Silahkan anda baca laporan komplit plit di bawah, sebagai jawaban atas pertanyaan sederhana anda. Berikut kronologis awalnya.
Komposisi penduduk KABUPATEN POSO juga ada di bawah, lebih detail dari DATA DEPAG or Tempo yang anda sodorkan. Dari Tabel di bawah diperoleh KOMPOSISI JML PENDUDUK KABUPATEN POSO sebagai berikut : Muslim= 49.25%, Kristen = 50.75%, beragama lainnya = 0.45% Soal janin yg dibelah, barangkali anda mencampuradukan kerusuhan Poso dengan kerusuhan Sampit... Dayak versus Madura.... Selamat membaca.... Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik Sosial di Poso, Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November 2000, h. 92 http://ristek.tripod.com/rubrik/dep_2/poso_1.htm#tabel_1 SERIAL KONFLIK SOSIAL DI POSO: LUBANG MENUJU DISINTEGRASI BANGSA? I. PENDAHULUAN Kabupaten Poso mencakup wilayah dari arah tenggara ke barat daya dan melebar dari arah barat ke timur dan sebagian besar berada di daratan seluas 29.923,88 km2 atau 43,98% dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tengah. Wilayah lainnya mencakup laut dan sebanyak kurang lebih 81 pulau yang sudah bernama, 40 pulau di antaranya berpenghuni. Tidak heran bila dibadingkan dengan luas kabupaten lainnya di Sulawesi Tengah, Poso mempunyai kawasan paling luas. Alam yang menghampar di kota Poso-240 km arah timur dari kota Palu (ibukota Provinsi Sulawesi Tengah) niscaya merupakan salah satu dari yang terindah di sepanjang garis katulistiwa di Indonesia. Di kota ini terdapat danau di Tentena yang memukau, Kepulauan Togean yang fantastik dan Teluk Tomini yang merupakan kawasan spesifik dalam gugusan garis edar matahari. Kekayaan sumberdaya alam Poso baik di dalam laut di kawasan Teluk Tomini, Sungai dan Danau Poso maupun kesuburan lahan serta hasil hutan dan tambangnya sungguh tidak ternilai. Salah satu dari kekayaan hasil hutan yang sangat dibanggakan dan penghasil terbesar di Indonesia adalah kayu hitam (ebony), selain kayu besi, kayu agathis, meranti, damar dan rotan. Lambang daerah Kabupaten Poso menggambarkan sebuah rumah yang disinari oleh bintang (semangat keagamaan yang tinggi) dan dikelilingi oleh padi dan kapas (lambang kemakmuran) di atas daratan yang bergelombang, lautan yang tenang dan pegunungan yang damai. Di bawah lambang ini tertulis sintuwu maroso (artinya: persatuan yang kuat). Di dalam kehidupan sehari-hari, semangat yang ingin ditampilkan dalam lambang itu dirasakan kurang lebihnya sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat Poso ketika itu dalam waktu yang lama. Ini berlangsung hingga tibanya era reformasi. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kerusuhan yang melanda berbagai wilayah bumi Nusantara tampaknya tak luput pula menghampiri Poso. Kerusuhan dan konflik sosial yang terjadi di Kabupaten Poso diduga lebih bernuansa suku dan agama. Selain itu, suasana politik setempat saat itu sangat mempengaruhi polarisasi antar kelompok yang bermuara pada kepentingan para elit politik setempat selain peranan militer. Lambannya penanganan oleh aparat memungkinkan konflik yang sebenarnya bisa diredam lebih dini menjadi berkembang semakin luas. Implikasinya adalah hilangnya jiwa dan harta benda dalam jumlah besar. Kerusuhan sosial di Poso terjadi secara berkesinambungan. Kerusuhan pertama (pengamat, peneliti, pers dan masyarakat setempat populer menyebutnya dengan Jilid I) berlangsung 24 Desember 1998, kerusuhan sosial kedua (Jilid II) berlangsung pada 16 April 2000, dan kerusuhan ketiga (Jilid III) terjadi hanya selang sebulan kemudian, yaitu pada 16 Mei 2000. II. KEANEKARAGAMAN: BERKAH ATAU ANCAMAN? Kabupaten Poso mempunyai penduduk yang sangat beragam. Beberapa suku asli mendiami kawasan ini, antara lain suku Pamona, Lore, Mori, Bungku dan Tojo/Una-una. Suku-suku pendatang dalam jumlah yang besar berasal dari Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar dan Toraja) dan Sulawesi Utara (Gorontalo dan Minahasa), di samping puluhan ribu pendatang yang secara terencana didatangkan Pemerintah melalui program transmigrasi dari Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Suku asli Pamona merupakan penduduk mayoritas di Kecamatan Pamona Utara, Kecamatan Pamona Selatan dan Kecamatan Lage. Suku Lore adalah suku mayoritas di Kecamatan Lembo dan Kecamatan Mori Atas. Suku Ampana merupakan suku mayoritas di Kecamatan Ampana Kota, Kecamatan Ampana Tete dan Una-una. Suku Tojo merupakan suku mayoritas di Kecamatan Tojo. Suku Tojo dan Ampana banyak juga yang tinggal di Kecamatan Ulubongka. Di Kecamatan Poso Kota dan Kecamatan Poso Pesisir komposisi penduduk atas dasar suku jauh lebih beragam, baik penduduk asli maupun pendatang dari luar kabupaten dan provinsi. Di kalangan suku-suku asli, orang Pamona, Lore dan Mori dikenal sebagai penganut agama Kristen (umumnya Protestan). Sementara orang Ampana dan Tojo/Una-una dikenal sebagai penganut Islam. Kaum pendatang Bugis/Makassar dan Gorontalo dan transmigran dari Jawa dan sebagian Nusa Tenggara adalah penganut Islam. Sementara penganut Kristen di kalangan pendatang berasal dari Toraja dan Minahasa, dan di kalangan transmigran berasal dari sebagian Nusa Tenggara dan Jawa. Orang-orang Bali di manapun adalah penganut Hindu, demikian pula di Poso. Komposisi penduduk menurut kecamatan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1 (Lampiran). Perbedaan-perbedaan ini selama kurun waktu yang lama tidak mempunyai masalah apapun. Dalam suasana seperti ini, persaingan antar etnik atau antar agama dapat dikatakan hampir tidak ada. Penduduk asli dan pendatang hidup berdampingan secara damai hingga kurang lebih tahun 1990an. III. KRONOLOGI KONFLIK 1. Konflik Sosial Jilid I Kerusuhan pertama (populer dengan sebutan Jilid I) bermula pada 24 Desember 1998. Secara harfiah, kerusuhan dipicu oleh pembacokan Ahmad Ridwan oleh Roy Runtu Bisalembah, seorang pemuda Kristen di kampung Lambogia. Namun, jauh sebelum peristiwa ini terjadi, ada beberapa fakta yang perlu diungkap karena merupakan bibit-bibit permusuhan antara pihak-pihak yang bertikai. Pada tahun 1992, masyarakat muslim resah karena salah seorang penginjil, Rusli Labolo (semula beragama Islam, kemudian masuk Kristen dan menjadi pendeta) menghujat Muhammad s.a.w., nabinya orang Islam. Pada 15 Februari 1995, sekelompok pemuda Kristen di Madale yang telah dilatih beladiri selama 4-6 bulan melempari masjid dan madrasah di Tegalrejo. Sebagai akibatnya, sebanyak lebih kurang 3000an pemuda Islam dari Tegalrejo dan Lawanga melakukan pembalasan dengan merusak 3 rumah di Madale. Pada 24 Desember 1998 sekelompok pemuda Kristen Lambogia yang mabuk mendatangi kelompok muslim di masjid Pondok Pesantren Darussalam di Kelurahan Sayo. Seorang jemaah, Ahmad Ridwan (21 tahun) yang sedang tidur di masjid, dibacok lengannya oleh Roy Runtu Bisalembah. Sebagai akibatnya, warga Poso menjadi tegang. Masalahnya, suasana keagamaan pada saat itu justru membutuhkan ketenangan. Di satu pihak, umat muslim sedang puasa di bulan Ramadhan, di lain pihak umat Kristiani sedang menjelang Natal. Pada 25 Desember 1998, seusai sembahyang Jum'at massa Islam yang marah karena peristiwa pembacokan ini melakukan aksi pelemparan Toko Lima yang diduga sebagai tempat persembuyian pelaku pembacokan. Massa kemudian bergerak untuk merampas minuman keras dan menghancurkan tempat-tempat hiburan seperti bilyar, panti pijat, toko minuman keras dan hotel, yang dipandang mengganggu suasana ibadah bulan Ramadhan. Pada 26 Desember 1998, suasana semakin mencekam dan memanas. Pada hari ini terjadi tawuran massal yang berlangsung hingga esok harinya. Pada 27 Desember 1998 diadakan pertemuan antara para pemuka agama dan tokoh masyarakat yang bersangkutan untuk mendamaikan kedua kelompok massa yang bertikai. Namun pada hari yang sama, massa Kristen pimpinan Herman Parimo memasuki kota Poso yang menyulut pertikaian sehingga berkobar lagi. Sebanyak 81 buah rumah -sebagian besar milik orang Islam dibakar. Pada 28 Desember 1998 pasukan Kelompok Merah pimpinan Herman Parimo kembali memasuki Poso dan berhasil melewati blokade aparat kepolisian. Masyarakat Kelompok Putih Poso, terutama warga Bonesompe, Kaimanya dan Lawanga dan dari Parigi dengan ribuan massa, sebagian di antaranya dengan menumpang 27 mobil truk, pick-up dan perahu motor, berhasil menghalau pasukan Kelompok Merah dari Poso. Pada 29 Desember 1998 situasi Poso berangsur-angsur aman, meskipun di setiap kelurahan tetap dilakukan penjagaan oleh aparat keamanan dan masyarakat setempat. Di beberapa lokasi pembakaran, api masih terlihat menyala. Pada 30 Desember 1998 aktivitas perekonomian Poso mulai menggeliat yang ditandai dengan semakin ramainya Pasar Sentral Poso dengan pedagang dan angkutan kota. Sebagian warga Poso, meskipun demikian, masih tinggal di pengungsian, di Tentena, Parigi dan Ampana. Konon, dikemudian hari, Herman Parimo ditangkap di Makassar ketika berupaya menemui Pangdam untuk mendapatkan jaminan atas penyerahan dirinya. Setelah melalui proses hukum, Herman Parimo divonis 14 tahun penjara dan diisukan meninggal. Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid I Lihat: Tabel 2 Lampiran. 2. Konflik Sosial Jilid II Jauh sebelum terjadi konflik, proses penjaringan bakal calon Bupati Poso dimulai. Hingga Maret 1999, sejumlah nama masuk dalam nominasi seperti Akram Kamaludin, Abdul Malik Syahadat, Abdul Muin Pusadan, Damsyik Ladjalani, Ismail Kasim. Sementara proses ini berlangsung, terjadi pertemuan antara Yahya Patiro-seorang tokoh Kelompok Merah yang diisukan sebagai salah satu penggerak kerusuhan pertama-dan 50 orang remaja masjid Poso. Usai pertemuan, segerombolan pemuda dengan menggunakan truk mencari Yahya Patiro dan memporakporandakan Hotel Wisata Poso-tempat berlangsungnya pertemuan. Tokoh yang dicari sudah meloloskan diri. Pada April 1999, dilakukan penentuan Bupati Poso. Salah seorang figur terkuat, Abdul Malik Syahadat terlempar dari pencalonan karena tidak ada fraksi yang mencalonkan. Pada minggu kedua Mei 1999 muncul Abdul Muin Pusadan (konon didukung Gubernur Sulsel) dan Eddy Bungkundapu (konon didukung Baramuli) sebagai calon-calon unggulan. Namun salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulteng, Chaelani Umar (FPP) mengatakan, jika aspirasi yang menghendaki Damsyik Ladjalani menjadi Sekwilda Poso diabaikan, Poso yang pernah diguncang kerusuhan bernuansa etnis-agama akan rusuh lagi. Malamnya, terjadi insiden antara dua pemuda Lambogia dan pihak lain di terminal Poso. Ini memicu warga asal Lawanga mendatangi warga Lambogia di depan gereja Pniel menginformasikan akan ada massa dari Kalamanya dan Lawanga. Massa langsung melempari rumah-rumah penduduk Kristen di sekitar gereja. Setelah sempat dikendalikan aparat keamanan, pada keesokan harinya massa datang ke Lambogia lagi meskipun tidak terjadi insiden apapun. Juni 1999, Arief Patanga diberhentikan Gubernur Sulsel dari jabatannya sebagai bupati dan digantikan Haryono, seorang dari kalangan militer, sebagai caretaker, untuk mempersiapkan pemilihan Bupati Poso yang dilaksanakan 30 Oktober 1999. Pemilihan yang demokratis menghasilkan Abdul Muin Pusadan (16 suara) terpilih sebagai Bupati yang baru, sementara Mashud Kasim memperoleh 13 suara dan Eddy Bungkundapu 10 suara. Pada 16 April 2000 sebanyak 25 massa Islam dengan menggunakan truk menuju tengah kota dan menumpahkan minuman keras (yang dirampas dari salah satu rumah di dekat Gereja Sidang Jemaat Allah) ke jalan sambil berteriak-teriak. Malam harinya, terjadi pemusatan massa Islam dan terjadi pembakaran rumah-rumah penduduk Kristen (di Kelurahan Pantoan), kios (setelah isinya dijarah) di Kelurahan Pangajouw Lumenta. Massa Kristen akhirnya terpancing untuk melakukan pembalasan. Terjadi bentrokan antar kedua massa yang berlangsung hinggi esok hari. Kerusuhan ini berlangsung lagi esok harinya, 17 April 2000. Dalam massa Kristen terdapat beberapa orang dengan memakai seragam ala Ninja sambil menantang dengan parang ke arah massa Islam di perempatan terminal Poso. Massa Islam terpancing dan berusaha menyerang. Kedua kelompok saling serang. Upaya peredaan situasi kota Poso dan pencegahan keterlibatan massa dari luar Poso dilakukan. Namun pada siang hari, massa Islam mulai menjarah, membakar rumah penduduk Kristen dan Gereja Pniel, Gedung Serba Guna Jemaat Pniel, Pastori Jemaat Pniel Poso, Bengkel Honda dan pertokoan di sekitar perempatan Tentena. Brimob kewalahan mengendalikan massa. Mereka menembak 2 orang dari massa Islam hingga tewas. Setelah penguburan, massa Islam menuju ke Lambogia dan membakar rumah hunian sebanyak 127 rumah, 2 gereja, gedung SD, SMP, SMU Kristen, Gedung Bayangkari dan sebagian asrama Polres. Pengungsian terjadi secara besar-besaran penduduk Kristen Poso ke arah Madale, Kampompa, Lage, Pamona Utara, Bukit Bambu, wilayah Poso Pesisir dan sebagainya. Sore hari aksi brutal ini berhenti. Terjadi hujan lebat. Esok harinya, 18 April 2000 terjadi aksi pembakaran rumah penduduk di wilayah Kelurahan Lambogia dan Kasintuvu termasuk Gereja Advent Kasintuvu dan pelemparan dan perusakan gereja di Jl. Gatot Subroto. Gubernur Sulsel berupaya untuk meredakan pihak-pihak yang betikai dengan mengunjungi para pengungsi. Ini diikuti dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat setempat. Pada 19 April 2000 ditemukan mayat seorang muslim di Lambogia di puing-puing rumah keluarga Kristen. Massa Islam kembali marah dan berlanjut dengan pembakaran sisa-sisa rumah penduduk warga Kristen di Lambogia dan Kelurahan Kasintivu dan gereja Pantekosta dan gereja di Jalan Sam Ratulangi. Pada tengah hari, terjadi pembunuhan 2 orang Kristen, satu di depan bengkel Honda dan satu lagi di perempatan Tentena. Polisi berhasil memukul mundur massa Islam yang beringas hingga ke masjid Darussalam. Selesai solat Bupati Abdul Muin Pusadan berusaha menenangkan massa dan menghimbau dihentikannya pertikaian. Bahkan seorang ulama kharismatik, H. Amin Lasawedi, ternyata masih dianggap sebagai tokoh baik oleh ummat Islam maupun Kristen dan memohon sang ulama untuk mendo'akan agar Poso kembali aman seperti semula. Namun, 20 April 2000 sebagian massa Islam masih melakukan pemburuan warga Lambogia dan perusakan rumah penduduk dan gereja di Bukit Bambu. Esok harinya, Pangdam Wirabuana tiba di Poso dan melakukan pembersihan palang-palang dan pos-pos di beberapa desa yang dibuat massa Islam. Situasi keamanan dapat dikendalikan hingga dilaksanakannya pertemuan-pertemuan antar berbagai kelompok, tokoh masyarakat maupun pemerintahan, lembaga-lembaga keagamaan terkait di satu pihak dan aparat keamanan di lain pihak. Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid II lihat: Tabel 3 Lampiran. 3. Konflik Sosial Jilid III Dua minggu setelah aksi damai dilakukan, pada bulan Mei 2000 masyarakat Poso dikejutkan dengan beredarnya isu akan adanya penyerangan balik dari Tentena yang merupakan basis Kelompok Merah (Kristen). Arus pengungsi masyarakat Kristen di Poso menuju Tentena, Lembah Napu, Palu dan Manado dari hari semakin deras. Hasil investigasi seorang wartawan selama 9 hari atas kebenaran isu menunjukkan bahwa ternyata terdapat tanda-tanda pengerahan massa Kristen di Bungku Barat, Beteleme, Kolonedale, Tentena, Kelei, Betue, Sanginora dan Poso Pesisir. Laporan bahkan menyatakan di desa Kelei terdapat pelatihan bela diri pasukan Merah dan di Sanginora terdapat penggalian lubang-lubang besar sebanyak tiga buah dengan menggunakan alat-alat berat milik seorang pengusaha Poso. Pada 16 Mei 2000 pecahlah Kerusuhan Sosial Jilid III. Ini dtandai dengan terbunuhnya seorang warga muslim di Taripa dan rencana pembunuhan terrhadap seorang petugas penyuluhan Kecamatan Pamona Utara beserta keluarganya dan terhadap pemilik warung surabaya di Taripa pada 18 Mei 2000. Pada 19 Mei 2000 massa Kelompok Merah (Kristen) mulai melakukan penghadangan-penghadangan terhadap kendaraan umum yang lewat gereja di Taripa. Aparat keamanan berhasil menggagalkan kegiatan ini. Pengungsian warga Kristen semakin gencar, antara 15 dan 20 truk setiap harinya dari kota Poso menuju pusat-pusat konsentrasi Kelompok Merah. Pada 20 Mei 2000, seorang penyusup yang mengikuti latihan bela diri di desa Kelei berhasil lolos dan menyebarkan informasi di terminal bus kota Poso akan adanya penyerangan Kelompok Merah dari arah Tentena. Informasi ini dengan segera menyebar dan meluas di kalangan masyarakat yang menimbulkan keresahan dan kecemasan. Masyarakat mulai menghubungkan akan adanya pengungsian besar-besaran di satu pihak dan adanya rencana penyerangan Kelompok Merah di lain pihak. Masyarakat Islam di Sintuvulembah, Pondok Pesantren Walisongo, Tagolu, Sepe, Silanca dan Toyado mulai diintimidasi oleh oknum-oknum masyarakat Kelompok Merah. Pada 23 Mei 2000 malam, Kapolres Poso melakukan pertemuan dengan semua komponen masyarakat dan pemerintah daerah. Tiba-tiba diketahui informasi bahwa pemuda Islam di Kalamanya sudah turun ke jalan karena malam itu akan ada penyerangan Kelompok Merah. Peserta rapat berusaha mengkonfirmasikan informasi ini kepada Tripika (Camat, Koramil, Kapolsek) di Pamona Utara. Jawabannya, tidak benar ada pemusatan massa di Tentena dan tidak benar akan ada penyerangan dari arah Tentena. Berdasarkan informasi ini, Kapolres meminta Pemda membuat pengumuman kepada masyarakat. Mobil penerangan yang berkeliling ke seluruh penjuru kota pada malam itu menginformasikan tidak benarnya rencana penyerangan terhadap kota Poso. Masyarakat kota Poso percaya informasi itu karena Pemda sendiri yang mengumumkan. Masyarakat kembali tenang. Namun pada 24 Mei 2000 dinihari muncul pasukan penyerang sebanyak 12 orang dengan seragam ala Ninja dari depan Pasar Sentral menuju Kelurahan Kalamanya. Pasukan ini kemudian dikenal sebagai Pasukan Kelelawar atau Pejuang Pemulihan Keamanan Poso di bawah pimpinan Fabianus Tibo (55 tahun) melewati 7 pos penjagaan siskamling (sistem keamanan lingkungan). Tidak satupun petugas ronda yang dilukai, karena pasukan ini mencari para provokator pada kerusuhan Jilid II. Salah seorang polisi yang berusaha menghentikan laju pasukan Ninja langsung ditebas. Demikian pula dua warga dewasa muslim lainnya menemui ajalnya karena ditebas secara biadab. Pada saat itu, massa Islam mulai berkumpul sehingga Pasukan Kelelawar melarikan diri menuju sekolah Katholik. Pimpinan pasukan diminta menyerahkan diri, namun aparat kepolisian tidak langsung menangkap Tibo cs, sehingga mereka kabur. Tiga (3) anggota pasukan -semuanya berasal dari suku Flores, transmigran asal desa Kamba--berhasil ditangkap. Massa Islam yang marah langsung mengamuk dan membakar komplek sekolah dan rumah ibadah di sekitar komplek. Pada 25 Mei 2000 bantuan massa Islam dari Ampana Kota berkekuatan 7 truk menuju Poso. Pada saat memasuki Toyado, Kecamatan Tojo pasukan ini bentrok dengan massa Kristen dari Silanca, Sepe, Tagolu, Batugencu dan Toyado yang memang siap melakukan penghadangan-penghadangan. Kelompok Putih dipukul mundur. Desa Toyado kemudian dibakar oleh Kelompok Merah dengan meninggalkan sebuah masjid. Dua (2) orang tewas dan 16 orang luka-luka dari Kelompok Putih. Kelompok Putih dari Parigi berusaha membantu memulihkan keamanan dan menawarkan kemungkinan pemindahan ibukota ke Parigi untuk sementara. Pemda Poso menolak tawaran ini dan menyatakan masih sanggup memulihkan keamanan dan melindungi kaum muslimin Poso. Pada hari yang sama, di desa Sintivulembah, Tagolu mulai terjadi penculikan dan pembunuhan masyarakat minoritas muslim. Pada 26 Mei 2000, pasukan Kelompok Merah dari arah Sanginora mencoba memasuki Poso dari arah barat (Poso Pesisir). Pasukan Merah minta agar pos-pos penjagaan dikosongkan karena mereka akan lewat secara damai. Rapat Tripika menyetujui permintaan ini. Kediaman Bupati sendiri, karena kondisi keamanan yang semakin gawat dipindahkan ke Kodim Poso. Sementara itu di desa-desa Toyado dan Tongko pembakaran rumah-rumah muslim oleh pasukan Kelompok Merah dari Tagolu masih berlangsung. Pada 27 Mei 2000 terjadilah bentrokan besar secara frontal antara pasukan Merah dari Sanginora yang melintasi Poso Pesisir. Pasukan Merah telah melanggar perjanjian dengan Tripika setempat karena melakukan penyerangan lebih dulu di Mapane yang dilanjutkan dengan pembakaran tiga (3) rumah penduduk muslim. Pasukan Merah gagal memasuki kota Poso karena dipukul mundur Pasukan Putih. Mereka melampiaskan kemarahannya dengan membakar rumah-rumah penduduk muslim di sepanjang poros jalan Trans Sulawesi. Pada 28 Mei 2000 sejumlah pengungsi Poso Pesisir yang datang ke Pondok Pesantren Al Chairat sangat marah mendengar penuturan tentang ulah Kelompok Merah yang membakar seluruh rumah di desa-desa Tabalu, Bega, Tiwaa, Tambarana, Kasiguncu, Mapane. Siangnya, pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Walisongo mempertanyakan kepada Pasukan Merah di Tagolu, mengapa mereka diteror dan tidak diizinkan aparat untuk mengungsi ke Kompi 711 Kawua. Massa Islam yang akan mengungsi dicegah Camat dan Kapolsek Lage. Pimpinan Pasukan Merah, Tibo, mengizinkan mereka mengungsi. Namun tak lama kemudian Pasukan Merah menyerang desa Sintivulembah, menyandera kaum perempuan dan anak-anak, dan mulai melakukan pembantaian terhadap kaum pria muslim. Demikian pula di Ponpes Walisongo, sebanyak 70 orang pengurus dan santrinya dibantai di dalam masjid oleh Kelompok Merah. Wanita dan anak-anak yang belum sempat menyingkir mengalami perkosaan dan pelecehan seksual. Di beberapa tempat di poros jalan Poso-Pendolo Mangkutana terjadi penghadangan dan penyanderaan warga muslim yang menggunakan kendaraan pribadi dan umum. Atas peristiwa yang mengerikan dan menggegerkan ini, sebanyak 12 organisasi muslim mengutuk tindakan Pasukan Merah, meminta aparat keamanan untuk menindak para perusuh dan meminta bantuan Pangdam Wirabuana untuk segera mengirim pasukan ke Poso. Pada 29 Mei 2000 terjadi pertempuran yang sengit di Tokorondo antara Pasukan Merah dan Pasukan Putih dari Parigi dan Ponpes Al Chairat Palu. Sebanyak dua (2) orang muslim tewas. Pertempuran masih berlangsung hingga 30 Mei 2000 di Poso Pesisir. Berdasarkan saksi-saksi mata, Pasukan Merah menggunakan senjata organik M-16 dan Thomson, 2 buah helikopter warna putih yang menembaki Pasukan Putih dari pesawat. Pada hari ini pula kota Poso dikepung dari empat penjuru, yaitu Tegalrejo, Sayo, Kayamanya dan kawasan BTN/PDAM. Kota Poso sangat mencekam. Terjadi eksodus besar-besaran warga Poso ke Ampana Kota, Kepulauan Togean, Parigi dan Gorontalo lewat laut dengan menggunakan perahu Katinting, kapal barang dan kapal tradisional. Konon, bala bantuan Brimob dari Makassar tertahan di Tentena. Pada 31 Mei 2000 kota Poso semakin mencemaskan karena diserbu sebanyak 7.000 - 8.000 orang Pasukan Merah. Massa Kelompok Putih yang masih tersisa sekitar 100 orang bersama pasukan dari Kodim dan Polres mencoba melawan. Pada 1 Juni 2000, ditemukan sebanyak 28 mayat tanpa kepala dan tanpa kaki yang sudah membusuk di dalam masjid di Tagolu desa Sintuvulembah. Pertempuran masih terjadi di Kalora. Permukiman penduduk muslim dibakar hingga penghuninya mengungsi ke Parigi. Kelompok Merah seolah-olah sudah hampir menaklukkan kota Poso. Aparat mulai menerapkan siaga tertinggi dengan perintah tembak di tempat terhadap pelaku kerusuhan. Pada 2 Juni 2000 Pasukan Merah berkekuatan 9 truk memasuki Poso dipimpin tokoh Pejuang Pemulihan Kota Poso, Ir. AL Lateka. Pasukan Putih dipimpin Habib Saleh Al Idrus melawan sekuat tenaga. Ketika kedua pimpinan pasukan berhadapan, Habib berhasil memukul Lateka dengan rotan pada tengkuknya sehingga mati. Ini menyebabkan moral Pasukan Merah jatuh dan mundur kembali. Kota Poso kembali dikuasai Pasukan Putih. Penyerangan Pasukan Merah sejak peristiwa itu hanya bersifat sporadis, terutama di Kecamatan Lage, Desa Toini dan Sayo, Meko, Boe, Toinasa di Pendolo. Upaya-upaya pemulihan keamanan dilakukan oleh Pasukan Brimob dari Kelapa Dua Jakarta (menggunakan sandi Operasi Sadar Maleo) dan bantuan Pasukan TNI Zipur dan Zeni dari Makassar (menggunakan sandi Operasi Cinta Damai). Daerah operasi mencakup seluruh kota dan sekitarnya, seperti Poso, Parigi dan Ampana Kota, Tentena, desa Kelei dan Beteleme. Selama 2 bulan operasi, Pasukan Merah berhasil dilumpuhkan. Mengenai korban Kerusuhan Poso Jilid III lihat Tabel 4 Lampiran. IV. ANATOMI KONFLIK Konflik sosial yang berkesinambungan di kota Poso dapat dianalisis dengan kerangka teori "anatomi 4 faktor". Keempat faktor tersebut adalah sebagai berikut: Faktor yang memungkinkan terjadinya konflik (facilitating factor), yaitu sentimen atas keberagaman suku dan agama antara penduduk asli di satu pihak dan kaum pendatang di lain pihak; Faktor penyebab utama (core of the problem) yaitu termarginalisasikannya secara sosial-ekonomi-politik kelompok masyarakat yang merasa pentingnya keseimbangan antara kelompok Islam dan Kristen; Faktor yang berfungsi sebagai penyulut konflik sosial (fuse factor) yaitu pertarungan elit politik setempat; dan Faktor yang membuat penumpukan kejengkelan (grudges factor), yaitu keterlibatan militer dalam konflik sosial antar warga. 1. Sentimen atas keberagaman suku dan agama antara penduduk asli di satu pihak dan kaum pendatang di lain pihak Sentimen atas dasar suku dan agama antara penduduk asli dan pendatang sangat mudah tersulut karena beberapa fakta berikut ini sangat dirasakan oleh pihak-pihak terkait, terutama masyarakat Poso: (a) adanya pembacokan seorang muslim di dalam masjid oleh seorang Kristen yang menyulut Kerusuhan Jilid I; (b) pemusnahan dan pengusiran suku-suku pendatang seperti Bugis, Jawa, Gorontalo dan Kaili yang beragama Islam pada waktu Kerusuhan Jilid III terjadi; (c) praktek-praktek pemaksaan agama Kristen pada masyarakat muslim di daerah-daerah pedalaman, terutama di Tentena, Dusun III Lena, Sangira, Toinasa, Boe dan Meko mengindikasikan bahwa upaya-upaya dari agama tertentu dilakukan secara sistematis; (d) penyerangan Kelompok Merah dengan menggunakan sandi simbol-simbol perjuangan agama Kristiani pada Kerusuhan Jilid III; (e) pembakaran rumah-rumah penduduk muslim oleh Kelompok Merah pada Kerusuhan Jilid III, sementara pada Kerusuhan Jilid I dan Jilid II terjadi pembakaran rumah penduduk baik oleh Kelompok Putih maupun Kelompok Merah di kota Poso; (f) terjadinya pembakaran rumah-rumah ibadah (gereja dan masjid), sarana pendidikan (milik umat kristiani maupun milik pesantren); (g) pembakaran rumah-rumah penduduk asli Poso di Lambogia, Sayo, Kasintuvu; (h) pengerahan massa Pasukan Merah yang berasal dari suku Flores, Toraja dan Manado/Minahasa; (i) terpecahnya warga Poso menjadi Kelompok Putih (ummat Islam) dan Kelompok Merah (ummat Kristen); (j) adanya pelatihan milisi di desa Kelei yang telah berlangsung lama sebelum meledaknya Kerusuhan Jilid III. 2. Termarginalisasikannya secara sosial ekonomi politik kelompok masyarakat yang merasa pentingnya keseimbangan antara kelompok Islam dan Kristen Banyak orang Pamona, orang Bungku, orang Mori, orang Tojo/Una-una punya akses luas terhadap pendidikan modern dan leluasa memasuki berbagai lembaga -lembaga politik, ekonomi dan pemerintahan. Banyak di antara mereka menjadi elit birokrasi pemerintahan, elit politik di Poso maupun di Palu. Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang dari Gorontalo, Minahasa, Toraja, Bugis, Makassar dan Jawa. Namun, tidak demikian halnya dengan penduduk di daerah-daerah perdesaan. Secara kuantitatif, jumlah orang-orang ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang diuraikan di atas. Secara ekonomi mereka ini tersegregasi ke dalam sektor informal yang tertinggal, tersisih dan terkebelakang, baik secara harizontal karena persaingan yang dipandang kurang "fair" dengan para pendatang di perkotaan, maupun secara vertikal dengan dicaploknya lahan-lahan mereka atas dasar konsesi Hak Penguasaan Hutan (HPH), perkebunan besar (seperti kelapa sawit), usaha-usaha eksplorasi dan pertambangan, program transmigrasi dan penetapan kawasan konservasi untuk pelestarian lingkungan. Kelompok masyarakat ini harus tertekan dalam masa yang panjang tanpa dapat menyuarakan hati nurani mereka karena berbagai tekanan. Menjadi kenyataan yang menyakitkan bahwa orang-orang Pamona, Ampana, Bungku, Mori, Lore dan Tojo Una-una sebagai pewaris sah tanah leluhur mereka justru hidup dalam kesusahan. Mereka ini sebagian besar berlatar belakang pendidikan rendah, dengan pekerjaan pada sektor agraris dengan teknologi yang apa adanya, untuk tidak mengatakan tanpa mengenal teknologi. Migran dari Gorontalo, Bugis/Makassar, Toraja, dan transmigran dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Sejak 1998an rakyat mulai berani memprotes ketika tanah mereka diambil alih untuk proyek-proyek pembangunan. Di Bungku (sejak tahun 2000 sudah dimekarkan menjadi Kabupaten Morowali) ribuan petani mengadakan perlawanan terhadap perkebunan kelapa sawit PT Tamako Graha Krida karena tanah mereka dicaplok untuk perkebunan kelapa sawit. PT Inco, juga di Bungku, perusahaan tambang nickel yang saham mayoritasnya dimiliki Inco Ltd. dari Kanada menghadapi perlawanan dari penduduk asli di desa Bahumatefe, karena lahan mereka diaku sebagai bagian dari areal konsesi PT Inco. Perlawanan penduduk asli Bahumatefe juga diikuti oleh perlawanan transmigran dari Jawa, Bali dan Lombok, yang menolak rencana pemindahan dari permukiman mereka di Desa One Pute Jaya, karena permukiman yang didirikan sejak tahun 1991 itu masuk ke dalam areal konsesi PT Inco. Di Kecamatan Lore Utara, orang Katu berhasil berjuang memperoleh kembali pengakuan atas wilayah tradisional mereka yang diambil alih oleh Pemerintah untuk dijadikan Taman Nasional Lore Lindu, di mana selama lebih dari 20 tahun terakhir Pemerintah memaksa untuk memindahkan mereka. 3. Pertarungan elit politik setempat yang memperebutkan posisi-posisi strategis Sejak 1998, pertarungan elit politik setempat kerap terpolarisasi ke dalam kutub-kutub berdasarkan sentimen agama. Ini mengindikasikan telah terjadinya perebutan jabatan-jabatan strategis di dalam birokrasi pemerintahan seperti Bupati dan Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda), Kepala Dinas, Camat, dan sebagainya pada Pemerintah Kabupaten Poso. Mobilisasi dukungan rakyat terhadap pencalonan Bupati dan Sekwilda selalu di dasarkan atas sentimen agama, baik dari pihak-pihak yang mengatasnamakan ummat Islam (Kelompok Putih) maupun ummat Nasrani (Kelompok Merah). Mobilisasi dukungan dilakukan berlangsung sangat intensif dari sejak di kota hingga ke desa-desa dan kampung-kampung. Secara sadar atau tidak, mobilisasi dukungan politik semacam ini ikut andil dalam mengkristalnya sentimen-sentimen keagamaan secara dangkal. Seolah-olah pertarungan politik lokal adalah pertentangan antara pemeluk-pemeluk agama yang berbeda. Ancaman salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulteng dari Fraksi PP misalnya menunjukkan hal itu. Waktu itu anggota yang bersangkutan mengancam bila Damsyik Ladjalani tidak dipromosikan sebagai Sekwilda Kabupaten Poso akan terjadi kerusuhan. Apakah ada korelasi keduanya, tidak ada yang tahu, namun, kenyataannya Poso mengalami kerusuhan pada 15 April 2000. Dan Damsyik waktu itu memang tidak dipromosikan, karena diangkat menjadi Wakil Ketua Bappeda Provinsi Sulteng di Palu. 4. Keterlibatan militer dalam konflik sosial antar warga Sejauh ini, telah sebanyak 29 orang anggota TNI/Polri menjalani pemeriksaan yang intensif oleh Polisi Militer sehubungan dengan Kerusuhan Poso yang terakhir. Di antara 7 (tujuh) orang yang teridentifikasi kuat keterlibatannya dalam kerusuhan tersebut, 2 (dua) orang merupakan perwira berpangkat kapten TNI. Keterlibatan anggota TNI/Polri perlu dicermati karena sangat berbeda dengan dua kerusuhan sebelumnya. Pada kerusuhan ketiga, skala, metode dan korban kerusuhan meningkat sangat tajam. Ini antara lain tercermin dari adanya kenyataan-kenyataan sebagai berikut: Pertama, dibandingkan dengan kerusuhan-kerusuhan sebelumnya, kerusuhan ketiga berlangsung dalam skala kekerasan yang jauh lebih sadis dan biadab, dalam kurun waktu yang jauh lebih lama, dan dengan cakupan daerah yang jauh lebih luas. Kedua, pada kerusuhan ketiga metode kekerasan ketiga yang digunakan jauh lebih canggih dengan persiapan-persiapan yang jauh lebih terencana. Pada kerusuhan pertama dan kedua, kekerasan yang terjadi semata-mata ditandai dengan penggunaan senjata tajam, rakitan, benda-benda keras dan pembakaran-pembakaran. Pada kerusuhan ketiga, selain alat-alat untuk kekerasan seperti tersebut di atas, juga digunakan senjata api, penculikan disertai pembunuhan, pembuangan mayat di Sungai Poso, penyanderaan dan penguburan massal. Salah satu sumber menyebutkan bahwa pasukan Kelompok Merah diperkirakan sebanyak 7.000 orang, sebagian di antaranya menggunakan senjata organik standar militer, seperti jenis M 16 dan Thomson. Juga dilaporkan terjadinya perkosaan dan pelecehan seksual terhadap kaum perempuan. Ketiga, korban kerusuhan ketiga sangat, sangat banyak. Korban yang teridentifikasi menyebut lebih dari 2.000 orang, 400 orang di antaranya mengapung di sungai tanpa kepala atau anggota tubuh lainnya. Rumah yang dibakarpun jauh melebihi jumlah korban pada kerusuhan pertama dan kedua. Ketidak netralan militer juga tampak dari menjelang Kerusuhan Jilid III di mana ketika diminta konfirmasi kepada Tripika Kecamatan Pamona Utara tentang adanya rencana penyerangan Kelompok Merah ke kota Poso dibantah. Informasi yang disampaikan kepada masyarakat Poso ini baru saja dilakukan, ketika beberapa jam kemudian ternyata terjadi penyerangan Pasukan Kelelawar pimpinan Fabianus Tibo. Kalau pihak militer pada tingkat kecamatan jujur dan netral, kenyataan semacam ini pasti tidak terjadi. Indikasi lainnya adalah ditemukannya peluru jenis M 16 bertuliskan Yonif 711 dari tas anggota masyarakat, diketahuinya anggota Kompi B 711 membiarkan kelompok Pasukan Merah melakukan penyiksaan warga desa, keterlibatan Kapolsek Pamona Utara waktu itu dalam penganiayaan H. Dawi dan pimpinan Muhammadiyah Abdullah Sutari dan pembantaian warga Pondok Pesantren Walisongo dan masyarakat Sintuvulembah karena tidak adanya upaya-upaya pencegahan ketika pembunuhan massal diketahui. V. PENUTUP Keberagaman sebenarnya ibarat pisau yang bermata dua. Di satu sisi merupakan suatu alat yang dapat memberikan kemudahan dan bahkan menyelesaikan masalah-masalah nyata. Di lain pihak, pisau dapat dipakai untuk membunuh siapapun. Keberagaman di negara-negara maju telah menjadi suatu kekuatan yang luar biasa karena adanya kesamaan visi dan tujuan ke depan mengenai masyarakat seperti apa yang ingin dicapai dan adanya kesepakatan mengenai cara-cara untuk merealisasikan visi dan mencapai tujuan. Terdapat suatu keengganan untuk mengakui tentang keberagaman atas suku dan agama di Indonesia di masa lalu. Seolah-olah dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan sedikit penataran, semua masalah keanekaragaman suku dan agama ini selesai. Masyarakat Poso yang menggunakan sintuvu maroso (secara harfiah artinya persatuan yang kuat) sebagai tali pengikat menyadari keanekaragaman ini. Secara sosial, mereka selalu mengatakan kita sei sakompo (kami semua bersaudara). Namun, konflik yang berkesinambungan telah menjelaskan pada semua pihak bahwa konsep untuk bersatu saja ternyata tidaklah memadai. Kerusuhan Poso merupakan malapetaka bagi semua pihak. Sentimen keagamaan sejak itu bukannya hilang, melainkan justru semakin membara, ketika berbagai kenyataan selama serial kerusuhan diceritakan dari satu pihak ke pihak lain. Tokoh-tokoh agama mengeluarkan pernyataan keras mengenai kerusuhan Poso, terutama Kerusuhan Poso Jilid III. Bahkan seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Tadulako yang juga Koordinator Front Solidaritas Islam Revolusioner menyatakannya sebagai moslem cleansing (pembasmian orang Islam). Beberapa pihak menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan, karena kebiadaban dan kesadisannya yang luar biasa. Dikawatirkan, tragedi kemanusiaan ini akan berlanjut. Bila ini terjadi, kekhawatiran akan terciptanya malapetaka akbar di kemudian hari bukanlah tanpa alasan. Ini mengingat kurang memadainya perhatian berbagai pihak baik pada tingkat kabupaten, provinsi dan apalagi nasional terhadap kerusuhan berantai yang hingga saat ini belum juga berakhir. Beberapa pelaku kerusuhan sudah ditangkap dan bahkan sudah divonis hukuman mulai dari 1-2 tahun hingga hukuman mati, terutama terhadap tiga pelaku utama Pasukan Kelelawar. Bara dendam pihak-pihak yang tidak rela atas putusan ini bukan tidak mungkin menjadi api yang sewaktu-waktu berkobar lagi. Bila ini terjadi, serial kerusuhan Poso akan merupakan bibit-bibit menuju disintegrasi sosial yang berkepanjangan, yang pada gilirannya akan menciptakan disintegrasi bangsa. Daftar Pustaka: Anto Sangaji, Beberapa Catatan Mengenai Kerusuhan di Poso, 26 Juli 2000. Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Respon Militer Terhadap Konflik Sosial di Poso, November 2000. Kabupaten Poso Dalam Angka 1998, Pemerintah Daerah Kabupaten Poso, 1998. Klipping Surat Kabar Mercusuar terbitan Palu dari 1998 - 2001. Klipping Tabloid MAL terbitan 2000-2001. LAMPIRAN Tabel 1. Komposisi Penduduk Kabupaten Poso No. Kecamatan Jumlah Penduduk AgamaMayoritas Suku 1. Poso Kota 41.875 Islam (55%) Kristen (42%) Pamona, Mori, Lore, Bungku, Tojo, Una-una, Ampana, Minahasa, Toraja, Bugis, Makassar, Gorontalo,dll. 2. Poso Pesisir 31.505 Islam (45%) Kristen (42%) Pamona, Mori, Lore, Bugis, Jawa, Bali 3. Pamona Selatan 24.608 Kristen (70%) Pamona, Bugis, Jawa, Bali 4. Pamona Utara 30.793 Kristen (90%) Pamona, Bugis, Jawa 5. Lembo 15.479 Kristen (79,47%) Mori, Jawa, Bugis 6. Mori Atas 12.305 Kristen (87%) Mori, Pamona, Bugis, Jawa 7. Lage 15.841 Kristen (72%) Pamona, Bada, Ampana 8. Lore Utara 13.017 Kristen (79,65%) Lore, Toraja, Jawa, Bugis 9. Lore Selatan 7.521 Kristen (96,45%) Bada, Bugis 10. Ampane Tete 15.841 Islam (95%) Ampana, Pamona, Gorontalo, Luwuk, Bugis 11. Ampana Kota 25.704 Islam (95%) Ampana, Tojo, Una-una, Pamona, Mori, Minahasa, Bugis, Gorontalo 12. Tojo 13.017 Islam (80,63%) Tojo, Mori, Pamona, Bugis, Jawa, Gorontalo 13. Ulubongka 11.648 Islam (71,47%) Taa, Gorontalo, Ampana, Tojo, Bugis, Pamona, Mori 14. Una-una 17.730 Islam (99,5%) Una-una, Ampana, Gorontalo, Bugis, Bajo 15. Walea Kepulauan 12.215 Islam (97,48%) Ampana, Bugis, Kaili, Gorontalo Sumber: Anto Sangaji, Beberapa Catatan Mengenai Kerusuhan di Poso, 2000, h. 2. Tabel 2. Korban Kerusuhan Poso Jilid I No. Kategori Korban Keterangan I. Korban Jiwa a. Luka Berat 1. Anngota Polri Tidak ada 2. Anggota TNI AD Tidak ada 3. Anggota Masyarakat 7 orang b. Luka Ringan 1. Anggota Polri 17 orang 2. Anggota TNI AD Ada (data tidak jelas) 3. Anggota Masyarakat 101 orang II. Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial a. Rumah Ibadah 1. Gereja Tidak ada 2. Mesjid Tidak ada b. Pemukiman Penduduk 81 Rumah (muslim-kristen) dibakar dan dirusak * c. Kendaraan Bermotor 10 mobil - 3 motor dibakar d. Toko-Bengkel-Hotel-Wartel-Terminal 7 Toko dirusak dan dibakar, 5 hotel dibakar dan 3 dirusak, Terminal dibakar, 2 Diskotek dibakar dan 2 rumah makan * Data riel kerusakan kedua belah pihak sulit didapatkan. Sementara kerugian materiil secara umum diperkirakan Rp 6 milyar. Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik Sosial di Poso, Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November 2000, h. 90. Tabel 3. Korban Kerusuhan Poso Jilid II No. Kategori Korban Keterangan I. Korban Jiwa a. Luka Berat 1. Anngota Polri Tidak ada 2. Anggota TNI AD Tidak ada 3. Anggota Masyarakat 32 orang II. Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial a. Rumah Ibadah 1. Gereja 4 Gereja dibakar dan dirusak (Pniel, Katolik, Pantekosta dan Advent) 2. Mesjid Tidak ada b. Pemukiman Penduduk Lebih dari 130 Rumah Kristen dibakar, dirusak dan dijarah c. Kendaraan Bermotor 1 Mobil dibakar d. Toko-Bengkel-Hotel-Wartel Tidak ada III. Sarana Pendidikan a. Pondok Pesantren/Madrasah Tidak ada b. Lembaga Pendidikan Kristen 1 SMA, 1 SMP dan 1 SD Kristen dibakar c. Sarana Pendidikan Umum Tidak ada Kantor Pemerintah 1 Fasilitas Pemda Sarana Pemukiman dan Fasos Polri a. Asrama Sebagian asrama Polres Poso dibakar b. Aula Bhayangkara 1 buah dibakar c. Rumah Tinggal Tidak ada d. Posyandu/Poliklinik Tidak ada Sumber: Laporan Penelitian Respon Militer Terhadap Konflik Sosial di Poso, Tim Peneliti Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, Palu, November 2000, h. 91. Tabel 4. Korban Kerusuhan Poso Jilid III No. Kategori Korban Keterangan I. Korban Jiwa a. Meninggal dunia 1. Anggota Polri 1 orang 2. Anggota TNI AD 1 orang 3. Anggota Masyarakat ± 2.000 orang b. Luka Berat 1. Anggota Polri 2 orang 2. Anggota TNI AD Tidak ada 3. Anggota Masyarakat 88 orang c. Luka Ringan 1. Anggota Polri 2 orang 2. Anggota TNI AD Tidak ada 3. Anggota Masyarakat 95 orang d. Pemerkosaan dan Pelecehan seksual 6 wanita diperkosa dan 14 wanita mengalami pelecehan seksual II. Sarana Pemukiman, Umum dan Sosial a. Rumah Ibadah 1. Gereja 7 Gereja dibakar dan 3 dirusak 2. Mesjid 6 Masjid dan 1 Mushalla dibakar b. Pemukiman Penduduk 3.492 rumah dibakar dan 635 rumah dirusak-sebagian besar milik orang Islam c. Kendaraan Bermotor 10 Mobil dan 10 Motor dibakar d. Toko-Bengkel-Hotel-Wartel 17 toko, 3 rumah makan dan 14 bengkel dibakar e. Sarana Pendidikan a. Pondok Pesantren/Madrasah 2 Pondok Pesantren dibakar b. Lembaga Pendidikan Kristen Tidak ada c. Sarana Pendidikan Umum 2 bangunan SD dibakar f. Kantor Pemerintah 3 bangunan Balai Desa dan 3 Polindes dibakar g. Sarana Pemukiman dan Fasos Polri a. Asrama 3 bangunan Asrama dibakar dan 3 Asrama dirusak e. Posyandu/Poliklinik 1 bangunan dirusak ----- Original Message ----- From: "BUD'S" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, September 27, 2006 4:20 PM Subject: Re: [ppiindia] Tibo dkk : Eksekusi Kami Didepan Umum!! >Lho, dari awal anda kan mengatakan bahwa daerah timur itu sering rusuh karena disana Mayoritasnya non-Muslim, tapi dari >data2 Depag, ternyata disana Mayoritanya Muslim, satu pertanyaan sederhana yang belum anda jawab : DATA ANDA >DARI MANA ??? ". Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin accept no liability for any loss or damage arising from the use of this E-Mail or attachments. *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

