LUMPUR, LUMPUR, LUMPUR, PANAS…! ( II )
   
   
  Bagaimana juga dengan suatu pertimbangan, untuk membuang luapan lumpur 
dikarenakan suatu kategori “membahayakan masyarakat”? Apa standardisasi versi 
pemerintah dalam kategori “membahayakan masyarakat”? Pada dasarnya kita sepakat 
bahwa pemerintah harus memikirkan keselamatan masyarakatnya, tetapi di sisi 
lain pemerintah tidak beritikad baik untuk mengurangi pencemaran kepada 
lingkungan, yang pada akhirnya akan kembali membahayakan masyarakat itu 
sendiri. Ada semacam cara untuk melindungi masyarakat, tetapi dilakukan dengan 
cara-cara yang ber-efek membahayakan keselamatan masyarakat itu kembali dalam 
waktu yang tidak singkat. 
   
  Poin pertama, adalah ketidak-transparanan pemerintah terhadap kualitas 
kandungan lumpur panas tersebut. Poin kedua, adalah tidak adanya proses 
pengelolaan lumpur terlebih dahulu. Poin ketiga, terlalu berlarutnya persoalan 
ini, padahal kejadian luapan lumpur panas bukan hanya Indonesia saja sebagai 
negara satu-satunya di dunia yang mengalaminya. Dan poin keempat, bahwasannya 
kita tidak menginginkan pemerintah untuk mengeksploitasi anggaran negara dalam 
penanganan luapan lumpur panas ini. Semua harus menjadi tanggung jawab PT. 
Lapindo Brantas bersama pemilik modal dibelakangnya. 
   
  Sudah menjadi karakteristik buruk pemerintahan Indonesia, mengatasi keadaan 
darurat dengan langkah-langkah yang tidak bertanggung jawab, konsisten, dan 
konsekuen. Kecuali jika ada bantuan dana oleh luar negeri untuk penanganan 
program bencana, maka pemerintah akan “sedikit” lebih bertanggung jawab. Dan 
hal itupun harus dikembalikan kepada akuntabilitas individu di dalamnya. Dalam 
persoalan luapan lumpur inipun kita tidak bisa bermimpi terlalu banyak akan 
menemukan suatu integritas yang baik dalam kinerja aparatur negara. 
   
  Di negara yang tidak beres, biasanya ketika terjadi bencana akibat faktor 
kegagalan manajemen perusahaan, maka otoritas pengendali kekuasaan (hingga 
presiden) akan berperan aktif menjadi beking, dan mencari kambing hitam 
kesalahan kepada pihak lainnya. Atau selalu berlindung dibalik pernyataan klise 
penegakan hukum, dan akhirnya hukum dibiarkan berjalan dalam ruang pelecehan 
keadilan. Indonesia adalah realitas negara yang belum mampu untuk keluar dari 
permasalahan klasik ini. 
   
  Seperti sebuah pepatah kuno: “selama ayam masih mau makan jagung”, begitu 
juga dengan mentalitas aparat pemerintah dan birokrasi di Indonesia. Terlalu 
“gampang” menghasilkan kebijakan dan mengerjakan sesuatu, tak peduli walau 
bertabrakan dengan kebutuhan masyarakatnya. Yang penting pemerintahan tetap 
tegak berdiri, dan NKRI tetap terjaga keutuhannya. Dan TNI-Polri? Asyik masyik 
mengubur sejarah kejahatannya. Dan kebenaran akan tetap dimonopoli 
kepemilikannya berdasar versi pemerintah dalam persoalan luapan lumpur ini. 
   
  Kenapa Aburizal Bakrie sebagai seorang menteri bersikap “reaksioner” dengan 
aksi Greenpeace di depan kantornya? Hal ini patut dipertanyakan kualitas 
pemikirannya sebagai menteri yang seharusnya lebih arif dalam merespons suatu 
opini. Karena opini dan tuntutan yang dilontarkan oleh Greenpeace, juga 
merupakan suatu kebenaran dalam prinsip-prinsip hubungan 
masyarakat-negara-lingkungan-perusahaan eksplorasi. Salah satu poin utama 
ketersinggungan Aburizal adalah tudingan Greenpeace dengan keterkaitannya 
terhadap PT. Lapindo Brantas. Perusakan nama baik? Itu belum seberapa dibanding 
suatu kebodohan seorang petinggi negara yang tidak arif dalam menghadapi suatu 
masalah. It’s so easy, but you can’t do it!***
   
  September 2006, Leonowens SP   
   
   
   

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke