Cuci tangan yook habis ngupas durian... Lempar kulit durian ke muka orang lain... DG
On 9/24/06, heri latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kisah Kesaksian Wartawan the National News Agency 'ANTARA' - Jakarta atas > Peristiwa Tragedi Nasional 1965 > > > Selamat siang Ibu2/ Bapak2 dan saudara/i yang saya hormati, > > Saya mengucapkan terimakasih diberi kesempatan hadir bersama para hadirin > sekalian untuk memperingati 100 tahun Djawoto, yang diadakan pada hari ini > tanggal 23 September 2006 dengan tema: Perjuangan Wartawan Indonesia untuk > Kemerdekaan Nasional, Kebebasan Pers dan Demokrasi. > > Sehubungan dengan tema peringatan 100 tahun Djawoto, saya teringat kembali > pada berita koran Belanda bernama "de Waarheid" terbitan tanggal 18 april > 1966, berjudul "Indonesische ambassadeur Peking neemt ontslag". Dalam > berita koran tersebut intinya menjelaskan sikap tegas almarhum Bapak > Djawoto, dengan cara mengajukan Permohonan Pemecatan Diri dari Jabatan Duta > besar Republik Indonesia di Republik Rakyat Tiongkok. Adapun maksud > tujuannya, memprotes keras kebijakan politik luar negeri pemerintahan baru > Rejim Militer Soeharto terhadap hubungan bilateral antara Indonesia dan > Tiongkok yang semakin memburuk. Dinyatakan pula bahwa almarhum Djawoto > mengkritik kebijakan politik dalam negeri serta menuduh kekuasaan baru di > Indonesia didukung oleh kekuatan agen rahasia Imperialis Amerika, CIA dalam > melakukan tindakan aksi histery propaganda anti komunis, yang mengakibatkan > banyaknya penangkapan dan pembunuhan serta pemenjaraan rakyat Indonesia. > Juga kebebasan Demokrasi dimatikan, > rasisme dihidupkan kembali serta pers dikenakan pelarangan terbit dan > hanya surat kabar yang mendukung pendapat kekuasaan pemerintah rejim > berkuasa di beri ijin terbit. > > Ibu2/ Bapak2 dan para hadirin yang saya hormati, saát ini kehadiran saya > sebagai putri kelima dari Ibu Rusiyati karena diminta oleh Oom Sarmadji > selaku koördinator dari Perhimpunan Dokumentasi Indonesia di Amsterdam, > untuk membacakan sebagian dari karya tulisan Ibu Rusiyati tentang > kesaksiannya sebagai wartawan, yang mengalami peristiwa Gerakan Satu > Oktober, disingkat GESTOK 1965. Ibu Rusiyati bekerja sebagai wartawan Antara > sejak tahun 1954 di Indonesia, akan tetapi ketika terjadi peristiwa GESTOK > 1965 beliau mengalami kondisi sangat berbeda bilamana dibandingkan dengan > apa yang dialami oleh Bapak Almarhum Djawoto dkk bersama keluarganya di > Tiongkok. Namun Ibu Rusiyati, yang juga salah satu kawan seperjuangan > Almarhum Bapak Djawoto di dunia Jurnalistik sejak di masa perjuangan > Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945, tidaklah lepas dari pemilikan cita-cita > luhur yang pernah dirintisnya bersama Bapak Almarhum Djawoto dan > kawan-kawannya, dan tentu visi dan misi perjuangannya > sesuai dengan tema peringatan 100 tahun Djawoto hari ini, > yaitu: "Perjuangan Wartawan Indonesia untuk Kemerdekaan Nasional, Kebebasan > Pers dan Demokrasi." > > Seperti pula Bapak Almarhum Mahbub Djunaidi, yang ketika saya bertemu di > seminar - Jerman Barat tahun 1985 menyatakan kepada saya: "Sayang sekali > saya tidak bisa ke Belanda untuk berkunjung menemui Bapak Djawoto dan Ibu > Rusiyati, saya anggap beliau-beliau itu para senior saya sejak saya bekerja > sebagai wartawan di Lembaga Kantor Berita Antara. Akibat terjadinya > peristiwa GESTOK 65 hubungan kami terputus dengan Bapak Djawoto, yang memang > sejak tahun 1964 telah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok. > Juga dengan Ibu Rusiyati yang ketika terjadi peristiwa Tragedi Nasional 1965 > telah di hukum penjara selama 13 tahun tanpa proses pengadilan. Saya > menganggap kejadian Tragedi Berdarah itu adalah merupakan peristiwa > pelanggaran HAM berat, yang bermakna pada penghancuran secara sistimatis > alam Demokrasi di Indonesia, tentu saya mengharap Perjuangan Wartawan > Indonesia untuk Kemerdekaan Nasional akan tetap di teruskan dan di > kembangkan sesuai dengan cita-cita prinsip > dasar NASAKOM." Demikian kata Mahbub Djunaidi. > > Para hadirin yang saya hormati, sehubungan dengan acara peringatan 100 > tahun Djawoto, bagian dari karya tulisan Ibu Rusiyati, yang akan saya > bacakan ini sebenarnya ditujukan untuk Kerry Brogan, yang pernah > mewawancarai Ibu Rusiyati pada tanggal 15 dan 16 November 1998 di Belanda. > Ketika itu Ibu Rusiyati berusia 76 tahun. Dengan ini saya akan memulai > membacakan kesaksian Ibu Rusiyati sebagai wartawan Antara, yang berkaitan > dengan kejadian Gerakan Satu Oktober 1965 mengalami proses periode awal > penangkapan kemudian menjadi alumni Tahanan Politik di penjara Bukit Duri > dan di penjara Plantungan. Tahun 1975 beliau di pindahkan ke penjara Bulu > Semarang untuk dimasukan ke dalam kamar isolasi selama 2 tahun. Pada tahun > 1978 Ibu Rusiyati di bebaskan secara bersyarat, yang artinya tidak memiliki > hak penuh sebagai warga sipil Republik Indonesia. > > Kisah Kesaksian Ibu Rusiyati: > Saya ditangkap oleh militer pada hari jum'at, tanggal 15 oktober 1965, di > Kantor Pusat Berita 'ANTARA'. Saya masih ingat di tanggal satu oktober 1965 > siang hari, kantor kami dan beberapa kantor berita harian ibukota lainnya > sudah kena pelarangan terbit oleh KODAM V JAYA. Padahal bersamaan waktunya > bulletin ANTARA terbitan siang hari sudah memuat berita mengenai GESTOK > (Gerakan Satu Oktober). > > Sejak pelarangan terbit diberlakukan para pegawai dari bagian redaksi > maupun bagian administrasi setiap harinya tetap masuk kantor, begitupun > dengan saya. Kehadiran kami dikantor dengan maksud tetap siap untuk segera > menerbitkan bulletin bilamana pelarangan terbit dicabut kembali. > > Tanggal 8 oktober 1965 kantor kami di datangi oleh Letnan Kolonel (LetKol) > Noor Nasution dari Palembang. Dia menyatakan bahwa kedatangannya atas tugas > untuk memimpin Pusat Kantor Berita ANTARA. Kami sangat heran terhadap > penugasan dirinya sebagai pemimpin kami. Dan sejak sa'at itu Pusat Berita > ANTARA dibawah pimpinan seorang militer. > > Tanggal 11 oktober 1965 bulletin ANTARA terbit kembali. Waktu itu saya > sebenarnya masih menjabat wakil ketua Desk Dalam Negeri tapi dalam proses > penerbitan bulletin tidak dilibatkan. Biar bagaimanapun saya setiap harinya > tetap masuk kantor. > > Tanggal 15 oktober 1965 gedung kantor ANTARA dikepung oleh pasukan militer > dari Komando Daerah Militer jakarta, disingkat KODAM Jaya. 26 pegawai > kantor ditangkap dengan cara satu persatu dipanggil namanya untuk berkumpul > diruang redaksi. Mereka yang dipanggil untuk ditangkap, yaitu pimpinan umum > redaksi bernama Soeroto serta lainnya yang menduduki posisi ketua dan wakil > ketua dari redaksi afdeling Desk Dalam Negeri, Ekonomi, Luar negeri maupun > Newsagency. Disamping itu ada satu orang dari bagian administrasi, berfungsi > sebagai ketua bagian ketik, bernama Tini juga diikut sertakan. Dari mereka > ternyata hanya dua perempuan, yaitu saya dan Tini yang tertangkap. Saya > dengar bahwa tanggal 14 november 1965 masih dilakukan pembersihan lagi > dibagian Afdeling Luar Negeri dengan 14 orang menjadi korban penangkapan. > > Siang harinya kami diangkut dengan mobil militer menuju kompleks KODAM V > Jaya . Sesampainya di kompleks tersebut kami disuruh turun dari mobil untuk > berjalan menuju ke salah satu gedung bernama Penyelidikan Khusus (LIDIKUS). > > Keesokan pagi harinya, yaitu tanggal 16 Oktober 1965 kami dipanggil oleh > pimpinan LIDIKUS bernama Letnan Adil supaya berkumpul di ruangan besar. > Dikatakannya bahwa tempat gedung LIDIKUS kurang memadai buat kami dan untuk > itu akan dipindahkan ketempat yang lebih baik. Beliau tidak menyebutkan nama > tempatnya tapi ternyata pada siang harinya kami diangkut dengan mobil > militer menuju kantor Corps Polisi Militer (CPM) di Jalan Guntur. > Sesampainya di CPM-Gundur segera diadakan pemeriksaan barang-barang yang > kami bawa. Pada waktu itu saya hanya membawa tas berisi kartu pers, kartu > izin masuk istana, surat undangan untuk pertemuan 'Angkatan 45' dan uang. > Tas beserta isinya dan jam tangan yang saya pakai disita. Saya dan Tini > dipisahkan dari rombongan laki-laki kemudian disuruh berjalan menuju > corridor, yaitu gang panjang yang lebarnya kurang lebih 2 meter. Didalam > corridor tersebut ada 2 meja dan 2 kursi. > > Pada tengah malam ketika kami sedang tidur nyenyak di atas meja, saya > dibangunkan oleh seorang berpakaian militer. Saya dibawa melalui corridor > menuju ke ruangan lain. Ruangannya besar dan disitu sudah ada 3 orang > berpakaian militer sedang di interogasi oleh satu orang militer. Mereka > duduk dibarisan belakang, sementara itu saya disuruh duduk dibarisan paling > depan supaya berjauhan dengan 3 orang tersebut. > > Dalam proses interogasi, dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan khusus > mengenai suami saya. Saya menjawab bahwa suami saya sa'at ini berada di RRT > dalam rangka kunjungan resmi sebagai wakil generasi Angkatan '45 bersama > delegasi MPRS, pimpinan Chaerul Saleh. Disamping itu suami saya juga anggota > SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Dalam interogasinya dia > tidak mengajukan pertanyaan yang sehubungan dengan fungsi kerja saya sebagai > wartawan di ANTARA. Bahkan juga tidak menyinggung masalah penerbitan > bulletin terbitan 1 oktober - siang hari yang memuat berita mengenai > peristiwa GESTOK (Gerakan Satu Oktober). Setelah melalui proses interogasi > cukup lama lantas saya dikembalikan ke tempat semula. Sementara itu Tini > kelihatannya sudah tidur nyenyak sedangkan perasaan dan pikiranku hanya > terpancang pada anak-anakku karena tidak mengetahui keberadaan saya. Saya > berusaha untuk bisa tidur tapi kekhawatiran terhadap anak bungsuku yang > masih balita membutuhkan susu > ibu sangat saya rasakan. > > Keesokan pagi harinya saya dan Tini dipanggil untuk kembali ke tempat > ruangan dimana kami kemarin harinya diterima. Kami berdua disuruh duduk dan > tidak lama kemudian rombongan laki-laki datang dari arah ruangan lain > memasuki ruangan dimana kami sedang duduk. Lantas mereka disuruh duduk > diatas lantai dengan masing-masing kedua tangannya ditaruh dibelakang > kepala. Saya sangat kaget dan cemas karena para militer tersebut > memperlakukan mereka sangat kasar bahkan baju nya pun sudah penuh dengan > lumuran darah dan juga tidak bersepatu. Mereka menceritakan pengalamannya > bahwa malam harinya ketika mereka sedang tidur nyenyak tiba-tiba masuk > sekelompok orang berpakaian hitam secara mendadak menghampirinya langsung > memukuli serta menyiksanya sambil berteriak -teriak "Komunis". > > Suatu kali kami berdua dipindah ke gedung lain tapi masih tetap didalam > kompleks KODAM V Jaya. Mengenai rekan laki-laki lainnya, kami sudah tidak > tahu lagi nasibnya. Gedung yang kami tuju sangat mendapat penjagaan ketat > dan bersenjata. Ketika kami memasuki ruangan, ternyata disitu sudah ada > tawanan para pimpinan perempuan, antara lain ketua umum GERWANI Umi > Sardjono, anggota pimpinan pusat BTI (Barisan Tani Indonesia) Dahliar dan > tiga anggota perempuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seperti Mudigdo, > Salawati Daud dan Kartinah. Ke 5 tokoh perempuan tersebut ternyata ditangkap > ketika Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) sedang > berlangsung, yang diadakan di Jakarta tanggal 17 Oktober 1965. Masih ada > seorang perempuan lain dimana sebelumnya tidak pernah saya kenal. Dia > perlakuannya agak aneh karena setiap malam hari berteriak-teriak, juga di > setiap siang harinya ngomong tidak karuan bahkan terkadang tertawa sendiri > tanpa sebab. > > Sekitar 3 hari kemudian, saya dan Tini dibawa kembali menuju gedung > LIDIKUS. Lima Ibu-ibu lainnya juga diikut sertakan bersama kami. Pada waktu > yang sama saya mendapat surat pemecatan sebagai pegawai ANTARA dan juga > dicantumkan pernyataan tidak berhak menerima tunjangan hari tua. > > Bulan desember 1965 saya, Tini dan 5 ibu-ibu lainnya dipindahkan ke > penjara Bukit Duri di Kampung Melayu. Dengan pemindahan ini saya merasa > bahwa penahanan terhadap kami akan berlangsung lama. > > Para hadirin yang saya hormati, Ini kesaksian tentang penangkapan dan > penyiksaan para jurnalis, yang dialami Ibu Rusiyati bersama para rekan > sekantornya di Antara pada Peristiwa Berdarah, disebut Tragedi Nasional > 1965. 13 tahun lamanya Ibu Rusiyati dipisahkan dari suami dan 6 anak-anaknya > bahkan masih banyak para kawan segenerasi senasibnya di Tanah Air sampai > saát ini tetap mengalami penderitaan lahir dan bathin hidup dalam "Penjara > Besar" di bawah warisan kekuasaan Rejim Militer Soeharto. Begitu pula pada > periode yang sama, dengan apa yang sempat dialami oleh Bapak Almarhum > Djawoto dkk di Tiongkok lalu kemudian terpaksa bermukim di Belanda dan di > berbagai negara lainya di manca negara. Namun bukan berarti bahwa kita semua > telah melupakan peristiwa Berdarah 1965, yang masih tetap berdampak pada > kehidupan generasi sekarang dan mungkin untuk generasi di mendatang. > > Saya mengharapkan dalam kesempatan memperingati "100 tahun Djawoto" > dengan mengangkat tema penting di hari ini, yaitu: "Perjuangan Wartawan > Indonesia untuk Kemerdekaan Nasional, Kebebasan Pers dan Demokrasi", akan > menambah semangat persatuan dan kesatuan bangsa demi meneruskan cita-cita > luhur Bapak almarhum Djawoto dkk perjuangan Revolusi Kemerdekaan Indonesia > 1945. > > > Ratih Miryanti > Amsterdam, 23 September 2006 > > > > http://www.geocities.com/herilatief/ > [EMAIL PROTECTED] > Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65 > Klik: http://www.progind.net/ > http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ > > > > > > > --------------------------------- > Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

