Silahkan anda baca laporan komplit plit di bawah, sebagai jawaban atas
pertanyaan sederhana anda.
Berikut kronologis awalnya.

Komposisi penduduk KABUPATEN POSO juga ada di bawah, lebih detail  dari DATA
DEPAG or Tempo yang anda sodorkan.

Dari Tabel di bawah diperoleh KOMPOSISI JML PENDUDUK KABUPATEN POSO sebagai
berikut :
Muslim= 49.25%,
Kristen = 50.75%,
beragama lainnya = 0.45%

Soal janin yg dibelah, barangkali anda mencampuradukan kerusuhan Poso dengan
kerusuhan Sampit... Dayak versus Madura....

Selamat membaca....

Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik Sosial di Poso,
Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November 2000, h. 92

http://ristek.tripod.com/rubrik/dep_2/poso_1.htm#tabel_1

SERIAL KONFLIK SOSIAL DI POSO:
LUBANG MENUJU DISINTEGRASI BANGSA?

I. PENDAHULUAN


Kabupaten Poso mencakup wilayah dari arah tenggara ke barat daya dan melebar
dari arah barat ke timur dan sebagian besar berada di daratan seluas
29.923,88 km2 atau 43,98% dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tengah.
Wilayah lainnya mencakup laut dan sebanyak kurang lebih 81 pulau yang sudah
bernama, 40 pulau di antaranya berpenghuni. Tidak heran bila dibadingkan
dengan luas kabupaten lainnya di Sulawesi Tengah, Poso mempunyai kawasan
paling luas.

Alam yang menghampar di kota Poso-240 km arah timur dari kota Palu (ibukota
Provinsi Sulawesi Tengah) niscaya merupakan salah satu dari yang terindah di
sepanjang garis katulistiwa di Indonesia. Di kota ini terdapat danau di
Tentena yang memukau, Kepulauan Togean yang fantastik dan Teluk Tomini yang
merupakan kawasan spesifik dalam gugusan garis edar matahari. Kekayaan
sumberdaya alam Poso baik di dalam laut di kawasan Teluk Tomini, Sungai dan
Danau Poso maupun kesuburan lahan serta hasil hutan dan tambangnya sungguh
tidak ternilai. Salah satu dari kekayaan hasil hutan yang sangat dibanggakan
dan penghasil terbesar di Indonesia adalah kayu hitam (ebony), selain kayu
besi, kayu agathis, meranti, damar dan rotan.

Lambang daerah Kabupaten Poso menggambarkan sebuah rumah yang disinari oleh
bintang (semangat keagamaan yang tinggi) dan dikelilingi oleh padi dan kapas
(lambang kemakmuran) di atas daratan yang bergelombang, lautan yang tenang
dan pegunungan yang damai. Di bawah lambang ini tertulis sintuwu maroso
(artinya: persatuan yang kuat). Di dalam kehidupan sehari-hari, semangat
yang ingin ditampilkan dalam lambang itu dirasakan kurang lebihnya sesuai
dengan realitas kehidupan masyarakat Poso ketika itu dalam waktu yang lama.
Ini berlangsung hingga tibanya era reformasi. Malang tak dapat ditolak,
untung tak dapat diraih. Kerusuhan yang melanda berbagai wilayah bumi
Nusantara tampaknya tak luput pula menghampiri Poso.

Kerusuhan dan konflik sosial yang terjadi di Kabupaten Poso diduga lebih
bernuansa suku dan agama. Selain itu, suasana politik setempat saat itu
sangat mempengaruhi polarisasi antar kelompok yang bermuara pada kepentingan
para elit politik setempat selain peranan militer. Lambannya penanganan oleh
aparat memungkinkan konflik yang sebenarnya bisa diredam lebih dini menjadi
berkembang semakin luas. Implikasinya adalah hilangnya jiwa dan harta benda
dalam jumlah besar.

Kerusuhan sosial di Poso terjadi secara berkesinambungan. Kerusuhan pertama
(pengamat, peneliti, pers dan masyarakat setempat populer menyebutnya dengan
Jilid I) berlangsung 24 Desember 1998, kerusuhan sosial kedua (Jilid II)
berlangsung pada 16 April 2000, dan kerusuhan ketiga (Jilid III) terjadi
hanya selang sebulan kemudian, yaitu pada 16 Mei 2000.


II. KEANEKARAGAMAN: BERKAH ATAU ANCAMAN?


Kabupaten Poso mempunyai penduduk yang sangat beragam. Beberapa suku asli
mendiami kawasan ini, antara lain suku Pamona, Lore, Mori, Bungku dan
Tojo/Una-una. Suku-suku pendatang dalam jumlah yang besar berasal dari
Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar dan Toraja) dan Sulawesi Utara (Gorontalo
dan Minahasa), di samping puluhan ribu pendatang yang secara terencana
didatangkan Pemerintah melalui program transmigrasi dari Jawa, Bali dan Nusa
Tenggara.

Suku asli Pamona merupakan penduduk mayoritas di Kecamatan Pamona Utara,
Kecamatan Pamona Selatan dan Kecamatan Lage. Suku Lore adalah suku mayoritas
di Kecamatan Lembo dan Kecamatan Mori Atas. Suku Ampana merupakan suku
mayoritas di Kecamatan Ampana Kota, Kecamatan Ampana Tete dan Una-una. Suku
Tojo merupakan suku mayoritas di Kecamatan Tojo. Suku Tojo dan Ampana banyak
juga yang tinggal di Kecamatan Ulubongka. Di Kecamatan Poso Kota dan
Kecamatan Poso Pesisir komposisi penduduk atas dasar suku jauh lebih
beragam, baik penduduk asli maupun pendatang dari luar kabupaten dan
provinsi.

Di kalangan suku-suku asli, orang Pamona, Lore dan Mori dikenal sebagai
penganut agama Kristen (umumnya Protestan). Sementara orang Ampana dan
Tojo/Una-una dikenal sebagai penganut Islam. Kaum pendatang Bugis/Makassar
dan Gorontalo dan transmigran dari Jawa dan sebagian Nusa Tenggara adalah
penganut Islam. Sementara penganut Kristen di kalangan pendatang berasal
dari Toraja dan Minahasa, dan di kalangan transmigran berasal dari sebagian
Nusa Tenggara dan Jawa. Orang-orang Bali di manapun adalah penganut Hindu,
demikian pula di Poso. Komposisi penduduk menurut kecamatan selengkapnya
dapat dilihat pada Tabel 1 (Lampiran).

Perbedaan-perbedaan ini selama kurun waktu yang lama tidak mempunyai masalah
apapun. Dalam suasana seperti ini, persaingan antar etnik atau antar agama
dapat dikatakan hampir tidak ada. Penduduk asli dan pendatang hidup
berdampingan secara damai hingga kurang lebih tahun 1990an.

III. KRONOLOGI KONFLIK

1. Konflik Sosial Jilid I

Kerusuhan pertama (populer dengan sebutan Jilid I) bermula pada 24 Desember
1998. Secara harfiah, kerusuhan dipicu oleh pembacokan Ahmad Ridwan oleh Roy
Runtu Bisalembah, seorang pemuda Kristen di kampung Lambogia.

Namun, jauh sebelum peristiwa ini terjadi, ada beberapa fakta yang perlu
diungkap karena merupakan bibit-bibit permusuhan antara pihak-pihak yang
bertikai. Pada tahun 1992, masyarakat muslim resah karena salah seorang
penginjil, Rusli Labolo (semula beragama Islam, kemudian masuk Kristen dan
menjadi pendeta) menghujat Muhammad s.a.w., nabinya orang Islam. Pada 15
Februari 1995, sekelompok pemuda Kristen di Madale yang telah dilatih
beladiri selama 4-6 bulan melempari masjid dan madrasah di Tegalrejo.
Sebagai akibatnya, sebanyak lebih kurang 3000an pemuda Islam dari Tegalrejo
dan Lawanga melakukan pembalasan dengan merusak 3 rumah di Madale.

Pada 24 Desember 1998 sekelompok pemuda Kristen Lambogia yang mabuk
mendatangi kelompok muslim di masjid Pondok Pesantren Darussalam di
Kelurahan Sayo. Seorang jemaah, Ahmad Ridwan (21 tahun) yang sedang tidur di
masjid, dibacok lengannya oleh Roy Runtu Bisalembah. Sebagai akibatnya,
warga Poso menjadi tegang. Masalahnya, suasana keagamaan pada saat itu
justru membutuhkan ketenangan. Di satu pihak, umat muslim sedang puasa di
bulan Ramadhan, di lain pihak umat Kristiani sedang menjelang Natal.

Pada 25 Desember 1998, seusai sembahyang Jum'at massa Islam yang marah
karena peristiwa pembacokan ini melakukan aksi pelemparan Toko Lima yang
diduga sebagai tempat persembuyian pelaku pembacokan. Massa kemudian
bergerak untuk merampas minuman keras dan menghancurkan tempat-tempat
hiburan seperti bilyar, panti pijat, toko minuman keras dan hotel, yang
dipandang mengganggu suasana ibadah bulan Ramadhan.

Pada 26 Desember 1998, suasana semakin mencekam dan memanas. Pada hari ini
terjadi tawuran massal yang berlangsung hingga esok harinya.

Pada 27 Desember 1998 diadakan pertemuan antara para pemuka agama dan tokoh
masyarakat yang bersangkutan untuk mendamaikan kedua kelompok massa yang
bertikai. Namun pada hari yang sama, massa Kristen pimpinan Herman Parimo
memasuki kota Poso yang menyulut pertikaian sehingga berkobar lagi. Sebanyak
81 buah rumah -sebagian besar milik orang Islam dibakar.

Pada 28 Desember 1998 pasukan Kelompok Merah pimpinan Herman Parimo kembali
memasuki Poso dan berhasil melewati blokade aparat kepolisian. Masyarakat
Kelompok Putih Poso, terutama warga Bonesompe, Kaimanya dan Lawanga dan dari
Parigi dengan ribuan massa, sebagian di antaranya dengan menumpang 27 mobil
truk, pick-up dan perahu motor, berhasil menghalau pasukan Kelompok Merah
dari Poso.

Pada 29 Desember 1998 situasi Poso berangsur-angsur aman, meskipun di setiap
kelurahan tetap dilakukan penjagaan oleh aparat keamanan dan masyarakat
setempat. Di beberapa lokasi pembakaran, api masih terlihat menyala.

Pada 30 Desember 1998 aktivitas perekonomian Poso mulai menggeliat yang
ditandai dengan semakin ramainya Pasar Sentral Poso dengan pedagang dan
angkutan kota. Sebagian warga Poso, meskipun demikian, masih tinggal di
pengungsian, di Tentena, Parigi dan Ampana. Konon, dikemudian hari, Herman
Parimo ditangkap di Makassar ketika berupaya menemui Pangdam untuk
mendapatkan jaminan atas penyerahan dirinya. Setelah melalui proses hukum,
Herman Parimo divonis 14 tahun penjara dan diisukan meninggal.

Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid I Lihat: Tabel 2 Lampiran.


2. Konflik Sosial Jilid II

Jauh sebelum terjadi konflik, proses penjaringan bakal calon Bupati Poso
dimulai. Hingga Maret 1999, sejumlah nama masuk dalam nominasi seperti Akram
Kamaludin, Abdul Malik Syahadat, Abdul Muin Pusadan, Damsyik Ladjalani,
Ismail Kasim. Sementara proses ini berlangsung, terjadi pertemuan antara
Yahya Patiro-seorang tokoh Kelompok Merah yang diisukan sebagai salah satu
penggerak kerusuhan pertama-dan 50 orang remaja masjid Poso. Usai pertemuan,
segerombolan pemuda dengan menggunakan truk mencari Yahya Patiro dan
memporakporandakan Hotel Wisata Poso-tempat berlangsungnya pertemuan. Tokoh
yang dicari sudah meloloskan diri.

Pada April 1999, dilakukan penentuan Bupati Poso. Salah seorang figur
terkuat, Abdul Malik Syahadat terlempar dari pencalonan karena tidak ada
fraksi yang mencalonkan. Pada minggu kedua Mei 1999 muncul Abdul Muin
Pusadan (konon didukung Gubernur Sulsel) dan Eddy Bungkundapu (konon
didukung Baramuli) sebagai calon-calon unggulan. Namun salah seorang anggota
DPRD Provinsi Sulteng, Chaelani Umar (FPP) mengatakan, jika aspirasi yang
menghendaki Damsyik Ladjalani menjadi Sekwilda Poso diabaikan, Poso yang
pernah diguncang kerusuhan bernuansa etnis-agama akan rusuh lagi.

Malamnya, terjadi insiden antara dua pemuda Lambogia dan pihak lain di
terminal Poso. Ini memicu warga asal Lawanga mendatangi warga Lambogia di
depan gereja Pniel menginformasikan akan ada massa dari Kalamanya dan
Lawanga. Massa langsung melempari rumah-rumah penduduk Kristen di sekitar
gereja. Setelah sempat dikendalikan aparat keamanan, pada keesokan harinya
massa datang ke Lambogia lagi meskipun tidak terjadi insiden apapun.

Juni 1999, Arief Patanga diberhentikan Gubernur Sulsel dari jabatannya
sebagai bupati dan digantikan Haryono, seorang dari kalangan militer,
sebagai caretaker, untuk mempersiapkan pemilihan Bupati Poso yang
dilaksanakan 30 Oktober 1999. Pemilihan yang demokratis menghasilkan Abdul
Muin Pusadan (16 suara) terpilih sebagai Bupati yang baru, sementara Mashud
Kasim memperoleh 13 suara dan Eddy Bungkundapu 10 suara.

Pada 16 April 2000 sebanyak 25 massa Islam dengan menggunakan truk menuju
tengah kota dan menumpahkan minuman keras (yang dirampas dari salah satu
rumah di dekat Gereja Sidang Jemaat Allah) ke jalan sambil berteriak-teriak.
Malam harinya, terjadi pemusatan massa Islam dan terjadi pembakaran
rumah-rumah penduduk Kristen (di Kelurahan Pantoan), kios (setelah isinya
dijarah) di Kelurahan Pangajouw Lumenta. Massa Kristen akhirnya terpancing
untuk melakukan pembalasan. Terjadi bentrokan antar kedua massa yang
berlangsung hinggi esok hari.

Kerusuhan ini berlangsung lagi esok harinya, 17 April 2000. Dalam massa
Kristen terdapat beberapa orang dengan memakai seragam ala Ninja sambil
menantang dengan parang ke arah massa Islam di perempatan terminal Poso.
Massa Islam terpancing dan berusaha menyerang. Kedua kelompok saling serang.
Upaya peredaan situasi kota Poso dan pencegahan keterlibatan massa dari luar
Poso dilakukan. Namun pada siang hari, massa Islam mulai menjarah, membakar
rumah penduduk Kristen dan Gereja Pniel, Gedung Serba Guna Jemaat Pniel,
Pastori Jemaat Pniel Poso, Bengkel Honda dan pertokoan di sekitar perempatan
Tentena. Brimob kewalahan mengendalikan massa. Mereka menembak 2 orang dari
massa Islam hingga tewas. Setelah penguburan, massa Islam menuju ke Lambogia
dan membakar rumah hunian sebanyak 127 rumah, 2 gereja, gedung SD, SMP, SMU
Kristen, Gedung Bayangkari dan sebagian asrama Polres. Pengungsian terjadi
secara besar-besaran penduduk Kristen Poso ke arah Madale, Kampompa, Lage,
Pamona Utara, Bukit Bambu, wilayah Poso Pesisir dan sebagainya. Sore hari
aksi brutal ini berhenti. Terjadi hujan lebat.

Esok harinya, 18 April 2000 terjadi aksi pembakaran rumah penduduk di
wilayah Kelurahan Lambogia dan Kasintuvu termasuk Gereja Advent Kasintuvu
dan pelemparan dan perusakan gereja di Jl. Gatot Subroto. Gubernur Sulsel
berupaya untuk meredakan pihak-pihak yang betikai dengan mengunjungi para
pengungsi. Ini diikuti dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat setempat.

Pada 19 April 2000 ditemukan mayat seorang muslim di Lambogia di puing-puing
rumah keluarga Kristen. Massa Islam kembali marah dan berlanjut dengan
pembakaran sisa-sisa rumah penduduk warga Kristen di Lambogia dan Kelurahan
Kasintivu dan gereja Pantekosta dan gereja di Jalan Sam Ratulangi. Pada
tengah hari, terjadi pembunuhan 2 orang Kristen, satu di depan bengkel Honda
dan satu lagi di perempatan Tentena. Polisi berhasil memukul mundur massa
Islam yang beringas hingga ke masjid Darussalam. Selesai solat Bupati Abdul
Muin Pusadan berusaha menenangkan massa dan menghimbau dihentikannya
pertikaian. Bahkan seorang ulama kharismatik, H. Amin Lasawedi, ternyata
masih dianggap sebagai tokoh baik oleh ummat Islam maupun Kristen dan
memohon sang ulama untuk mendo'akan agar Poso kembali aman seperti semula.

Namun, 20 April 2000 sebagian massa Islam masih melakukan pemburuan warga
Lambogia dan perusakan rumah penduduk dan gereja di Bukit Bambu. Esok
harinya, Pangdam Wirabuana tiba di Poso dan melakukan pembersihan
palang-palang dan pos-pos di beberapa desa yang dibuat massa Islam. Situasi
keamanan dapat dikendalikan hingga dilaksanakannya pertemuan-pertemuan antar
berbagai kelompok, tokoh masyarakat maupun pemerintahan, lembaga-lembaga
keagamaan terkait di satu pihak dan aparat keamanan di lain pihak.

Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid II lihat: Tabel 3 Lampiran.


3. Konflik Sosial Jilid III

Dua minggu setelah aksi damai dilakukan, pada bulan Mei 2000 masyarakat Poso
dikejutkan dengan beredarnya isu akan adanya penyerangan balik dari Tentena
yang merupakan basis Kelompok Merah (Kristen). Arus pengungsi masyarakat
Kristen di Poso menuju Tentena, Lembah Napu, Palu dan Manado dari hari
semakin deras.

Hasil investigasi seorang wartawan selama 9 hari atas kebenaran isu
menunjukkan bahwa ternyata terdapat tanda-tanda pengerahan massa Kristen di
Bungku Barat, Beteleme, Kolonedale, Tentena, Kelei, Betue, Sanginora dan
Poso Pesisir. Laporan bahkan menyatakan di desa Kelei terdapat pelatihan
bela diri pasukan Merah dan di Sanginora terdapat penggalian lubang-lubang
besar sebanyak tiga buah dengan menggunakan alat-alat berat milik seorang
pengusaha Poso.

Pada 16 Mei 2000 pecahlah Kerusuhan Sosial Jilid III. Ini dtandai dengan
terbunuhnya seorang warga muslim di Taripa dan rencana pembunuhan terrhadap
seorang petugas penyuluhan Kecamatan Pamona Utara beserta keluarganya dan
terhadap pemilik warung surabaya di Taripa pada 18 Mei 2000. Pada 19 Mei
2000 massa Kelompok Merah (Kristen) mulai melakukan
penghadangan-penghadangan terhadap kendaraan umum yang lewat gereja di
Taripa. Aparat keamanan berhasil menggagalkan kegiatan ini. Pengungsian
warga Kristen semakin gencar, antara 15 dan 20 truk setiap harinya dari kota
Poso menuju pusat-pusat konsentrasi Kelompok Merah.

Pada 20 Mei 2000, seorang penyusup yang mengikuti latihan bela diri di desa
Kelei berhasil lolos dan menyebarkan informasi di terminal bus kota Poso
akan adanya penyerangan Kelompok Merah dari arah Tentena. Informasi ini
dengan segera menyebar dan meluas di kalangan masyarakat yang menimbulkan
keresahan dan kecemasan. Masyarakat mulai menghubungkan akan adanya
pengungsian besar-besaran di satu pihak dan adanya rencana penyerangan
Kelompok Merah di lain pihak. Masyarakat Islam di Sintuvulembah, Pondok
Pesantren Walisongo, Tagolu, Sepe, Silanca dan Toyado mulai diintimidasi
oleh oknum-oknum masyarakat Kelompok Merah.

Pada 23 Mei 2000 malam, Kapolres Poso melakukan pertemuan dengan semua
komponen masyarakat dan pemerintah daerah. Tiba-tiba diketahui informasi
bahwa pemuda Islam di Kalamanya sudah turun ke jalan karena malam itu akan
ada penyerangan Kelompok Merah. Peserta rapat berusaha mengkonfirmasikan
informasi ini kepada Tripika (Camat, Koramil, Kapolsek) di Pamona Utara.
Jawabannya, tidak benar ada pemusatan massa di Tentena dan tidak benar akan
ada penyerangan dari arah Tentena. Berdasarkan informasi ini, Kapolres
meminta Pemda membuat pengumuman kepada masyarakat. Mobil penerangan yang
berkeliling ke seluruh penjuru kota pada malam itu menginformasikan tidak
benarnya rencana penyerangan terhadap kota Poso. Masyarakat kota Poso
percaya informasi itu karena Pemda sendiri yang mengumumkan. Masyarakat
kembali tenang.

Namun pada 24 Mei 2000 dinihari muncul pasukan penyerang sebanyak 12 orang
dengan seragam ala Ninja dari depan Pasar Sentral menuju Kelurahan
Kalamanya. Pasukan ini kemudian dikenal sebagai Pasukan Kelelawar atau
Pejuang Pemulihan Keamanan Poso di bawah pimpinan Fabianus Tibo (55 tahun)
melewati 7 pos penjagaan siskamling (sistem keamanan lingkungan). Tidak
satupun petugas ronda yang dilukai, karena pasukan ini mencari para
provokator pada kerusuhan Jilid II. Salah seorang polisi yang berusaha
menghentikan laju pasukan Ninja langsung ditebas. Demikian pula dua warga
dewasa muslim lainnya menemui ajalnya karena ditebas secara biadab. Pada
saat itu, massa Islam mulai berkumpul sehingga Pasukan Kelelawar melarikan
diri menuju sekolah Katholik. Pimpinan pasukan diminta menyerahkan diri,
namun aparat kepolisian tidak langsung menangkap Tibo cs, sehingga mereka
kabur. Tiga (3) anggota pasukan -semuanya berasal dari suku Flores,
transmigran asal desa Kamba--berhasil ditangkap. Massa Islam yang marah
langsung mengamuk dan membakar komplek sekolah dan rumah ibadah di sekitar
komplek.

Pada 25 Mei 2000 bantuan massa Islam dari Ampana Kota berkekuatan 7 truk
menuju Poso. Pada saat memasuki Toyado, Kecamatan Tojo pasukan ini bentrok
dengan massa Kristen dari Silanca, Sepe, Tagolu, Batugencu dan Toyado yang
memang siap melakukan penghadangan-penghadangan. Kelompok Putih dipukul
mundur. Desa Toyado kemudian dibakar oleh Kelompok Merah dengan meninggalkan
sebuah masjid. Dua (2) orang tewas dan 16 orang luka-luka dari Kelompok
Putih. Kelompok Putih dari Parigi berusaha membantu memulihkan keamanan dan
menawarkan kemungkinan pemindahan ibukota ke Parigi untuk sementara. Pemda
Poso menolak tawaran ini dan menyatakan masih sanggup memulihkan keamanan
dan melindungi kaum muslimin Poso. Pada hari yang sama, di desa
Sintivulembah, Tagolu mulai terjadi penculikan dan pembunuhan masyarakat
minoritas muslim.

Pada 26 Mei 2000, pasukan Kelompok Merah dari arah Sanginora mencoba
memasuki Poso dari arah barat (Poso Pesisir). Pasukan Merah minta agar
pos-pos penjagaan dikosongkan karena mereka akan lewat secara damai. Rapat
Tripika menyetujui permintaan ini. Kediaman Bupati sendiri, karena kondisi
keamanan yang semakin gawat dipindahkan ke Kodim Poso. Sementara itu di
desa-desa Toyado dan Tongko pembakaran rumah-rumah muslim oleh pasukan
Kelompok Merah dari Tagolu masih berlangsung.

Pada 27 Mei 2000 terjadilah bentrokan besar secara frontal antara pasukan
Merah dari Sanginora yang melintasi Poso Pesisir. Pasukan Merah telah
melanggar perjanjian dengan Tripika setempat karena melakukan penyerangan
lebih dulu di Mapane yang dilanjutkan dengan pembakaran tiga (3) rumah
penduduk muslim. Pasukan Merah gagal memasuki kota Poso karena dipukul
mundur Pasukan Putih. Mereka melampiaskan kemarahannya dengan membakar
rumah-rumah penduduk muslim di sepanjang poros jalan Trans Sulawesi.

Pada 28 Mei 2000 sejumlah pengungsi Poso Pesisir yang datang ke Pondok
Pesantren Al Chairat sangat marah mendengar penuturan tentang ulah Kelompok
Merah yang membakar seluruh rumah di desa-desa Tabalu, Bega, Tiwaa,
Tambarana, Kasiguncu, Mapane. Siangnya, pengurus Pondok Pesantren (Ponpes)
Walisongo mempertanyakan kepada Pasukan Merah di Tagolu, mengapa mereka
diteror dan tidak diizinkan aparat untuk mengungsi ke Kompi 711 Kawua. Massa
Islam yang akan mengungsi dicegah Camat dan Kapolsek Lage. Pimpinan Pasukan
Merah, Tibo, mengizinkan mereka mengungsi. Namun tak lama kemudian Pasukan
Merah menyerang desa Sintivulembah, menyandera kaum perempuan dan anak-anak,
dan mulai melakukan pembantaian terhadap kaum pria muslim. Demikian pula di
Ponpes Walisongo, sebanyak 70 orang pengurus dan santrinya dibantai di dalam
masjid oleh Kelompok Merah. Wanita dan anak-anak yang belum sempat
menyingkir mengalami perkosaan dan pelecehan seksual. Di beberapa tempat di
poros jalan Poso-Pendolo Mangkutana terjadi penghadangan dan penyanderaan
warga muslim yang menggunakan kendaraan pribadi dan umum. Atas peristiwa
yang mengerikan dan menggegerkan ini, sebanyak 12 organisasi muslim mengutuk
tindakan Pasukan Merah, meminta aparat keamanan untuk menindak para perusuh
dan meminta bantuan Pangdam Wirabuana untuk segera mengirim pasukan ke Poso.

Pada 29 Mei 2000 terjadi pertempuran yang sengit di Tokorondo antara Pasukan
Merah dan Pasukan Putih dari Parigi dan Ponpes Al Chairat Palu. Sebanyak dua
(2) orang muslim tewas. Pertempuran masih berlangsung hingga 30 Mei 2000 di
Poso Pesisir. Berdasarkan saksi-saksi mata, Pasukan Merah menggunakan
senjata organik M-16 dan Thomson, 2 buah helikopter warna putih yang
menembaki Pasukan Putih dari pesawat. Pada hari ini pula kota Poso dikepung
dari empat penjuru, yaitu Tegalrejo, Sayo, Kayamanya dan kawasan BTN/PDAM.
Kota Poso sangat mencekam. Terjadi eksodus besar-besaran warga Poso ke
Ampana Kota, Kepulauan Togean, Parigi dan Gorontalo lewat laut dengan
menggunakan perahu Katinting, kapal barang dan kapal tradisional. Konon,
bala bantuan Brimob dari Makassar tertahan di Tentena.

Pada 31 Mei 2000 kota Poso semakin mencemaskan karena diserbu sebanyak
7.000 - 8.000 orang Pasukan Merah. Massa Kelompok Putih yang masih tersisa
sekitar 100 orang bersama pasukan dari Kodim dan Polres mencoba melawan.

Pada 1 Juni 2000, ditemukan sebanyak 28 mayat tanpa kepala dan tanpa kaki
yang sudah membusuk di dalam masjid di Tagolu desa Sintuvulembah.
Pertempuran masih terjadi di Kalora. Permukiman penduduk muslim dibakar
hingga penghuninya mengungsi ke Parigi. Kelompok Merah seolah-olah sudah
hampir menaklukkan kota Poso. Aparat mulai menerapkan siaga tertinggi dengan
perintah tembak di tempat terhadap pelaku kerusuhan.

Pada 2 Juni 2000 Pasukan Merah berkekuatan 9 truk memasuki Poso dipimpin
tokoh Pejuang Pemulihan Kota Poso, Ir. AL Lateka. Pasukan Putih dipimpin
Habib Saleh Al Idrus melawan sekuat tenaga. Ketika kedua pimpinan pasukan
berhadapan, Habib berhasil memukul Lateka dengan rotan pada tengkuknya
sehingga mati. Ini menyebabkan moral Pasukan Merah jatuh dan mundur kembali.
Kota Poso kembali dikuasai Pasukan Putih. Penyerangan Pasukan Merah sejak
peristiwa itu hanya bersifat sporadis, terutama di Kecamatan Lage, Desa
Toini dan Sayo, Meko, Boe, Toinasa di Pendolo.

Upaya-upaya pemulihan keamanan dilakukan oleh Pasukan Brimob dari Kelapa Dua
Jakarta (menggunakan sandi Operasi Sadar Maleo) dan bantuan Pasukan TNI
Zipur dan Zeni dari Makassar (menggunakan sandi Operasi Cinta Damai). Daerah
operasi mencakup seluruh kota dan sekitarnya, seperti Poso, Parigi dan
Ampana Kota, Tentena, desa Kelei dan Beteleme. Selama 2 bulan operasi,
Pasukan Merah berhasil dilumpuhkan.

Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid III lihat Tabel 4 Lampiran.

IV. ANATOMI KONFLIK

Konflik sosial yang berkesinambungan di kota Poso dapat dianalisis dengan
kerangka teori "anatomi 4 faktor". Keempat faktor tersebut adalah sebagai
berikut:


Faktor yang memungkinkan terjadinya konflik (facilitating factor), yaitu
sentimen atas keberagaman suku dan agama antara penduduk asli di satu pihak
dan kaum pendatang di lain pihak;
Faktor penyebab utama (core of the problem) yaitu termarginalisasikannya
secara sosial-ekonomi-politik kelompok masyarakat yang merasa pentingnya
keseimbangan antara kelompok Islam dan Kristen;
Faktor yang berfungsi sebagai penyulut konflik sosial (fuse factor) yaitu
pertarungan elit politik setempat; dan
Faktor yang membuat penumpukan kejengkelan (grudges factor), yaitu
keterlibatan militer dalam konflik sosial antar warga.



1. Sentimen atas keberagaman suku dan agama antara penduduk asli di satu
pihak dan kaum pendatang di lain pihak



Sentimen atas dasar suku dan agama antara penduduk asli dan pendatang sangat
mudah tersulut karena beberapa fakta berikut ini sangat dirasakan oleh
pihak-pihak terkait, terutama masyarakat Poso: (a) adanya pembacokan seorang
muslim di dalam masjid oleh seorang Kristen yang menyulut Kerusuhan Jilid I;
(b) pemusnahan dan pengusiran suku-suku pendatang seperti Bugis, Jawa,
Gorontalo dan Kaili yang beragama Islam pada waktu Kerusuhan Jilid III
terjadi; (c) praktek-praktek pemaksaan agama Kristen pada masyarakat muslim
di daerah-daerah pedalaman, terutama di Tentena, Dusun III Lena, Sangira,
Toinasa, Boe dan Meko mengindikasikan bahwa upaya-upaya dari agama tertentu
dilakukan secara sistematis; (d) penyerangan Kelompok Merah dengan
menggunakan sandi simbol-simbol perjuangan agama Kristiani pada Kerusuhan
Jilid III; (e) pembakaran rumah-rumah penduduk muslim oleh Kelompok Merah
pada Kerusuhan Jilid III, sementara pada Kerusuhan Jilid I dan Jilid II
terjadi pembakaran rumah penduduk baik oleh Kelompok Putih maupun Kelompok
Merah di kota Poso; (f) terjadinya pembakaran rumah-rumah ibadah (gereja dan
masjid), sarana pendidikan (milik umat kristiani maupun milik pesantren);
(g) pembakaran rumah-rumah penduduk asli Poso di Lambogia, Sayo, Kasintuvu;
(h) pengerahan massa Pasukan Merah yang berasal dari suku Flores, Toraja dan
Manado/Minahasa; (i) terpecahnya warga Poso menjadi Kelompok Putih (ummat
Islam) dan Kelompok Merah (ummat Kristen); (j) adanya pelatihan milisi di
desa Kelei yang telah berlangsung lama sebelum meledaknya Kerusuhan Jilid
III.

2. Termarginalisasikannya secara sosial ekonomi politik kelompok masyarakat
yang merasa pentingnya keseimbangan antara kelompok Islam dan Kristen

Banyak orang Pamona, orang Bungku, orang Mori, orang Tojo/Una-una punya
akses luas terhadap pendidikan modern dan leluasa memasuki berbagai
lembaga -lembaga politik, ekonomi dan pemerintahan. Banyak di antara mereka
menjadi elit birokrasi pemerintahan, elit politik di Poso maupun di Palu.
Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang dari Gorontalo, Minahasa,
Toraja, Bugis, Makassar dan Jawa.

Namun, tidak demikian halnya dengan penduduk di daerah-daerah perdesaan.
Secara kuantitatif, jumlah orang-orang ini jauh lebih banyak dibandingkan
dengan orang-orang yang diuraikan di atas. Secara ekonomi mereka ini
tersegregasi ke dalam sektor informal yang tertinggal, tersisih dan
terkebelakang, baik secara harizontal karena persaingan yang dipandang
kurang "fair" dengan para pendatang di perkotaan, maupun secara vertikal
dengan dicaploknya lahan-lahan mereka atas dasar konsesi Hak Penguasaan
Hutan (HPH), perkebunan besar (seperti kelapa sawit), usaha-usaha eksplorasi
dan pertambangan, program transmigrasi dan penetapan kawasan konservasi
untuk pelestarian lingkungan. Kelompok masyarakat ini harus tertekan dalam
masa yang panjang tanpa dapat menyuarakan hati nurani mereka karena berbagai
tekanan. Menjadi kenyataan yang menyakitkan bahwa orang-orang Pamona,
Ampana, Bungku, Mori, Lore dan Tojo Una-una sebagai pewaris sah tanah
leluhur mereka justru hidup dalam kesusahan. Mereka ini sebagian besar
berlatar belakang pendidikan rendah, dengan pekerjaan pada sektor agraris
dengan teknologi yang apa adanya, untuk tidak mengatakan tanpa mengenal
teknologi. Migran dari Gorontalo, Bugis/Makassar, Toraja, dan transmigran
dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur juga mengalami
hal yang kurang lebih sama.

Sejak 1998an rakyat mulai berani memprotes ketika tanah mereka diambil alih
untuk proyek-proyek pembangunan. Di Bungku (sejak tahun 2000 sudah
dimekarkan menjadi Kabupaten Morowali) ribuan petani mengadakan perlawanan
terhadap perkebunan kelapa sawit PT Tamako Graha Krida karena tanah mereka
dicaplok untuk perkebunan kelapa sawit. PT Inco, juga di Bungku, perusahaan
tambang nickel yang saham mayoritasnya dimiliki Inco Ltd. dari Kanada
menghadapi perlawanan dari penduduk asli di desa Bahumatefe, karena lahan
mereka diaku sebagai bagian dari areal konsesi PT Inco. Perlawanan penduduk
asli Bahumatefe juga diikuti oleh perlawanan transmigran dari Jawa, Bali dan
Lombok, yang menolak rencana pemindahan dari permukiman mereka di Desa One
Pute Jaya, karena permukiman yang didirikan sejak tahun 1991 itu masuk ke
dalam areal konsesi PT Inco. Di Kecamatan Lore Utara, orang Katu berhasil
berjuang memperoleh kembali pengakuan atas wilayah tradisional mereka yang
diambil alih oleh Pemerintah untuk dijadikan Taman Nasional Lore Lindu, di
mana selama lebih dari 20 tahun terakhir Pemerintah memaksa untuk
memindahkan mereka.


3. Pertarungan elit politik setempat yang memperebutkan posisi-posisi
strategis



Sejak 1998, pertarungan elit politik setempat kerap terpolarisasi ke dalam
kutub-kutub berdasarkan sentimen agama. Ini mengindikasikan telah terjadinya
perebutan jabatan-jabatan strategis di dalam birokrasi pemerintahan seperti
Bupati dan Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda), Kepala Dinas, Camat, dan
sebagainya pada Pemerintah Kabupaten Poso. Mobilisasi dukungan rakyat
terhadap pencalonan Bupati dan Sekwilda selalu di dasarkan atas sentimen
agama, baik dari pihak-pihak yang mengatasnamakan ummat Islam (Kelompok
Putih) maupun ummat Nasrani (Kelompok Merah). Mobilisasi dukungan dilakukan
berlangsung sangat intensif dari sejak di kota hingga ke desa-desa dan
kampung-kampung.

Secara sadar atau tidak, mobilisasi dukungan politik semacam ini ikut andil
dalam mengkristalnya sentimen-sentimen keagamaan secara dangkal. Seolah-olah
pertarungan politik lokal adalah pertentangan antara pemeluk-pemeluk agama
yang berbeda.

Ancaman salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulteng dari Fraksi PP misalnya
menunjukkan hal itu. Waktu itu anggota yang bersangkutan mengancam bila
Damsyik Ladjalani tidak dipromosikan sebagai Sekwilda Kabupaten Poso akan
terjadi kerusuhan. Apakah ada korelasi keduanya, tidak ada yang tahu, namun,
kenyataannya Poso mengalami kerusuhan pada 15 April 2000. Dan Damsyik waktu
itu memang tidak dipromosikan, karena diangkat menjadi Wakil Ketua Bappeda
Provinsi Sulteng di Palu.

4. Keterlibatan militer dalam konflik sosial antar warga


Sejauh ini, telah sebanyak 29 orang anggota TNI/Polri menjalani pemeriksaan
yang intensif oleh Polisi Militer sehubungan dengan Kerusuhan Poso yang
terakhir. Di antara 7 (tujuh) orang yang teridentifikasi kuat
keterlibatannya dalam kerusuhan tersebut, 2 (dua) orang merupakan perwira
berpangkat kapten TNI. Keterlibatan anggota TNI/Polri perlu dicermati karena
sangat berbeda dengan dua kerusuhan sebelumnya.

Pada kerusuhan ketiga, skala, metode dan korban kerusuhan meningkat sangat
tajam. Ini antara lain tercermin dari adanya kenyataan-kenyataan sebagai
berikut: Pertama, dibandingkan dengan kerusuhan-kerusuhan sebelumnya,
kerusuhan ketiga berlangsung dalam skala kekerasan yang jauh lebih sadis dan
biadab, dalam kurun waktu yang jauh lebih lama, dan dengan cakupan daerah
yang jauh lebih luas.

Kedua, pada kerusuhan ketiga metode kekerasan ketiga yang digunakan jauh
lebih canggih dengan persiapan-persiapan yang jauh lebih terencana. Pada
kerusuhan pertama dan kedua, kekerasan yang terjadi semata-mata ditandai
dengan penggunaan senjata tajam, rakitan, benda-benda keras dan
pembakaran-pembakaran. Pada kerusuhan ketiga, selain alat-alat untuk
kekerasan seperti tersebut di atas, juga digunakan senjata api, penculikan
disertai pembunuhan, pembuangan mayat di Sungai Poso, penyanderaan dan
penguburan massal. Salah satu sumber menyebutkan bahwa pasukan Kelompok
Merah diperkirakan sebanyak 7.000 orang, sebagian di antaranya menggunakan
senjata organik standar militer, seperti jenis M 16 dan Thomson. Juga
dilaporkan terjadinya perkosaan dan pelecehan seksual terhadap kaum
perempuan.

Ketiga, korban kerusuhan ketiga sangat, sangat banyak. Korban yang
teridentifikasi menyebut lebih dari 2.000 orang, 400 orang di antaranya
mengapung di sungai tanpa kepala atau anggota tubuh lainnya. Rumah yang
dibakarpun jauh melebihi jumlah korban pada kerusuhan pertama dan kedua.

Ketidak netralan militer juga tampak dari menjelang Kerusuhan Jilid III di
mana ketika diminta konfirmasi kepada Tripika Kecamatan Pamona Utara tentang
adanya rencana penyerangan Kelompok Merah ke kota Poso dibantah. Informasi
yang disampaikan kepada masyarakat Poso ini baru saja dilakukan, ketika
beberapa jam kemudian ternyata terjadi penyerangan Pasukan Kelelawar
pimpinan Fabianus Tibo. Kalau pihak militer pada tingkat kecamatan jujur dan
netral, kenyataan semacam ini pasti tidak terjadi.

Indikasi lainnya adalah ditemukannya peluru jenis M 16 bertuliskan Yonif 711
dari tas anggota masyarakat, diketahuinya anggota Kompi B 711 membiarkan
kelompok Pasukan Merah melakukan penyiksaan warga desa, keterlibatan
Kapolsek Pamona Utara waktu itu dalam penganiayaan H. Dawi dan pimpinan
Muhammadiyah Abdullah Sutari dan pembantaian warga Pondok Pesantren
Walisongo dan masyarakat Sintuvulembah karena tidak adanya upaya-upaya
pencegahan ketika pembunuhan massal diketahui.

V. PENUTUP


Keberagaman sebenarnya ibarat pisau yang bermata dua. Di satu sisi merupakan
suatu alat yang dapat memberikan kemudahan dan bahkan menyelesaikan
masalah-masalah nyata. Di lain pihak, pisau dapat dipakai untuk membunuh
siapapun. Keberagaman di negara-negara maju telah menjadi suatu kekuatan
yang luar biasa karena adanya kesamaan visi dan tujuan ke depan mengenai
masyarakat seperti apa yang ingin dicapai dan adanya kesepakatan mengenai
cara-cara untuk merealisasikan visi dan mencapai tujuan. Terdapat suatu
keengganan untuk mengakui tentang keberagaman atas suku dan agama di
Indonesia di masa lalu. Seolah-olah dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan
sedikit penataran, semua masalah keanekaragaman suku dan agama ini selesai.

Masyarakat Poso yang menggunakan sintuvu maroso (secara harfiah artinya
persatuan yang kuat) sebagai tali pengikat menyadari keanekaragaman ini.
Secara sosial, mereka selalu mengatakan kita sei sakompo (kami semua
bersaudara). Namun, konflik yang berkesinambungan telah menjelaskan pada
semua pihak bahwa konsep untuk bersatu saja ternyata tidaklah memadai.

Kerusuhan Poso merupakan malapetaka bagi semua pihak. Sentimen keagamaan
sejak itu bukannya hilang, melainkan justru semakin membara, ketika berbagai
kenyataan selama serial kerusuhan diceritakan dari satu pihak ke pihak lain.
Tokoh-tokoh agama mengeluarkan pernyataan keras mengenai kerusuhan Poso,
terutama Kerusuhan Poso Jilid III. Bahkan seorang dosen Fakultas Hukum
Universitas Tadulako yang juga Koordinator Front Solidaritas Islam
Revolusioner menyatakannya sebagai moslem cleansing (pembasmian orang
Islam). Beberapa pihak menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan, karena
kebiadaban dan kesadisannya yang luar biasa.

Dikawatirkan, tragedi kemanusiaan ini akan berlanjut. Bila ini terjadi,
kekhawatiran akan terciptanya malapetaka akbar di kemudian hari bukanlah
tanpa alasan. Ini mengingat kurang memadainya perhatian berbagai pihak baik
pada tingkat kabupaten, provinsi dan apalagi nasional terhadap kerusuhan
berantai yang hingga saat ini belum juga berakhir.

Beberapa pelaku kerusuhan sudah ditangkap dan bahkan sudah divonis hukuman
mulai dari 1-2 tahun hingga hukuman mati, terutama terhadap tiga pelaku
utama Pasukan Kelelawar. Bara dendam pihak-pihak yang tidak rela atas
putusan ini bukan tidak mungkin menjadi api yang sewaktu-waktu berkobar
lagi. Bila ini terjadi, serial kerusuhan Poso akan merupakan bibit-bibit
menuju disintegrasi sosial yang berkepanjangan, yang pada gilirannya akan
menciptakan disintegrasi bangsa.

Daftar Pustaka:

Anto Sangaji, Beberapa Catatan Mengenai Kerusuhan di Poso, 26 Juli 2000.
Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Respon Militer Terhadap
Konflik
Sosial di Poso, November 2000.
Kabupaten Poso Dalam Angka 1998, Pemerintah Daerah Kabupaten Poso, 1998.
Klipping Surat Kabar Mercusuar terbitan Palu dari 1998 - 2001.
Klipping Tabloid MAL terbitan 2000-2001.

LAMPIRAN

Tabel 1. Komposisi Penduduk Kabupaten Poso

No.

Kecamatan
 Jumlah Penduduk
 AgamaMayoritas

Suku

1.
 Poso Kota
 41.875
 Islam (55%)

Kristen (42%)
 Pamona, Mori, Lore, Bungku, Tojo, Una-una, Ampana, Minahasa, Toraja, Bugis,
Makassar, Gorontalo,dll.

2.
 Poso Pesisir
 31.505
 Islam (45%) Kristen (42%)
 Pamona, Mori, Lore, Bugis, Jawa, Bali

3.
 Pamona Selatan
 24.608
 Kristen (70%)
 Pamona, Bugis, Jawa, Bali

4.
 Pamona Utara
 30.793
 Kristen (90%)
 Pamona, Bugis, Jawa

5.
 Lembo
 15.479
 Kristen (79,47%)
 Mori, Jawa, Bugis

6.
 Mori Atas
 12.305
 Kristen (87%)
 Mori, Pamona, Bugis, Jawa

7.
 Lage
 15.841
 Kristen (72%)
 Pamona, Bada, Ampana

8.
 Lore Utara
 13.017
 Kristen (79,65%)
 Lore, Toraja, Jawa, Bugis

9.
 Lore Selatan
 7.521
 Kristen (96,45%)
 Bada, Bugis

10.
 Ampane Tete
 15.841
 Islam (95%)
 Ampana, Pamona, Gorontalo, Luwuk, Bugis

11.
 Ampana Kota
 25.704
 Islam (95%)
 Ampana, Tojo, Una-una, Pamona, Mori, Minahasa, Bugis, Gorontalo

12.
 Tojo
 13.017
 Islam (80,63%)
 Tojo, Mori, Pamona, Bugis, Jawa, Gorontalo

13.
 Ulubongka
 11.648
 Islam (71,47%)
 Taa, Gorontalo, Ampana, Tojo, Bugis, Pamona, Mori

14.
 Una-una
 17.730
 Islam (99,5%)
 Una-una, Ampana, Gorontalo, Bugis, Bajo

15.
 Walea Kepulauan
 12.215
 Islam (97,48%)
 Ampana, Bugis, Kaili, Gorontalo



Sumber: Anto Sangaji, Beberapa Catatan Mengenai Kerusuhan di Poso, 2000, h.
2.


Tabel 2. Korban Kerusuhan Poso Jilid I

No.

Kategori Korban

Keterangan

I.
 Korban Jiwa

a.
 Luka Berat

  1. Anngota Polri
 Tidak ada

  2. Anggota TNI AD
 Tidak ada

  3. Anggota Masyarakat
 7 orang

b.
 Luka Ringan

  1. Anggota Polri
 17 orang

  2. Anggota TNI AD
 Ada (data tidak jelas)

  3. Anggota Masyarakat
 101 orang


II.
 Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial

a.
 Rumah Ibadah

  1. Gereja
 Tidak ada

  2. Mesjid
 Tidak ada

b.
 Pemukiman Penduduk
 81 Rumah (muslim-kristen) dibakar dan dirusak *

c.
 Kendaraan Bermotor
 10 mobil - 3 motor dibakar

d.
 Toko-Bengkel-Hotel-Wartel-Terminal
 7 Toko dirusak dan dibakar, 5 hotel dibakar dan 3 dirusak, Terminal
dibakar, 2 Diskotek dibakar dan 2 rumah makan


* Data riel kerusakan kedua belah pihak sulit didapatkan. Sementara kerugian
materiil secara umum diperkirakan Rp 6 milyar.

Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik Sosial di Poso,
Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November 2000, h. 90.
Tabel 3. Korban Kerusuhan Poso Jilid II

No.

Kategori Korban

Keterangan

I.
 Korban Jiwa

a.
 Luka Berat

  1. Anngota Polri
 Tidak ada

  2. Anggota TNI AD
 Tidak ada

  3. Anggota Masyarakat
 32 orang


II.
 Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial

a.
 Rumah Ibadah

  1. Gereja
 4 Gereja dibakar dan dirusak (Pniel, Katolik, Pantekosta dan Advent)

  2. Mesjid
 Tidak ada

b.
 Pemukiman Penduduk
 Lebih dari 130 Rumah Kristen dibakar, dirusak dan dijarah

c.
 Kendaraan Bermotor
 1 Mobil dibakar

d.
 Toko-Bengkel-Hotel-Wartel
 Tidak ada


III.
 Sarana Pendidikan

  a. Pondok Pesantren/Madrasah
 Tidak ada

  b. Lembaga Pendidikan Kristen
 1 SMA, 1 SMP dan 1 SD Kristen dibakar

  c. Sarana Pendidikan Umum
 Tidak ada

  Kantor Pemerintah
 1 Fasilitas Pemda

  Sarana Pemukiman dan Fasos Polri

  a. Asrama
 Sebagian asrama Polres Poso dibakar

  b. Aula Bhayangkara
 1 buah dibakar

  c. Rumah Tinggal
 Tidak ada

  d. Posyandu/Poliklinik
 Tidak ada


Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik Sosial di Poso,
Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November 2000, h. 91.

Tabel 4. Korban Kerusuhan Poso Jilid III

No.

Kategori Korban

Keterangan

I.
 Korban Jiwa

a.
 Meninggal dunia

  1. Anggota Polri
 1 orang

  2. Anggota TNI AD
 1 orang

  3. Anggota Masyarakat
 ± 2.000 orang


b.
 Luka Berat

  1. Anggota Polri
 2 orang

  2. Anggota TNI AD
 Tidak ada

  3. Anggota Masyarakat
 88 orang


c.
 Luka Ringan

  1. Anggota Polri
 2 orang

  2. Anggota TNI AD
 Tidak ada

  3. Anggota Masyarakat
 95 orang


d.
 Pemerkosaan dan Pelecehan seksual
 6 wanita diperkosa dan 14 wanita mengalami pelecehan seksual


II.
 Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial

a.
 Rumah Ibadah

  1. Gereja
 7 Gereja dibakar dan 3 dirusak

  2. Mesjid
 6 Masjid dan 1 Mushalla dibakar

b.
 Pemukiman Penduduk
 3.492 rumah dibakar dan 635 rumah dirusak-sebagian besar milik orang Islam

c.
 Kendaraan Bermotor
 10 Mobil dan 10 Motor dibakar

d.
 Toko-Bengkel-Hotel-Wartel
 17 toko, 3 rumah makan dan 14 bengkel dibakar

e.
 Sarana Pendidikan

  a. Pondok Pesantren/Madrasah
 2 Pondok Pesantren dibakar

  b. Lembaga Pendidikan Kristen
 Tidak ada

  c. Sarana Pendidikan Umum
 2 bangunan SD dibakar


f.
 Kantor Pemerintah
 3 bangunan Balai Desa dan 3 Polindes dibakar

g.
 Sarana Pemukiman dan Fasos Polri

  a. Asrama
 3 bangunan Asrama dibakar dan 3 Asrama dirusak

  e. Posyandu/Poliklinik
 1 bangunan dirusak

----- Original Message -----
From: "BUD'S" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, September 27, 2006 4:20 PM
Subject: Re: [ppiindia] Tibo dkk : Eksekusi Kami Didepan Umum!!

>Lho, dari awal anda kan mengatakan bahwa daerah timur itu sering rusuh
karena disana Mayoritasnya non-Muslim, tapi dari >data2 Depag, ternyata
disana Mayoritanya Muslim, satu pertanyaan sederhana yang belum anda jawab :
DATA ANDA >DARI MANA ??? ".









Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses
     using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin 
           accept no liability for any loss or damage arising
               from the use of this E-Mail or attachments.


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke