Universitas Bonn
Oleh: Bettina Marx
Tradisi Indonesia yang berusia lebih dari 100 tahun dan hasil penelitian
paling mutakhir tentang Indonesia berpadu di Universitas Bonn.
Telah puluhan tahun para penerjemah Jerman-Indonesia untuk Departemen Luar
Negeri dididik di universitas ini. Bahkan penerjemah mantan Presiden Suharto
juga bekerja di Universitas Bonn sebagai dosen. Selain itu Indonesia merupakan
salah satu fokus perhatian para ilmuwan Pusat Penelitian Pembangunan Bonn atau
Bonner Zentrum fuer Entwicklungsforschung, ZEF.
Bonn yang hanya berpenduduk 300 ribu jiwa ini merupakan ibukota Jerman Barat
hingga runtuhnya tembok Berlin. Wajar saja kota ini menjadi kawah candra-dimuka
bagi calon penerjemah dan diplomat yang akan di tempatkan di negeri timur,
sebelum wadah pendidikan itu akhirnya turut pindah ke Berlin. Bahasa Indonesia
menjadi salah satu obyek pengajaran dalam Jurusan Bahasa Oriental sejak tahun
1950an. Seminar itu juga memiliki sejarah sendiri. Tahun 1887 masih di aman
pemerintahan Kanselir Otto von Bismarck, Universitas Berlin mendirikan Seminar
Bahasa Oriental untuk mendidik para calon penerjemah Departemen Luar Negeri
Jerman. Setelah Perang Dunia kedua, Jerman terbagi dua dan jurusan itu pindah
ke Bonn.
Pada tahun 1980an, pendidikan calon penerjemah dijadikan salah satu bidang
studi di universitas Bonn. Di jurusan itu bahasa Indonesia menjadi satu dari
dua mata kuliah bahasa Oriental yang wajib diikuti. Di pertengahan tahun
1990an, didirikan bidang studi wilayah Asia Tenggara bermodal tenaga pengajar
Jerman yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Studi bahasa Indonesia sangatlah
digemari, ujar Berthold Damshäuser, seorang dosen penerjemah Bahasa Indonesia
yang telah bekerja selama 20 tahun:
Damshäuser
Di tahun 80an itu jumlahnya sampai mencapai seratus orang untuk semester
pertama dan saya kira sebagian dari mereka memilih bahasa Indonesia karena
bahasa itulah yang dianggap bahasa yang tidak terlalu sulit atau katakanlah
gampang."
Damshäuser merupakan penerjemah Jerman-Indonesia yang sangat terkenal. Ia
bahkan pernah menjadi penerjemah mantan presiden Indonesia, Soeharto, ketika
berkunjung ke Jerman pada tahun 90an. Kecintaannya pada literatur membuat pria
berumur 49 tahun ini menerjemahkan karya sastra klasik Jerman kedalam bahasa
Indonesia. Antara lain puisi Bertold Brecht atau Johann Wolfgang von Goethe.
Damshäuser juga mengalih bahasa karya sastra Indonesia kedalam bahasa Jerman.
Bersama penyair Indonesia Agus Sarjono, Damshäuser menerbitkan serial "Puisi
Jerman. Ia berpendapat hanya bahasa Indonesia tingkat pemula yang bisa
dianggap mudah.
Damshäuser : "Oleh mereka yang bisa membandingkan bahasa Indonesia dengan
bahasa Cina atau bahasa Jepang akhirnya dikatakan kalau mereka sudah agak maju
dalam pelajarannya bahwa bahasa Indonesia lebih sulit daripada bahasa Jepang
atau Cina.
Menurut Damshäuser, menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Jerman merupakan
tantangan besar. Perbedaan antara kedua bahasa sangat jauh. Dalam bahasa Jerman
kejelasan arti kata sangat diutamakan, sementara bahasa Indonesia memiliki
banyak kerancuan. Hal yang memusingkan banyak penerjemah profesional.
Damshäuser: "Betul-betul bahasa Indonesia agak rumit karena pemahaman kalimat
Indonesia cukup sulit. Saya kasih contoh yang sederhana misalnya kalimat "pintu
rumah yang baik". Di situ misalnya kita tidak tahu, mana yang baik, pintu atau
rumah.
Kendati menghadapi banyak tantangan penerjemah berdedikasi ini tidak ingin
bekerja di bidang lain, sehingga ia sangat menyayangkan jika jurusan pendidikan
penerjemah harus dihapuskan karena reformasi pendidikan. Hal ini juga berlaku
bagi jurusan ilmu wilayah Asia Tenggara. Walaupun begitu Damshäuser akan tetap
mengajar Bahasa Indonesia. Sejak dua tahun jurusan ilmu wilayah Asia membuka
jenjang pendidikan bachelor atau S-1. Dalam bidang studi ini mahasiswa dapat
memilih studi wilayah asia tenggara. Rencananya mulai tahun depan akan dibuka
pula jenjang pendidikan master atau S-2 untuk studi wilayah asia tenggara.
Disamping bahasa Cina dan Vietnam, juga ditawarkan jurusan Bahasa Indonesia.
Selain mempelajari bahasa, jurusan ini juga menitikberatkan pada tema-tema
politik dan kemasyarakatan. Antara lain mencakup mata kuliah politik dan agama
di Asia Tenggara, masalah sosial di Asia dan politik kaum minoritas di
Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kerjasama pembangunan di Asia
Tenggara juga menjadi mata kuliah dalam studi ini. Banyak mahasiswa yang
tertarik untuk bekerja di bidang kerjasama pengembangan, apalagi sejumlah
institusi kerjasama pengembangan berkantor di Bonn. Kantor Kementerian untuk
Kerjasama Ekonomi, juga Lembaga Dinas Bantuan Pengembangan Jerman dan
Welthungerhilfe, organisasi German Agro Action, atau cabang badan organisasi
PBB di Jerman berkantor di Bonn.
Bagi sarjana yang tertarik menerapkan ilmunya untuk negara berkembang, dapat
bekerja di Pusat Riset Pengembangan atau Zentrum fuer Entwicklungsforschung ZEF
di Universitas Bonn. Peneliti ZEF berminat meneliti perubahan politik, budaya,
ekonomi, teknologi dan ekologi dalam era globalisasi. Siapa pun yang ingin
memahami dunia global, harus merintis dari tingkat lokal. Itulah yang dilakukan
Kathrin Situmorang mahasiswa doktoral yang tengah menulis disertasinya di ZEF.
Kathrin membuat penelitian tentang jalur perdagangan antar masyarakat Batak di
Sumatera Utara.
Kathrin: "Proyek itu saya ada ide karena sampai sekarang studi dengan daerah
itu hanya menerangkan masalah-masalah internasional yang juga ada perhubungan
dengan masalah pajak laut dan masalah fiskal, keuntungan perusahaan besar dll.
Tapi perdagangan lokal seperti perdagangan Batak pada umumnya diabaikan. Proyek
saya ingin meneliti bagaimana jaringan perdagangan lokal berfungsi dan siapa
atau apa mempengaruhi proses perdagangan lokal itu.
Guna mengamati lebih dalam jalur dan hubungan perdagangan di sana, tahun
depan Kathrin akan mengunjungi Sumatera Utara dan mengumpulkan data secara
langsung. Kathrin cukup beruntung, karena suaminya berasal dari Sumatra Utara.
Ia sudah mengenal baik daerah dan adat batak melalui keluarga suaminya. Tapi
untuk keperluan disertasi, ia masih harus mempelajari sisi ekonomi daerah itu.
Keuntungan lain bagi ilmuwan berusia 27 tahun tersebut adalah penelitiannya
merupakan bagian dari proyek kerjasama berbagai disiplin ilmu. Sekelompok
peneliti dari latar belakang berbagai ilmu tengah mengadakan penelitian potensi
pengembangan dan risiko Selat Malaka. Yang sejak ratusan tahun dikenal sebagai
salah satu jalur perdagangan laut penting bagi dunia internasional. Kelompok
peneliti ini terdiri dari ahli ilmu alam yang memberi perhatian pada eksplorasi
bahan mentah yang dikapalkan melalui selat Malaka. Para Ahli budaya
yangmempelajari konflik antar etnis dan agama di wilayah tersebut.
Serta ahli ekonomi yang meneliti potensi kota-kota pelabuhan penting. Latar
belakang pendidikan para ilmuwan yang beragam dan tingginya kualitas penelitian
di ZEF merupakan alasan Kathrin Situmorang memilih mengerjakan disertasi
doktoralnya di lembaga itu:
Kathrin: Ada program doktor di ZEF, sebagai anggota program itu saya bisa
mengikuti beberapa kursus tentang cara menjalankan penelitian dan disitu juga
belajar bagaimana menulis disertasi. Dan akhirnya proyek saya ada satu bagian
dari satu proyek yang lebih besar. Dan guna untuk saya adalah, bahwa ada
ilmuwan yang kerja dalam proyek yang lebih besar dan yang bisa bantu saya."
Kelompok ilmuwan tempat Katrin bergabung bukan satu-satunya kelompok di ZEF
yang meneliti Indonesia.. Profesor Solvay Gerke dan Profesor Hans-Dieter Evers
termasuk dua pakar Indonesia yang saat ini yang bekerja di ZEF. Selain itu
sekelompok peneliti yang kompeten dan memiliki strategi perombakan di bidang
pendidikan, mengadakan riset di negara ASEAN termasuk Indonesia.
ZEF juga membuat penelitian tentang pengaruh hukum daerah dalam eksplorasi
sumber daya alam. Misalnya, sekelompok pakar tengah mengadakan penelitian di
Kalimantan Timur tentang negosiasi penebangan hutan antara penduduk setempat
dengan pihak industri. Kesuksesan ZEF juga dapat dilihat dari program doktoral
yang dibuka tujuh tahun lalu, yang telah menghasilkan 89 doktor dari negara
berkembang dan 41 kandidat dari Jerman. Lebih dari setengah jumlah doktor
alumni ZEF bekerja di negara asalnya sebagai pegawai negeri atau ilmuwan. 15
persen lainnya bekerja di institusi internasional seperti Bank Dunia atau PBB,
sementara sepuluh persen sisanya bekerja di Jerman. Hingga kini ada tujuh orang
Indonesia yang telah menulis disertasi doktoralnya di ZEF.
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+
countries) for 2¢/min or less.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/