kontras, YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia), dan (terakhir) Imparsial itu, sehingga tetap gigih menentang
penindasan, kekerasan negara, dan ketidakadilan?
Demi mengenang dan memberi penghormatan kepada Munir, Jaringan Islam Liberal
kembali menyuguhkan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Munir seputar falsafah
hidup dan pergulatan imannya. Berikut petikannya.
ULIL ABSHAR-ABDALLA: Mas Munir, sebagai pejuang HAM, Anda tentu memiliki
pandangan yang menarik tentang bagaimana Islam bermakna dalam profesi Anda.
Dapatkah Anda menceritakannya?
MUNIR: Saya kira begini, dulu saya pernah mengikuti jalur beragama ekstrem,
yang radikal. Kurang lebih 5 hingga 6 tahun, antara tahun 1984-1989, isi tas
saya tidak pernah kosong dari senjata tajam. Itu atas nama pertikaian agama.
Sebetulnya, ketika saya berada dalam ruang ekstremitas agama, ada semacam
perasaan kehilangan fungsi agama itu sendiri. Misalnya, saya mempertanyaakan:
Apakah benar, Islam memerintahkan saya untuk menjadi sangat eksklusif dalam
beragama dan atau menutup diri dari komunitas lain? Pada masa itu, mulai ada
pertentangan dalam diri saya: Apakah Islam itu untuk Allah ataukah untuk
manusia atau untuk membangun masyarakat secara umum?
Dalam situasi tarik-menarik pada masa itu, saya menemukan bahwa agama
diturunkan untuk manusia. Saya setuju dengan Gus Dur, kalau Tuhan tidak perlu
bodyguard untuk mengawal diri-Nya. Intinya, agama harus menjadi maslahat bagi
manusia. Seringkali kita bicara masalah rahmat Islam untuk semesta, tapi kita
tidak tahu maknanya. Akhirnya, ekstremitas itu saya tinggalkan karena saya
tidak mungkin menjadi komunitas yang eksklusif. Karena Islam harus mendukung
peradaban, maka dia harus bekerja pada wilayah-wilayah yang memang memperbaiki
kehidupan manusia. Agama dipergunakan untuk memperbaiki kehidupan.
Sebaliknya, ekstremitas beragama itu bisa menghancurkan peradaban manusia.
Intoleransi, apapun bentuknya akan menghancurkan peradaban. Banyak orang
beranggapan bahwa mereka sedang membangun. Akan tetapi, yang mereka bangun
justru simbol-simbol yang menghancurkan peradaban.
ULIL: Pengalaman kehidupan Anda menarik bila dikaitkan dengan banyaknya orang
yang lebih enjoy menjadi member of second community entah agama atau
etnisketimbang menjadi orang IndonesiSa?
MUNIR: Saya kira, kadang bentuk-bentuk perbedaaan itu melahirkan ekstremitas.
Tidak hanya agama, tapi etnis juga. Ekstremitas itu selalu saja memutlakkan
diri sendiri dan menafikan orang lain. Ini kadang-kadang terjadi tidak hanya
antaragama, tapi juga antar faksi-faksi berfikir dalam agama. Itu antara lain
dapat kita baca dari sejarah Indonesia; berapa banyak darah tertumpah atas
dasar perbedaaan cara berfikir faksi-faksi agama. Anti gerakan tarekat
misalnya, pengasingan orang dan pembunuhan, semuanya atas nama ekstremitas.
Dari situ, seolah-olah hidup ini menjadi perang memperebutkan kapling di surga
yang berapa hektarnya pun belum bisa kita diukur. Ini yang menjadi masalah.
ULIL: Ada yang menarik dari uraian Anda tadi. Tadi Anda mengaku mengalami
masa ekstremitas beragama, lantas berubah. Pada titik mana terjadi perubahan
itu?
MUNIR: Berubah ketika saya berhadapan dengan antitesia lain yang saya kira
juga cukup ekstrim. Yaitu, mempertanyakan kembali tentang apakah beragama itu
kekuasaan? Nah, itu pertanyaan dari dosen saya kala itu, Bapak Malik Fadjar
(ini Menteri Pendidikan Nasional, Red). Dia mengatakan: Saya tidak pernah
mengetahui seorang pemuda sebodoh Anda, yang kemana-mana membawa semangat untuk
berperang dengan instrumen agama, demi menguasai orang lain. Menurut dia saya
orang yang amat liberal. Bagi saya, Islam itu amat liberal dan dapat menerima
perbedaan-perbedaan. Islam tidak punya kewenangan, ketika dia tidak bisa
memberikan tempat bagi yang lain. Nah, pertanyaan bagi yang lain itu,
betul-betul menjadi antitesis dari pikiran-pikiran mainstream di beberapa
kelompok yang waktu itu saya ikuti. Aliran ekstrim yang saya ikuti, ternyata
tidak memberikan ruangan pada yang lain.
ULIL: Anda shock ketika Pak Malik Fadjar mengingatkan itu pada Anda?
MUNIR: Saya shock sekali. Ini saya ingat betul karena saya tidak pernah
berkeringat di kota Malang yang dingin, kecuali dari statement itu. Tapi saya
telah menemukan sesuatu, yang bersifat inspiring (mengilhami, Red),
Tahap yang kedua, kebetulan dulu saya aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
dan saya mempunyai seorang mentor di HMI. Kritik Pak Malik kedua mengatakan:
Kau pelajari deh, Islam yang benar! Kalau kamu Anak HMI, baca deh Nilai
Identitas Kader (baca: Nilai-nilai Dasar Perjuangan atau NDP). Nah, dari situ
dievaluasi, apakah benar HMI untuk perang-perangan atau menjalankan misi
sosial?
Setelah saya pelajari, saya menemukan, Islam mengakui bahwa dalam relasi
sosial ada ketidakadilan; ada yang menzalimi dan yang dizalimi; Islam harus
memihak pada pihak yang dizalimi. Jadi, Islam tidak memihak kepada Islam, tapi
memihak pada yang dizalimi demi menciptakan keadilan. Dan Islam itu, saya kira
keadilan, bukan untuk menciptakan eksklusivisme sebagaimana yang kita lihat.
Temuan itu memang membuat saya terpisah dari komunitas ekstrem di mana
pertama saya tumbuh. Tapi saya menemukan komunitas baru yang bisa menerima
perbedaaan-perbedaaan. Saya kira, normal saja kalau dalam kehidupan, kita
menemukan antitesis-antitesis yang menawarkan Islam dengan watak sebenarnya.
ULIL: Anda beruntung mengalami masa ekstrimitas, menemukan mentor yang baik
dan mendapatkan pencerahan-pencerahan. Nah, untuk yang sekarang dalam fase
ekstrimitas, bisakah mereka menemukan pencerahan seperti Anda?
MUNIR: Saya kira bisa. Hanya saja, persoalanan utamanya terletak pada
ekstrimitas yang berorientasi pada kekuasaan politik, ketimbang pemahaman yang
dalam tentang pahitnya intoleransi dengan pihak-pihak lain. Jadi, ekstrimitas
akibat haus jabatan politik itu lebih berbahaya daripada semata-mata karena ia
dangkal secara keagamaan. Nah, sekarang ini, saya kira, gejala ekstremitas
lebih banyak bernuansa politik. Bukan ekstremitas dalam bingkai keyakinan yang
sifatnya lebih mendasar.
ULIL: Pendapat Anda yang menyebut ekstrimitas lebih sebagai gejala politik
ketimbang gejala keagamaan itu menarik sekali. Bisa berbicara lebih spesifik
lagi?
MUNIR: Ya, saya kira, ekstrimitas banyak lahir manakala situasi
sosial-politik memungkinkan terbangunnya suatu model keterdesakan. Jadi,
situasi sosial-politik itu menempatkan komunitas-komunitas ke dalam situasi
ancaman terus-menerus. Meskipun, kemudian memang ada justifikasi-justifikasi
keagamaan yang memberikan pembenaran atas kondisi keterdesakan secara politik
terhadap ruang (space) kekuasaan. Ini dapat dilihat misalnya dari pembenaran
terhadap penggunaan ayat-ayat yang mengatakan, bahwa orang Yahudi dan Nasrani
tidak akan pernah rela dan seterusnya (walan tardlâ anka al-Yahûd wala
al-Nashârâ hattâ tattabia millatahum, Red). Ini dilakukan orang, tanpa melihat
konteks sejarah mengapa ayat itu muncul, dan dalam kondisi seperti apa dan
lain-lain. Tapi, itu diintrodusir terus menerus, seolah-olah permusuhan dengan
Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah berhenti, suatu yang permanen, merupakan
keputusan Allah yang diciptakan untuk sepanjang masa.
Nah, saya kira, banyak penggunaan justifikasi-justifikasi untuk
kebutuhan-kebutuhan tatkala ada persoalan keterdesakan. Keterdesakan itu dapat
muncul dalam bentuk politik populasi atau jumlah, seperti ketakutan akan
islamisasi ataupun kristenisasi. Di masing-masing agama, ada kekhawatiran
semacam itu. Ada juga yang merasa, space agama akan tertutup, ketika Islam
kalah secara politik, sehingga orang khawatir akan susah salat di masjid, susah
mengaji. Perasaan itu menjadi ancaman serius yang mendorong kita harus
menguasai dan lain-lain. Juga ada keinginan untuk memaksakan kewajiban agama,
karena dengan begitu dia merasa beragama secara benar.
Dalam konteks ini, muncullah gagasan-gagasan keharusan negara memaksakan
agama. Ektremitas akhirnya muncul dan berkembang di wilayah-wilayah semacam
itu. Sementara, ketika masalah politik populasi agama tidak menjadi soal, orang
tidak perlu menjadi ekstrim terhadap isu-isu yang membuat mereka mengumpul dan
mengeras. Misalnya, orang yang tidak meminta negara sebagai alat agama tidak
akan menjadi ekstremis yang giat memaksakan negara dengan atribut agama. Nah,
gejala ini yang saya kira lebih muncul dan berkembang kuat ketimbang yang lain.
Ini termasuk gejala internasional, dimana kegalauan terhadap dominasi
negara-negara besar, dengan mudah memicu model ekstremitas tertentu dengan
agama.
ULIL: Itu kan menyangkut cara pandang tertentu: memandang Islam terancam dari
banyak arah sehingga harus melawan. Menurut Anda, apakah pemandangan semacam
itu cukup tepat?
MUNIR: Saya kira, cara pandang terhadap agama memang banyak ditentukan
konteks di mana suatu masyarakat hidup. Makanya, mazhab-mazhab dalam Islam juga
hidup dalam konteks dan pembelajaran sejarah masing-masing. Kalau dilihat dalam
konteks itu, bisa saja agama menjadi alat resisten bagi mereka yang ditindas.
Tapi, semestinya muncul tidak dalam bentuk ekstrimisme agama yang melawan
terhadap sesama, yang sebetulnya tidak dapat diidentifikasi sebagai penindas.
Saya sepakat kalau Islam menjadi enerji bagi kaum tertindas untuk melawan
penindasan. Tapi bukan dalam bentuk perang melawan agama tertentu. Misalnya
saja, relasi kita menjadi miskin bukan karena ada Kristen, tapi lebih karena
ada kekuasaan modal, struktur dan lain-lain. Saya kira, agama bisa menjadi
energi bagi orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap penindasan, asalkan
lawannya jelas. Tapi, tidak lantas agama menjadi alat manipulasi kekuasaan
untuk menghantam lawan-lawan, dengan simbol yang meneriakkan slogan
kafir, murtad dan lain-lain.
ULIL: Jadi agama lebih tampak sebagai simbol perlawanan yang bersifat
vertikal?
MUNIR: Simbol perlawanan vertikal, memang. Sebetulnya, saya meyakini, Islam
menawarkan agama bagi orang yang tertindas; memberi jawaban terhadap problem
sosial di mana orang ditindas tidak begitu saja diam, tapi memberi perlawanan.
Sementara, elemen-elemen non-tertindas, secara langsung memiliki kewajiban
untuk membantu mereka dan menjamin tercapainya titik yang diinginkan untuk
memberhentikan penindasan. Itu yang saya kira disebut sebagai masyarakat Islam.
Dalam konteks semacam itu, jelas bahwa apa yang saya lihat dari ekstrimitas
yang terjadi, bukan ekstrimitas dalam arti yang cupet seperti itu. Ini
ekstrimitas space: menyangkut sebuah wilayah atau batas-batas kekuasaan. Bukan
ekstiemitas yang menentang apa yang dianjurkan agama: memerangi penindasan;
memerangi apa yang oleh agama dianggap nihil, yaitu kemiskinan. Memerangi
kemiskinan adalah kewajiban, karena kemiskinan mendekatkan orang kepada
kekufuran; membuat tiada, menjadi sesuatu yang tidak bermakna. Maka, melawan
kemiskinan adalah perintah dan penting bagi umat Islam. Nah, di ruang ini,
Islam tidak menyuruh memerangi agama lain, tapi memerangi suatu model
penindasan dan penciptaan pemiskinan secara tidak sah. Itu saya kira satu hal
penting untuk menjadi landasan Islam untuk membangun masyarakat dan perdaban.
ULIL: Apakah pemaknaan agama seperti itu yang memotivasi Anda untuk membela
yang tertindas dan menjunjung nilai-nilai HAM?
MUNIR: Saya kira begini. Saya lahir dari suatu keluarga yang ketat dalam soal
agama, dalam arti ketat yang normatif. Saya merasa, agama yang ketat dalam
artian yang normatif itu tidak cukup. Beragama itu harus melampaui tapal batas
normativitas yang selama ini dianut orang, seperti asumsi bahwa beragama cukup
dengan salat lima hari dan lain-lain. Inilah yang dikritik Cak Nur sebagai
kesalehan simbolik, saleh formal. Kita perlu ingat, bahwa dalam salat itu ada
deklarasi-deklarasi, di mana orang diwajibkan menjalankan fungsi-fungsi
tertentu. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya salat yang mendeklarasikan
inna shalâtî wanusukî wamahyâya wamamâti
(sesungguhnya salat, ritual, hidup
dan matiku
, Red) bercampur dengan korupsi dan ketidakpedulian terhadap
kemiskinan dan lain-lain. Dengan begitu, saya adalah orang yang dikecam Allah
sebagai orang yang lalai, menjadi tidak bermakna dan terhina.
Dalam konteks ini, ketika saya berani salat, maka konsekuensinya saya harus
berani memihak yang miskin, dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk
memeriahkan perintah-perintah itu, seperti membela korban, sebab saya telah
menghadapkan wajahku. Menghadap kemana? Kepada keadilan. Kalau saya menipu
proses-proses keadilan, ke mana wajah ini saya hadapkan? Padahal, deklarasi itu
terhitung lima kali sehari kita lakukan ketika salat, bahkan lebih (salat
sunnah, Red). Jadi, bagi saya, tidak ada alasan umat Islam untuk tidak berpihak
pada yang tertindas. Itu menjadi pilihan dan keyakinan saya. Membangun
masyarakat yang adil juga termasuk perjuangan membela agama. Masyarakat yang
adil tidak mesti menuntut semua orang menjadi Islam, tapi bagaimana cita Islam
tentang keadilan dapat hidup dalam masyarakat.
ULIL: Secara pribadi, apakah Anda masih perlu mengidentifikasi diri sebagai
muslim yang taat dan saleh ketika memperjuangkan keadilan, atau malah
perjuangan itu sudah bertengger di atas nama-nama dan simbol-simbol?
MUNIR: Saya tidak tahu apakah dapat menilai diri saleh atau tidak. Yang
jelas, saya adalah bagian masyarakat yang meyakini bahwa membangun keadilan
yang inklusif dan tidak memihak pada diri sendiri, keadilan bagi semua, adalah
enerji yang paling penting yang ditawarkan Islam. Saya akan meninggalkan Islam
kalau tidak menawarkan itu. Saya memilih Islam kalau Islam menawarkan itu. Dan,
saya tentu tidak bisa memaksa orang untuk mengakui bahwa Islam itu inklusif,
maka kau harus ikut. Kalau begitu, Islam malah menjadi tidak inklusif. Tapi
bagi saya, ketika mengambil pilihan, maka pilihan itu harus mengontrol perilaku
saya.
Dalam proses itu, orang tidak perlu dipaksa untuk ikut dan dia punya hak
untuk membangun proses-proses yang lain. Tapi, di atas itu, agama tetap menjadi
enerji dan penting untuk memberi ruang demi melawan ketidakadilan. Dalam hal
ini, saya masih meyakini bahwa Islam bisa diharapkan. Islam yang inklusif,
tidak untuk dirinya sendiri, dan tidak untuk mengejar kekuasaan, masih menjadi
enerji penting bagi kaum yang tidak diuntungkan.
ULIL: Apakah Anda merasa nyaman bila berhadapan dengan ekspresi keagamaan
yang masih menonjolkan simbol-simbol identitas?
MUNIR: Saya kadang membayangkan bagaimana kelompok non-muslim berhadapan
dengan kelompok muslim yang menonjolkan atribut fisik keislaman dan merasa
paling benar. Jangankan mereka yang non-muslim, saya saja yang muslim merasa
minoritas kalau berhadapan dengan orang yang berjenggot panjang dan berkening
hitam-hitam. Kadang saya merasa terancam dalam artian (khawatir) akan
didominasi dalam ukuran-ukuran kebenaran. Menurut saya, (simbol-simbol
identitas) ini, kontraproduktif dengan keharusan mengenalkan Islam itu sendiri.
Menurut saya, atribut itu bagian produk budaya yang berkembang seiring
peradaban manusia. Hemat saya, perlu ada pembedaan antara kultur Arab pada masa
Nabi dengan Islam itu sendiri. Itu dua hal yang berbeda.
Jadi, tidak selamanya yang mendominasi Islam itu Arab, sehingga simbol-simbol
budaya seperti pemakaian jubah menjadi otomatis Islam. Memakai jubah itu memang
hidup di Timur Tengah. Orang Afganistan dulunya juga berjubah dan berjenggot,
tapi tidak serta-merta mereka menjadi ukuran keislaman. Menurut saya,
penggunaan simbol-simbol yang berpotensi menimbulkan distance atau jarak dengan
yang lain, justeru merugikan Islam sendiri. Jadi harus dihindari. Kalau
masyarakat bisa menerima, perilakunya tidak menjadi ancaman, maka itu wajar
saja. Itu seperti kita melihat orang yang berdasi. Jadi perlu ditegaskan, bahwa
memakai dasi atau jubah tidak menjadi ancaman, apalagi mendominasi kebenaran.
Jadi, baju adalah kultur, bukan pembenar untuk dominasi. Saya kira begitu. []
Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=684
---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small
Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/7EuRwD/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/