semoga artikel ini membuka mata&hati lebih tajam, saya ambil dari Islamic Republic of Iran Broadcaasting Indonesia: http://www.irib.ir/ worldservice/melayuRADIO/perspektif/2006/07juli/muslim.htm
Muslimin Eropa, Tantangan dan Peluang Kondisi sosial, kebudayaan, politik dan ekonomi muslimin Eropa, merupakan salah satu topikpembahasan aktual negara-negara Eropa. Dalam hal ini, berbagai organisasi Islam di Eropa juga mengadakan sidang dan konferensi-konfersnsi untuk mempalajri posisi muslimin Eropa dan berbgaai pembatasan yang telah diciptakan untuk mereka selama beberapa tahun terakhir. Salah satu diang tersebut dengan tema "Muslimin Eropa, Tantangan dan Peluang" telah digelar beberapa hari lalu di Istanbul, Turki. Dalam sidang ini, para pemikir dan tokoh-tokoh penting muslim dari berbagai negara, memaparkan pandangan mereka berkenaan dengan masalah peleburan umat muslimin di tengah masyarakat Barat, kewarganegaraan, identitas muslim Eropa, Islam pobhia, dan terorisme. Di akhir konferensi dua hari di Istanbul ini, para peserta merilis stetmen, menekankan perluasan hubungan diantara muslimin dan negara-negara Eropa. Dalam stetmen ini juga ditekankan hak muslimin sebagai warga Eropa untuk mengkritik dan menyatakan akidah mereka, juga penentangan Islam terhadap terorisme dan pembunuhan orangtak berdosa. Setelah peristiwa 11 September dan ledakan-ledakan bom di Madrid dan London, muslimin Eropa menghadapi kondisi yang lebih sulit dan menekan, dan mereka menghadapi berbagai tantangan baru. Di tingkat lembaga-lembaga politik dan media massa Eropa, masalah kondisi minoritas muslimin yang tinggal di negara-negara Eropa muncul sebagai masalah aktual. Tidak ada hari yang lewat tanpa pembahasan dan pertanyaan-pertanyaan, berkenaan dengan muslimin, yang dimuat oleh koran-koran Eropa. Salah satu pertanyaan penting ini ialah, apakah muslimin mampu tersedot ke dalam masyarakat non muslim? Angka-angka yang berbeda telah disebutkan berkenaan dengan jumlah muslimin di Eropa. Menurut perkiraan, dikatakan bahwa sekitar 20 juta muslim hidup di Eropa. Jumlah muslimin Perancis berkisar antara 5 hingga 7 juta orang; Jerman 3,5 juta; Inggris 2 juta; dan Belanda 1 juta orang. Pada dasarnya tekanan-tekanan terhadap muslimin, berlaku terhadap semua mereka, baik warga pribumi Eropa maupun pendatang. Akan tetapi kondisi sulit ini lebih dirasakan oleh muslimin pendatang. Banyak muslimin di Eropa yang datang dari negara-negara lain. Sebagian besar muslimin Perancis adalah para pendatang dari Afrika utara. Di Jerman, mayoritas muslimin datang dari Turki. Sedangkan jumlah terbesar muslimin Inggris dipegang oleh para pendatang dari India, Pakistan dan Bangladesh. Mayoritas pendatang ini tiba di Eropa di tahun-tahun 50-an dan 60-an, sebagai tenaga kerja dengan bayaran rendah. Di masa itu, mereka ini disebut di Jerman sebagai pekerja tamu. Akan tetapi kemudian mereka menetap di negara-negara Eropa dan keluarga mereka pun kemudian datang bergabung dengan mereka. Saat ini, negara-negara Eropa berhadapan dengan generasi kedua dan ketiga para pendatang ini. Namun demikian meskipun sebagai mereka telah memperoleh hak dan posisi sebagai warga dan penduduk Eropa, namun masih banyak juga kalangan yang memandang mereka sebagai warga asing. Masih banyak yang mengaitkan ketidakberhasilan pembauran para muslimin pendatang ke dalam masyarakat Barat, kepada perbedaan- perbedaan kebudayaan mereka dengan nilai-nilai yang berlaku di tengah masyarakat Barat. Masalah ini telah menyebabkan muslimin termarginalkan dan banyak dari mereka yang hidup berkelompok di desa- desa pinggiran kota-kota besar. Tak diragukan bahwa sebagian adat kebiasaan dan perilaku serta tradisi Barat tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Akan tetapi Islam adalah agama yang mengandung ajaran-ajaran logis dan kuat, yang mengijinkan kepada para pengikutnya untuk hidup berdampingan dengan para pengikut agama lain, dengan tetap menjaga keyakinan dan ajaran- ajaran mereka. Negara-negara Barat mengaku menjunjung tinggi kebebasan termasuk dalam pelaksanaan ajaran agama dan keyakinan, dan bahwa kewajiban pemerintah ialah menjamin kemerdekaan sipil dan menciptakan masyarakat yang pluralis dan multi budaya. Akan tetapi giliran kebebasan ini harus diberlakukan bagi orang lain, negara-negara Barat menciptakan berbagai halangan. Sehingga slogan masyarakat multi budaya masyarakat Barat, praktis tak pernah terlaksana; dan mereka menginginkan peleburan semua kebudayaan ke dalam kebudayaan Barat. Para pelajar muslimin di sekolah-sekolah Perancis, juga para guru perempuan yang mengenakan hijab di Jerman, diwajibkan melepas hijab mereka untuk memasuki sekolah-sekolah mereka. Alasannya ialah karena hijab mereka bertentangan dengan peraturan keterpisahan agama dari politik. Sementara itu, dalam konstitusi negara-negara ini, kebebasan semua orang dalam melaksanakan keyakinan dan ajaran agamanya, telah ditekankan. Pandangan seperti ini negara-negara Barat kepada masalah masyarakat multi budaya, telah mengakibatkan muslimin tetap saja merasa asing, meskipun mereka telah hidup di Eropa selama beberapa dekade. Bahkan generasi kedua dan ketiga para pendatang, yang tidak lagi melihat tanah air nenek moyang mereka, masih merasa terasing di negeri baru mereka ini. Keterasingan yang dirasakan oleh warga muslim di Eropa membuat mereka terkucilkan dari masyarakat. Sebab, sistem budaya dan sosial yang ada di negara-negara Eropa memang memnghalangi warga muslim untuk berperan aktif. Mereka dipandang sebagai komunitas lain yang berbeda dengan umumnya warga Eropa. Dengan kata lain, warga muslim diperlakukan secara diskriminatif. Di Prancis misanya, warga pinggiran Perancis umumnya adalah imigran asal negeri muslim Arfika Utara. Antara 30 hingga 40 persen dari mereka yang berjumlah jutaan itu tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Padahal angka penganguran di seluruh Prancis hanya sekitar 10 persen. Singkatnya, warga muslim di Eropa menyaksikan adanya diskriminasi terhadap mereka yang setelah peristiwa serangan teror 11 September, juga ledakan bom di Madrid dan London, semakin meningkat. Asas praduga tak bersalah seakan tidak berlaku bagi warga muslim. Mereka lebih dahulu dituduh teroris kecuali bila bisa membuktikan kesalahan tuduhan tersebut. Jika dahulu pemerintah di negara-negara Eropa tidak leluasa membatasi ruang gerak warga muslim karena hukum dan pembelaan lembaga- lembaga kebebasan sipil. Tetapi kini, dengan memanfaatkan isu keamanan dan perang melawan teror, rezim-rezim di Barat dapat leluasa membatasi kebebasan warga muslim. Akibatnya ratusan warga muslim ditangkap tanpa alasan. Saat menangkap warga muslim dengan tuduhan teroris, media meliputnya secara luas namun ketika terbukti mereka tidak bersalah, tidak banyak media yang memberitakannya. Dengan cara seperti ini, barat ingin mengesankan bahwa Islam adalah agama yang mendidik para pengikutnya untuk menjadi teroris. Untuk menangkal propaganda ini, lembaga-lembaga keislaman di Eropa menyelenggarakan berbagai seminar dan melakukan berbagai langkah untuk mengenal Islam sebagai agama rahmat, kasih sayang dan keadilan. Tetapi di saat yang sama, pemerintah di Barat mengayomi bahkan menjadi pelopor bagi dilangsungkannya banyak konferensi dan seminar untuk mengesankan bahwa Islam adalah agama ekstrem yang perlu disesuaikan dengan budaya Barat. Dari seminar-seminar inilah muncul ide-ide semisal Keseragaman Nasional di Jerman yang ujung-ujungnya melucuti warga muslim dari identitasnya sebagai pengikut agama Islam untuk kemudian tunduk secara penuh kepada aturan kultur dan budaya Barat. Di sebagian negara Eropa menggunakan bahasa Arab dalam percakapan bisa dikategorikan sebagai ekstremisme. Bukan warga muslim saja yang dirugikan oleh kebijakan negara-negara Eropa yang bermusuhan dengan Islam ini, tetapi juga negara-negara tersebut. Sebab, dengan berbekal kebijakan anti Islam, negara-negara Eropa akan kesulitan memupuk jalinan hubungan dan kerjasama dengan negara-negara Islam. Tentunya kita tidak lupa bahwa kita hidup di era kemajuan informasi. Semua bagian bumi ini saling berdekatan satu dengan yang lain. Secara geografis, Eropa berdekatan dengan negara-negara Islam. Sementara di Eropa sendiri, warga muslim adalah minoritas terbesar dengan jumlah populasi yang tidak sedikit. Pemisahan warga muslim dari komunitas sosial lainnya di Eropa justru akan berdampak buruk bagi negara-negara tersebut --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Ari, ini just yang terjadi di Europa, juga di Austria, yang > menimbulkan keresahan sosial. kaumMuslim tak mau nyampur, muncul > dengan busana sendiri, malah dalam khotbah khotbah menganjurkan > tidak bercampur dengan budaya Non Muslim, yang adalah budaya tuan > rumah. > > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

